
Berbagai kendala muncul secara tak wajar. Ada banyak hal yang musti dikendalikan namun karena keterbatasan anggota, sehingga Gista sendiri harus bergerak demi perencanaan yang akan datang.
Masalah yang sempat menunda untuk penyerangan intens saat itu adalah Ketua Meera. Ketua Meera yang pada saat itu bergerak sendiri ke kota Cal-Forn secara tidak sengaja membuat dirinya sendiri tertangkap oleh Mr. Iki Gentle, salah satu bawahan Chameleon no.2. Tingkat kekuatannya bukan main. Ia nyaris setara dengan Chameleon itu sendiri.
Karena pria itu, Ketua Meera harus berdiam diri di dalam gedung yang secara tidak sengaja bertemu dengan Madeira atau yang dikenal sebagai Ade, putri Orion. Ketua Meera dan Ade saat itu sempat meloloskan diri dari Iki dan Sera, namun naas, Iki membuat Ketua Meera terpental hingga membentur dinding bak sampah di suatu gang sehingga membuatnya lupa ingatan.
Lalu, Ade kembali tertangkap dan dibawa ke markas Gerhana Bulan, Gedung Kasino yang berdiri di sudut kota S-Frans.
Informasi yang telah diketahui Ketua Meera menjadi sia-sia dan sejujurnya Orion saat itu mulai berputus asa tuk mencari Ade.
Ketika dilanda oleh rasa keputusasaan, Orion bertemu kembali dengan Chameleon yang entah mengapa mengincar seorang lelaki demi mendapat perhatian Orion. Incaran Chameleon sebenarnya adalah Api Abadi Orion, itulah mengapa ia selalu mendesak Orion agar mau bergabung dengannya. Bahkan sampai menyandera Ade hanya untuk mendapatkan Orion saja.
Tak lama kemudian, lelaki yang sempat diincar itu diketahui memiliki hubungan tak langsung dengan Orion. Lebih tepatnya hubungan mereka ada karena darah langka milik Orion yang kebanyakan diincar oleh banyak NED di negara Id.
Pria itu bernama Kruger Gisan, mantan tentara yang seharusnya sudah lama meninggal karena terbantai oleh hujan peluru dari udara, jatuh ke parit dalam kondisi memegang senjata berat namun kini takdirnya berubah. Ia hidup kembali berkat Orion dan sekarang memiliki sebagian kekuatan dari Orion, yakni Api Abadi.
Malam di Festival Musik, Gisan terbakar hidup-hidup oleh apinya sendiri dan Orion berusaha untuk membantu namun sayangnya itu menjadi malapetaka baginya. Orion terbakar oleh api itu dan kemudian setengah dari rupanya berubah menjadi kerangka, anehnya ia masih hidup saat itu. Hingga sekarang.
Kemudian, jadilah masalah inti. Masalah terakhir yang paling tak terduga bagi seluruh kelompok NED yang dipimpin langsung oleh Gista Arutala dan Orion Sadawira, hilangnya Orion ternyata ia berada di markas musuh. Ini benar-benar tak terduga.
Tapi masalah ini pun juga adalah kesempatan dalam kesempitan. Orion akan cukup berguna bagi Chameleon serta rekan-rekannya yang telah terpisah dengannya sekarang. Agen ganda.
Sejujurnya sebutan ini sedikit tak cocok, karena Orion jadi bulan-bulanan oleh bawahan Chameleon yang mana mereka memiliki dendam namun sayang mereka takkan bisa membunuh Orion tanpa seijin tuan mereka yang bodoh.
Sebagian dari rencana dan ancang-ancang telah diberitahukan oleh rekan-rekan Orion di luar sana, tapi apa yang terjadi kemudian ini mengejutkan. Dan menjadi pertanyaan besar para NED perihal Endaru yang terluka, potongan tangannya dihadapkan langsung oleh Orion.
“Ini ...Endaru?”
Orion mengamuk dalam gedung hingga lantai itu nyaris dibuat remuk tak berbentuk. Sebagian dari bawahan Chameleon terluka parah terutama Jinan yang setengah wajahnya terbakar oleh Api Abadi. Ia nyaris tak terselematkan.
