
Chameleon mulai terdesak. Ada tanda-tanda yang membuat mereka berpikir bahwa efek kekuatan Chameleon agaknya mengurang. Merasa bahwa serangan mereka tak berakhir sia-sia, segera Orion dkk kembali menyerang Chameleon secara membabi buta.
“Ayah! Merunduklah sebentar!!”
Dor! Dor!
Beberapa tembakan melesat cepat tertuju pada Chameleon seorang. Namun sayangnya peluru yang telah disiapkan Endaru justru mengenai bawahan Chameleon yang berdiri sebagai perisai.
“Takkan kubiarkan!!”
Kail pancing yang hanya bisa digunakan dengan dua tangan, Jinan yang hanya memiliki satu tangan itu pun nekat menggunakannya. Melampiaskan emosi sepenuhnya karena merasa diacuhkan hanya karena bukan target mereka, kail pancing itu pun bergerak mengikuti emosi penggunanya.
“Jangan menganggu!”
Meski kail pancingnya bergerak sangat cepat, namun tidak ada hasilnya apabila menyentuh api abadi milik Orion. Begitu terkena sedikit dari percikan apinya, maka kail pancing tersebut pun akan terbakar dengan cepat.
“Setidaknya, luka berat ini akan menjadi bukti!” ujar Sera seraya mengayunkan cakar tajamnya, Mahanta yang bersaing dengan angin miliknya sendiri, sempat terdorong mundur karena hempasan dari cakar-cakar panjang milik Sera.
“Pisau angin!” Namun berakhir begitu angin yang tak dapat dilihat itu menebas tubuh Sera berulang kali dari segala arah dan tak menentu.
Serangan yang tak bisa dilihat, namun hanya bisa dirasakan. Begitu sadar serangan ada di depan mata, maka semuanya akan terlambat. Jinan dan Sera, keduanya mengalami kekalahan beruntun akibat penyergapan ini.
Lalu, Hendrik yang tengah bersembunyi di balik tubuh Iki, tampaknya akan mengubah lantai menjadi lumpur lagi. Tetapi, Orion yang ceroboh berusaha untuk membebankan semua padanya seorang. Kedua sayap apinya membara, semakin meluas hingga merobek dinding serta langit-langit ruang bawah tanah.
“Kita ulangi hal yang sama!” Gista berujar, kembali ia berlari melewati Orion, lalu menyerang secara bersamaan dengan Orion.
Antara api dan es, setengah dari kekuatan berhasil melahap habis Chameleon yang tergencet karena kekuatan tiada batas milik Gista. Es akan semakin diperkuat apabila bertemu dengan uap yang lembab, namun api abadi milik Orion nampaknya juga akan menimbulkan kerugian yang cukup pada esnya.
“Black Hole!”
“Gista, mundurlah!”
Entah berada di mana kekuatan itu muncul, Orion yang mengandalkan insting langsung menyeret mundur Gista. Agar tak terjadi hal yang buruk nantinya.
Sementara Orion terkena dampak dari Black Hole kecil yang ternyata berada di dekatnya. Nyaris melahap tangan kanannya yang menjadi pemicu api, sebagai ganti, kulit wajah dan sebagian tubuhnya terseret oleh lubang hitam itu.
“Ugh! Menyebalkan!”
“Ya, ya! Aku pun juga kesal! Ini menyebalkan!” amuk Chameleon yang kini dalam wujud ruh.
Ia melayang-layang dengan bentuk tak menentu, wujudnya yang transparan benar-benar menyerupai hantu tembus pandang. Dan jika dilihat lebih baik, hampir dari kedua pihak dibuat tumbang tak karuan. Terutama Iki, belum dalam kondisi pulih, ia memaksakan dirinya menggunakan kekuatan instan seperti itu. Tentu akan berpengaruh pada tubuhnya.
Ctar!
Guntur kembali terdengar di langit. Dinding es dan bersalju masih tebal bahkan setelah ditembus oleh Runo yang diserang oleh Ramon pun telah kembali seperti sedia kala.
Jinan, Sera, Hendrik dan Caraka yang seharusnya sudah sulit bergerak, mereka sekali lagi berdiri demi melindungi Chameleon yang tak tertandingi.
“Ketua Arutala, mereka terlihat seolah melindungi sesuatu yang akan dilakukan Chameleon.”
“Itu benar. Ini buruk.”
