ORION

ORION
Pahlawan Kota, Endaru



Orion sempat berbalik badan dan berniat pergi, namun pintu kamar itu telah terbuka. Orion menoleh lantas mendapati seorang pria yang barusan membuka pintu. Ia mengenakan pakaian serba hitam dengan jas panjang dan sarung tangan. Terlihat wajahnya masih begitu muda, sekitar 20 tahunan.


“Aku pikir Pahlawan Kota sudah tua. Ternyata dia masih begitu muda.” Orion membatin dengan wajah terkejut.


“Ada apa datang kemari? Apa yang kau butuhkan?”


Pahlawan Kota itu bertanya mengenai tujuan Orion datang ke depan kamarnya. Suara pria ini terdengar begitu dingin, tatapannya pun sama. Ada hawa tak mengenakkan di dalam. Haruskan Orion meminta masuk?


“Maaf, apa benar Tuan adalah Pahlawan Kota?” Orion bertanya.


Begitu mendengar apa yang Orion tanyakan, sontak ia menyunggingkan senyum lantas tertawa lirih.


“Hu, itu benar. Aku adalah Pahlawan Kota. Ada yang kau butuhkan dariku?” Pahlawan Kota itu pun tersebut mengambil posisi duduk agar sejajar dengan tinggi Orion.


“Perkenalkan namaku, Orion Sadawira. Aku ke sini karena ingin tahu hal lebih tentangmu, Pahlawan Kota,” tutur Orion menjawab kedatangannya.


Pahlawan Kota kembali berdiri, ia membukakan pintu lebar-lebar dan menyuruhnya masuk ke dalam. Tanpa sungkan, Orion pun masuk dan merasakan tekanan yang luar biasa.


“Kau adalah orang yang pertama kali masuk ke dalam wilayahku tanpa takut. Apakah di luar sana tidak ada yang memberitahumu tentang diriku? Yang tukang suruh lah, sombong atau sejenisnya?”


“Iya, aku mendengar itu semua. Tapi kupikir Pahlawan Kota memiliki sifat yang lebih dingin. Sejujurnya Tuan tidak begitu peduli dengan itu semua, 'kan?” pikir Orion.


Sontak, Pahlawan Kota itu pun terkejut. Tiba-tiba saja ada seorang anak kecil datang dan langsung mengatakan kata-kata yang begitu pedas. Mungkin itu terdengar biasa saja, tapi tidak dengan Pahlawan Kota.


“Namaku Endaru. Salam kenal, Orion Sadawira.”


Pahlawan Kota kemudian duduk di sofa. Lalu menyuruh Orion untuk duduk juga. Sesaat, ia merasakan sesuatu hal yang aneh dari Pahlawan Kota. Namun entah apa itu.


“Satu-satunya yang menjadi tujuanku adalah menemui Pahlawan Kota agar aku tahu apa yang dimaksud Gista.” Orion membatin.


“Bocah, sepertinya kau bukanlah penggemarku atau apa. Selain Pejuang NED, aku tak tahu lagi siapa dirimu yang sebenarnya. Apakah kau salah satu dari bagian grup itu?” pikir Endaru seraya memperhatikan penampilan Orion.


“Iya, itu benar sekali. Aku bagian dari Grup Arutala, yang dimana itu menjadi pondasi di antara grup yang lain.” Orion menjawab dengan berwajah serius.


“Arutala ternyata. Apa saja yang dikatakan olehnya padamu?” Tiba-tiba hawa di sekitarnya terasa lebih pekat. Ia menatapnya sinis.


“Hanya diktator, sombong, jaga image di depan publik. Serta orang yang bangkit dari 30 tahun yang lalu,” ucap Orion, tanpa ragu menjawab pertanyaan itu.


Meski firasat Orion saat ini tidak terasa baik, ia tetap berada di tempat tersebut. Lantaran menunggu celah agar ia dapat masuk ke pertanyaan lebih dalam.


Banyak orang bilang, kalau ingin bertanya maka harus menunggu kesiapan dari orang yang menjawabnya. Karena jika tidak, maka mungkin keadaan tenang ini akan menjadi bentrok dalam waktu singkat. Akan tetapi, menjawab pertanyaan itu pun sepertinya membuat Endaru sangat marah.


“Maaf. Sepertinya itu menganggumu.”


