ORION

ORION
Berhadapan Dengan Suatu Kekuatan yang Masih Belum Jelas



Mata mereka menatap dengan tajam. Seolah mangsa ada di depan, mereka semua bergerak secara bersamaan. Melesat ke arah mereka.


“Matikan apinya!” pekik Endaru.


Syut! Syut!


Endaru menarik kerah pakaian bagian belakang Orion, membuatnya menjauh dari beberapa serangan yang melesat ke arah mereka. Endaru menggunakan kekuatannya untuk menekan semua Pejuang NED yang langkahnya sempat ia dengarkan.


Drak! Draak!


Pijakan mereka sedikit hancur dan beberapa dari mereka kembali mengoceh-ngoceh. Satu kekuatan berupa kilat cahaya itu kembali terlihat. Dalam sekejap pun, sekelebat bayangan muncul di hadapannya. Lalu kemudian menghilang dalam sekejap. Bersamaan dengan kilat cahaya itu.


“Huh, kenapa mereka semua yang menyerang?”


“Ah, tidak tahu. Habisi saja semuanya!”


Seraya menggenggam erat pakaian Orion, ia melepas kedua sarung tangannya dan membuat daya gravitasi sebanyak 10x lipat. Kafe ini bergetar kuat, suara jeritan mereka pun tak ada hentinya.


Mereka semua mengamuk tanpa jelas. Orion hanya menghela napas merasakan kesesakan ketika berada dalam kegelapan.


“Harusnya aku tidak kemari,” ucap Orion menyesal.


“Kau segitunya ingin minum kopi sih, makanya jadi begini,” sahut Endaru seraya melangkah ke depan dan menyeret Orion juga.


“Hei, hei, aku mau dibawa ke mana?” tanya Orion panik seraya ia meraba-raba ke sekitar.


Duk! Sikunya menabrak meja, ia kemudian mengambil sesuatu yang tersentuh di atas meja tersebut.


“Kau ngapain?” tanya Endaru sambil menarik tubuh Orion lagi.


“Aku mencium bau kopi,” ucap Orion sambil memegang cangkir.


“Jangan kebanyakan alasan. Aku butuh pedang dan intuisimu untuk menemukan dan menyerang seseorang itu,” tutur Endaru menegas.


“Jangan terlalu mengandalkan hal yang tidak berguna itu. Kita lebih baik diam saja dulu.”


Langkah Endaru kembali terhenti. Nampak ia tertegun, dan cengkeramannya terhadap pakaian Orion pun semakin menguat.


“Ada apa lagi ini?”


Cruak!! Suara koyakan yang terdengar sangat tidak biasa. Mereka berdua mendengar sesuatu yang mungkin saja sangat berbahaya.


Endaru menghentakkan kaki, membuat salah satu kursi yang berada di sekitar terangkat dan kemudian terlempar ke depan. Lalu disusul suara jeritan yang melengking.


“Kau barusan melakukan apa?” tanya Orion tersentak.


“Aku mencium bau anyir di depan. Dengan suara yang mengerikan begitu, jelas ada sesuatu hal aneh di sini.”


Kebisingan di antara mereka pun hening. Selain suara mengoyak-ngoyak, seolah-olah ada binatang buas sungguhan.


“Memang benar, sih. Tapi 'kan tidak mungkin ada hewan buas lepas kandang sampai ke sini,” pikir Orion.


Dap! Endaru kembali menghentakkan kakinya, salah satu barang yang ada di sekitarnya mulai terangkat lalu menjadi rusak setelah menabrak dinding.


“Hentikan itu,” pinta Orion, ia kemudian berjalan ke depan.


Ia menyalakan apinya sekali lagi. Mengelilingi tubuh Orion serta Endaru, dan cahaya yang terbuat dari api itu pun membuat ruangannya sedikit terang.


“Kenapa tidak ada seorang pun di sini? Pelayan atau pelanggan, semuanya menghilang kecuali kita,” kata Orion.


Api yang melingkari tubuh mereka mulai membumbung tinggi ke langit-langit ruangan. Seketika semuanya menjadi terang, bagian dari teknik memperluas jangkauan serang di sekitar ruangan pun kian menyusut seiring waktu.


Endaru sama seperti Orion. Memiliki banyak pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Keadaan semakin sunyi, tiada seorang pun dan hanya menyisakan keheningan saat ini juga.


