ORION

ORION
Kekalahan, Misi Gagal



Saking terkejutnya ia menganga seraya menoleh ke belakang. Tak menyangka bahwa Caraka dengan lihainya mengantisipasi serangan tadi.


“Akan kulakukan lagi!” tegas Raka. Kembali menggunakan teknik memperluas jangkauan serang.


“Oh, dia cukup berbahaya. Menggunakan teknik ini dua kali seolah-olah teknik biasa. Dia pasti anggota tingkat atas milik Nona Gista,” pikirnya seraya berhenti dalam beberapa waktu ketika menghadapi angin yang menyayatnya lagi.


Halaman belakang rumah sakit jadi sangat berantakan akibat pertarungan mereka. Dan sekarang, Raka kembali menghindar karena semakin lama semakin ia mengulur waktu maka itu akan merugikan dirinya.


Ia memancingnya keluar, dan tepat setelah ia melihat danau kecil di dekat sana, ia berhenti sebentar.


“Api akan kalah di perairan,” celetuk Raka merasa senang melihat danau itu.


Caraka yang saat ini telah berada dekat dengannya. Ia menunggu waktu yang pas, ketika itu, Raka menghindar setelah Caraka lebih dekat darinya.


Byur!!


Caraka sulit mengendalikan kedua kakinya, sehingga ia terjatuh ke danau yang ada di depan mereka.


“Dia terlalu cepat berlari dan sangat antusias mengejarku. Haha, ini cukup menyenangkan,” ucap Raka kegirangan.


Yang ia pikir bahwa menghentikannya di sana itu terbaik, namun juga tidak. Sebab, Caraka kembali muncul ke permukaan air, menatap tajam ke arahnya.


Seraya mengarahkan telapak tangan ke depan, api menyembur keluar dan melingkari tubuh Raka sehingga tak dapat bergerak leluasa.


“Pembentukan apinya berubah-ubah, apa itu tidak akan membuatnya kelelahan?”


Sesaat jalan kembali buntu. Yang ia lawan bukanlah Pejuang NED biasa tapi ini berada di level para ketua atau mungkin lebih.


“Dia hanya mata-mata, 'kan? Kenapa dia sangat kuat seperti ini?” gumam Raka.


“Aku akan menarikmu masuk ke dalam!” teriak Caraka dengan sorot mata yang tajam.


Api mencengkram tubuh Raka, sesak napas serta api membuatnya tak bisa menghirup udara segar. Memanas hingga rasanya tulang setiap anggota tubuh Raka meleleh.


Grep!


Caraka mengepalkan tangan, menarik tubuh Raka yang berada dalam genggaman ke arahnya. Seraya mengeluarkan setengah sayap yang sama, semua bulu-bulu bagai sebilah pisau menusuk tubuh bagian depannya tanpa perlawanan sedikit pun.


“Ergh ...!”


Byur!! Hantaman keras terdengar menggelegar, mengagetkan semua orang yang berada di sekitar. Mereka terkejut dan mulai bertanya-tanya apa yang sebenernya terjadi.


Ditambah lagi, permukaan air yang bening itu berubah warna menjadi kemerahan. Caraka dan Raka berada di dalam danau itu, dan entah apa yang terjadi saat ini juga.


***


“Kekuatannya benar-benar sulit untukku menghindar. Jangan-jangan dia bukan hanya sekadar mata-mata saja?”


Raka tenggelam dengan banyak luka yang ia derita, tusukan serta bagian punggung yang terbakar, namun dalam batas ambang kesadarannya, ia masih dapat melakukan sesuatu.


Entah berada di mana keberadaan Caraka saat ini, tapi yang pasti di dasar danau terlihat sangat bercahaya. Terlihat seperti bintang dan saat ia mendekat semuanya jadi lebih jelas.


Terdapat beberapa bunga yang bermekaran, namun itu bukanlah bunga sembarangan.


“Uakh! Ap-api?”


Kesadarannya perlahan menurun, ia tidak akan bisa bernapas jika terlalu lama berada dalam air seperti ini. Apalagi tekanan air yang membuatnya tubuhnya semakin berat.


Ketika ia menyentuh dasar, semua bunga yang tertanam di sana bersinar lebih terang. Bunga api yang terlihat sangat indah sekaligus menyeramkan.


Mekar begitu besar, meledakkan seluruh isi danau tersebut.


DUAR!!


