
“Seperti biasa kau lemah pada orang sekarat, ya. Orion.”
Chameleon mengambil alih kesadaran di tubuh si pemanah itu. Lantas tercengir dan menatap Orion dengan tatapan merendahkan. Rasanya seperti dipermainkan oleh Chameleon.
Entah sejak kapan alur pertarungan ini berada dalam genggaman Chameleon seorang. Yang sejak dulu memang suka memanipulasi banyak orang.
“Kau! Kenapa masih berada di dalam tubuhnya!? Keluar kau!” pekik Orion seraya mengencangkan genggamannya pada kerah pakaiannya.
Saat itu tubuh si pemanah sudah menggantung. Jika terlepas dari genggaman Orion, maka ia akan jatuh tanpa ada kemungkinan untuk selamat sama sekali.
“Yah, tapi ini benar-benar hobiku. Maksudku hobi bunuh diri.”
Chameleon menarik kerah kemeja Orion sehingga membuat tubuh Orion condong ke depan. Salah menjejakkan kaki sedikit saja akan membuat mereka terjatuh bersama.
“Kau, apa yang kau lakukan?”
Tap!
Tangan kirinya memegang pinggiran gedung. Lantas Chameleon melempar tubuh Orion ke arah bawah. Tak ada jeda waktu ketika Chameleon melakukannya. Hanya dalam waktu singkat saja, tubuh Orion kini sudah terlempar jauh dari gedung.
“Kh, dasar tidak waras!” amuk Orion di ambang udara.
Namun karena tekanan udara yang hampir membuatnya sesak napas. Sehingga kekuatan Orion pun sulit dikendalikan. Dengan dua sayap yang membentang untuk menstabilkan posisinya, tapi sudah percuma ia melakukan hal itu.
BRUAK!!
Orion terbanting keras ke jalanan beraspal. Hantaman yang cukup tuk menghancurkan jalanan. Dua sayapnya menyusut dengan cepat karena pengendalian api yang tidak stabil. Orion pula memuntahkan darah segar.
Dari sisi ke sisi di sekujur tubuhnya merasakan nyeri luar biasa. Sakit pada setiap tulang rusuk yang patah itu sungguh membuatnya mati rasa.
“Karura,” panggil Orion dengan suara lirih. Di ambang kesadarannya, ia berusaha setidaknya untuk menggerakkan satu jari.
“Jangan bergerak lebih dulu. Dalam kondisi seperti ini pun, sulit untukmu bergerak bahkan jika menutup lukanya dengan Api Abadi sekalipun,” tutur Karura menjelaskan.
Ya. Situasi ini cukup membuat Orion terguncang. Terutama keadaan raganya yang rusak parah. Namun Orion tetap berusaha untuk membuka mata dan bernapas dengan teratur.
Ia tak mau jika terus terbaring di saat situasi di sana belumlah usai. Ibarat menggantungkan hidup pada beban yang ia pikul sendiri.
“Semoga dia baik-baik saja,” gumam Endaru.
Melihat ruh Chameleon keluar dari tubuh si pemanah. Segera Endaru melepas jubah miliknya.
Sesaat sebelum mengeluarkan kekuatan yang Endaru miliki. Chameleon mengubah wujudnya menjadi Orion. Kali ini ia berwujud seolah-olah menjadi kasat mata.
“Harusnya aku bisa melawannya. Gravitasi 60x lipat!” teriak Endaru mengeluarkan aura yang sangat besar memenuhi seluruh atap gedung.
Di sekeliling tubuh Endaru terdapat lapisan berwarna kemerahan tua. Kedua tangan yang kekar itu bukan hanya sekadar pajangan saja. Ia menerjang ke arahnya lantas melayangkan pukulan yang dibuat lebih kuat atau berat dari aslinya.
Buak!
Satu demi satu pukulan mendarat ke tubuh serta wajahnya tanpa henti. Chameleon dalam wujud Orion kini hanya bisa dalam posisi bertahan. Tiada waktu untuk menangkis apalagi membalas serangan.
“Kenapa kau terus bertahan!?”
Duak!!
Kali ini Endaru menggunakan tendangan kaki lurus. Mengincar titik vital di bagian tengah tubuh, namun Chameleon berhasil menahannya dengan lengan yang berapi.
“Kekuatan itu ...tidak mungkin dia bisa meniru Api Abadi. Sedangkan Api Abadi hanya ada satu legenda saja!”
