
“Seingatku, tidak pernah aku mengatakan akan datang menemuimu di sini. Dan meskipun aku mengatakannya, kau seharusnya tidak mendengar.”
Langkah Orion perlahan mundur ke belakang. Merasakan bahwa orang yang berada di hadapannya bukanlah Mahanta yang ia kenal. Karena itu, sebisa mungkin ia harus menghindari pertarungan.
“Jadi, siapa kau?” imbuh Orion. Menggigit bibir bagian bawahnya seraya menatap curiga ke arah Mahanta.
“Ha, kau tahu siapa aku.” Mahanta menghela napas lantas menyunggingkan senyum lebar.
Wajah Mahanta berubah, keseluruhannya kembali ke wujud asli dari sosok tersebut. Yang tidak lain adalah pria yang baru saja Orion temui di perbatasan, pria dengan sosok tak jelas dan menggunakan pisau angin untuk menyerang.
“Sudah kuduga. Hei, kau ini sebenarnya siapa?! Katakan!” Orion menunjuk dengan kesal.
“Siapa aku? Itu tidak penting.”
“Lalu ada urusan apa kau datang kemari?” tanya Orion. Ia kemudian membatin, “Kupikir dia Chameleon. Syukurlah, bukan.”
Pria itu melangkah, mendekati Orion dengan senyum lebar yang terpampang sangat jelas. Ia kemudian mengangkat lengan kanan yang memiliki kuku-kuku panjang berwarna kehitaman.
“Urusanku di sini, hanyalah membunuh orang yang aku sukai. Setiap detik, menit, hari, bulan dan tahun. Sudah banyak orang yang aku temui dan kau membuatku tertarik,” tutur pria itu.
Syat!
Tiba-tiba mengayunkan kuku jarinya yang panjang, hingga menggores lengan kanan Orion. Tak biasanya lengan berapi milik Orion itu dapat dilukai. Bahkan semua orang akan segan hanya untuk mendekat saja. Sontak, Orion terdiam seraya memandangi lengan kanan yang terus mengeluarkan darah pekat.
“Orang ini berbahaya. Bahaya, bahaya, bahaya!” Orion terus membatin kalang kabut, hatinya merasa resah, degup jantung menjadi tak beraturan.
Bergegas Orion melompat mundur ke belakang, namun pria itu berhasil menangkap kali ini lengan kirinya. Tubuh Orion yang bergelojak darah langka, seketika bergerak dengan sendirinya. Nampak ia pun terkejut saat melepaskan genggaman tangan pria tersebut.
Duk!
Tepat setelah terlepas darinya untuk pergi, ia kemudian menabrak sebuah dinding dari belakang. Terkejut, Orion lantas menoleh ke belakang.
“Siapa, ah? Bangunan?”
Orion tidak begitu mengingatnya, sejak kapan bangunan ini ada berada dekat dengannya. Secara tiba-tiba ia sudah sampai ke bangunan ini, tentu Orion semakin merasa aneh. Wajah yang gelisah, kening yang berkerut ketika ia merasakan hawa yang tidak ada bedanya.
“Tunggu, sebenarnya aku ini berada di mana sih? Apa aku tersesat? Tapi kenapa bangunannya jadi sedekat ini? Dan bangunan apa ini? Rumah? Sejenis dengan villa? Ini cukup besar!”
Bangunan yang menyerupai rumah mewah ini menyerupai sebuah villa. Karena tempatnya sama sekali tidak strategis, terutama di tengah-tengah daratan hanya ada bangunan ini satu-satunya.
Tak berhenti sampai saat itu juga, berkali-kali Orion melirik ke belakang lalu ke depan secara bergantian. Ia sangat berwaspada karena berpikir bahwa ini ulah pria yang sama.
Cklek!
Seseorang membuka pintu, Orion reflek menoleh ke asal suara. Mendapati seorang pria yang dikenalnya muncul di belakang pintu.
“Kau!” ucap mereka serentak dengan terkejut.
Tidak lain adalah Mahanta lagi. Dalam pandangan Mahanta saat ini, ia pun melihat hal seperti Orion. Yang di mana mereka mengira bahwa orang yang di hadapan mereka saat ini bukanlah orang aslinya.
“Siapa kau?!” teriak mereka bersamaan.