“Bagaimana kalau dia adalah tipe ilusi? Aku jadi teringat badut sulap penyuka trik,” ujar Orion.


“Apa yang kau pikirkan itu mungkin saja benar. Namun bagaimana cara dia melakukannya? Menghilang itu sulit, atau dia membuat kita buta?” pikir Endaru.


Sesaat keduanya berhenti bicara dan hanya melirik ke sekeliling untuk menemukan jalan keluar. Namun hasilnya nihil, bagian kaca yang pecah juga tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa cahaya akan masuk.


Sama sekali tidak ada setitik cahaya sedikitpun, ruangan ini benar-benar sepenuhnya gelap gulita. Membuat ia merasa tidak nyaman dan juga merasa ada seseorang yang mengawasi.


Crak! Wajah Orion terciprat suatu cairan yang sedikit lengket. Darah.


“Ternyata dia mendengar dan melihat kita dari sana rupanya,” ucap Endaru seraya mendongak ke sudut atas ruangan, lalu menyeka wajahnya yang terluka.


Ternyata darah itu adalah darah Endaru. Sampai terciprat ke belakang, itu artinya musuh menggunakan benda yang tajam juga tipis.


Sebuah benda, "Jarum," terlintas dalam benaknya ketika berpikir benda apa yang tajam namun tipis. Tapi Orion sama sekali tidak menemukan jarum.


“Endaru, berhati-hatilah. Lawan kita bukan Pejuang NED seperti biasanya.”


“Khawatirkan dirimu sendiri!”


Tap! Endaru melompat dan membuat berat badannya ringan seiring waktu. Ia meringankan tubuhnya untuk mencapai ke atas sana.


Terlihat sesuatu yang berkilau, Endaru menggunakan kekuatannya untuk menarik sesuatu itu dengan gravitasi yang berat.


Tak! Sesuatu itu terjatuh dan menghantam lantai hingga permukaannya sedikit rusak.


”Apa yang kau lakukan, Endaru? Mengagetkanku saja,” ujar Orion yang terkejut.


“Aku pikir dia orang. Tapi ternyata hanya kamera kecil.”


Tanpa pikir panjang, Orion yang sudah menghampiri Endaru lantas membakar kamera tersebut. Hingga menjadi abu.


Endaru kemudian menatap heran kepadanya. Berisyarat apa yang barusan Orion lakukan pada kamera yang ditemukan tadi.


“Jangan menatapku seolah aku berbuat salah. Kamera ini kamera pengintai, siapa saja bisa melakukan hal ini untuk mengawasi dirimu atau orang lain,” ujar Orion.


“Aku tahu itu. Tapi kenapa harus dibakar?” tanya Endaru dengan mengangkat sebelah alisnya.


“Itu mungkin baru saja diletakkan di tempat yang kau temukan. Dia telah memperhatikan kita lewat kamera kecil itu,” ujar Orion.


“Itu artinya dia ...melihatku saat menggunakan kekuatan?” pikir Endaru.


“Iya, bodoh.” Orion memaki.


Orion kemudian membalikkan badan dan seketika yang menutupi seluruh ruangan menghilang. Segera Orion melenyapkan apinya sendiri.


Dan suatu tak terduga telah terjadi. Semua orang yang sempat menghilang justru kembali seperti semula. Bahkan orang yang sempat membuat kegaduhan kini hanya duduk bersantai tanpa luka.


“Ah, aku paling tidak suka menghadapi hal semacam ini. Seperti aku berada di suatu film horor saja,” gumam Orion yang merasa merinding dan sesekali ia menggosokkan leher belakangnya.


“Jadi, sebenarnya tadi kita ada di mana? Apa barusan kita bermimpi sambil berjalan?” pikir Endaru yang lugu.


Seraya menghela napas panjang, kekesalan yang kian memuncak ini takkan dibiarkan oleh Orion begitu saja. Ia pun menyeret lengan Endaru dan segera kembali duduk di tempatnya tadi.


Orion berbisik, “Orang itu masih ada di sini. Dia mempermainkan kita.”


Sontak, Endaru memahami apa yang barusan Orion bicarakan. Sebab, musuh masih berada di sini dan sedang mengawasi mereka di antara banyaknya para pelanggan.