
Dengan niat mengulik informasi yang ada. Namun justru ia berhadapan dengan seorang wanita yang tiba-tiba memiliki ketertarikan pada Orion. Lantas, Endaru membalikkan badan dan menahan tawa. Sementara Orion bingung harus menjawab apa saat ini.
“Ah, maaf. Saya jadi begini. Padahal Anda berdua adalah tamu, tapi saya malah mengungkap hal itu di sini.” Yang kemudian Nyonya Ash meminta maaf atas perilaku tidak sopannya.
“Baiklah, Nyonya Ash.” Hanya itu saja yang dapat ia katakan.
Karena rasanya waktu di malam hari ini cukup singkat, Orion harus menanyakan itu sekarang.
“Nyonya Ash, sebagai tamu apakah saya boleh bertanya sesuatu? Tidak, maksud saya, anggap saya yang sekarang adalah rekanan orang yang hidup kembali.”
Suasana yang sebelumnya sangat santai diiringi musik pun menjadi tegang sesaat setelah Orion menanyakan hal tersebut.
“Begitu. Kalau boleh tahu, apa yang akan Anda tanyakan?” Juga Nyonya Ash, yang berwajah serius menatapnya sedikit tajam.
“Pelelangan. Apakah ada tempat seperti itu?” Orion mulai bertanya.
“Tentu saja ada. Di negara ini tentu ada tempat yang disebut pelelangan. Di sana terdapat barang-barang langka yang dilelang. Mereka berlomba-lomba menghamburkan uang, Tuan Sadawira.”
“Apa Anda tertarik?” imbuhnya bertanya seraya tersenyum tipis menatap Orion.
“Nyonya Ash. Saya sangat tertarik dengan pelelangan, karena saya mendengarnya dari beberapa tamu Anda. Apalagi yang berkaitan dengan darah penghubung jiwa dan raga,” ucap Orion membalas senyum.
“Hm, ternyata begitu.” Nyonya Ash berdeham ia kemudian mengambil salah satu minuman yang diberikan pada pelayan di sana.
Sembari menawarkan minuman yang masih ada, Nyonya Ash kemudian kembali berkata, “Apakah Anda benar-benar membutuhkan darah itu? Jika memungkinkan, berhubung saya tertarik dengan Anda, maka saya akan membantu Anda agar mendapatkannya.”
Perkataan Nyonya Ash sekilas terasa merinding sesaat. Tak hanya Orion bahkan Endaru pun juga. Endaru sendiri juga tidak menyangka bahwa Nyonya Ash akan membantu Orion dalam hal tersebut.
“Orion, apa ini tidak masalah?” tanya Endaru dengan sedikit berbisik di balik punggung Orion.
“Aku akan melakukan apa pun yang berkaitan dengan kita. Bahkan darah langka sekalipun pasti akan menunjukkan keberadaan Chameleon sekarang,” jawab Orion tanpa ragu, dan tetap menghadap Nyonya Ash.
“Baiklah kalau kau maunya begitu. Tetapi berhati-hatilah, karena tidak semua orang akan membayar dengan gratis,” kata Endaru memperingatinya.
Nyonya Ash kembali menawarkan minuman yang telah disajikan lantas Orion menerimanya dengan senang hati tapi tanpa meminum setenggak pun.
“Tidak saya sangka bahwa Anda tidak punya keberanian untuk minum.”
“Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan jika meminum ini,” jawab Orion.
Tak!
Nyonya Ash menaruh gelasnya lalu kembali menatap Orion. Sekilas ia melihat ke samping kanan, lalu kembali menghadapnya.
“Apa yang Anda cari?” tanya Orion.
“Tidak ada. Hanya saja, saya merasa suntuk dengan pesta ini. Lalu, saya akan memberikan alamat itu. Terserah Anda menerima bantuan dari saya atau tidak, tapi saya akan tetap membantu Anda dari balik layar.”
“Sepertinya tidak diperlukan.”
“Anda juga cukup sombong rupanya. Tapi ketertarikan saya pada Anda tidak memudar hanya karena itu,” ucap Nyonya Ash seraya membalikkan badan. Tampak ia mencari secarik kertas lalu kemudian ia menuliskan alamat itu di sana.
Setelah beberapa saat, Nyonya Ash membalikkan badannya lagi. Seraya memberikan secarik kertas itu pada Orion.
