
Seseorang menepuk pundak Orion dari belakang. Lantas menoleh, dan ternyata adalah Dr. Eka. Orion menoleh ke belakang Dr. Eka, tampaknya tidak ada siapa pun bahkan Endaru juga.
“Di mana Endaru?” tanya Orion padanya.
Dr. Eka hanya mengangkat kedua bahu, ia sama sekali tidak tahu-menahu tentang keberadaan Endaru sekarang. Kemudian Orion menghela napas, kebingungan.
“Aku sempat berpikir bahwa kau akan kembali bersama rekan Chameleon,” celetuk Orion yang menyindir seraya memalingkan wajah dan menatap ke bawah.
“Kenapa kau berpikir bahwa aku akan kembali. Sementara kau sudah menjanjikan tubuhmu padaku,” kata Dr. Eka tersenyum, dan itu justru membuat Orion bergidik.
Dengan kening berkerut Orion berkata, “Jangan bicara yang ambigu seperti itu.” Seraya ia melangkah mundur.
“Baiklah. Oh, ya. Sebelumnya aku bertemu dengan rekan Chameleon lagi. Tapi mungkin dia tidak ada urusan denganmu ya?” tanya Dr. Eka.
“Kau pasti membicarakan Mr. Iki Gentle.” Orion berkata seraya berjalan ke sisi lain untuk mencari keberadaan Endaru yang terpisah dari mereka.
“Mr? Siapa dia?” tanya Dr. Eka penasaran seraya mengikuti langkah Orion.
“Dia ...aku tidak tahu jelasnya. Pokoknya dia rekan Chameleon, dia yang sering mengenakan rompi jas itu,” jelas Orion.
“Begitu rupanya. Iya, orang yang berpakaian seperti itulah yang aku maksud.” Dr. Eka menganggukkan kepala.
Setelah beberapa langkah, Orion berhenti sembari melintangkan tangan kanan ke depan Dr. Eka, yang berisyarat agar Dr. Eka juga berhenti berjalan.
“Ada apa?”
“Phantom Gank,” ungkap Orion lantas membalikkan badan, ia kemudian menyembunyikan tubuh di balik dinding bagian dalam bersama Dr. Eka.
Orion melihat beberapa anggota Phantom Gank bermunculan kembali. Mereka masih mencari-cari keberadaan Orion hingga saat ini juga. Semula Orion berpikir bahwa Endaru juga dijadikan sasaran tapi melihat Phantom Gank tak membawa siapa pun, jelas bahwa Endaru pasti sedang tersesat sendiri. Itulah yang Orion yakini.
“Orion, lukamu sepertinya parah. Boleh aku obati kau sebentar? Aku takut kau akan tumbang di tengah jalan,” ujar Dr. Eka menawari pengobatan secara Orion sebelum ini telah diinjak-injak oleh beberapa Phantom Gank juga penumpang dalam kereta.
“Tidak perlu. Tulangku itu kuat, jadi tidak akan ada masalah,” tutur Orion menyepelekan lukanya.
“Jangan menyesal di akhir nanti,” sindir Dr. Eka.
Setelah beberapa Phantom Gank itu pergi ke sisi lain, segera Orion dan Dr. Eka melanjutkan pencarian terhadap Endaru. Sudah beberapa tempat, bahkan sampai ke ruang masinis, mereka periksa pun tak kunjung menemukan Endaru.
“Ke mana anak itu sebenarnya?” Orion berkacak pinggang dengan sungut kemarahan muncul.
“Mungkin dia sudah keluar dari stasiun? Bukankah akan lebih baik kalau kita keluar juga? Atau mungkin menghubungi?” tanya Dr. Eka memberikan saran.
“Itu ide bagus. Tapi di sini sinyalnya tidak ada. Mungkin terhalang sesuatu atau karena cuaca. Tapi, tidak ada salahnya untuk keluar lebih dulu,” ujar Orion menerima saran Dr. Eka yang pertama.
“Baguslah.”
“Oh, ya. Ngomong-ngomong. Apa kau tadi sudah menanyakan pada petugas sekitar?” tanya Orion.
“Sudah. Tapi mereka sama sekali tidak mengetahuinya.” Dr. Eka mengangkat kedua bahu dan menekuk kedua alisnya.
“Ya sudah. Kita keluar dulu,” ucap Orion membalikkan badan.
