
Semua orang beramai-ramai menuju lokasi ledakan. Namun karena tempatnya jauh dari perkotaan, mereka hanya dapat melihatnya dari jauh.
Orion dalam keadaan hampa. Terakhir kali yang ia ingat adalah wajah keputusasaan banyak manusia. Wajah marah, menangis dan berbagai ekspresi yang sekilas menakutkan.
Keinginan tuk menolong namun di sisi lain tak bisa melakukan hal itu rasanya sudah seperti berperan sebagai pembunuh secara tak langsung.
Melebihi penderitaan yang ia rasakan. Tangan kanannya berubah menjadi bara api, dan tak lagi bisa padam. Tidak menyakitkan namun ini berbahaya bagi seseorang yang menyentuh tangan tersebut.
“Aku menemukan ini saat kau bertarung dengan Chameleon.”
Pemain kecapi itu menunjukkan serbuk putih dalam kantung plastik yang ukurannya sangat kecil. Tidak ada bau namun mereka berdua merasakan bahwa serbuk itu bukanlah serbuk biasa.
“Apa serbuk ini semacam serbuk yang dapat membuat semua orang tergila-gila?” pikir Orion seraya beranjak dari rerumputan.
Ia kemudian menatap langit yang masih gelap tanpa bintang. Lalu berjalan menuju ke suatu tempat.
“Ya mungkin saja. Kalaupun benar maka inilah alasannya mengapa dia menghancurkan tempat itu bersama dengan para budak.”
“Keji sekali orang itu. Lain kali aku akan menghajarnya dengan benar.”
“Percuma kau lakukan itu padanya. Kau sendiri sudah melihat apa yang terjadi ketika kau melukainya begitu parah. Dia tidak merasakan sakit pun ada kemungkinan karena serbuk ini.”
“Ya, dia kuat. Tapi bukan berarti dia yang terkuat. Karena di atas langit masih ada langit,” sahut Orion seraya melihat serbuk putih itu lagi.
“Kau masih berniat cari mati?” tanya si pemain kecapi.
“Tentu saja. Tapi aku punya alasan lain, untuk menghajar Chameleon,” kata Orion menatap serius padanya.
“Apa karena orang-orang tadi?”
Orion mengangukkan kepala dan berkata, “Jika kau melihat banyak orang meminta tolong tapi kau sendiri tidak bisa menolongnya. Antara merasa takut atau bahkan enggan terlibat lebih jauh, itulah yang kau rasakan.”
Tap, tap!
Mereka berjalan menuju ke halte busway. Dan menunggu matahari terbit kembali.
“Aku hanya ingin menyelamatkan orang yang bisa kuselamatkan. Setidaknya terhindar dari cengkraman Chameleon,” imbuh Orion.
“Oh, ya? Kenapa kau melakukan hal semerepotkan itu?” Pemain Kecapi bertanya heran.
“Tidak ada hal khusus. Anggap saja, bentuk tindak pencegahan kriminalitas yang bisa diatasi Organisasi NED,” tukas Orion.
“Kau bahkan bukan polisi. Melainkan hanya direktur yang usahanya bangkrut karena permainan orang-orang atas,” sindir pemain kecapi itu pada Orion.
Pukul 5 pagi, hari masih gelap dan kota sempat gempar akan ledakan tersebut. Orion dan Pemain Kecapi akhirnya lepas dari jalan itu, mereka pergi sebelum orang yang bertanggung jawab akan datang.
Hingga matahari telah terbit. Beberapa orang telah menunggu bus di halte, setelah beberapa saat bus pun datang. Semua penumpang tampaknya sangat terkejut karena ada orang bugil yang masuk dalam bus.
Yah, meskipun tidak sepenuhnya bertelanjang bulat melainkan ia mengenakan jubah milik pria si pemain kecapi.
“Di sini agaknya sesak,” bisik Karura.
“Jangan berisik. Itu mungkin karena aku ditatap oleh mereka. Lalu, kau itu tidak sedang dalam wujud nyata!” Orion membatin.
Tatapan mereka selalu tertuju pada Orion. Sesekali mereka berbisik namun tidak ada yang berani bertanya mengapa Orion bertelanjang.
Orion hanya menghela napas dan berharap ia segera sampai.
“Jangan terlalu dipikirkan omongan orang lain. 'Kan mereka tidak tahu apa yang terjadi. Yang terpenting sembunyikan saja tangan kananmu dan jangan sampai terkena jubahnya agar tidak terbakar,” bisik si pemain kecapi.
***
Mereka sampai ketika hari sudah siang. Pemain kecapi itu pamit dan meninggalkan serbuk putih bersama Orion.
