
Orion sepenuhnya sadar namun juga tidak. Sebab, seseorang yang mengendalikan tubuhnya adalah Karura lantaran Orion tidak memiliki kesadaran yang cukup untuknya bangun.
Karena itulah, ia dengan mudahnya membunuh seseorang.
Karura yang terbangun sebagai gantinya itu hanya menatap pertarungan Gista dari kejauhan. Menatapnya dengan bola mata berwarna keemasan, datar dan dingin.
Endaru yang saat ini sedang tidak sedang sadar pun kini telah diambil alih kesadarannya oleh orang lain. Yakni, Chameleon. Karena itulah mengapa terlihat Gista dan Endaru bertarung tiba-tiba.
Lingkaran di atas kepala Endaru semakin membesar dan kemudian membentuk sesuatu lain di tengah-tengah lingkaran itu. Bentuknya menyerupai sebuah kristal belah ketupat.
Detik demi detik, mereka habiskan hanya dengan beberapa ayunan pedang. Tatkala Gista kesusahan dalam menghadapi Chameleon yang menggunakan kekuatan gravitasi, ia pula berusaha keras untuk tetap mengencangkan seluruh raganya.
“Kau seperti biasa, ya?”
“Tidak. Aku berbeda dari yang dulu. Aku sungguh sudah berbeda dari sebelum-sebelumnya.” Gista menatap tajam.
Trang! Trang!
Satu serangan, satu tertangkis. Diarahkan ke bawah tuk memblokir serangan. Gista melangkah maju lebih dekat seraya mengulurkan tangan ke arah wajahnya.
“Jangan remehkan aku juga!” pekik Chameleon menyeringai tipis.
Datang dari segala arah menuju ke posisi Gista seorang. Bayangan-bayangan hitam muncul hendak membungkusnya. Gista bergerak cepat dengan ayunan pedangnya, lantas membuka lebar jalan dengan merobek semua bayangan itu.
“Nona Gista, saya akan ...membantu!”
Suara Ketua Meera terdengar. Nampaknya ia sudah sadarkan diri meskipun lukanya berakibat cukup fatal karena serangan Chameleon sebelumnya.
Ketua Meera menggunakan gelembung air pada Chameleon sampai tak bisa berpijak di tanah. Tubuh Endaru mengapung dalam gelembung air, dan arah serangan itu juga tak cukup jauh dari sini.
“Ketua Meera, seharusnya Anda tidak perlu turun tangan dalam keadaan seperti itu.”
“Huh, ya? Itu benar. Aku bahkan tidak ingin menganggu pertarungan di antara mereka. Salah-salah aku bisa jadi beban,” oceh Ketua Irawan seraya memijat keningnya.
“Maafkan saya Nona Gista. Hanya saja, jika ingin menyadarkan kembali kesadaran Pahlawan Kota, maka saya perlu melakukan hal ini.” Ketua Meera berkata dengan serius.
Tubuh Endaru meronta-ronta seraya memegang leher dan juga hidungnya. Ia berusaha melakukan sesuatu dengan lingkaran miliknya namun sulit jika ia tak bisa bernapas.
Dalam batin, Chameleon kini memaki diri mereka semua yang ada di sekitarnya. Gelembung air itu pun kian meninggi, mengudara ke langit-langit seolah dijadikan bahan pertunjukan.
Semakin sempitlah untuk Chameleon bernapas saat itu juga. Ia sangat kesakitan terutama tidak bisa melakukan perlawanan hanya karena gelembung air menenggelamkan dirinya.
CRAS!
Dalam hitungan beberapa menit telah berlalu. Ketika tubuh Endaru tak lagi bergerak namun masih memiliki kesadaran sedikit, gelembung air milik Ketua Meera pun pecah.
Perlahan-lahan tubuh Endaru turun dengan pelan, karena kekuatan gravitasinya sehingga ia tidak terjatuh lebih cepat. Setelah beberapa saat ia menginjakkan kaki ke tanah, ia kemudian membuka mata lebar-lebar.
“Kau pikir itu mempan?” Lalu tersenyum mengejek seraya menyisir rambutnya ke belakang.
Tampaknya karena lingkaran itu juga Chameleon selamat. Tubuhnya mungkin basah, tapi tidak dengan paru-parunya yang kering. Padahal kalau sudah tenggelam, sudah pasti bagian dalam tubuhnya terisi air.
Kekuatan Chameleon sungguh tak masuk akal. Mungkin ia melebihi Tipe Monster.