“Saya akan menyingkirkannya. Tolong, menepilah sebentar.”
Dalam sekali gerakan, Ketua Irawan memantapkan dirinya tuk menyerang bawahan Chameleon. Meskipun akan memberi dampak besar kerusakan, namun setidaknya ini dilakukan agar tidak ada yang menganggu.
Dinding tanah muncul di belakang punggung Sera, Jinan, Iki, Caraka, dan Hendrik. Begitu sadar, mereka terlambat bereaksi, kecuali Iki, semuanya terdorong menjauh dari ruang bawah tanah. Menuju ke atas hingga menembus dinding es bersalju dengan paksa.
DUAKK!!
Lalu, entah kenapa Orion merasakan guncangan hebat di kepalanya. Ia merasa seolah kepalanya baru saja terbentur dengan keras padahal tak ada seorang pun yang menyerangnya.
“Sakit!”
“Ada apa, Orion?”
“Ayah!”
“Tidak, tidak ada masalah apa pun. Selanjutnya, Chameleon akan melarikan diri ke atas,” jawab Orion sembari menunjuk ke bawah.
Berkat api yang berfungsi menjadi penerangan sementara, mereka semua dapat melihatnya. Lumpur yang sebelumnya ada kini tergantikan dengan lumpur lain yang berwarna hitam gelap dan sangat menjijikan.
“Bayangannya!”
Splaatt!
Satu persatu dari mereka terserang, terciprat lumpur hitam bayangan. Sangat lengket dan sulit dilepas.
“Argh! Apa-apaan ini?” amuk Endaru.
“Tidak bisa bergerak!!”
“Ck! Trik macam apa lagi ini!”
“Bakar, Orion!” pinta Gista.
Orion mengerang kesakitan, rasa sakit di kepalanya semakin menjadi sampai mengeluarkan darah padahal ia sama sekali tidak terluka. Mendengar perintah dari Gista, ia lantas membakar lantai dengan Api Abadi.
“PANAS!!!!!”
Mereka semua harus merelakan kedua kakinya terbakar jika tidak maka selamanya akan terjebak di sana. Sementara Chameleon sudah berada di atas, dengan kekuatan Gista ia membentuk anak tangga untuk dinaiki oleh Orion.
“Lari! Kejar Chameleon! Jangan sampai menyentuhnya langsung!” teriak Gista.
“ARGGH!! SAKIT!” Sambil mengeluh kesakitan, Endaru melayangkan tinju pada Chameleon, tepat mengenai wajahnya.
Tak lama kemudian Mahanta mengeluarkan anginnya lalu es Gista perlahan merayap ke tubuh inti Chameleon sehingga membuatnya sulit bergerak.
“Ck, padahal tinggal sedikit lagi,” gerutu Chameleon seraya berdecak kesal.
“Memangnya apa tujuanmu?”
“Hei, kau yakin tidak mau membunuhku? Sekarang kesempatan emas loh,” tuturnya dengan terus tersenyum.
“Kau beraninya mengatakan banyak hal ketika kami tidak berbuat hal lebih, ya?” ujar Endaru.
“Ha, bocah sepertimu membuatku muak. Apa kau berencana untuk membunuhku sama seperti kejadian di halaman kampungmu?”
“Ataukah yang melakukannya adalah pembunuh berdarah dingin.” Chameleon melirik Gista.
“Atau mungkin anjing setiamu. Gista?” lanjutnya seraya melirik Mahanta.
“Diamlah! Aku yakin dengan membekukan seisi tubuhmu maka semua kekuatanmu akan batal,” sahut Gista yang tetap memaksimalkan kekuatannya demi mencegah Chameleon melarikan diri.
“Haha, yakin? Bocah asap itu akan tetap sama. Meski aku mati, semua orang yang aku kendalikan dengan benang bak dewa akan tetap ada. Mereka yang tidak bisa mengendalikan—”
Pita suaranya membeku, tersisa sedikit wajahnya yang masih belum membeku akibat kekuatan Gista itu. Sementara Mahanta dan Endaru lalu Ketua Irawan telah berada di posisi siaga, begitu kendali es Gista terlepas maka mereka akan langsung memburunya.
Tetapi, sesuatu yang buruk telah terjadi pada Orion. Nampaknya luka di kepalanya bukanlah ilusi belaka melainkan luka dari seseorang yang memiliki separuh Jiwa Orion.
