ORION

ORION
Pelelangan



Orion dan Endaru keluar dari Emblem Priest dengan membawa buah tangan tak kasat mata. Yakni beberapa informasi untuk mencapai Chameleon. Dan, yang tersisa sekarang adalah pelelangan. Pelelangan yang sempat dibicarakan oleh beberapa tamu undangan Nyonya Ash.


“Waktunya besok pagi, ya.” Orion bergumam seraya melihat catatan dalam secarik kertas yang ia bawa. Endaru melihatnya dengan mengerutkan kening.


“Aku merasa bahwa ini jebakan,” pikir Endaru.


“Jangan berpikir buruk lebih dulu. Lagipula aku tidak akan mengajakmu,” kata Orion.


“Kenapa?” tanya Endaru yang kecewa.


Drrttt!


Ponsel Orion berdering. Ia kemudian mengangkatnya setelah melihat nama Mahanta.


“[Orion, aku memiliki informasi tentang Chameleon. Apa kau memiliki waktu?]”


“Kebetulan sekali aku juga ingin mengatakan satu-dua hal padamu. Yang juga berkaitan dengan Chameleon, tidak, mungkin lebih parahnya lagi aku menemukan serbuk putih yang sama,” jawab Orion.


Tap, tap!


Mereka berbicara sembari berjalan, untuk segera kembali ke hotel tempat di mana mereka menginap selama beberapa hari. Namun sepertinya, sebelum Orion sampai, mereka bertemu di jalan yang sama. Pas sekali.


“Orion!” panggil Mahanta dari kejauhan sembari melambaikan tangannya. Ia kemudian menutup sambungan telepon dan bergegas menghampiri Orion.


“Itu Mahanta.”


“Kau benar, sungguh kebetulan.”


Tampaknya Mahanta memiliki beberapa informasi yang berguna selama dirinya pergi bersama Ketua Irawan sesaat sebelum kepergian Endaru dengan Orion.


“Jadi? Apa yang kau dapat, Mahanta?” tanya Orion yang telah lama menunggu-nunggunya.


“Chameleon masih berada di kota ini. Dia berkeliaran dengan identitas bartender di suatu bar besar. Tapi aku masih belum tahu di mana bar itu. Apa tidak masalah?”


“Iya, itu saja sudah cukup berguna bagi kita.”


“Lalu, Chameleon menyebarkan serbuk putih itu juga ke kalangan anak-anak remaja. Aku sudah mengambilnya secara paksa, tapi tetap saja benda itu selalu muncul di manapun aku berada,” tutur Mahanta dengan raut kesal.


“Apa kau tidak mampir ke salah satu bar, tempat di mana kau selalu melihat benda itu?” tanya Orion.


“Tidak. Sama sekali tidak ada bar. Tadinya aku mendapat informasi tentang Chameleon pun karena orang yang mabuk karena benda itu,” kata Mahanta sembari menggelengkan kepala.


Seolah lenyap. Apa yang dirasakan oleh Mahanta juga dirasakan oleh Orion ketika ia mengunjungi Emblem Priest.


“Aku pergi ke suatu tempat, dan di sana banyak sekali Pejuang NED yang adalah kriminal yang sulit ditindak. Aku menemukan serbuk putih, itu pun karena Chameleon sengaja menyuruh orang yang aku temui di tempat itu,” ungkap Orion.


“Apa?! Kalau begitu, dia tahu bahwa kita datang untuk mencarinya. Dan santet, ah ...maksudku kekuatan Ketua Nina memang sudah diketahui oleh Chameleon ya,” celetuk Mahanta sangat terkejut.


“Ya, ini situasi yang cukup membingungkan. Oh, ya. Aku lupa mengatakan satu hal padamu, Mahanta. Air mancur, apakah ada tempat yang ada air mancurnya?” tanya Orion.


“Air mancur. Itu, aku belum tahu. Tapi aku akan segera memberitahumu setelah tahu. Tenang saja,” ucap Mahanta.


Pagi hari. Musim panas, terik matahari yang merajalela, bahkan panasnya membuat pandangan mereka berbayang-bayang. Seolah melihat fatamorgana dalam gurun pasir.


“Oh, rasanya cukup dingin di sini. Apa mereka menaruh pendingin ya?” gumam Orion yang memakai pakaian samaran, ia mendobel pakaiannya yang anti panas dengan jaket pengantar barang.