“Ya, ampun. Bagaimana kalau Pahlawan Kota mati? Kalian akan kerepotan, benar?” imbuhnya seraya mengibaskan lengan dan memunculkan sebuah pedang berapi.
SRAK! SRAK!
Ketua Meera kembali mengeluarkan serangannya namun ini berbeda. Terdapat beberapa air yang kemudian melesat begitu cepat ke arah Chameleon, namun Chameleon mudah menangkis itu semua.
Meski tidak semuanya. Hanya satu serangan saja yang menggores wajah Endaru. Air yang cukup tajam.
Chameleon menatap Ketua Meera dengan hawa membunuh. Seketika tubuh Ketua Meera membeku, ia bergidik merinding dan tak dapat bergerak sedikitpun di sana.
Slash!
Gista mengayunkan pedang, menyayat tubuh Chameleon yang lengah. Dan Chameleon pada akhirnya merubah sasaran yang sebelumnya adalah Ketua Meera, kini menjadi Gista seorang.
“Jangan lawan lainnya. Bukankah kita sering kali duel?” ujar Gista.
“Ah, kau benar. Lalu, apakah kau akan menusuk tubuhku lagi?” sahut Chameleon seraya merentangkan dua lengannya ke samping.
“Eh, ini bukan tubuhku, ya. Maaf aku lupa,” imbuh Chameleon seraya tersenyum kembali.
Sementara Gista menambah lapisan es dalam pedangnya sehingga menjadikan pedang itu lebih berat dan kuat.
“Apa pun itu, aku hanya menusukmu bukan menusuk tubuh itu,” kata Gista seraya menunjuk Chameleon.
Muncul kristal es yang cukup besar dari arah depannya, Chameleon reflek menghindar dengan melompat ke belakang. Namun sayangnya, serangan itu bukan berasal dari arah depan melainkan belakangnya.
“Lagi-lagi ilusi? Sejak kapan aku terjerat?” ujarnya yang mulai kalut.
Datang dari arah depannya, Chameleon kembali menghindar namun karena ia tahu bahwa dirinya telah terjerat oleh ilusi Gista, sehingga ia pun semakin mendekat ke posisi Gista.
JRASH!
Kristal es menusuk pinggangnya. Tubuh Endaru gemeteran. Chameleon yang telah mengambil alih kesadaran Endaru itu, kini telah seutuhnya terjerat oleh ilusi.
“Ha?”
Chameleon menoleh, menatap raut wajah Gista yang datar. Setelah beberapa saat ia beralih pandang ke tubuh Endaru, di mana pedang ilusi itu menembus tubuhnya.
Bats!
Chameleon terkejut, ia lantas bergerak mundur menjauhi Gista. Ia mencabut pedang itu tanpa ragu. Tak ada darah yang mengucur, juga tak ada luka setitik pun.
Ia menoleh ke sisi kanan dan kirinya, ke belakang dan depannya. Lantas Chameleon melihat bayangan Gista ada di mana-mana.
“ARGH!”
WUUSSHHH!
Menolong seperti serigala di bawah rembulan. Chameleon menjerit seraya mendongakkan kepala ke atas. Lingkaran di atas kepalanya itu pun kian membesar hingga membuat angin menerpa mereka yang ada di sana.
Mereka bertahan sekuat tenaga untuk tetap berada di posisinya. Aura yang dikeluarkan Chameleon pula sangatlah kuat, mereka merasakannya dan seketika dibuat merinding hingga tak mampu bergerak bahkan satu jari pun.
“Sekarang. Ini jauh lebih mudah,” gumam Gista seraya mengangkat kepalan tangannya.
SRAAAAKK!
Sebuah rantai memanjang dan mengikat kencang tubuh Endaru yang sedang diambil alih. Chameleon yang dalam keadaan dipengaruhi sebuah ilusi kini telah menggila. Ia tidak sadar bahwa kesadarannya semakin terkikis dari tubuh Endaru.
Perlahan raungan Chameleon terhenti. Tubuh Endaru tumbang, terbaring di jalanan dalam keadaan tengkurap serta tak sadarkan diri.
Muncul genangan darah dari hadapan Orion. Lebih tepatnya di jalanan beraspal itu sendiri. Sesuatu muncul dalam keadaan bersimbah darah.
“Aku mungkin sering kalah. Tapi apakah kalian, khususnya kau bisa menangkapku?”
TAK!
Tanpa ragu sebilah pedang merah itu menancap ke sosok tersebut. Akan tetapi sudah menghilang lebih cepat dari dugaan.