ORION

ORION
Amukan Serta Kegelisahan



Semenjak hilangnya Orion, dua minggu kemudian datanglah Gista dan itu bertepatan dengan Ketua Meera yang akhirnya mulai mengingat satu persatu kepingan memorinya yang sempat hilang akibat benturan keras di bagian kepalanya.


Sementara itu, Endaru selalu berkeliaran sehingga membuat Mahanta dan Ketua Irawan kesulitan untuk menjaganya.


Endaru saat ini,


“TUNGGUUU!!!!” Suaranya yang menjerit keras hingga terdengar di beberapa gedung yang ia lewati.


Ia berteriak bukan karena ingin saja melainkan ia berteriak pada seorang pria yang memegang alat musik kecapi.


“Ya ampun! Anak itu benar-benar kalau tidak ada Orion, kita jadi kesulitan!”


“Ah, ya Anda benar, Ketua Irawan. Karena Endaru hanya menuruti apa perkataan Orion, makanya dia begini.”


Mahanta dan Ketua Irawan sedang mengejar Endaru yang tengah mengejar pemain kecapi itu, alasan Endaru mengejarnya adalah,


“Kembalikan Orion!! Ah, tidak! Maksudku ke mana CHAMELEON!”


Ya, itu inti ceritanya. Endaru tengah mencari keberadaan Orion yang berkedok untuk menangkap Chameleon dengan menggunakan pemain kecapi yang telah lama Chameleon cari itu.


“HEI! ENDARU! KAU AKAN KE MANA!”


“Percuma berteriak, Ketua Irawan.”


***


Waktu, sebelum kedatangan Gista dengan penyamaran.


Markas Gerhana Bulan. Gedung yang tinggi, ahli bisnis dari Saint yang menyebut dirinya sebagai Tuan Gerhana Bulan ialah kasino.


Tapi, sekarang beralih pada lantai yang paling dasar namun berada di atas lantai tempat latihan bagian dalam.


Sudah dua minggu berlalu, semenjak Orion berada di tempat ini. Ingat hal yang terjadi sebelumnya? Orion terbakar hingga menunjukkan kerangka tulangnya saja tapi saat itu Orion masih hidup.


Dan karena memiliki kesepakatan pada Chameleon, maka Orion pun dibawa oleh Chameleon sendiri ke markas ini. Tempat di mana Gerhana Bulan menyembunyikan kelompok Chameleon.


Ini cukup ironi jika mengingat kesepakatan yang pernah terjadi di antara Gerhana Bulan dengan Orion sendiri.


“Orion, kau sekarang di sini untukku jadi terserah apa yang kau lakukan pada putrimu.”


Kerangka tulang itu kini telah membentuk kembali daging, otot dan kulit dan hal-hal lainnya. Awalnya Orion tidak begitu percaya dengan tubuhnya, tapi kata Karura ini hal yang biasa karena yang membakar tubuhnya adalah Api Abadi sementara Api Abadi juga ada di dalam tubuh Orion.


Terbakar namun di satu sisi juga tidak.


“Kalau begitu, jangan sampai kau membuatku kecewa atau kau akan tahu akibatnya.”


Begitu Chameleon keluar dari ruangannya. Sejenak Orion menghela napas panjang, lantas ikut keluar dari ruangan tuk menemui Ade.


Tetapi, ada beberapa hal yang menghalanginya.


“Kau mau ke mana?” tanya Sera.


“Aku ingin kencing, kau mau ikut?” sahut Orion.


Meski Chameleon bersikap biasa saja terhadap Orion, bahkan mengijinkan putri Orion untuk pergi secara orang yang diinginkan telah datang, namun lain cerita kalau bawahannya.


Dari orang nomor 2 hingga 10, mereka semua tidak akan meninggalkan kesan baik bersahabat pada Orion. Terutama Jinan dan Sera. Dua orang ini akan menghalangi Orion untuk menemui Ade. Karena melepaskan Ade akan membuat Orion bebas bergerak, dan mereka tidak suka itu.


Selain dua orang barusan, ada lagi Mr. Iki Gentle. Ia adalah pria yang kebetulan bangkit lebih awal darinya. Pria itu adalah pembunuh dan pernah membunuh Orion sekali seumur hidup. Entah ia berada di mana, namun pria itu adalah yang paling berbahaya di antara yang lain.


Tap, tap!


Perlahan Orion melangkah ke kamar kecil untuk membuat hajatnya, namun itu hanyalah alasan saja. Ketika Jinan dan Sera teralihkan oleh seseorang, barulah Orion berbalik dan berlari sekuat tenaga untuk sampai ke ruang bawah tanah bagian dua.