“Bodoh. Padahal aku sudah bilang, apa pun yang dilakukan percuma saja. Jarak dekat, jarak jauh maupun di tempat manapun itu sama saja bagiku,” celetuk Caraka.


Ia ternyata sudah lebih dulu keluar dari danau. Seseorang kemudian datang menghampirinya.


“Tuan Caraka, Anda tidak apa-apa?”


Seorang wanita dengan rambut panjang berwarna kehitaman. Ia tampak sangat khawatir.


“Ya, tidak apa-apa. Riwayat pria itu sudah berakhir. Hama sudah mati, mari kita cari telur emasnya,” ucap Caraka seraya mengeringkan dirinya dengan uap panas yang keluar dari tubuhnya.


Hal itu dapat ia lakukan karena kekuatan aslinya adalah api, dapat membentuk segala macam serta menggunakannya dalam sekaligus juga keahliannya. Termasuk membuat uap panas itu sendiri.


“Tuan, seseorang selain dia pasti sudah masuk ke wilayah kita.”


“Maksudmu adalah Grup Arutala?”


Wanita itu menggelengkan kepala lalu berkata, “Sepertinya bukan.”


Caraka mengerutkan keningnya. Terlihat ia sangat kesal, lantas berjalan untuk kembali masuk ke dalam rumah sakitnya. Melihat ke sekitar, tiada seorang pasien pun yang terlihat.


“Semua pasien tidak melihatnya, 'kan?” tanya Caraka seraya menggulung lengan pakaiannya.


“Tuan tidak perlu mengkhawatirkan itu. Semuanya sudah saya bungkam,” tutur wanita tersebut dengan setiap goresan wajah yang muncul tiba-tiba.


“Bagus. Carilah anak api itu. Dia masih ada di dalam rumah sakit. Mungkin dia berniat mencari sesuatu atau apa.”


“Baik!”


Rumah sakit besar itu cukup tenang. Tak ada tanda-tanda kepanikan di setiap wajah pasien sebab wanita yang berada di sampingnya membungkam mereka dengan kekuatannya.


Justru, semua pasien itu menyambut kembali kedatangan kepala rumah sakit serta menyapa dan menanyakan kabarnya dengan ramah.


Adi Caraka, nama pria itu sudah terkenal cukup luas di wilayahnya, kota L-Karta. Dikatakan bahwa pria ini memiliki karakter baik, ramah dan murah senyum. Tapi tetap saja, itu hanyalah karakter yang diperlihatkan pada orang-orang biasa, tidak saat ia berada di hadapan Pejuang NED.


Sekilas mirip dengan tipikal Pahlawan Kota, Endaru.


“Tuan, kami menemukan anak itu.” Salah seorang anggota yang lain datang menghampirinya lalu berbisik.


“Selain Sima, kalian jangan sampai ikut campur. Dan tetap berada di rumah sakit dan rawat setiap pasien seperti biasa.” Caraka memberi perintah seraya melirik ke arah wanita yang ada di belakangnya.


“Baik!”


Kebanyakan orang-orang Caraka adalah ahli dalam bidang medis, mereka tidak tergolong kuat tapi kekuatan mereka tidak bisa diremehkan karena kekuatannya dapat dimodifikasi oleh tangan Caraka serta Eka.


***


“Uhuk! Uhuk! Ukh ...”


Sekujur tubuh Raka yang basah kuyup, menggigil kedinginan. Ia menderita luka bakar cukup parah karena ledakan sebelumnya.


Semua orang yang mengerumuni sekitar danau lantas terkejut dengan keberadaan Raka yang sekilas terlihat baik-baik saja.


Banyak pertanyaan dari mereka, namun Raka sama sekali tidak menjawabnya. Ia hanya pergi setelah keluar dari danau menuju ke suatu tempat. Yang pasti menjauh dari rumah sakit tersebut.


Begitu keluar dari danau, ia yang tengah bertelanjang kaki itu menunjukkan luka yang membengkak keunguan gelap. Langkahnya tertatih-tatih dan gemetaran kuat. Ia merasa tak sanggup untuk berjalan lagi.


“Kalau aku tidak memaksakan diri untuk berenang ke permukaan maka pasti aku akan mati mengenaskan.”


Anggota tubuhnya masih lengkap namun bagian tulang lengan serta kaki hampir kehilangan fungsinya karena terkena ledakan dari bunga api yang tumbuh di dasar danau.


Darahnya tersumbat sehingga tidak keluar. Raka tahu betul kalau luka seperti ini pun juga sama parahnya.