Seperti biasa rumah Arutala selalu sepi. Kecuali ada beberapa pembantu yang sibuk menyapu halaman, membersihkan jendela dan memotong rumput liar serta menyirami tumbuhan.
Orion tak mungkin akan muncul begitu saja dengan wujud pria dewasa. Bisa-bisa orang rumah akan salah sangka dan mengira Orion itu pencuri.
Tap! Tap!
Pagar belakang terbuka sedikit. Ia buru-buru masuk lantas melompati balkon setiap kamar hingga menuju ke lantai dua ke kamarnya.
“Orion, kau sudah pulang?”
Orion masuk dari jendela dan betapa terkejutnya ia menjumpai Mahanta dalam kamar. Sudah begitu menunjukkan sikap dan penampilan tak sopan begini.
Begitu juga dengan Mahanta. Tak menyangka bahwa yang datang adalah seorang pria dewasa.
“Hah!? Kau pasti pencu—”
“Sstt! Ini aku, Mahanta!” sahut Orion membungkam mulut Mahanta dengan kuat.
Nyaris Mahanta meneriaki Orion sebagai pencuri. Beruntungnya Orion masih sempat tuk menutup mulut Mahanta.
“Maafkan aku yang tiba-tiba pergi begitu saja. Tapi Mahanta, ada hal yang ingin kubicarakan padamu.”
Ia kemudian duduk di atas ranjang. Sembari menghirup dan membuang napas secara berulang agar emosinya jauh lebih tenang.
“Kalau begitu aku akan panggil Nona Gista,” ucap Mahanta.
“Tidak. Untuk saat ini jangan dulu. Karena aku yakin dia cukup sibuk setidaknya untuk mengurus ruangan bawah tanah yang rusak, benar?”
“Lalu apa yang ingin kau bicarakan? Pasti itu ada kaitannya dengan kepergianmu kali ini Orion,” celetuk Mahanta.
“Ya, benar. Chameleon melarikan diri dari tempat sebelumnya yang bahkan kalian sendiri tidak tahu di mana tempat dia selama ini. Namun aku memang salah karena tidak segera memberitahu kalian, karena berhubungan dengan pribadiku.”
“Apa? Kau selama ini ke tempat Chameleon berada? Dari mana kau tahu tempatnya?” tanya Mahanta dengan raut wajah gelisah.
“Tenanglah Mahanta. Tempat itu ada di perbatasan antar kota Y dan S-Karta. Tapi tempatnya sudah hancur berantakan karena diledakkan,” kata Orion menenangkan diri Mahanta.
“Hah, harusnya kau bilang,” ucap Mahanta menghela napas.
“Maafkan aku. Karena tidak bilang lebih dulu.”
“Lalu sekarang apa kau tahu dia di mana?” tanya Mahanta.
Orion menggelengkan kepala lantas menjawab, “Aku sama sekali tidak tahu. Yang pasti dia mengincarku untuk sesuatu. Kemungkinan berkaitan dengan sistem yang dia buat.”
“Maka itu artinya dia benar-benar hanya memanfaatkan yang lemah lalu sok membangun istana dengan orang-orang kuat,” gumam Mahanta dengan kening yang berkerut.
Beberapa waktu mereka tak bicara apa-apa lagi. Keduanya saling menundukkan kepala dalam-dalam.
“Tunggu Orion,” ucap Mahanta sembari menatap wajahnya.
“Apa kau sedang memikirkan apa yang terjadi padaku? Kalau benar, maka aku akan menjawabnya karena tubuhku berubah semula karena Api Abadi.”
Kemudian Mahanta mendekat. Ia memperhatikan sekeliling tubuhnya. Merasa bahwa luka Orion semakin lama semakin bertambah. Serta luka yang seperti bekas jahit itu.
“Luka yang sedikit eksentrik ini tidak bisa aku jelaskan. Namun perubahannya bisa, karena jika aku tidak membuat diriku dalam bahaya maka Api Abadi tidak akan berkembang ataupun mudah untuk dikuasi,” jelas Mahanta seraya mencondongkan badan ke belakang, menjauh dari tatapan Mahanta.
“Aku tidak begitu mengerti. Selain kau mencari mati dengan Chameleon, ya?”
Perkataan Mahanta tetap menuju sasaran. Orion lantas beranjak dari kasur. Sesaat ketika ia berdiri, ia merasa pusing.
Bruk!
Kepalanya terasa berputar sehingga ia jatuh. Belum sempat ia memberitahukan soal serbuk putih, namun Orion sudah tak sadarkan diri.