ORION

ORION
Perbedaan Antara Amatir dan Pro



Informan itu tak ragu membunuh seseorang dalam diam di hadapan semua orang. Ia menyayat nadi di bagian leher seorang pria (mc) di sana. Sementara orang-orang hanya berfokus pada Orion sembari menyorakinya dengan beberapa pertanyaan, makian dan lain-lain.


Di sisi lain, Endaru. Setelah melihat sinyal Orion dari kejauahan tanda bahwa Orion sedang membutuhkan bantuan dan berada dalam masalah. Ia segera bergegas menuju ke asal sinyal api itu. Akan tetapi, Endaru justru tersesat.


“Banyak sekali jalan berliku-liku di sini. Tadi arahnya ada di mana? Apa aku harus tanya seseorang?”


Drap! Drap!


Endaru berlari ke sana dan kemari hingga terus berputar mengelilingi daerah di sana. Nampaknya tidak kunjung menemukan jalan menuju sinyal Orion berada saat ini.


“Ck! Seharusnya aku ikut saja. Tapi kenapa Orion justru meminta untuk pergi sendiri sedangkan ada saat-saat di mana dia membutuhkan bantuan,” gerutu Endaru berdecak kesal. Ia kemudian pergi dan mengambil jalan lain yang tersisa.


Mungkin.


“Paman! Apa kau tahu tempat yang bisa diperjualbelikan?” tanya Endaru pada salah seorang yang sedang duduk santai.


“Maksudmu pasar? Kalau pasar ada di arah barat,” jawabnya seraya menunjuk ke arah belakang.


“Ah, itu 'kan jalan pertama kali aku sampai. Sedangkan lokasi Orion ada di depan ...jauh. Dasar, tidak ada yang mengerti apa maksudku!”


Drap! Drap!


Setelah itu pun Endaru pergi karena merasa pertanyaannya tidak ada yang mengerti sama sekali. Ia pun menuju ke suatu tempat yang berada dekat dengan pelelangan. Saat itu Endaru masih belum tahu bahwa lokasi Orion ada di sana.


“Bibi, kalau boleh tahu itu tempat apa?” Endaru memutuskan untuk bertanya pada orang sekitar seraya menunjuk ke arah yang ia maksud karena itu berhasil menarik perhatiannya.


“Itu adalah pelelangan Undergrown. Apa kau ingin ingin ikut?” ujar si bibi seolah menantang.


“Nah, itu dia!” Endaru kembali bersemangat, lantas ia menemukan tempat yang dimaksud oleh Orion.


Tanpa menggubris perkataan si bibi itu lagi, Endaru pun bergegas menuju ke sana. Ia membuka pintu yang tanpa penjagaan sama sekali, beruntungnya ia masuk begitu mudah tanpa ada gangguan sama sekali.


Ketika masuk, barulah ia dihadapkan oleh sekumpulan konglomerat terkenal, teratas, terkaya dan lain sebagainya. Aura mereka ibarat lahir dari emas berkilau, Endaru lantas tahu bahwa tempat ini berbahaya.


“Banyak sekali orang di sini.”


Endaru yang tidak bisa melihat apa-apa, ia pun mencari jalan kembali untuk melihat sesuatu yang ada di bawah saat ini juga. Begitu sudah menemukannya, ia melihat seorang pria yang terbaring bersimbah darah serta sekelompok pria yang menahan pergerakan seseorang.


Kemudian, datang lagi seseorang yang tampaknya Endaru juga mengenalinya. Seseorang itu menggores lengan pria yang sedang ditahan itu.


“Orion? Orion, kenapa dia berada di sana? Dan bukankah pria itu informan yang selalu menyediakan segala informasi termasuk Chameleon?” gumam Endaru dengan rasa tidak percaya.


“Tuan Pahlawan Kota! Anda datang kemari rupanya. Syukurlah, tapi bisakah Anda membantu Tuan Orion sekarang? Dia terlihat seperti tidak berdaya,” ujar Runo yang tiba-tiba datang menghampiri Endaru.


“Aku mengerti. Tapi bukankah dia selalu begitu,” pikir Endaru yang merasa bahwa Orion akan melakukan sesuatu lagi.


“Tidak begitu! Tuan Orion ...pandangannya mati! Seolah dia menerima jikalau dia akan mati sekarang. Maka dari itu—”


“Ah, iya, iya. Aku tahu. Karena dia selalu pasang wajah begitu, jadi sulit dibedakan. Yang kau katakan juga ada benarnya, tapi kenapa jadi begini?”


