
Terpisah, dan pada akhirnya Orion sendirian. Lagi. Entah mengapa ini seperti suatu kesengajaan. Berkali-kali Orion memutari sekitar namun tak kunjung menemukan rekan-rekannya. Orion lantas memutuskan untuk kembali ke hotel.
Dalam perjalanan, Orion berusaha menghubungi seseorang dari ponselnya. Tapi tak seorang pun yang mengangkat panggilannya. Semua terputus atau bahkan di luar jangkauan.
Dari kejauhan, Dr. Eka melambaikan tangannya. Ia tak lagi memakai jas putih yang biasa dipakai, melainkan hanya pakaian biasa. Seakan menyamar sebagai penduduk biasa.
“Bukankah kau sebelumnya ada di rumah sakit?” tanya Dr. Eka.
“Di sana cukup membosankan. Tidak ada eksperimen yang melibatkan Pejuang NED.”
“Lalu Ramon?” tanya Orion seraya melirik ke belakangnya. Namun tidak ada seorang pun kecuali orang berlalu-lalang dan Dr. Eka yang berada di hadapan Orion saat ini.
“Ramon, anak itu sedang asik sendiri di kamarnya. Tenang saja, dia takkan diganggu oleh siapa pun,” jawab Dr. Eka.
“Hei, bagaimana dengan yang lainnya? Apakah kau melihat Endaru, Mahanta dan sisanya?” tanya Orion dengan meragu. Ia merasa bahwa menanyakannya akan percuma.
“Mereka ada bersamamu. Kenapa malah bertanya padaku?” balas Dr. Eka.
Dr. Eka terus menatap Orion dan membuat perasaan Orion jadi semakin aneh. Bergidik merinding seraya menggosok tengkuk kepalanya. Beberapa saat kemudian Dr. Eka mendekat padanya.
“Apa yang kau lakukan?” Orion yang merasa tidak nyaman, lantas semakin menjauh darinya. Akan tetapi, Dr. Eka menahan tubuh Orion dengan mencengkram kedua bahunya.
“Tunggu!”
Tiba-tiba Dr. Eka mencekik leher Orion. Selama beberapa waktu, ia kemudian melepasnya. Orion nyaris tak bernapas kembali, ia lantas menatap tajam pada Dr. Eka seorang diri.
“Apa, uegh! Kau! Apa yang kau lakukan padaku tiba-tiba!?” amuk Orion setengah berdiri.
“Maaf, Orion. Tetapi, aku merasa bahwa kau telah diberi tanda? Dan aku cukup yakin itu dari salah satu rekan Chameleon. Aku juga tidak menyangka bahwa Chameleon hanya membawa mereka saja,” ujar Dr. Eka panjang lebar seraya berdeham sesaat lalu menyangga dagu.
“Kalau soal itu aku juga tahu. Tapi kenapa pula harus mencekik diriku?”
“Soal itu aku minta maaf, ya. Hanya saja aku juga merasakan tubuhmu yang ditandai. Kalau kau tanya kenapa bisa begitu maka jawabannya tentu saja karena aku pernah menandaimu saat kita bertarung dulu,” cerocos Dr. Eka panjang lebar seolah menikmati perbincangan ini.
“Aku tidak bertanya soal itu. Ngomong-ngomong ada hal yang ingin kau tanyakan. Kau sebelumnya menduga bahwa Chameleon hanya membawa rekan-rekannya saja, 'kan?”
“Iya. Kurang lebih 5-10. Alasanku berpikir seperti itu adalah karena bekas tanda di lehermu. Sebab tidak mungkin salah satu rekannya akan menaruh tanda pada target ketika sebagian bawahannya juga datang kemari,” jelas Dr. Eka.
“Aku tidak menanyakan alasanmu itu tahu,” ketus Orion.
Sesaat sebelum menanyakan sesuatu pada Dr. Eka lagi. Ia menghela napas panjang. Lantas bertanya, “Apa kau tahu tentang sebuah jarum? Jarum yang bahkan tidak bisa digunakan untuk menjahit karena lubangnya di ujung terbuka.”
“Jarum? Apakah kau berpikir bahwa itu karena kekuatan salah satu rekan Chameleon?” duga Dr. Eka.
“Iya. Sebelumnya aku tidak terlalu memikirkan hal itu. Tapi mendadak sekarang aku menjadi kepikiran. Haa,” ujar Orion kembali menghela napas.
“Bukan. Aku yakin bukan.”
“Apa? Kenapa?” tanya Orion tidak percaya.
