ORION

ORION
Bertarung Dengan Dokter Sinting



Dr. Eka pergi ke suatu ruangan yang tampaknya terpisah dengan gedung utama rumah sakit. Ruangan di sana tidak seluas yang ia kira, dan kemudian Eka masuk ke dalam tanpa menutup kembali pintunya.


“Dia memancingku, kau pikir aku tidak tahu? Tapi harus tetap ku ikuti sih,” gumam Orion seraya menghela napas.


Tap! Tap!


Orion perlahan melangkah dan ketika ia masuk ke dalam, pintu itu tiba-tiba saja tertutup. Orion yang kaget, reflek menoleh ke belakang. Ini mengingatkannya akan film horor yang sering kali ditonton.


“Wah, wah, aku tidak menyangka kalau kau betulan mengikutiku, Orion.”


Eka menoleh dan menatap culas kepadanya. Sesaat semilir angin melewati tubuhnya dan membuat bulu kuduk merinding.


“Aku tahu kau sengaja memancingku. Tapi kenapa?” tanya Orion.


“Kau tanya kenapa? Sedangkan pertanyaan itu harusnya ditujukan untukmu,” sahut Eka seraya menunjuk dengan jari panjangnya.


“Kalau begitu aku tidak akan berbasa-basi lagi. Apa kau memiliki cara untuk mengembalikan tubuh seseorang ke awal mulanya?”


Dalam sekejap, Eka berada di depannya. Mencondongkan tubuh ke depan dan menatap kedua bola mata Orion yang berwarna kecoklatan.


“Sudah masuk ke pertanyaan utama rupanya. Aku pikir kau masih ingin berdalih serta bersandiwara. Tak kusangka kau punya keberanian,” kata Eka.


Seraya memalingkan wajah, ia melangkah ke samping agar tak lagi berdekatan dengannya.


“Tentu harus begitu. Aku tidak suka mengulur-ulur waktu karena sebentar lagi aku akan pergi,” kata Orion.


“Oh, rupanya kau sudah berbeda dari yang dulu, ya? Orion Sadawira, pria tua berusia 30 tahun yang meninggal dengan mengenaskan. Dulu kau memohon pada seseorang untuk membunuhmu karena sudah tidak kuat menghadapi kenyataan.”


Eka mengatakannya seolah-olah ia berniat menginjak harga dirinya. Dari gelagatnya, ketika bicara sembari mengusap bibir itu terkesan bahwa Eka adalah pria yang suka memainkan drama.


Apa saja yang sudah ia lakukan selama ini?


Tak pernah terbayangkan kalau kemarin saja ia nyaris dibunuh oleh Jhon. Bahkan Jhon mengatakan bahwa Mahanta sudak tidak hidup lagi?


Alasan yang tidak bisa Orion mengerti adalah kenapa setiap manusia yang diberi kesempatan kedua justru menggunakannya bukan untuk menebus dosa melainkan menambahnya.


“Lalu, kenapa? Beberapa orang juga sudah tahu tentang kematianku. Nah, sekarang, katakan, apa ada caranya?” tanya Orion dengan dingin.


“Kalau aku bilang tidak ada bagaimana? Toh, kau juga ingin mati, bukan?” pikirnya seraya mengangkat kedua bahu.


Lantas, Eka melangkah mundur lalu berbalik badan dan membuka tirai jendela. Jendela di sana cukup besar bahkan hampir memenuhi dinding.


Di ruangan ini, tak ada bau antiseptik sama sekali. Dengan angin berhembus lebih kencang ketika Eka membuka jendelanya, Orion berpikir,


“Bau yang asing. Minyak? Atau hal lain?”


Seperti minyak tanah namun juga tidak. Bau yang tercium seperti bau yang terbakar, cukup asing dan sedikit sensitif di hidung Orion.


“Dr. Eka. Aku memang memiliki keinginan untuk mati tapi sekarang aku hidup kembali. Dan aku datang mengikutimu sampai kemari karena aku menginginkan jawaban atas pertanyaanku tadi,” ujar Orion kembali menegaskan.


Ia tak ragu mengambil langkah untuk kembali mendekati Eka yang kapan saja bisa melakukan sesuatu hal buruk kepadanya. Namun Orion cukup keras kepala, kalau jawaban ada di depan maka ia akan menerobosnya sampai dapat.


Crak! Bagian pelipis Orion tergores mengeluarkan darah. Ia melirik dan melihat tangan Eka tepat berada di samping wajahnya.


“Aku sudah bilang, kalau tidak ada bagaimana? Apa yang kau lakukan?” tanya Eka.