Tepat ketika itu, mereka justru berhadapan dengan beberapa anggota Phantom Gank yang lain. Jarak di antara mereka tidaklah jauh, bahkan sangat dekat. Hanya berjarak setengah meter.
“Ayo pergi,” gumam Orion mengajak bicara pada Dr. Eka lantas mereka pergi secepatnya. Lalu kemudian lari setelah Phantom Gank berteriak.
“Dia orangnya!” teriak mereka secara bersamaan lalu mengejar Orion.
Drap! Drap!
Orion mempercepat larinya, ia lantas bersembunyi di balik pot besar sementara Dr. Eka hanya berdiam diri di dekat Phantom Gank. Karena Dr. Eka tak menjadi incaran sehingga mereka tidak berurusan sekalipun mereka melihat Dr. Eka bersama dengan Orion.
Kelompok mereka sepertinya tersebar luas di mana-mana bahkan mungkin hampir di semua kota yang ada di negara ini. Terlebih, entah mengapa Orion dijadikan sasaran, Orion hanya dapat bersembunyi setidaknya jangan sampai bertarung.
“Hei, aku menemukan pria tersesat di sini!” Salah satu dari Phantom Gank dengan topeng kulit zombie muncul sembari mendorong tubuh Endaru dari belakangnya ke hadapan kelompok mereka.
“Kau salah orang! Dia bukan pria bermata mati, justru pria ini memiliki tatapan tajam.” Salah satunya memprotes.
“Bukannya wajar dia menatap tajam kita karena aku menangkapnya. Lagipula aku 'kan sudah bilang bahwa aku menemukan pria tersesat di stasiun. Dia hampir saja terlindas kereta yang lewat barusan,” ujarnya menjelaskan.
“Oh, lalu kenapa? Kenapa kau menangkapnya?”
Anggota Phantom Gank itu terlibat pertengkaran, kedua orang yang saling berhadapan itu nyaris saling memukuli. Mereka kini tengah saling menarik kerah pakaian, sempat dijadikan tontonan oleh para penumpang yang hendak masuk ke dalam kereta.
Sedangkan Endaru, pria yang dibawa oleh Phantom Gank bertopeng kulit zombie itu tengah berdiam diri dengan raut wajah pucat. Pergelangan tangannya terikat dan itu juga tersambung dengan tali yang mengikat leher Endaru sehingga ia tak dapat bergerak leluasa.
“Orion, ini berbahaya.” Dr. Eka berbisik dari kejauhan.
Namun Orion sama sekali tak dapat mendengarnya sehingga ia pun memutuskan untuk mendekat selagi Phantom Gank bertengkar.
“A— Endaru?” Seketika panik dan terkejut, Orion mendapati Endaru sedang bersama dengan Phantom Gank.
“Melihat situasi ini, aku jadi bingung harus berkata apa. Dokter, aku akan pergi menyelamatkan dirinya, sementara kau siapkan tempat untuk kita beristirahat di luar stasiun,” pinta Orion.
Orion lantas bergegas. Berlari menuju ke Endaru, seketika tali yang mengikat pergelangan tangan serta leher Endaru pun terputus. Orion menarik kerah pakaian bagian belakang Endaru, diseret olehnya, Endaru mempasrahkan diri.
“Hei, seseorang menculik pria itu?!” teriak histeris beberapa dari mereka.
“Apa? Tunggu? Kita juga barusan menculik dia.”
“Itu sepertinya pria yang kita cari! Cepat lari, kejar mereka!”
Phantom Gank beramai-ramai mengejar Orion. Bahkan anggota lain yang sebelumnya mencari ke bagian belakang juga mendengar hal tersebut. Mereka bergabung, berlari serta menembakkan peluru karet ke arah mereka.
“Pelurunya tidak mempan!”
“Jelas saja itu 'kan karet, dasar bodoh!”
Tetapi, meskipun kalah jumlah. Tetap Orion pandai mengumpat. Ia kini berada di dalam ruang operator. Bersembunyi dengan baik.
“Mereka sudah pergi?” Orion mengintip dari jendela, dan tidak ada tanda-tanda akan kehadiran Phantom Gank lagi.
“Endaru, ayo pergi. Sebelum orang di sini kembali,” kata Orion.
Mereka berdua tetap berhati-hati dalam melangkah. Secepatnya mereka harus keluar dari stasiun dan bertemu lagi dengan Dr. Eka. Perjalanan mereka aman, walau terkadang harus mengendap-endap saat salah satu Phantom Gank muncul di gerbang keluar.