“Bukankah jarum itu identik dengan hal-hal berbau mistis? Seperti santet,” pikir Dr. Eka secara jarum dengan berbentuk aneh yang diceritakan itu tak lazim.
“Santet? Kalau begitu, Ketua Mirana?” pikir Orion bergumam lirih. Ia memalingkan wajah seraya mengerutkan kening tanda masih tidak mempercayai.
Lantaran jarum juga berhubungan dengan benang. Juga paku lalu boneka yang bentuknya menyeramkan. Hal itu mengarah langsung pada Ketua Nina Mirana. Namun Orion masih tidak bisa mempercayainya, sebab kalaupun itu adalah benar maka selama ini yang menyerang Orion adalah Ketua Mirana.
“Hei, Orion. Apa yang kau pikirkan barusan benar. Karena tipe penyihir seperti itu, hanya dia saja di negara kita,” sahut Dr. Eka. Yang justru mempercayai bahwa jarum itu karena kekuatan Ketua Mirana.
“Kenapa bisa kau menyimpulkannya semudah itu? Padahal kau sama sekali tidak pernah menemuinya,” ucap Orion curiga.
“Jangan mencurigaiku begitu. Aku hanya berpikir bahwa itu benar karena rekan Chameleon tidak ada yang ber-tipe penyihir. Kebanyakan mereka penyerang atau monster dan pesulap,” ungkap Dr. Eka.
Demikian Orion bungkam. Tak lagi menyahut ataupun menyangkal dengan sepatah kata pun.
“Baiklah. Terserah saja. Kalau begitu aku titip Ramon padamu, jangan sampai kau apa-apa kan anak itu atau kau tahu akibatnya nanti,” kata Orion. Membalikkan badan hendak pergi ke suatu tempat.
Tepat sebelum kepergiannya. Setelah membalikkan badan, seseorang menyapa Orion serta menyerahkan surat padanya.
“Tuan, ini untuk Anda.” Pria bersetelan jas hitam dengan dasi kupu-kupu, wajahnya datar dan potongan rambutnya rapi.
Membuat Orion mencurigai.
“Siapa kau?” tanya Orion menggunakan bahasa mereka.
“Hanya utusan dari Tuan kami. Organisasi Gerhana Bulan,” jawabnya.
Orion lantas menerima surat itu, tanpa ragu ia membukanya secara langsung dan mendapati kata sambutan lalu ajakan ke sebuah tempat di mana opera panggung diadakan.
“Tuan-mu tahu siapa diriku?” tanya Orion padanya.
“Tentu tahu. Kalau begitu saya akan pergi.”
Pria itu pamit undur diri begitu saja. Padahal Orion hendak menanyakan siapa namanya lantaran di dalam surat itu hanya tertulis nama dari Tuan Gerhana Bulan. Bahkan tidak tertera nama Orion di sana.
Orion mengira bahwa surat ini salah tujuan. Tetapi pria itu tampaknya yakin dengan mendatangi Orion lalu menjelaskan tujuan secara blakblakan
“Dari siapa?”
“Agh! Kau mengagetkanku saja!” amuk Orion, secara tak sengaja surat itu jatuh dari tangannya.
“Kenapa kau orangnya kagetan begitu sih? Aku hanya bertanya saja,” ujar Endaru yang berada di samping Orion.
“Kau tidak ingat berapa umurku, ya? Setidaknya panggil namaku lebih dulu. Dan kemana saja kau?” Orion berceloteh sekaligus mengamuk.
“Kenapa kamu berada di sini?” Endaru bertanya mengenai keberadaan Dr. Eka.
“Aku hanya datang karena ingin memastikan Orion saja. Dan, aku tahu siapa dia sebenarnya jadi jangan menatap tajam seperti itu,” ucap Dr. Eka angkat tangan begitu mendapat tatapan sinis dari Endaru.
“Ya sudahlah kalau begitu. Hei, Orion. Aku ingin tanya apa itu opera?” tanya Endaru sembari menunjuk kata opera di surat yang barusan Orion ambil kembali.
“Opera itu ...kurang lebih sama seperti pementasan drama. Tapi mungkin ini berdasarkan kisah asli? Yah, aku tidak begitu mengerti kebudayaan di negara ini.” Orion bahkan ragu bagaimana akan menjelaskannya sementara ia sendiri belum mengerti sepenuhnya.
“Kalau begitu, aku akan ikut denganmu!”
“Apa?”
Tiba-tiba Endaru meminta ikut. Sedangkan yang lain saja belum berhasil ditemukan. Namun, opera itu akan diadakan di malam hari pada esok. Di kota lain.