“Hei, kau masih di sana? Jawab aku. Kita pernah bertemu di jalan tikus, ingat aku?” tanya Orion pada seorang gadis yang tengah meringkuk di ruangan tengah.


“Y-ya. Siapa? Ah, Ayah!” Awalnya Ade terlihat mengantuk dan lelah, namun begitu melihat Ayahnya ia langsung bersemangat.


“Sssst! Diamlah.”


Klang!


Dalam sekejap Orion melelehkan teralis jendela lalu menggendong Ade ke atas sana, berniat membuatnya kabur sebelum Sera, Jinan atau lainnya datang nanti.


“Apa yang Ayah lakukan?” tanya Ade.


“Aku ke sini untuk membantumu kabur. Dengarkan perkataanku, cukup jalan lurus ke depan setelah keluar dari sini dengan menaiki tangga, maka kau akan menemukan stasiun lalu tunggulah di sana sampai seseorang menyebut namaku dan menghampirimu, mengerti?”


“Kenapa tidak bersama Ayah saja? Kalau sendiri aku—”


“Jangan takut. Beberapa orang akan muncul untuk menyelamatkanmu. Setidaknya kau cukup menghindari orang-orang yang selama ini telah menahanmu.”


“Tapi, Ayah!”


“Aku tidak ada hubungan denganmu. Nah, sekarang keluarlah.”


Keluar dari teralis jendela, bukan berarti akan membuat Ade tenang karena berpikir jalan keluar sudah ada, nyatanya ia harus menaiki tangga sempit di antara beberapa celah dalam gedung untuk sampai ke jendela berikutnya.


“Ayah, berhati-hatilah. Aku akan menunggumu juga nanti di stasiun,” ucap Ade.


“Jangan pernah menungguku, dan Ayahmu sudah lama mati,” ketus Orion.


Dalam benaknya ia tengah berbicara pada Karura, 'Karura, bantu dia sampai kedua kakinya menyentuh jalanan beraspal.'


“Baiklah.”


***


Setelah Karura menyelesaikan sisanya, ia kembali. Orion bergegas pergi menuju ke lantai atas.


Beruntungnya tak ada orang yang mengejar selain penghuni hotel yang mondar-mandir dengan bermabukkan. Secepatnya ia pergi ke ruangan sebelumnya untuk menyampaikan sesuatu dengan secarik kertas.


“Hei, Karura. Apa kau bisa pergi jauh?” tanya Orion seraya membuka sarung tangannya.


“Tidak bisa, bodoh!”


“Begitu.”


Dari awal Orion juga tahu bahwa ini tidak akan mudah. Menyampaikan pesan penting untuk beberapa rekannya di luar sana.


Setelah mencatat beberapa hal kemudian ia menggulungnya bersamaan dengan kain anti panas, yang ia dapatkan dari pakaian Orion sendiri.


Api Abadi yang menyala bagai gunung merapi, seakan membuat tangan Orion melepuh. Namun Orion sama sekali tidak merasakan sakit, terkecuali di saat pertama kalinya ia menggenggam Api Abadi setengah tahun yang lalu.


Dengan Api Abadi, ia membentuk seekor burung kecil. Dengan hewan yang terbuat dari api, ia mempergunakannya untuk mengirimkan pesan tersebut yang nantinya akan tersampaikan oleh Gista dan Ketua Meera.


“Kau bisa melakukan hal itu?” tanya Karura yang terkejut.


“Aku bisa kalau aku sudah terbiasa. Sekarang aku sedang mencobanya, dan berpikir bahwa Api Abadi itu adalah aku sendiri,” ucap Orion.


“Hm, aku percaya padamu.”


Bersamaan dengan perginya burung api kecil tuk mengantarkan pesan, pintu ruangannya terketuk pelan. Ia kedatangan tamu, yakni Sera.


“Oh, kau lagi?”


“Kau tadi ke ruang bawah tanah ya?”


Sera rasanya akan mengamuk, dilihat dari cara ia mengenggam daun pintu dengan cakarnya. Justru Orion masih bersikap biasa sebab ada Chameleon yang melindunginya.


“Aku membuat anak itu pergi juga karena diijinkan oleh Chameleon. Kenapa?”


“Ingat saja, aku akan selalu mengawasimu. Gelagat yang mencurigakan, maka aku akan membuat cakar ini menembus jantungmu!” ancam Sera.