Di tengah medan pertempuran, Iki yang berada dekat dengan Orion hanya bisa memandang dengan pandangan mengabur. Dan Orion pun ambruk.
Rencana penyergapan bisa dikatakan setengah berhasil dan setengah gagal. Mengapa?
Perencanaan ini dimulai setelah melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai kekuatan absoult milik Chameleon. Terdengar akan sulit dilawan bak melawan langit itu sendiri, namun manusia tetaplah manusia.
Chameleon memiliki celah setidaknya ¼ dari kekuatan yang ia kerahkan, dan itu terbukti dari serangan kecil Runo yang hanyalah serpihan salju bahkan tak ada niat membunuh sedikitpun di kepingan salju tersebut.
Namun, walau penyergapan telah membuat bawahan Chameleon tak berdaya. Seperti raja atau dewa, kekuatan absoult memanglah sulit dilawan. Meski telah memiliki celah ataupun kesempatan, namun nyatanya membutuhkan tenaga besar hanya untuk menyentuh seujung jarinya saja.
Benar-benar tidak masuk akal jika dikatakan ia adalah manusia, lebih dari monster maupun tipe Monster seperti Sera. Ia berada di level yang berbeda bahkan setelah Gista memanipulasi kandungan air dalam tubuhnya menjadi es hingga membuat organ serta kulit luarnya membeku di bawah -2° pun, Chameleon masih memiliki tenaga untuk berbicara.
“Kalian takkan bisa mengalahkanku.”
“Bocah asap itu maupun semua orang yang memiliki kekuatan dariku akan terus menggila sampai kembali ke liang lahat masing-masing! Yaahahaha!!” imbuhnya dengan tawa menggelikan.
Saat ini, tubuh Chameleon yang tengah berubah-ubah tetaplah menjadi beku. Gas pun tiada tandingannya, dan jujur saja itu sudah melukai tubuh intinya. Namun, entah kenapa Gista dan lainnya merasa ada yang aneh.
BRUK!!
Belum mengetahui suatu kejanggalan pada Chameleon yang telah membeku. Orion ambruk ke lantai dengan darah keluar dari bagian kepalanya. Sementara Iki, ia kesulitan bernapas karena tenggorokannya sempat terbakar oleh Api Abadi dan sesuatu telah terjadi pada Gisan.
***
“KYAAAAA!!!
“TIDAK, TIDAK! TOLONG! ARGHH!!”
Seolah neraka tumpah ke dunia, kini di berbagai perkotaan telah terjadi kerusuhan. Berada di tingkat tertinggi, pemerintah juga kesulitan menanganinya, apalagi orang-orang kecil seperti mereka yang hanya bisa berteriak meminta tolong pada siapa pun itu.
“Tolong!!!”
“Tidak ada yang berhenti melakukannya, tolong! Jangan! Stop it!” teriak Nicholas seraya menutup kedua telinganya, ia merasa lelah dengan semua ini.
Ia tidak bisa apa-apa jika hanya sendirian dan ada anak yang masih membutuhkannya juga. Nicholas tak mau mati begitu saja, tapi hati kecilnya ingin menyelamatkan mereka semua bagaimanapun caranya.
“Mr. Sadawira, aku harus bagaimana?”
Sebelum kematian palsu Nicholas terjadi. Nicholas dan Orion saling bersepakat atas asas bersama. Dengan tujuan masing-masing namun dengan cara yang sama maka semua masalah ini akan usai.
“Saya Orion Sadawira. Sama seperti Saint, saya disebut sebagai Pejuang Near death-exp. Anda tentu mengetahui hal ini bukan?”
“Ya, saya tahu. Jadi, Anda ingin saya berpura-pura mati.”
“Ya, ini demi Anda. Lalu, saya meminta satu hal pada Anda, bisakah?” pinta Orion.
Saat itu, Orion memintanya melakukan sesuatu. Dan itu terhitung sangat penting khususnya bagi negara GL sendiri.
“Mintalah pada banyak Saint, dari Emblem Priest, Gerhana Bulan, lalu Nyonya Ash dan Tuan Hery yang berasal dari negara Id sama seperti saya.”
“Ini ...”
“Tuan Hery, ia adalah putra presdir yang mendirikan Organisasi NED di negara Id. Nomornya tercatat di sana dan kebetulan dia juga berada di negara ini,” jelasnya.