“Saya sendiri juga tidak begitu mengerti.”


Bahkan Runo saja tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi Endaru yang baru saja datang karena tersesat sebelumnya. Lantas bagaimana dengan Ketua Irawan sekarang? Ketua Irawan itu sekarang, mungkin tengah mewaspadai sekitar. Namun mustahil baginya untuk muncul sekarang.


Terlalu gegabah jika dilakukan sekarang. Itulah yang Ketua Irawan pikirkan, usai kejadian ini terlanjur terjadi dengan cepatnya.


“Kenapa Mahanta tidak kunjung menghubungiku lagi? Apa dia masih sibuk? Bahkan aku menghubungi dia beberapa kali, tak aku sangka akan jadi semerepotkan ini.”


Tepat panggilan dengan Mahanta terputus, tanpa sengaja Ketua Irawan menjatuhkan ponselnya ke lantai. Ia terduduk di sana sementara sedang berpikir sesuatu untuk keluar dari masalah ini.


“Pria itu mengacau,” tudingnya mengarah Orion yang kini terjebak.


Percuma jika salah menyalahkan kalau ujung-ujungnya tak satupun dari mereka yang enggan bergerak dalam situasi ini. Berbeda dengan Endaru, ia hendak pergi ke bawah dengan perasaan tak nyaman.


“Tunggu!” Runo menahan langkah Endaru.


“Apa-apaan kau?! Pergi sana kalau tidak ingin membantu.” Endaru mengamuk lantas melepaskan genggaman Runo padanya.


Gruduk! Gruduk!


Usai informan meneteskan darah pada mc tersebut, mc itu kembali hidup. Dan mereka semua, hadirin bertopeng menyunggingkan senyum selebar-lebarnya lantas turun dari sana. Mereka bergerak cepat, dan akan menyerbu panggung utama.


“Apa?!” Endaru kalut. Ia sangat terlambat datang kemari. Karenanya Orion menjadi mangsa untuk mereka yang amat menyukai darah langka.


“Tidak akan kubiarkan!”


Drap! Drap!


Endaru berlari. Ia lantas melepas jaket pendek serta kedua sarung tangannya. Medan gravitasi berkali-kali lipat ia kerahkan pada seluruh orang yang berada di ruangan ini. Tanpa terkecuali termasuk Orion sendiri.


DUAK!


Secara serentak, tubuh para orang-orang bertopeng bertekuk lutut dan tak dapat bergerak sama sekali. Jangankan menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang berbuat ulah di saat penting, bahkan mereka sulit untuk menggerakkan satu jari pun.


“Hei Orion! Apa kau akan tidur terus?! Ini sudah siang! Orang tua sepertimu harus berjalan-jalan ke kota!” pekik Endaru mengerutkan kening. Ia sangat marah.


“Ha? Jalan-jalan di siang hari yang begitu panas?”


Srak!


Ketua Irawan menyibak tirai, seketika gundukan tanah muncul dan mendorong orang-orang yang menahan tubuh Orion. Sedangkan Runo saat itu hanya dapat berdiam diri lantas kedua kakinya gemetaran.


“Kenapa? Padahal mereka hanya orang biasa. Tidak seharusnya ...” gumam Runo yang tak lagi melanjutkan perkataannya.


“Hei kau! Apa kau takut?” tanya Endaru pada Runo yang tidak bergeming itu.


“Tentu saja! Mereka 'kan orang biasa! Kenapa harus dilibatkan?!” amuk Runo yang merasa bahwa tindakan Endaru terlalu sembrono.


“Orang-orang di sini saja melakukan semua hal yang diinginkan bahkan tak peduli dengan Orion. Kenapa juga aku harus peduli?” sahut Endaru dengan dingin.


Informan yang berusaha untuk melarikan diri namun usahanya sia-sia karena Ketua Irawan mengurungnya dengan batang-batang kayu.


“Endaru ...dia bocah yang tidak waras,” gumam Orion seraya bangkit dengan api berwarna kemerahan.


Darah yang sebelumnya mengucur pun terhenti, luka itu tertutup rapat tanpa bekas seolah hilang dalam panas yang menguap-nguap.


JDAK!


Mereka semua, termasuk Runo kecuali Orion, Endaru serta Ketua Irawan lantas kepala mereka terbentur ke lantai. Mengakibatkan mereka tak sadarkan diri, entah masih hidup atau tidak.


“Hah ...hah ...hah ...s*al! Padahal aku juga berniat untuk membenturkan kepala pria jangkung itu,” ucapnya lirih mengarah pada Ketua Irawan.