***


Pesan tersampaikan oleh Ketua Meera di saat dirinya sudah mengingat sebagian yang telah terjadi sebelumnya, juga mulai tersampaikan oleh Gista yang baru saja sampai di kota NY, di mana kota pertama masuk ke dalam negara GL, dengan hukum liberal ini.


Tetapi, pesan itu tidaklah sama. Pesannya tersampaikan oleh dua ketua dengan isi yang berbeda. Ketua Meera mendapatkan pesan dari Orion yang isinya berusaha untuk memperingatkan Ketua Meera sendiri agar tidak terlibat dengan orang-orang di sekitar lalu Gista menerima pesan yang berisikan mengenai informasi penting.


"Anak perempuan itu juga sedang menunggu di stasiun. Aku sudah bersama Chameleon, aku sarankan untuk pergi sisanya biar aku yang melakukan. Tapi jika ingin datang, datanglah."


Entah apa maksud dari pesan itu sebenarnya. Sehingga itu membuat Gista sangat kesal, terutama dengan barisan akhir yang seakan Orion tak membutuhkan pertolongannya.


Namun, bukan hanya itu saja isi pesannya. Seperti yang sudah dijelaskan, isi pesan berupa informasi penting. Hotel yang pernah digunakan oleh sekelompok Orion dkk di hari pertama di Kota NY, sudah menjadi sarang-nya Chameleon, dan karena itulah Gista berada di sana.


Walau dengan penyamaran nampaknya Chameleon membaca pergerakan Gista entah dari mana, itulah mengapa sekerumunan lalat datang untuk mengincar Gista.


Di satu sisi, Endaru sedang mengejar pemain kecapi. Lalu, Ketua Irawan dan Mahanta yang sepertinya sedang berbicara dengan Gista melalui ponselnya pun turut mengejarnya.


Walau mereka lebih terfokus untuk mengejar Endaru.


“Tunggu, Endaru!”


“Sudah cukup dengan dia! Aku akan—”


“Tunggu sebentar, Ketua Irawan! Saya mendapat informasi mengenai Orion.”


Mahanta menghentikan Ketua Irawan yang hendak menyerang Endaru dengan kekuatannya.


“Apa? Apa itu? Cepat katakan saja agar bocah itu berhenti mengacaukan kota!” pekik Ketua Irawan.


“Singkatnya, Orion telah berada di tempat Chameleon, mungkin dia berniat akan melakukannya sendiri tanpa kita,” jelas Mahanta secara singkat.


“Itu berita buruk.”


“Ya.”


Secara kekuatan Api Abadi adalah salah satu cara untuk menumbangkan Chameleon yang seakan tak tertandingi, namun ternyata Orion telah berpihak pada Chameleon meski sebenarnya ada niat terselubung di sana.


Endaru mengejar Pemain Kecapi dengan langkah gesitnya, bahkan ia tak peduli jikalau orang-orang terganggu karena kehadirannya juga terkadang sesekali Endaru dan Pemain Kecapi itu berbuat onar, secara sengaja maupun tidak mereka memorakporandakan perkotaan S-Frans ini.


Ketua Irawan dan Mahanta kembali mengejar Endaru yang tampaknya sangat terobsesi, tapi apa daya bagi mereka yang dari awal sudah kalah cepat larinya. Di samping lebih tua, namun merasa tak diuntungkan karena Endaru pemilik berkekuatan yang mengendalikan gravitasi.


“Gawat. Kalau terus dibiarkan seluruh kota akan kacau,” ucap Mahanta lantas tak lagi bergerak.


“Ada apa Mahanta?”


“Saya lupa bilang bahwa Nona Gista sudah datang kemari, dan informasi tentang Orion pun sepertinya karena Nona juga. Saya tidak mau kehilangan satu orang sebagaimana ini juga tanggung jawab saya.”


“Hm, ya. Tapi ada dua orang.”


“Ah, ya. Benar juga. Tolong Ketua Irawan, sampaikan berita kedatangan Nona Gista pada dua anak magang,” pinta Mahanta.


“Hei, kau meninggalkanku?” tanya Ketua Irawan pada Mahanta yang kembali bergegas.


“Maaf! Saya akan menggunakan kekuatan saya untuk menjatuhkan Pahlawan Kota,” ucap Mahanta setengah berteriak.


Ketua Irawan menganggukkan kepala, segera ia menepi ke pinggir jalan untuk menghubungi Ramon dan Runo yang saat ini berada di Kota NY.


