ORION

ORION
Musuh yang Terlihat



“Tunjukkan pintunya, Karura!”


Ketika mereka berdua menghindari Orion. Lantas Orion bergegas untuk keluar dari bar tersebut.


Drap! Drap!


Orion berlari agar pertarungan tak terus berlanjut terus-menerus. Dan sesuai yang diperkirakan oleh Orion, mereka berdua mengejar tak lama setelah Orion meninggalkan bar.


Di saat Orion berlari menghindari mereka. Hujan panah datang menghujam Orion lagi. Dari arah yang selaras. Pemanah itu berada di salah satu atap gedung.


“Hei, kau mau lari ke mana? Perhatikan langkahmu, Orion!”


Duak!


Lagi-lagi Orion tersandung kakinya sendiri saat berlarian. Tidak menunggu waktu lama ia bangkit kembali dan terus berlari menuju ke gang terpencil di jalan persimpangan.


Dan lagi-lagi, benang-benang bermunculan. Melekat di antara dinding bangunan ke bangunan lainnya. Mereka menyusul dari belakang dan depan. Mereka menghadang jalan keluar Orion.


“Karura, aku mulai kesulitan bernapas.”


“Atur napasmu, tidak. Jangan, teruslah bergerak. Tundukkan tubuhmu,” perintah Karura.


Dengan cepat Orion menundukkan tubuh, benang-benang melewati tubuhnya. Lekas Orion pergi menuju ke salah seorang yang mengendalikan benang beracun.


“Dia melihatnya? Bahkan saat di gelap begini? Mustahil!”


“Hei!!”


Drkkkk!!!


Kedua bangunan yang mengimpit gang sempit bergetar. Pria itu menerjang Orion di saat Orion mengincar temannya.


Segera Orion mempercepat langkahnya tuk menggapai pria yang lebih dulu ia incar.


“Kau akan habis jika mendekat!” teriak pria itu.


“Kau lah yang akan habis!” sahut Orion seraya mengubah gerakan serangannya. Ia menggunakan kobaran api yang terus menjalar ke sisi pria itu.


“Api? Api Abadi?”


Pria itu terkejut. Untuk sesaat ia kehilangan akal karena terlalu takut untuk berhadapan dengan api milik Orion.


“Bukan. Tenang saja,” ucap Orion menjawab pertanyaannya.


Lantas api itu berkobar mengelilingi tubuh pria itu. Dan kemudian membentuk dinding tinggi sehingga tidak seorang pun bisa mencapainya.


“Karura, bantu aku.”


Dengan bantuan tangan Karura. Orion menjulurkan tangan, masuk ke dalam kobaran api. Terdengar suara jeritan yang nyaring, pria itu mengerang kesakitan.


Cruak!


Sebilah pedang merah menyayat tubuhnya kembali serta beberapa benang yang masih melekat pada jari jemarinya.


Semua benang itu terputus dalam sekali potong. Begitu pun dengan benang yang melekat di antara dua dinding bangunan ikut lenyap.


“Huh, kalau begini sudah tidak apa, bukan?”


Dinding api pun lenyap. Menyisakan pria itu tumbang dengan uap panas yang keluar dari tubuhnya. Di samping tubuhnya terdapat sesuatu yang menarik perhatian Orion.


“Apa ini?” Orion mengambil suatu benda yang menyerupai serbuk putih. Bungkusnya juga mirip dengan benda yang sebelumnya ia temukan.


“Apanya? Hah!?”


Datang dari arah belakang. Hampir saja Orion melupakannya. Namun Orion hanya menatap sinis, lalu salah satu sayap keluar dan menghempas pria bermulut kasar itu.


“Terima kasih Karura,” ucap Orion seraya membalikkan badan dan membawa benda itu ke dalam saku celananya.


“Hei, kenapa kau tidak membunuhnya?” tanya Karura.


“Kenapa aku harus melakukan hal itu? Cukup dengan membuatnya panas dan memotong benang dan menyerang ke titik vital itu taktik ku untuk melawan seseorang.”


“Iya, maksudku kenapa tidak kau lakukan dalam waktu singkat saja!? Kau tidak perlu membuang api-apimu!” pekik Karura.


“Dengar, ya. Kalau tidak ada dinding api. Aku pasti kesulitan saat dia mengeluarkan benangnya. Tahu sendiri benangnya tipis. Jadi aku menggunakan dinding api sebagai benteng pertahanan diri dan patokan orang itu sendiri.”