“Hei, harusnya aku yang bilang begitu!” Kemudian mereka kembali berteriak secara bersamaan seraya mengacungkan jari telunjuk.
Beberapa saat mereka terdiam dengan saling bertukar tatap tajam. Saling mencurigai, saling tidak mempercayai, mereka berdua pun mulai berwaspada.
Sementara Mahanta juga memikirkan hal sama dalam benaknya. “Orion palsu kembali muncul. Aku harus bagaimana? Melawannya dengan angin seperti kekuatan miliknya?”
Tak cukup hanya dengan bertukar pandang dan saling curiga satu sama lain. Keduanya lantas bergerak sedikit mundur dengan mempersiapkan serangan. Secara bersamaan, kekuatan mereka muncul dari tangan mereka.
“Sekarang!” batin mereka serentak.
BUK!
Keduanya saling mendaratkan pukulan ke wajah. Api dengan angin berada pada kepalan tangan mereka itu pun turut mendarat ke wajah lawan. Yang kemudian, mereka kembali melangkah mundur.
“Tunggu sebentar!” teriak Mahanta seraya mengangkat telapak tangannya ke depan.
Sembari memegang wajah yang kini lebam karena dorongan angin itu Orion berkata, “Jangan bilang kau Mahanta yang asli?”
“Benar! Aku Mahanta yang asli! Dan kau pasti Orion yang asli juga!” pekik Mahanta bersuara keras seraya menyeka abu pada wajahnya.
Kecurigaan pun berakhir dengan saling serang sebelumnya. Mereka berdua kini telah menyakini bahwa apa yang mereka lihat sekarang adalah orang yang asli. Bukan palsu atau hanya sekadar ilusi semata.
“Syukurlah, kupikir itu dia,” ucap mereka kembali serentak kemudian menghela napas panjang.
Perasaan mereka sama-sama lega karena telah mengetahui bahwa ini bukan karena ulah pria sebelumnya.
“Hei, Orion. Ternyata kau di sini. Tapi ini sudah larut malam, dan ada apa dengan pakaianmu? Sangat kotor juga basah, masuklah lebih dulu.” Mahanta mengajak Orion untuk masuk ke villa tersebut.
Villa dibangun dengan dua lantai. Terawat dengan baik meskipun debu menumpuk banyak di beberapa furnitur di dalamnya.
“Kenapa ada tempat seperti ini?” tanya Orion seraya melirik ke sekelilingnya.
“Aku juga tidak tahu. Karena aku menemukannya saat hampir tersesat karena kabut malam,” ujar Mahanta.
Orion kemudian mengambil tempat duduk di dekatnya. Lalu merobek setelan jas dan mengikatnya ke lengan kanan yang terluka. Saat melihat itu, Mahanta bertanya kenapa Orion bisa terluka di bagian yang bahkan tidak berani disentuh oleh sembarang orang.
“Kenapa kau bertanya seolah tangan kanan ini tidak akan terluka?”
“Tentu saja karena itu Api Abadi, 'kan? Aneh rasanya ada yang berhasil melukaimu begitu. Ataukah Chameleon?” tanya Mahanta.
“Tidak. Itu karena ulah pria yang sebelumnya. Apa kau juga pernah bertemu dengannya?” tanya Orion.
“Iya. Aku pernah bertemu dengannya. Sempat aku berpikir bahwa kau juga adalah dia tapi ternyata tidak. Oh, ya, apakah wajahmu tidak masalah?” Mahanta baru teringat bahwa dirinya telah memukul Orion.
Dengan santai Orion berkata, “Tidak masalah. Lagi pula aku juga sudah memukulmu. Kita impas,” ujarnya seraya mengencangkan ikatan tuk menghentikan pendarahan di lengan kanannya.
“Baiklah, Orion. Maaf.”
Entah ini beruntung atau mungkin menuju keburukan nantinya, tapi yang pasti Orion saat ini sangat mencurigai pria itu. Terlebih dapat melukai Orion di bagian lengan kanan yang bahkan rawan disentuh.
“Untuk saat ini beristirahatlah sebentar. Karena malam sudah semakin larut.” Mahanta melirik ke arah jendela lalu berkata, “Ah, ini sudah pagi.”
Terlihat langit sudah mulai agak terang.
“Memangnya ini pukul berapa?” tanya Orion.
“Pukul 6 pagi,” ucap Mahanta melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.