Saat ini juga Orion tengah menyelinap di penyimpangan barang-barang berharga yang akan dilelang. Dan tentu saja, dia sangat berhati-hati pada barang yang tidak ternilai di sekelilingnya. Tatapan yang serius itu juga sempat menaruh perhatian pada penanggung jawab para staf.


“Huh, semuanya sudah diatur.” Orion menghela napas seraya menyeka keringat.


Orion kemudian tetap berdiri di dekat salah satu barang sebelum pergi. Sesaat setelah beberapa staf pergi, Orion mengumpat di salah satu barang yang besar untuk melepas pakaian samarannya.


“Ladies and Gentleman!”


Dimulailah pelelangan pada pagi ini! Semua para tamu dengan topeng di wajah mereka telah lama menunggu hal ini. Mereka sangat berantusias seraya bersiap pada pegangan kursi sebagai ganti jika mereka akan menawar salah satu barang yang disukainya.


“Baiklah, aku akan melihat dulu. Bagaimana peran di atas panggung saat memperlihatkan barang lelangnya.”


Ada alasan tersendiri ketika Orion menyamar sebagai staf pemindah barang, lantaran jika dengan samaran itu maka ia akan tahu meski hanya menebaknya semua kotak yang dipegangnya.


Namun, awal niat Orion hendak menemukan darah langka, tapi ternyata sama sekali tidak dapat dicari. Sulit atau dengan kata lain mustahil jika hanya dengan samaran seperti sebelumnya.


“Hm, ini akan rumit kalau aku tidak segera mencari darah langka itu,” gumam Orion yang melihat dari celah balik layar.


Mc telah menunjukkan satu demi satu barang berharga. Dan para bangsawan, sebut saja mereka konglomerat atau orang kaya dengan emas berlimpah-ruah, telah memilih barang yang disukai. Meski saat itu pernah terjadi keributan karena saingan demi mendapat barang tersebut.


Bahkan sampai rela menghamburkan banyak uang. Entah seberapa besar harta mereka tapi yang pasti membuat mata Orion terbelalak.


Dreek!


Seorang wanita dengan pakaian seperti kelinci datang. Orion menundukkan kepala agar tidak ketahuan. Kemudian pada saat itu, ia melihat wanita tersebut mendorong meja beroda dengan benda di atasnya.


“Apa itu? Cincin?” pikir Orion membatin.


Sebelumnya ia berpikir bahwa itu hanya barang berharga dengan bentuk lebih kecil. Namun sesaat setelah wanita kelinci itu membalikkan badan, Orion bangkit dan memanfaatkan kesempatan itu untuk melihat benda di atas meja tersebut.


“Darah?!” Orion berteriak dalam batin. Ia sangat syok begitu melihat kaca bening tertutup rapat yang di dalamnya terdapat segenang darah.


Firasat Orion tiba-tiba menjadi buruk. Lantaran Orion sama sekali tidak akan menduga bahwa hal yang sebelumnya ia dengar dari para tamu undangan di pesta Nyonya Ash itu benar.


Klotak!


Sepatu ber-hak tinggi yang dipakai oleh wanita kelinci itu sontak membuat Orion terkejut, ia lantas segera kembali pada posisinya untuk mengumpat sembari mencuri-curi pandang ke arahnya.


“Apakah ada orang?” Wanita kelinci bertanya seraya menoleh ke arah di mana Orion mengumpat saat ini.


Perlahan ia melangkah dan memastikan bahwa tidak ada orang di sana. Namun, akan tetapi mc di balik tirai itu telah menyebut barang yang akan dilelang di akhir acara.


“Ah, sudah waktunya ya.”


Wanita itu pun bergegas pergi bersama dengan benda yang dibawanya. Yakni segenang darah yang belum dapat Orion pastikan apakah itu darah langka atau bukan.


Sementara di tempat duduk para tamu lelang. Salah seorang pria dengan setengah topeng dan mengenakan tuxedo hitam tengah tertawa begitu benda yang dibawa oleh wanita kelinci sudah ditunjukkan.


“Aku melihat, seberapa mahalnya ketika itu dilelang. Dengan begini, kekayaanku semakin bertambah,” ucap pria itu.