Orion mengibaskan tangannya beberapa kali sembari berjalan menghampirinya. Belum sampai ia ke sana, justru pria itu sendiri yang mendatanginya.


Guncangan kuat menghentikan langkah Orion namun tidak dengan pria itu. Ia tetap berlari seraya melayangkan tinju.


Bak! Buk!


Dua tinju dilayangkan dan Orion menangkisnya begitu mudah. Suatu waktu langkah mundur Orion tersendat dengan jalanan itu sendiri. Nyaris ia kembali tersandung, dan itu membuatkannya celah.


KRAK!


Tubuh Orion terbanting kuat sesaat kakinya tersandung. Hingga jalan pada gang sempit itu retak, juga menghancurkan beberapa tulang rusuknya.


“Argh!”


“Ha! Mampus kau!”


Ia mengepalkan kedua tangan dalam satu genggaman. Mengangkatnya tinggi-tinggi dan berniat menghajar Orion sekali lagi.


Jduak!


Tapi Orion sudah lebih dulu melancarkan serangan, dengan tendangan pada kedua kakinya mengincar dada.


“Aduh!”


Meski pria itu menjadi sempoyongan karena tendangannya. Akan tetapi Orion merasa nyeri di bagian punggung, lantaran ia memaksakan untuk bergerak dalam kondisi tulang yang patah.


“Aw, argh! Sakit sekali,” keluh Orion seraya memegangi punggungnya.


Malam semakin larut, musuh mungkin sudah lebih mendekat kemari. Termasuk pemanah yang barusan melancarkan aksinya secara mendadak.


Orion perlahan bangkit untuk memastikan keadaan pria yang sebelumnya.


“Loh, dia sudah tidak sadarkan diri?” Orion bertanya-tanya dengan heran apa yang sebenarnya terjadi kepada lawannya itu.


“Apa aku terlalu keras menendangnya?” pikir Orion mulai gelisah.


“Sepertinya dia kelelahan. Aku melihat dia tumbang sambil memegang dada bagian kanannya,” celetuk Karura.


“Itu bukan kelelahan, Karura. Tapi karena tendanganku barusan.”


Saat ia mengecek kondisinya, pria itu masih hidup. Namun untuk berjaga-jaga ia memanggil ambulan lewat ponsel orang itu sendiri.


“Ha, aku terlalu baik. Kenapa juga aku melakukannya ya?” gumam Orion seraya berjalan dengan meraba-raba dinding.


Setelah sampai ke ujung dinding yang dirabanya. Sepintas Orion melihat bayangan yang di depan. Namun bayangan itu bukan milik si pemanah tapi orang lain.


“Oh, itu anak kurang ajar yang kau maksud Orion.” Karura membantu menjelaskannya.


Tak menutup kemungkinan Endaru sedang melawan seseorang. Namun gerakan Endaru terus mengejar seseorang, tak terlihat seperti ia sedang kesusahan.


Orion berlari ke arah Endaru sembari memanggil-manggil namanya dari belakang punggungnya yang kian menjauh.


“Endaru! Itu kau?”


“Orion?” Endaru menoleh ke belakang, ia berhenti berlari lantas terkejut akan keberadaan Orion di belakangnya.


“Apa yang kau lakukan kemari? Cepat menjauh!” pekik Endaru yang terlihat gelisah.


“Hei, Endaru! Perhatikan depanmu!”


Namun tidak ada waktu mendengarkan bagi Orion. Orion melihat lawannya tengah menyiapkan serangan dengan merapatkan jari ke depan seperti membentuk senjata tajam.


Orion bergegas menuju ke sana. Lalu memasang badan, menerima serangan dari lawan itu secara langsung.


SRUK!


CTAR!


Petir kecil menyambarnya dan jari yang merapat itu menusuk tubuh Orion. Perlahan pandangan Orion semakin gelap hingga menjadi gelap total dan kehilangan kesadaran dalam waktu singkat usai serangan orang itu.


“ORION!” teriak Endaru histeris. Memekakkan langit malam.


Begitu menarik tangannya, darah menyembur keluar dengan deras dari luka Orion. Tubuh Orion ambruk ke jalanan beraspal dengan mata yang sedikit terbuka seolah telah mati.


Terdapat sisa petir yang menyelimuti luka Orion dan itu berasal dari kekuatan musuh yang melawan Endaru sebelumnya.