Nyonya Ash pergi untuk menyapa tamu undangan lainnya. Segera Orion dan Endaru bergegas pergi dari sana. Sembari Orion memperhatikan Hery, yang sampai saat ini Hery masih belum sadar akan keberadaan Orion.
“Sepertinya tadi ada orang yang dikenal olehmu, ya?” tanya Endaru seraya masuk ke dalam lift.
“Iya begitulah. Tapi kau tidak bilang apa-apa tentangku, 'kan?”
“Tidak. Sama sekali aku tidak bilang apa pun tentangmu. Hanya saja pris itu ngotot sekali ingin bertemu denganmu. Sampai segitunya,” ujar Endaru.
“Itu juga karena dirimu yang seenaknya bilang bahwa aku adalah kekasih gelap Gista. Dasar,” gerutu Orion.
“Maaf saja. Haha.” Endaru tertawa hambar.
Pesta ulang tahun yang diadakan di aula utama di lantai atas ini cukup formal. Lantaran banyak tamu undangan yang sepertinya sangat penting, khususnya rekanan bisnis Nyonya Ash.
Beruntung pula Orion tidak berada di sana terlalu lama karena Hery, tunangan Gista pun ada di sana.
“Endaru, seberapa besar pengaruh wanita itu di sini?” tanya Orion tiba-tiba.
“Kalau di dunia nyata maka dia yang terbaik nomor 1. Tapi kalau kau bertanya pengaruh ketika dia berada di dunia kita, maka dia hanya 5℅ dari keseluruhan yang mengetahui jejak informasi tentang kita.”
“Serendah itu?!” Orion terkejut.
“Wajar kau kaget. Karena kalau dari negara kita sendiri, pengaruh besarnya adalah Presdir yang juga penjabat di bawah pemerintahan bukan? Jadi terhitung banyak yang mengetahui keberadaan kita.”
Orion menghela napas lalu menyahut, “Hah, ya. Karena pengaruhnya juga ada padamu. Sebagai Pahlawan Kota.”
Nyatanya di negara hukum liberal ini pun, meski terbilang banyak yang tahu tapi pengaruh dari yang berhubungan dengan dunia nyata terhitung sangat sedikit. Tidak sebanding dengan di negara mereka sendiri, apalagi dengan adanya keberadaan Chameleon yang tengah diburon selama berpuluh-puluh tahun lamanya.
“Kita akan pergi ke pelelangan sesuai waktu yang telah dituliskan oleh Nyonya Ash. Cepat atau lambat, keberadaan Chameleon akan terungkap di hadapan kita,” ujar Endaru.
“Aku tahu. Tapi tidak semudah itu. Kau masih ingat dengan pembicaraan sebelumnya? Tentang darah langka yang juga ikut dilelang, takutnya di sana ada seseorang yang aku kenali.”
Diam-diam merangkak seperti serangga. Hilang begitu suara keras terdengar entah ke mana. Kira-kira seperti itulah kiasannya pada Chameleon. Dan juga, ada beberapa orang yang patut Orion waspadai hingga saat ini.
Bahkan sebelum keberangkatan mereka saja, Orion bertemu dengan Mr. Iki Gentle di bandara Ind. Itu cukup membuatnya tegang, serta amarah yang membludak.
Ketika mengingatnya, Orion secara tak sadar menyentuh telinga kanannya yang sudah tidak ada. Bagian tubuh yang sudah dipotong oleh Mr. Iki Gentle. Katanya sebagai bukti agar Mr. Iki Gentle tidak dituding sebagai pengkhianat Chameleon, namun nyatanya Mr. Iki Gentle memiliki rencana yang berbeda dengan Chameleon.
Yang pasti, Mr. Iki Gentle dan Chameleon tidak seutuhnya mereka adalah antara majikan dengan pelayan. Ini bisa menjadi kesempatan Orion untuk memanfaatkan Mr. Iki Gentle.
Gradak! Dak!
Tiba-tiba suara keras dari atas kotak lift terdengar. Membuat Endaru dan Orion sangat terkejut, serta lift yang tidak kunjung berhenti.
“Hei, Endaru apa kau menekan tombol yang salah?” tanya Orion. Ia panik lantas lift itu rasanya terus bergerak ke bawah tanpa henti.
Sementara itu Endaru, ia kini duduk meringkuk. Tampaknya ia sangat ketakutan karena hal yang menimpa mereka saat ini.
“Masa' sih ...kita terjebak?”