Chameleon sempat terkejut, tapi ia kemudian tenang karena tahu ini karena amukan Orion. Gedung Kasino pada akhirnya pun hancur, tidak, bahkan sudah hancur semenjak Tuan Gerhana Bulan tewas di tangan sang Api Abadi Penghancur.
***
Di jalanan yang masih gelap, Endaru saat ini tengah berusaha untuk berjalan dengan cepat. Matanya terbelalak, terlihat ia masih syok karena kejadian sebelumnya. Ia pula mungkin melupakan apa yang telah terjadi pada tangannya saat ini.
“Hah, hah ...hah ...ck! Menyebalkan! Aku kalah ...hanya karena hal ...hal itu!”
Napasnya tak teratur dengan baik, jalanannya sempoyongan sampai harus mengandalkan dinding di setiap jalanan. Luka dan pendarahannya cukup banyak hingga membuat pandangan pria itu mengabur, tapi ia tetap memaksakan dirinya untuk pergi, melangkah ke sebuah tempat.
Bruk!
Hingga batasnya berakhir, tubuhnya terkulai lemas lantas ia ambruk di jalanan dengan darah segar tergenang menodai pakaian dan jalanan.
“Astaga!” Seseorang yang kebetulan melintas tak lama setelah dirinya tumbang pun terkejut.
Setelah itu, situasinya tak dapat dibaca lagi.
Yang ada hanya kebingungan para anggota NED, terkait Endaru yang tak kunjung datang.
“Pahlawan Kota, dia sebenarnya niat atau tidak sih?”
“Ataukah terjadi sesuatu dengannya?”
“Mana mungkin, dia 'kan kuat?”
“Siapa Pahlawan Kota? Aku tidak pernah mendengarnya, kak.”
“Oh itu, Endaru. Namanya Endaru, dia berasal dari kota yang jauh di negara kita, Ade. Dia sepertinya terjebak masalah karena telah berusaha untuk mendapatkan Orion kembali,” jelas Gista.
“Ternyata hanya dia ...yang berniat melakukan itu, sementara aku ...”
“Ade, dia itu orang yang kuat. Terkuat di negara kita, begitu pun dengan Orion.” Ketua Meera mengelus ujung kepala Ade dengan lembut.
“Itu hal yang wajar Ketua Raiya, Meera. Ade adalah putri Orion.” Gista mengungkapnya.
“Apa?!” Tak hanya Ketua Meera saja bahkan semua orang yang ada di sana terkejut. Mereka nyaris tak percaya dengan fakta yang barusan diucapkan oleh Gista.
Terkecuali Mahanta, yang memang sejak awal sudah tahu.
“Tetapi, Nona Gista.” Mahanta berbisik. “Orion sendiri menyangkal bahwa anak itu adalah anaknya,” katanya.
“Hush, jangan sembarangan. Kita sudah melihat buktinya lewat Oto, sisanya hanya Orion yang keras kepala,” tukas Gista.
“Harusnya Anda tidak memanggil nama pria itu dengan sebutan Oto, Nona Gista.”
Gista hanya tersenyum ketika Mahanta berkata seperti itu. Yang mana dimaksud adalah Oto adalah sebutan Gista terhadap pria yang bernama Notosuma.
***
Keesokan pagi harinya, rencana yang sudah dirancang dengan baik mungkin takkan sepenuhnya berjalan lancar. Karena masing-masing dari mereka tahu bahwa kesempatan untuk mengalahkan Chameleon tidak bisa lebih dari 50℅.
Kini, pagi hari dengan matahari terbit dengan cerah. Sinar mentari yang menyilaukan akan segera menyorot calon presiden Nicholas.
Masing-masing dari para anggota NED telah bersiap pada tempatnya dengan berpencar ke setiap celah gedung demi momen ini, tuk mencerai-beraikan kelompok Chameleon nantinya.
“Itu palsu.”
Telah diketahui, melalui tanda milik Gista yang ada pada tubuh Chameleon, Nicholas yang saat ini sedang menyapa ramah para penduduk yang berkerumun bukanlah Nicholas yang asli melainkan palsu, Chameleon!
“Sudah dapat diduga ya, Nona Gista. Anda berpikir bahwa dia akan memanfaatkan orang yang benar-benar kuat seperti Pak Nicholas.” Mahanta bergumam lirih seraya ia bersiap.
