ORION

ORION
Ade Disekap



Mahanta tertipu. Jinan yang ia tangkap bukanlah Jinan.


“Kau tertipu, Mahanta.”


“Inilah mengapa foto itu penting.” Mahanta selalu menghela napas ketika kecewa berat.


“Daripada itu, aku bertemu dengan Chameleon. Chameleon benar-benar ada di kota NY. Tapi mungkin dia kemari karena ada sesuatu.”


“Maksudmu?”


“Chameleon berada di tempat ini tapi tak lama setelah itu dia akan pergi. Kemungkinan besar kota S-Frans,” pikir Orion.


“Pergi, ya. Itu hal mengerikan karena anak perempuan itu belum ditemukan,” ucap Mahanta mengerutkan kening.


Setelah ia melepas talinya, pria itu pun langsung melarikan diri dengan terbirit-birit. Melepasnya adalah tindakan baik, sebab ia sudah dijadikan umpan oleh rekannya sendiri. Sejujurnya Mahanta merasa kasihan pada pria itu.


“Sebelum pergi. Di mana Ketua Irawan?” tanya Orion melirik ke sekitar mereka. Sama sekali tidak mendapati orang yang tengah dicarinya.


“Ketua Irawan masih melanjutkan pencarian. Ngomong-ngomong terakhir kali aku menghubungimu, tapi tidak diangkat olehmu langsung. Ada apa sebelumnya?” tanya Mahanta.


“Kami terjebak di pusat perbelanjaan. Lalu disandera oleh perampok toko emas yang kemudian ponsel kami diambil oleh mereka,” jelas Orion.


“Kalau begitu saat aku mengubungi, mereka belum mengambil ponselnya?”


“Justru sebelum kami ditahan oleh perampok itu,” sahut Runo.


Ramon tengah berbicara pada Ketua Irawan saat ini. Mereka bertukar kata dalam waktu singkat lalu menutupnya begitu selesai.


“Tuan Mahanta,” panggil Ramon, segera mendekat pada mereka.


“Sepertinya Ketua Irawan melakukan hal yang sama persis. Maksud saya, kejadiannya,” imbuh Ramon menjelaskan.


“Ketua Irawan menemukan Chameleon lalu hilang jejaknya lagi?” tukas Mahanta.


“Benar sekali,” ucap Ramon dengan tawa hambarnya.


Mereka segera kembali ke titik pertemuan pertama sembari menunggu kedatangan Ketua Irawan. Tampaknya, Ketua Irawan saat ini dengan persis melakukan hal yang sama. Tepat setelah menemukan jejak Chameleon, jejaknya pun hilang dalam sekejap.


Mahanta, Orion dan yang lainnya cukup mengerti karena memang Chameleon itu sulit ditangkap, apalagi untuk Ketua Irawan sendiri. Dirinya dulu adalah bagian dari Grup Chameleon, jadi Ketua Irawan cukup tahu kesalnya saat tidak bisa menggapai ekor Chameleon.


Juga, terjadi hal sama ketika Chameleon berhadapan dengan Orion. Rasanya jarak di antara mereka sangat jauh ibarat dari ujung ke ujung dunia.


“Kalian!”


Ketua Irawan memanggil mereka, ia berwajah sedikit pucat. Hal itu membuat Orion teringat dengan Runo.


“Aku lupa memberikan sebotol air mineral. Ini,” ucap Orion seraya menyerahkan sebotol air itu pada Runo.


“Terima kasih, Pak Orion.”


Sekarang wajah Runo sedikit berubah, mungkin ia sudah menyelaraskan diri di tempat.


“Hanya Runo saja? Sayang sekali, padahal aku juga sangat kehausan,” kata Ketua Irawan.


“Maafkan saya. Ini pun saya beli karena keadaan terdesak sebelumnya. Wajah Runo sempat memucat beberapa waktu lalu, mungkin karena cuaca tak stabil dan juga rasa letih yang dirasakannya,” ungkap Orion mengenai keadaan Runo.


Tak lama setelah itu, datang seorang pria bersetelan jas ke hadapan mereka seraya mengenakan topeng tuk menutupi wajahnya.


Sontak, mereka semua berwaspada seraya bersiap untuk menyerang pria bertopeng itu.


“Tahan. Dia hanya orang yang akan membantu kita.”


“Saya datang kemari sebagai utusan Tuan Gerhana Bulan. Memberikan pesan, bagaimana perkembangan dalam pencarian pria tu? Tuan Gerhana Bulan sudah tidak sabar mendengar.” Utusan itu menyampaikan.