Terkejut karena tiba-tiba begini. Orion sedikit demi sedikit berusaha bangkit tapi yang menekannya ke bawah ini membuatnya sulit untuk bergerak. Ia hanya mampu melihat tubuh Endaru yang diselimuti warna kemerahan.


“Aku tidak keberatan kalau di cap buruk oleh sesama Pejuang NED. Tapi apa-apaan 30 tahun yang lalu itu ...apa dia ingin membuatku murka lagi?”


Semua perkataan Endaru mengarah pada dirinya di masa lalu. Orion tahu tentang 30 tahun yang lalu pun karena Raka, adiknya Mahanta. Bukan dari Gista sendiri. Dan juga tidak ada hal buruk yang diceritakan tentang itu. Tapi mengapa Endaru marah?


“Urgh! Tak aku sangka kalau ...kau adalah orang yang begitu menjengkelkan!” ketus Orion, dan masih dalam posisi seperti itu.


Rasanya seperti ditarik ke bawah, lantai kamar pun menjadi retak. Seiring berjalannya waktu, lantai di bawahnya menjadi pecah. Ruangan ini bisa hancur kalau tidak segera dihentikan. Belum lagi, udara di sekitar Orion semakin tipis.


“Ini ya ...gravitasi. Semuanya jadi kacau kalau aku tak bisa mengendalikan diri. Tak kusangka orang ini sangat sensitif,” celetuk Orion dalam benaknya.


“30 tahun yang lalu, kenapa aku harus menjadi pusat perhatian bagi publik? Tentu saja itu karena orang dewasa, orang-orang seperti mereka yang menyuruhku untuk menjadi pahlawan kesiangan,” tutur Endaru seraya memegang kepalanya yang terasa sakit.


Blar! Mulut api terbuka, api membara begitu panas dan besarnya saat Orion memaksa tubuhnya untuk bangkit. Tapi tekanan ini tidak bisa dihindari, celahnya sulit ditembus sekalipun Orion berhasil pasti tak lama ia akan terjatuh.


“Aku tidak tahu kau ada apa. Tapi yang kudengar tentangmu hanyalah hal-hal yang sering didengar oleh orang lain saja,” lirih Orion.


Semakin besar api semakin besar pula tekanan yang diberikan oleh Endaru kepadanya. Pengendalian gravitasi Endaru benar-benar sesuai rumor yang beredar. Kekuatan yang dimiliki Pahlawan Kota tidak sebanding daripada yang lain.


Sekilas terlihat begitu ...


“Sulit untukku bernapas. Orang ini berniat membunuhku, ya?” batin Orion.


Cahaya kemerahan yang terlihat semakin pekat, kemudian disusul cahaya kebiruan yang terlihat seperti kunang-kunang. Dan kekuatan yang ia kendalikan pun membuat tekanan udara yang tipis dan tubuh Orion semakin berat rasanya. Seolah batu besar menghantam.


“Gista Arutala. Sejak dulu dia selalu ikut campur! Memangnya dia tahu apa? Sok perhatian dan memberiku kasih sayang. Wanita tak tahu diri itu!”


Amarah Endaru semakin melunjak. Rasanya Orion tak bisa bicara baik-baik lagi dengannya. Apa pun caranya, Orion harus melakukan sesuatu agar Endaru bisa mendengarnya berbicara lagi.


Karena ada hal yang ingin dibicarakan. Tapi tak mungkin dalam kondisi seperti ini.


Perlahan-lahan, api yang keluar dari tubuh Orion kian menggelora. Semakin membara dan warna kejinggaan berubah menjadi warna kemerahan tua. Seolah darahnya mengembang, Orion memaksa dirinya untuk kembali bangkit.


Bruak! Dan sekali lagi ia terjatuh, dalam keadaan duduk, tubuh Orion terasa seperti pecah berkeping-keping. Rasa sakit tak tertahankan begitu Endaru semakin memperkuat kekuatan pengendalinya.


Tetapi Orion tak sepenuhnya terkunci di lantai. Ia mengulurkan tangan dengan susah payah, berusaha meraih Endaru yang tengah duduk dengan sombongnya itu.


Tubuh Orion pun ikut berubah. Tekanan ini membuat kekuatan Orion semakin membesar. Semula wujud anak kecil berubah menjadi wujud seorang pria dewasa.


“Dasar anak yang sok merasa benar!” kecam Orion.