“Selain itu, para Saint?”
“Ya. Saya hanya mengenal organisasi kecil bernama Gerhana Bulan dan Emblem Priest yang saat ini dipimpin oleh pria bernama Ken.”
“Kemudian Nyonya Ash juga? Orang yang terlibat dengan dunia politik ...,”
“Ya.”
“Sebenarnya kamu meminta apa?”
“Dengan nama-nama yang saya sebutkan barusan, saya meminta Anda sebagai calon presiden negara GL untuk berhubungan dengan mereka semua.”
“Makanya ...aku bertanya, sebenarnya apa yang kamu minta dengan menyebut nama-nama orang penting ini?!”
“Sebentar lagi, entah besok atau lusa, Chameleon akan menghancurkan negara ini.”
“Apa?! Tunggu, tapi orang-orang yang barusan kau sebutkan itu takkan mudah—”
“Anda cukup menghubungi mereka dengan menyebut nama saya. Kecuali untuk Tuan Hery, saya sarankan untuk menyebut nama Gista Arutala. Maka dijamin mereka semua akan bergerak mengikuti perintah Anda,” ungkap Orion.
“Saya peringatkan, entah besok atau lusa Chameleon akan menghancurkan negara ini. Saya memohon pada Anda karena saya percaya Anda bisa melakukannya,” tutup Orion.
***
Yang paling diingat oleh Nicholas adalah kata-kata Orion mengenai perannya.
“Calon presiden negara GL. Mr. Sadawira, seberapa besar kau percaya padaku?”
Nicholas yang hampir berputus asa kini akhirnya kembali bangkit. Dirinya melakukan sesuai yang dikatakan oleh Orion. Tak hanya itu, ia pun langsung menambahkan nama-nama kenalan yang bisa membantunya dalam mengurus hal rumit ini.
Terutama Saint yang ada di setiap sudut kota dalam negara, itulah yang terpenting karena melawan para orang-orang berkekuatan super tentunya akan jauh lebih efektif jika menggunakan Saint yang memiliki kekuatan sama.
“Saint Ken, Anda bisa menolongku? Kudengar Anda yang paling mengenali banyak Saint, bisakah membantu bereskan kekacauan di kota S-Frans.”
Dari Saint kemudian beralih pada para pejabat tinggi yang memungkinkannya untuk langsung mencapai Inti. Nyonya Ash yang sangat sulit dihubungi secara mandiri, kini akhirnya ia langsung mendapatkan suara Nyonya Ash melalui nomornya langsung.
Sempat terkendala karena berbagai pihak tidak ingin mempercayakan nyawa para Saint yang mereka miliki, namun begitu menyebut nama Orion Sadawira khususnya saat menghubungi Nyonya Ash, beliau langsung menerima permintaan Nicholas seperti yang dikatakan oleh Orion.
Mereka langsung menerima begitu mendengar nama Orion, itu saja terlalu membuat Nicholas terhenyak. Ia sempat bingung mengapa mereka menerimanya begitu saja. Terlebih dirinya hanyalah gubernur saja untuk saat ini, yang bahkan mungkin banyak dari mereka membenci Nicholas.
“Mr. Hery. Saya memohon bantuan Anda untuk mengirimkan beberapa Pejuang NED yang Anda bisa kirimkan, tentu saja letakkan di mana kota yang belum mendapatkan bantuan.”
[“Siapa yang menyuruhmu?”]
“Ms. Gista Arutala dan Mr. Orion Sadawira.”
Awalnya pun sempat terkendali begitu menghubungi pria satu ini. Dari pihak manapun, Hery yang paling susah untuk membuatnya membantu negara GL ini. Namun akhirnya ia luluh dan akan mengerahkan yang bisa dikerahkan di kota-kota terpencil yang bisa dijangkaunya.
“Terima kasih kerja samanya!”
Tentu saja Nicholas pun membantu setidaknya menggunakan sedikit akal karena melawan peniru para Saint tidak bisa sembarangan. Nicholas tidak berjuang sendiri, dan kini suara teriakan yang terdengar di setiap sudut wilayah akhirnya mulai berhenti.
Tergantikan dengan suara kebahagiaan mereka, rasa bersyukur yang amat mendalam. Di berbagai kota yang sudah Nicholas urus dengan memintan bantuan sesuai standarnya, pun perlahan mulai menunjukkan ketenangan.
