
“KARENA DARAH LANGKA ITULAH YANG MEMBUAT KAMI GILA!!”
Teriakan Jhon menggaung ke seluruh gedung ini. Orang-orang Meera seketika berbalik badan dan menatap Orion dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Sekilas terlihat benci atau mungkin tatapan yang menginginkan Orion.
“Huh ...” Orion hanya membuang napas, seraya melangkah mundur ia menundukkan pandangan. Ia enggan melihat tatapan mereka kepadanya.
Tatapan mereka seperti itu, mengingatkan Orion akan masa lalunya yang terbilang cukup buruk. Ya, lebih buruk daripada merasakan kematian itu sendiri.
Bagaimana rasanya ketika dituduh macam-macam? Bagaimana pula rasanya ketika di cap sebagai kambing hitam?
Orion merasakan pandangan mereka itu sama seperti pandangan orang-orang yang berada dekat dengannya dulu. Satu kesalahan yang muncul, mengakibatkan segalanya hancur berantakan.
Salah sedikit saja ...
Bahkan hanya sekedar menorehkan tinta di atas kertas yang salah, itu rasanya seperti luka yang ditabur garam.
Sakit.
“Apa yang kalian tatap? Memandang Orion sebagai apa? Musuh kita hanyalah orang ini! Urusan lain itu belakangan!” pekik Meera membuat orang-orangnya terkejut lantas menatap ke arah lain.
“Heh! Lihat!? Semua Pejuang NED itu sama! Kita membutuhkan darah itu agar keluarga kita dapat hidup kembali. Orang-orang yang kita sayangi! Benar, bukan?!”
Krak! Meera dengan sadisnya menginjak tangan kanan Jhon sampai jari-jemarinya patah. Jhon berteriak, ia mengerang kesakitan dengan peluh bercucuran.
“Lalu kau mau apa setelah mendapatkan Orion? Hah? Memeras darahnya lalu dibuang begitu saja? Kau tak manusiawi!”
Krak! Lagi-lagi Meera menginjak tangan Jhon. Dan kali ini punggung tangan kiri. Tanpa mematahkan jari, Jhon tetap merasakan sakit yang luar biasa.
Seolah terpotong-potong, Jhon bergeliat di lantai dan kekuatan yang ia miliki menjadi tak stabil.
“Nah, sekarang, karena kau sudah bicara. Mari kita dengar jawaban dari semua pertanyaanku. Siapa yang menyuruhmu melakukan hal itu?” Meera bertanya dengan sorot mata yang tajam.
“N-Nona ...Nona Gista,” jawab Jhon gemetaran.
“Jangan bohong!” teriak Orion.
“Redakan amarahmu, Orion. Dan jangan lihat kemari karena ada adegan yang tidak pantas. Ya?” ucap Meera menyunggingkan senyum ke arahnya.
Sontak, Orion terdiam dengan wajah bingung.
“Tidak, Nona Meera! Sebelumnya dia mencelakai orang dengan kekuatannya itu. Entah apa yang dia lakukan dengan sebuah jarum, tapi yang pasti itu membuat perasaanku tidak enak,” ujar Orion dengan gelisah. Ia kemudian menghampiri mereka.
“Orion, yang barusan ...”
“Apakah kau adalah Chameleon?” tanya Orion tak menggubris perkataan Meera.
“Apa aku harus menjawab pertanyaanmu?” sahut Jhon dengan tatapan mengherankan.
Bayangan itu kembali muncul dari bayangan milik Jhon sendiri. Menyerang Orion dalam jarak dekat, sontak Meera menendang tubuh Jhon hingga terdorong jauh ke sudut ruangan.
Bayangan itu tak lagi muncul setelah Jhon menabrak dinding.
“Dia bukan Chameleon, Orion. Kenapa kamu penasaran sekali dengannya?” tanya Meera yang penasaran dengan alasan Orion.
“Tidak ada alasan khusus,” ketus Orion.
“Atau mungkin karena darah penghubung jiwa dan raga? Aku bisa menjawabnya kalau tentang hal itu. Mulai dari insting yang menyuruhmu melarikan diri, melawan atau membunuh,” tutur Meera tak merasa sungkan jika perlu dijelaskan.
“Tidak perlu mengatakan hal begitu. Aku punya tujuanku sendiri dengan bertemu Chameleon.”
“Ya, kalaupun dia betulan Chameleon. Ataupun rekannya? Sejujurnya aku tidak begitu yakin. Karena dia terlihat lemah dari yang aku kenal.”