“Gerhana Bulan? Siapa dia?” Mahanta bertanya-tanya dengan sikap semakin berwaspada.


“Sebelum aku menjawabnya. Bagaimana dengan Tuan-mu? Apa dia menemukan sesuatu?” tanya Orion.


“Tuan bilang, masih belum. Nihil,” jawabnya.


Orion sudah menduga hal itu sulit meskipun mereka organisasi yang berada di atas 3℅. Menemukan Jinan saja sudah sulit, apalagi kalau Chameleon.


“Kalau begitu, aku juga tidak bisa mengatakan apa-apa untuk saat ini,” ucap Orion.


“Apakah Anda tidak akan mengatakannya sebelum Tuan mendapatkan informasi yang Anda mau?”


Orion terdiam, sebelah alisnya terangkat dengan wajah keheranan. Ia kemudian berjalan mendekati utusan Gerhana Bulan.


“Saya tidak mengatakannya karena memang belum mendapatkan apa-apa.”


Mahanta bergegas menghampiri Orion yang hendak pergi. Sekilas ia merasakan hawa aneh di sekitar utusan Gerhana Bulan. Namun ia menahan mulutnya untuk tidak mengatakan apa-apa sebelum mendapatkan penjelasan dari Orion sendiri.


“Mohon tunggu sebentar, ada hal yang perlu saya sampaikan kembali pada Anda.” Utusan itu pun juga ikut menyusul Orion yang pergi.


Lantas Orion menghentikan langkahnya. Membalikkan badan dan sekali lagi berhadapan dengan utusan tersebut.


“Ini bukan dari Tuan Gerhana Bulan. Melainkan diri saya sendiri, karena tampaknya Saint Ken membuat ulah terhadap rekan-rekan Anda. Saya mohon maaf, seharusnya tidak ada pengganggu sekarang.”


“Kalau dibilang begitu ...saya jadi teringat sesuatu. Kemarin, saya pergi ke perbatasan dan menemukan sebuah villa yang berdiri di tengah daratan dekat laut lepas. Apakah Tuan-mu tahu siapa pemilik villa itu?”


“Baik, saya mengerti. Saya akan segera menyampaikan pertanyaan ini kepada Tuan Gerhana Bulan,” ucap si utusan lalu pergi meninggalkan mereka.


“Bukankah Anda sebelumnya ingin mengatakan sesuatu?” tanya Orion.


“Sudah tersampaikan. Hal yang ingin saya tanyakan juga berkaitan dengan pertanyaan Anda,” tuturnya.


“Ternyata orang-orangnya mengikutiku, ya.” Orion bergumam lantas menghela napas.


Kedatangan utusan Gerhana Bulan, bukanlah suatu kebetulan semata. Melainkan sebuah pertukaran peran atau pekerjaan itu belumlah usai, lantaran mereka sama-sama tidak mendapatkan apa-apa selama beberapa hari ini setelah kesepakatan terjalin aman.


Demikian, utusan itu pergi tuk mempertanyakan suatu hal yang ingin ditanyakan oleh Orion.


“Gerhana Bulan itu, apakah dia hantunya?” pikir Mahanta.


“Mana mungkin. Dia itu bersembunyi dengan baik. Lagi pula kenapa kau bisa berpikir seperti itu?”


“Entahlah. Lalu, yang kau tanyakan pada dia. Apakah itu berhubungan dengan pemilik villa dan pemilik anjing serigala sebelumnya?”


Orion menggangguk, benar adanya Orion sedang mencari kejelasan tentang pemilik villa sekaligus majikan anjing serigala itu.


“Letaknya memang aneh, sih. Wajar saja kalau kau ingin mencari tahu.”


Ini semua terjadi bukan secara kebetulan melainkan takdir. Takkan ada yang mengerti apa yang terjadi ke depannya. Kecuali seseorang yang mempermainkan mereka bagai boneka kayu serta seseorang yang memiliki kekuatan peramal.


“Ketua Irawan, di mana Endaru?”


Satu hal nyaris mereka lupakan.


“Dokter itu tidak akan kabur sebelum mendapatkan apa yang dia mau.” Sejenak ia mengambil napas sebelum melanjutkan kalimatnya. “Syukurlah anak itu tidak sendirian.”


“Kau mengkhawatirkannya?”


“Ya. Mahanta, mari kita bergegas menuju ke kota S-Frans?”