Awal mula perkotaan sangatlah kacau akibat kerusuhan di setiap tempat yang ada. Nicholas hanya bisa berpasrah diri karena dalam keadaan seperti ini ia tidak bisa melakukan apa pun. Sekali menolong yang lain, maka di tempat lain akan terdengar teriakan lagi. Setiap kali selalu saja seperti ini.
Namun, kemudian ia teringat suatu hal yang membuatnya bangkit kembali. Yaitu, perkataan Orion.
Bagi Nicholas menghubungi mereka yang sangat jauh derajatnya dibanding calon presiden satu ini adalah hal yang paling mustahil. Terutama Saint yang sama sekali ia tidak pernah memegang sekelompok orang unik seperti mereka. Tapi Orion mengubahnya dalam sekejap.
Hanya dengan menyebut nama Orion, mereka semua tunduk pada Nicholas. Pemerintah yang mendengar kabar bahwa Nicholas yang mengendalikan para pejabat serta berusaha mengamankan perkotaan pun terkejut, lantas bukannya memaki atau benci, ia pun turut membantu dengan mengarahkan beberapa orang yang bisa mengatasi hal ini.
Kekuatan yang sulit dipercaya, kini kota akan aman tak lama setelah kedatangan para Saint. Mereka semua datang satu persatu, bahkan juga berkelompok dan memulai tugas mereka masing-masing tuk mengamankan para penduduk yang dilanda kegilaan.
“Sebenarnya siapakah Mr. Sadawira sebenarnya? Seberapa jauh koneksi yang ia miliki, sungguh sulit dipercaya.”
Inilah yang menjadi pertanyaan terbesar Nicholas. Siapakah Orion memang menjadi misteri, yang mampu menggerakkan ini semua hanyalah Orion seorang diri namun tentunya ia tak bertangan kosong saja, ia juga mendapatkan bantuan di sana sini hanya untuk mendapatkan koneksi semata.
Dan inilah kegunaannya, hanya demi mengembalikan perkotaan seperti biasanya.
Namun, mereka semua belum mengerti. Apabila Chameleon musnah maka mereka yang dibuat bangkit dengan kekuatan supernatural akan tetap menggila terus seperti ini sampai akhirnya mati.
Fakta ini belum sampai karena Orion sendiri pun belum menyadarinya. Sebab ada sesuatu yang salah dengannya sekarang ini. Tapi, Gista dan lainnya mengetahui fakta tersebut dan berusaha untuk membuat unit kedua bergerak guna melakukan sesuatu pada mereka yang dibangkitkan paksa oleh Chameleon.
Tadinya Gista berpikir untuk membunuhnya saja, tapi akan terjadi keributan jika tiba-tiba membunuh penduduk sipil, terlebih Gista berada di negara asing dan bukan negaranya sendiri. Jadi pergerakan Gista dan lain-lain pun terbatas.
***
Setelah beberapa saat, akhirnya Gisan terbangun. Ia berada di bagian barat dalam pulau, sedikit lagi ia nyaris tercebur ke laut. Berusaha untuk menenangkan diri sekaligus mengetahui situasi yang telah terjadi. Gisan memutar arah pandangnya guna mengetahui situasi saat ini juga.
“Aku ...masih hidup?”
Ada luka yang cukup parah di bagian kening Gisan. Serta sebuah dinding tanah berdiri di dekatnya lalu seorang pria yang tangan kirinya terlilit kail pancing.
“Eh? Bukannya dia salah satu anak buah Chameleon?” pikir Gisan sejenak.
Pria itu sudah dalam kondisi tak sadarkan diri. Selain tangan kanan yang nampaknya sudah lama buntung. Gisan menyadari luka parah di sekujur tubuh dan benturan di kepala sama seperti dirinya.
“Jangan bilang tadi aku terbentur dan pingsan sebentar ya? Ah, hampir saja ...” gumam Gisan seraya melirik ke arah laut.
Jika ia terjatuh dalam kondisi tak sadarkan diri, entah apa yang terjadi pada Gisan. Karena ini laut, maka akan ada ikan-ikan ganas yang mungkin berenang di bawah sana.
“Gawat, harusnya aku secepatnya keluar dari sini.”
Sementara itu. Orion pun ikut sadarkan diri. Namun begitu ia sadar dan membuka kedua matanya dengan jelas.
“Loh, ke mana mereka?”