“Yah, kecuali ada beberapa kekuatan yang keluar dari tubuhnya membuatku berpikir dia Chameleon,” imbuh Nona Meera bergumam.
“Oh, ya? Memang wajar kalau Nona Meera berkata begitu, apalagi setelah bertarung dengan Chameleon,” ujar Orion setengah menyindir bahwa Meera menyepelekan kekuatan Jhon.
Tap! Tap!
Orion dan Meera menghampiri Jhon sekali lagi. Mereka hendak melihat apakah Jhon sudah terlepas dari ikatan itu atau belum, dan apakah mungkin sedang tidak sadarkan diri?
“Dia pura-pura mati.”
Buak! Setelah Meera memastikannya, ia menendang perut Jhon lebih kuat dari sebelumnya. Orion kaget karena Meera tiba-tiba melakukan itu.
“Dasar br*ngs*k!” amuk Jhon, memaki Meera.
Bayangan yang sebelumnya digunakan, berubah menjadi api yang begitu membara. Sangat besar hingga membakar barang-barang di sekitar mereka.
Srashh! Meera menggunakan kekuatan airnya untuk memadamkan api tersebut. Tapi tidak dengan api yang seolah membakar tubuh Jhon sendiri.
“Entah apa yang dia lakukan sebenarnya. Api miliknya sulit dipadamkan. Apakah dia tidak merasakan sakit kalau terbakar begitu?”
Jhon menyerang mereka dengan serangan jarak jauh. Sembari berceloteh, Meera dan Orion menghindari serangan beruntun yang membabi buta.
“Darah itu harus ku bawa pulang!” katanya.
Jhon kukuh atas pendiriannya. Sekali ia menetapkan, maka jangan harap terlepas dengan mudah dari cengkraman pria ini.
Daya serang Jhon tidak main-main. Bahkan setelah serangan jarak jauh pun, ia juga menggunakan pukulan dan memperpendek jarak antar mereka. Terutama Orion, target yang ia incar saat ini.
“Orion menghindar!” teriak Meera seraya membuat air merendam setengah tubuh Jhon.
“Huah! Aku bisa tenggelam kalau begini caranya!” protes Orion di ambang permukaan.
Asisten Meera kembali muncul dalam kondisi tubuh yang belum stabil. Luka yang ia derita karena terbentur dinding dan karena serangan dari Jhon, masihlah sangat menyiksa wanita ini.
“Kenapa kembali, kau!?”
Tentu saja sebagai atasan mereka, Meera tak mau kalau orang-orangnya terluka lagi setelah serangan yang mereka dapatkan.
“Maafkan saya Nona Meera. Tugas saya belum selesai, bukan?” sahutnya dengan lancang.
Asisten Meera mempercepat gerakannya, ia berenang lebih cepat. Ketika posisinya sudah dekat dengan target, ia pun mengeluarkan kepalan tangan dari dalam air.
Buakk!! Sempat, Jhon menghindar namun tidak untuk yang kedua kalinya asisten Meera meninju Jhon. Butuh waktu yang tepat sekaligus kecepatan dan kekuatan yang setidaknya mampu membuat Jhon berguncang.
“Tidak hanya atasannya bahkan asistennya saja sudah kuat begitu,” batin Orion.
Air sepenuhnya surut lagi. Orion kembali mengikat tubuh Jhon sekali lagi namun Jhon begitu mudahnya terlepas. Ketika sinar rembulan menyorot sedikit ke arahnya, ia masuk ke dalam bayangan lalu bergerak ke daerah yang gelap.
Sangat gelap dan tak dapat mereka terka ada di mana Jhon berada saat ini.
“Rasanya seperti melawan tikut got,” cerocos Meera.
Meera menggunakan teknik memperluas jangkauan serang lagi, air menggenang di halaman luar depan dan belakang. Mencari keberadaan Jhon yang tengah bergerak dalam bayangan.
“Dia ada di luar, pas sekali!”
Meera mengejarnya lalu disusul Orion. Tapi melihat Jhon yang tetap bergerak dalam bayangan seperti itu. Meera tak bisa apa-apa.
“Aku tidak bisa membiarkannya!” teriak Meera, hendak berlari mengejarnya kembali.
Orion mencoba menyerang bayangan itu dengan api membentuk wujud pedang.
Syuut! Pedang itu menancap ke bayangan dan membuatnya berhenti namun, tak lama setelah itu ia pergi lagi dengan meninggalkan darah yang keluar dari tubuh Jhon karena pedang itu.
“Ukh, tiba-tiba kepalaku sakit setelah menyerangnya,” rintih Orion seraya memegang kepalanya.