Endaru melompat mundur. Menjaga jarak, dan berwaspada akan api di lengan kanannya.
“Ya, kau benar! Padahal saat ini aku sudah melepas semua kekangan dari kekuatanku. Entah sampai kapan kau akan bertahan dalam getaran di setiap tubuhmu.”
Meskipun Endaru berkata seolah dirinya akan menang, akan tetapi Endaru jelas tahu bahwa kekuatannya tidak terlalu berpengaruh pada Chameleon. Ini situasi yang tidak bisa dipikir secara logika.
“Apa karena dia menggunakan dua wujud. Satunya dalam ruh dan kemudian merubah ruh itu menjadi wujud fisik Orion? Tetapi seharusnya itu tetap akan berdampak pada dia.” Endaru sempat khawatir akan bagaimana jika dan dengan apa ia melawannya.
Jika terus dibuat untuk berpikir. Endaru takkan pernah mendapatkan jawabannya. Kecuali ia mengetes dari setiap kelemahan dan kelebihan wujud Chameleon.
Blar!!
Ketika Endaru mendekat, api membakar dan menengahi mereka berdua. Tapi hanya berlaku sementara, sedangkan jangkauan serang Endaru semakin meluas jadinya api itu lenyap begitu ruangannya menjadi hampa.
“Jangan kau pikir, aku tidak bisa melenyapkan api jadi-jadianmu!” Endaru menunjuk dengan kesal.
“Ha, omong kosong. Lalu bagaimana dengan Api Abadi jadi-jadianku?”
“Kau lah yang omong kosong. Sudah pasti kau hanya menggertak. Aku tahu itu!” batin Endaru.
Chameleon membentuk sebilah pedang merah. Bentuk yang sangat persis itu tidak dapat dipungkiri. Begitu pula dengan cara ia menyerang pun sama dengan gaya bertarung Orion ketika menggunakan pedang.
Srat! Srat!
Sayatan membentuk bulan sabit dapat dengan mudah dihindari oleh Endaru. Endaru bergegas menuju ke posisi Chameleon saat ini, yang kemudian dihadapkan langsung dengan lengan berapi.
“Terkejut?” Chameleon tersenyum pada Endaru yang berhenti tepat ketika ia hendak melancarkan sebuah serangan jarak dekat.
“Mana mungkin!”
Jduak!!
Kuda-kuda yang mantap. Buku jari yang ditonjolkan dengan menghadapkan kepalan tangan ke samping. Endaru memukul telak di posisi jantung Chameleon berada.
Chameleon merasa telinganya berdenging kuat akibat getaran dari medan gravitasinya. Lalu jantungnya berhenti berdetak. Ia pun meninggalkan kesadaran, lepas dari wujud Orion. Dirinya berubah menjadi serpihan debu.
“Dalam keadaan wujud ruh begitu. Kau pikir akan selamat? Hm, ya. Bunglon itu cukup kuat, sih. Apalagi kalau bunglonnya psikopat.”
Bahkan Endaru yang menghentikan detak jantung Chameleon saja masih tidak yakin apakah serangan itu berakibat fatal atau tidak. Karena Endaru cukup tahu bahwa Chameleon memiliki fisik yang tidak masuk akal.
***
Kesadaran Orion semakin memudar. Beberapa kali ia mengedipkan kedua mata dan berusaha untuk tetap bangun.
Dalam pandangannya, ia melihat seseorang di sana. Sepertinya sedang sedih.
“Si-siapa?” tanya Orion dengan terbata-bata.
“Ini aku Pahlawan Kota, Endaru. Bagaimana keadaanmu?” tanya Endaru seraya duduk di dekatnya. Ia tidak berani melakukan sesuatu terhadap tubuh Orion. Termasuk memapahnya ke suatu tempat.
“Kau bertanya seolah buta. Aku sudah terluka parah. Sebelum bertemu dengan Chameleon, aku melawan seseorang yang memiliki kekuatan yang mirip denganmu.”
“Oh, benarkah. Tapi melihatmu masih bisa bergerak saat itu, itu artinya dia lemah.”
“Bagaimana dengan ...Chameleon?” Sekali lagi Orion bertanya dengan kelopak mata yang semakin menurun.
“Aku mengincar jantung. Tapi kurasa itu tidak cukup kuat. Apalagi aku melawannya di saat dia masih dalam wujud ruh.”
“Ternyata dia tidak membawa tubuhnya sendiri. Curang,” gerutu Orion.
“Ya, kau benar.”