Mahanta menjawab, “Ya. Tentu saja. Prioritasmu adalah prioritas kita bersama. Karena anak itu juga bagian dari Grup Arutala meski tidak secara langsung.”


***


Di suatu tempat. Seorang perempuan remaja tengah terbaring pulas tanpa pengaman di lantai putih. Semilir angin melewati celah pintu yang engselnya longgar. Anak itu kemudian mencium sesuatu yang hangat.


“Huh, di mana aku?”


Anak perempuan itu adalah Madeira, atau lebih dikenal sebagai Ade saat ini. Dirinya terbangun tak lama setelah mencium aroma hangat mentari dari celah pintu. Anehnya mengapa aroma di luar masuk melewati celah pintu dan bukannya jendela.


Ade kemudian bangkit dan melirik ke sekelilingnya. Dinding, lantai, langit-langit pun semuanya serba berwarna putih polos tanpa polesan ataupun goresan sedikit pun. Ia pun mengerti bahwa ruangan ini hanya memiliki pintu tanpa jendela sama sekali.


“Ini ...ruangan apa? Aku tidak tahu kenapa aku bisa ada di sini.”


Ade duduk berjongkok sambil memegang kepala yang sakit dengan kedua tangannya. Kadang tubuhnya menggigil kedinginan dan kadang juga sedikit panas, cuaca yang seolah terus berubah setiap detiknya itu membuat perasaan Ade semakin tidak nyaman.


Ia terus memeluk tubuhnya seiring waktu dengan perasaan takut yang terus meliputi dirinya. Ia juga berusaha keras untuk mengingat sesuatu.


“Ah!” Terlintas ingatan terakhirnya tiba-tiba.


“Aku diculik? Tapi selama berapa bulan? Aku merasa lapar hari ini. Bukan beberapa hari yang lalu. Itu artinya mereka juga memberiku makan dan minum, ya?”


Ade pun mengerti situasi yang telah terjadi. Namun entah mengapa ia masih melupakan sesuatu yang lain selain ia hidup dalam keadaan terkunci di beberapa tempat dengan makan dan minum seadanya seakan ia adalah hewan ternak yang ditunggu kematangannya.


“Aku harus pergi!”


Dang!


Terdengar suara hantaman berasal dari ruangan ini. Ade pun masih berdiam diri di balik pintu dengan menahan napas.


“Aku akan dibunuh kalau bersuara sedikit saja. Aku harus bertahan hidup lalu keluar dan kembali pada Ibu!” batin Ade seraya mengepalkan kedua tangan dengan erat.


Ruangan serba putih ini mengingatkannya akan kenangan buruk. Karena itulah sejak tadi, Ade selalu memejamkan mata dan mengintip dari celah lubang pintu. Ia sama sekali tidak berniat untuk mengingat kenangan buruk ketika berada di ruangan bak ruangan isolasi, namun ingatan itu selalu mengalir dengan derasnya seolah takdir tak menginginkan Ade melupakan hal buruk itu.


Perlahan Ade membuka pintu. Suaranya cukup nyaring padahal Ade membukanya dengan pelan. Was-was terhadap sesuatu seraya ia melirik ke kanan dan kiri di luar ruangan, Ade selalu cemas dalam ketakutannya sendiri.


Krieeeett,


Pintu kembali bersuara nyaring ketika ditutup. Setelah beberapa saat memperhatikan sekitar, Ade berjalan ke depan seraya memeluk tubuhnya yang terasa dingin.


DANG!


“Ukh!”


Lagi-lagi suara hantaman tak jelas itu menggaung ke dalam. Ade terkejut, lantas membalikkan badan dan berlari masuk ke dalam ruangan itu lagi.


“Hah, hah, hah, gawat.”


Napas Ade semakin berat hanya karena berlari dalam jarak dekat. Tangan dan kedua kakinya itu bergemetar kuat, ketika tak mampu lagi menopang tubuhnya, Ade pun terjatuh dan bersandar pada dinding dalam ruangan.


Fisiknya menjadi semakin lemah, itulah yang ia tahu. Entah ini hari atau bulan ke berapa, Ade selalu merasa resah setiap kali teringat kejadian terakhir kali yang diingatnya.


“Aku tidak mau berpindah dari tempat ke tempat lain. Karena ...aku takut. Aku takut, ibu.” Ade terus bergumam, memanggil Ibunya dalam ketakutan.