“Apa kau tidak tahu maksudku? Aku menyerangmu karena kita adalah musuh. Selama ini aku menahan diri, karena takdirmu yang cukup menarik untuk dilihat. Juga darah dan kekuatanmu yang besar,” ucap Eka.


“Kau memuji?” sindir Orion.


“Ah, ya. Tapi, aku rasa akan lebih nikmat kalau mencicipinya sendiri,” bisiknya seraya menjilat jari jemarinya yang terkena noda darah.


Srak! Orion menyeret langkahnya mundur, berjaga jarak seraya menekan luka di bagian pelipisnya. Tidak terlalu sakit namun darahnya terus mengalir.


“Aku juga tahu kau mengincarku karena darahku. Aku berniat tutup mata untuk itu tapi sepertinya tidak bisa,” kata Orion.


Mereka saling bertukar tatap tak bersahabat. Keduanya pun saling mengeluarkan senjata. Eka dengan api hijau serta ular bersamanya lalu Orion dengan dua bilah tajam melekat di kedua lengannya.


Orion mengambil posisi menyerang dengan kedua lengan bersenjata ke depan. Melihat tatapan yang begitu culas, membuat Orion sedikit meragu.


“Kekuatan yang bisa dibentuk seperti itu ...aku jadi makin penasaran siapa dirimu dulu. Tapi ingatan itu tertutup begitu rapat,” gumam Eka.


“Dia tidak tahu kalau aku baru bangkit 20 tahun lalu, ya? Tapi itu kabar bagus,” batin Orion.


Ketika Eka melangkah ke depan, Orion dengan sigap mengambil alih kendali alur pertarungan. Ia mengayunkan lengan, bilah pedang itu pun terbakar serta menyayat bagian depan tubuh Eka.


Setelah menyerangnya sekali, Orion melompat mundur. Dan luka Eka tertutup tanpa meninggalkan bekas luka yang seharusnya cukup parah.


Padahal Orion sama sekali tak menahan diri. Ini sudah pasti karena penyembuhan Eka sendiri. Kekuatan di luar nalar, tipe monster. Orang yang patut diwaspadai.


“Kekuatanmu cukup berguna.”


“Terima kasih telah memuji. Tapi seranganmu dari awal cukup dangkal, Orion. Apa jangan-jangan kau tidak berniat menyerangku?” celetuk Eka.


“Aku juga tidak tahu. Mungkin karena belum pulih sepenuhnya.”


“Oh, iya ya. Benar, kau ini masih belum bisa menggunakan kekuatan penuhmu, ya? Sayang sekali. Padahal aku ingin melihat kekuatanmu saat melawan Pahlawan Kota. Dan apakah itu api abadi atau bukan?”


Bahkan Eka tahu bahwa dirinya pernah bertarung melawan Pahlawan Kota Endaru. Lalu, api abadi yang ia maksud, tidak dapat Orion memahaminya.


“Ah, kalau saja kau bisa. Lalu kalau itu benar api abadi, maka akan sangat berharga. Khususnya untuk Tuan Caraka!” sambungnya seraya menatap langit-langit ruangan.


Srak! Srak! Srak!


Orion beberapa kali mengayunkan lengan, bilah yang tajam berapi itu mengenai semua barang-barang yang ada di sekitar serta beberapa tumpukan kertas sampai berserakan di mana-mana.


Ia mengayunkannya begitu cepat sampai menuju ke langit-langit ruangan itu sendiri. Jejak serang Orion membekas begitu dalam. Yang harusnya terluka justru Eka terlihat baik-baik saja.


Ia tetap berdiam diri di sana sambil memandangnya dan menyeringai lebar. Api kehijauan membara, dan membesar seiring waktu hingga membentuk sebuah pusaran mengelilingi dirinya.


“Caraka, apakah itu Tuanmu?” tanya Orion seraya melesat ke arahnya.


“Tentu. Kalau kau mau tahu, Tuan Caraka itu sebenarnya rekan Chameleon yang suka mencari darah langka dari semua anak-anak biasa serta yang Pejuang NED,” ucapnya dan tetap menyeringai lebar.


Sraaa!!! Api hijau menyembur tubuh Orion, Orion terdorong mundur dan sedikit terguling, seluruh tubuhnya telah terbakar dan panasnya begitu menyengat.


“Ukh, aku kira dia hanya bisa mengendalikannya dengan secara tidak langsung. Tapi dia bisa begitu juga? Aku ceroboh!” amuk Orion seraya mengerang kesakitan.