Situasi mendadak sepi.
***
Lantai 2. Rumah panggung Chameleon.
[“Hanya menahannya ...Anda yakin?”]
“Ya, ketua Dharma.”
Situasi saat ini semakin keruh saja. Kekuatan Chameleon yang sempat melemah kini kembali menguat karena berhasil terlepas dari pembekuan es.
“Kristal.”
Pecahan-pecahan kristal berujung runcing yang berjumlah ratusan terlempar ke arah Chameleon yang kini menghadap langit. Terdapat lubang di dinding es bersalju karena Chameleon merusaknya.
Meski pecahan kristal es sedikit mengenainya, namun Chameleon mampu mengelak dengan mengubah wujudnya menjadi ruh. Sementara sedikit dari pecahan kristal menyentuh tubuhnya, maka akan membuat tubuh Chameleon sekali lagi mengalami pembekuan.
Kondisi Gista semakin tak memungkinkan karena terlalu berlebihan menggunakan kekuatannya, kini bagian punggungnya sudah mengalami efek pembalik, ia sedikit demi sedikit membeku.
“Nona Gista. Saya mohon, beristirahatlah sebentar, saya yang akan menangani ini bersama Ketua Irawan,” ucap Mahanta berbisik.
Gista menganggukkan kepala.
Pecahan-pecahan kristal es yang tadinya tertancap ke sembarang arah kini kembali menyerang Chameleon karena pengendalian angin Mahanta, membuat Chameleon kesulitan dan karena terus membuang waktu, ia pun langsung berlari ke arahnya.
“Saya akan bergerak,” ucap Mahanta berlari meninggalkan persembunyiannya.
Mahanta berlari ke arah Chameleon yang juga mengincarnya, di satu sisi Ketua Irawan membuat dinding tanah dari dua arah guna menutup jalan keluar. Ia bahkan menambal dinding es bersalju itu dengan dinding tanahnya.
Ketua Irawan memberi pesan isyarat dari balik ruangan pada Mahanta. Yang mengatakan, “Serang secara bersamaan.”
Mahanta langsung mengerti, kemudian keduanya pun memulai serangan dari dua arah yang berbeda. Dari arah depan, mungkin Mahanta terlihat ceroboh karena berani menantang Chameleon langsung, tapi itu akan membuat celah besar padanya sehingga Chameleon tak sadar serangan yang sebenarnya dan dirugikan ada di belakangnya.
Pisau angin menerpanya, dari arah belakang, celah besar mulai terlihat dan cukup satu gundukan tanah yang dibuat tajam di ujungnya maka semua akan selesai.
“UARGH! ERGH ...sakit, siapa? Ugh!”
“Bagaimana rasa dari tanahku? Kau sama sekali tidak menguat jika terus diserang bukan?” ujar Ketua Irawan. Ia menyatukan jari telunjuk dan tengahnya, guna memperkecil dan kasar pada tombak tanah yang telah menembus tubuh Chameleon.
Chameleon tak bisa bergerak sama sekali, ia kini bersimbah darah dengan luka fatal di bagian perutnya.
“Ha, dia tidak akan lolos.”
Napas Mahanta berat, namun ia pun berhasil mendaratkan serangannya dari depan. Berupa pisau angin yang tersimpan pecahan kristal es milik Gista.
Di samping luka fatal telah melukai Chameleon, kini bagian organ yang sempat terhenti akan selamanya terhenti karena efek pembekuan yang kian menguat.
“Es milik Nona Gista belum sepenuhnya kau bersihkan 'kan?” ujar Mahanta menyeringai.
“Kau yang sama babak belurnya bisa apa?”
“Hei, kau tak lupa kalau mantan rekanmu ada di sini ya?” sahut Ketua Irawan.
“Ha, diamlah! Dasar pengkhianat sampah!”
“Aku tak keberatan jika disebut begitu. Karena aku hanya berpihak pada keadilan. Kau cukup tahu bahwa ambisimu itu terlalu norak,” tutur Ketua Irawan.
“Hahahaha!! Kalian bertiga kerja bagus!!” seru Endaru seraya berkacak pinggang lantas tertawa bahak-bahak di ujung rumah panggung lantai dua, berdekatan dengan anak tangga.
“Kau! Bagaimana dengan orang itu?” tanya Ketua Irawan.
“Sukses!” jawabnya sembari mengacungkan jempol.