Ia ingin sekali menangis keras namun tak bisa dilakukan karena ini masih berada pada tempat yang ia selalu diperlakukan buruk. Mungkin, tubuhnya tidak mendapatkan luka apa-apa. Hanya saja Ade terluka pada mentalnya karena beberapa hal.


Ade saat itu tidak tahu bahwa dirinya dibawa hingga ke luar negeri. Menghilang selama setengah tahun lamanya dan Ibunya yang sudah tidak mengingat Ade sebagai anak kandungnya.


“Apakah di sana ada seseorang? Hei, aku tidak akan tahu jika tidak keluar dari ruangan ini.”


Tap, tap!


Ade secepatnya melangkahkan kaki ke luar ruangan isolasi. Meninggalkan pintu yang akan menutup dengan sendirinya dan meninggalkan suara yang berisik dalam beberapa waktu.


Lalu, Ade mengumpat di balik rak besi besar yang terdapat beberapa kotak kardus kosong dan barang-barang lainnya yang berdebu.


“Tempat macam apa ini? Tidak ada ...ah, jendelanya ada di atas sana. Tapi tidak mungkin aku bisa memanjatnya.”


Sudah berlama-lama Ade berada di tempat seperti ini. Seolah ia berada di gudang terbengkalai namun tetap merasa aneh apabila terdapat satu ruangan yang cukup bersih.


Dang!


“Ah!”


Terkejut, Ade refleks melangkah mundur. Ia mendapati sebuah kotak besar dengan benda berat di dalamnya barusan terjatuh tepat di depannya pas.


“Aku akan mati kalau dihantam benda berat seperti ini.” Ade melihat ada sebuah ban mobil di dalam kotak besar itu.


Tak lama kemudian Ade kembali melanjutkan perjalanan, kala itu ia sama sekali tidak menemukan pintu setelah beberapa kali mengitari ruangan tersebut.


Hawa yang sedikit aneh dapat Ade rasakan secara berangsur-angsur. Angin melewati dari jendela besar yang berada di dinding bagian teratas, tidak mungkin Ade bisa ke sana tanpa pijakan, belum lagi jika sudah berada di luar yang tentunya ia harus turun menggunakan pijakan demi pijakan kembali.


Terkadang nuansana horor seringkali dirasakannya. Sesekali terjadi, persis ketika ban berat itu terjatuh nyaris mengenai kepalanya. Ade benar-benar tidak tahu mengapa benda berat itu bisa terjatuh, tetapi ia tidak mau memikirkannya lantaran di sini masih berbahaya karena tak tahu seseorang akan muncul nanti.


“Napasku terasa sesak,” ucap Ade dengan keringat dingin bercucuran di wajah hingga bagian punggungnya.


Tap!


Ade berpijak pada lantai halus berwarna keabuan pekat, ia kemudian berpegangan pada salah satu kaki rak besi yang cukup panjang itu untuknya berjalan perlahan.


Sepatu yang ia kenakan pun bukan miliknya termasuk pakaian yang bagus ini juga. Ia mendapatkannya dari seseorang yang dianggap musuh oleh Ade karena telah menculiknya.


“Ibu ...tolong aku. Do'a kan aku agar dapat keluar dengan selamat,” gumam Ade dengan sangat lirih seraya berjalan dan meraba-raba sekitarnya. Terkadang ia juga melirik ke sekitar dengan memastikan tak seorang pun mendatanginya.


Tap, tap.


Tetapi yang Ade pikirkan justru muncul begitu saja. Seorang lelaki berbadan cukup besar dengan dada bidang ditonjolkan. Ia mengenakan rompi jas serta kacamata hitam.


Langkah pria itu berhenti ketika sudah berada di hadapan Ade yang diam tak berkutik dalam sekejap. Ade pada saat itu tidak bisa bergerak saking ketakutannya.


“Bergeraklah! Kakiku!” batin Ade yang ingin sekali berteriak keras dan segera berlari dari hadapan pria ini.


“Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Tetapi sebelumnya aku harus meminta maaf padamu karena tidak bisa memperkenalkan diri,” ucap pria itu.


Kaki Ade mendadak kesemutan di saat-saat seperti ini. Langkahnya menjadi sangat pelan karena merasakan sakit hingga membuat kakinya terasa tebal.


“Apakah kau mempunyai seseorang yang dibenci? Kau bisa mengatakannya padaku, maka aku akan melakukan sesuatu terhadap dia.”


Tiba-tiba pria ini bicara apa. Ade sungguh tak mengerti. Ade pun hanya diam menatap dengan perasaan takut