Sementara Mahanta, fokus mengejar Endaru yang sudah di luar batas itu. Ia mengejarnya dengan membuat angin berpihak padanya, kedua kaki yang seakan terhubung oleh angin mulai menghempasnya bagai angin topan mengacau di pertengahan kota.


“PAHLAWAN KOTA!!!!” teriak Mahanta yang akhirnya menyusulnya.


JDAKK!!


Sesaat setelah berteriak, sengaja Mahanta menghantam kepala Endaru dengan menggunakan kepalanya sendiri sehingga Endaru pun takkan bisa bergerak selang beberapa detik kemudian.


Pada akhirnya, membiarkan Pemain Kecapi yang dilihatnya pergi. Sekilas ia tersenyum ke arah mereka, seolah mengejek.


“Nenek yang pernah aku temui di dekat museum pernah bilang bahwa Pemain Kecapi itu punya nama, dia katanya pernah tinggal di sini dan dipanggil sebagai Antonio?” pikir Mahanta yang agaknya melupakan sesuatu terkait Pemain Kecapi itu.


“Hei! Kenapa menghentikanku!” amuk Endaru seraya memegang ujung kepalanya yang berdenyut sakit.


“Maaf, Pahlawan Kota, Endaru. Aku tidak bisa membiarkanmu berbuat ulah. Coba lihat ke bekakang!”


Mahanta menunjuk ke arah belakang lalu kembali ia berkata, “Berapa kendaraan yang kamu hancurkan hanya untuk digunakan sebagai senjata melawan Pemain Kecapi?”


Tidak hanya banyaknya kendaraan dihancurkan bahkan jalan raya beraspal mulus kini rusak, jalan itu takkan bisa diperbaiki dalam waktu singkat. Ibarat kulit jeruk yang terkelupas bersama isiannya.


“Hei! Kalian berdua ini apa-apaan? Bisa-bisanya kalian mengacaukan segalanya! Ganti rugi sekarang!”


“Tanggung jawab kalau tidak mau dibakar hidup-hidup!”


“Bodoh ya kalian, apa kalian tidak tahu bahwa Gurbernur esok hari akan datang, hah?!”


“Jalan begini akan sulit untuk ditangani dasar bodoh!”


“Kendaraan mahalku bagaimana ini?”


“Toko milikku, hei!”


Tampaknya ada ratusan orang sibuk berkomplain dari segala arah menuju Endaru dan Mahanta. Sontak saja keduanya terkejut dan bingung harus melakukan apa sekarang.


“Mahanta, bagaimana ini?”


“Bagaimana apanya? Kau tidak lihat, kalau ini semua terjadi karena kau!” pekik Mahanta yang benar-benar tidak bisa lagi menahan amarahnya.


***


Ketua Irawan baru saja selesai menghubungi Ramon dan Runo, ia kemudian mendapat panggilan dari Gista. Tampaknya ada banyak hal yang harus diperbincangkan, dan barusan Ketua Irawan mengetahui informasi lainnya.


“Maksud Ketua Arutala, anak perempuan yang bernama Madeira yang setengah tahun diculik itu telah berada di stasiun dan menunggu? Baiklah, saya akan segera ke sana.”


Sebelum terputusnya panggilan, Gista mengatakan beberapa hal lagi padanya.


[“Sepertinya di sana sangat berisik. Apa yang terjadi?”]


“Ketua Arutala tidak perlu mencemaskannya. Di sini hanya ada sedikit kegaduhan yang terjadi akibat kelalaian saya. Endaru.”


[“Inilah mengapa sulit mengaturnya. Kali ini apa yang dia cari?”]


“Kurang lebih, Orion sendiri. Dia berusaha untuk menangkap Pemain Kecapi yang melintas, tentunya itu adalah mantan anggota kelompok Chameleon. Dengan menggunakan dia, pasti Pahlawan Kota berpikir akan segera mendapatkan lokasi Orion sekarang.”


[“Aku mengerti situasinya. Sampai jumpa nanti di stasiun. Aku mencoba untuk melacak keberadaan Chameleon sendiri sekarang.”]


“Eh? A-apa? Bohong, 'kan? Ah ...”


Ketua Irawan semakin merasa stress jadinya, ia kesulitan untuk berpikir jernih karena kebanyakan dari anggota kelompok Ketua Arutala itu keras kepala dan selalu ingin bergerak sendiri.


Tak berbeda jauh dengan Endaru saat ini. Yah, meskipun sekarang Endaru terjebak bersama Mahanta karena amukan para warga.