“Sampai sekarang Pahlawan Kota tidak ada kabar. Apakah dia baik-baik saja?” Ketua Irawan memantau jam tangannya, seraya mencoba untuk mencari keberadaan Endaru yang mungkin saja berada di sini.
Satu persatu, telah bersiap untuk menyerang! Sisanya hanya perlu menunggu aba-aba dari Ketua Arutala.
***
Akhirnya tiba juga. Nicholas palsu; Chameleon. Tak hanya Chameleon seorang, terlihat bawahannya yang tanpa penyamaran, mereka unjuk gigi dengan berani seakan menantang Gista dkk. Terhitung 3-5 anak buahnya yang mengelilingi Chameleon yang tengah bersapa ria dengan para penduduk.
Tanpa diketahui oleh Gista dkk, bahwa sebagian dari penduduk yang datang adalah boneka Chameleon.
“Aku penasaran apakah mereka akan datang atau tidak?”
“Lalu, apa rencana mereka? Menyerangku begitu saja?”
“Cih, seharusnya kalian menginterogasi si Orion itu!” ketus Jinan yang berada dalam mobil. Ia tak terhitung dari 3-5 anak buah Chameleon oleh Gista karena keberadaannya tak terlihat. Serta Jinan kemungkinan akan sulit bertarung karena kondisinya sekarang.
“Kau jangan menganggap Tuan kita bodoh. Tuan tidak suka kalau rencana mereka bocor begitu mudah. Yah, meskipun pria itu takkan memberitahukannya,” sahut Sera.
“Aku merasa kasihan padanya, apalagi aku memiliki hutang budi karena dia telah menyelamatkan putriku Ayu. Sungguh sangat disayangkan,” ucap Hendrik. Pejabat yang di kota besar negara Id, pernah sekali muncul di kasus pertama Orion dalam menghadapi bayangan dunia NED.
“Jangan merasa kasihan padanya. Dia seharusnya sudah lama mati, tapi dia justru hidup kembali,” gerutu Iki.
“Benar,” lanjut Caraka.
“Sudah, sudah. Kalian semua ini selalu saja menggerutu. Memangnya Orion sepopuler itu sampai kalian harus membicarakannya?” sahut Chameleon.
“Heh, siapa yang membicarakannya? Dengan baik-baik? Justru kami mencacinya habis-habisan,” dengus Jinan.
“Kalian membicarakannya di dekat orangnya langsung. Dasar tak tahu malu,” sahut Sera.
“Kau juga, Sera.”
Iki, Caraka, Sera, Hendrik, Pemanah yang tak biasanya membuka tudung jubahnya kini terbuka, wajah yang diperlihatkan ialah seorang anak muda dengan sedikit warna perak di bagian poninya. Lalu di dalam mobil, Jinan, Pemain Kecapi, dan Orion.
Dan Chameleon yang menunjukkan dirinya dengan jelas di bagian atap mobil, menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian penuh para warga yang mengiringi jalannya kendaraan.
Mereka rata-rata menyukai Nicholas karena keberaniannya. Andai yang di depan sana adalah benar-benar Nicholas maka ia akan mendapatkan dukungan penuh ini agar dapat menduduki kursi presiden negara, tapi sayang pria itu sekarang sedang berdiam diri di rumah orang tuanya bersama anak bayinya.
Beruntung saja karena Nicholas bertemu Orion saat itu, ia masih selamat pun berkat kerja sama di antara mereka.
“Ayo, bergerak!”
Pergerakan senyap berubah menjadi gerak cepat. Gista memberikan tanda, dengan cara melempar bom asap tepat ke arah kendaraan yang dipakai Chameleon sekarang.
“Hm, sesuai rencana!”
Satu persatu mereka bergerak cepat menyusuri kerumunan banyak orang dalam waktu singkat, akhirnya mereka memerankan peran dengan baik demi memisahkan bawahan Chameleon ke tempat-tempat lainnya.
“Mereka bergerak?!”
“Berhati-hatilah!!”
Mahanta, Ketua Irawan, Ketua Meera, dan lain-lain segera memisahkan bawahan Chameleon pun juga takkan membiarkan bawahan Chameleon saling bekerja sama. Mereka menggunakan taktik cerdik berupa menarik mereka dengan kekuatan yang para NED miliki.
Air, angin, tanah, ataupun elemental lainnya. Mereka mengerahkan kekuatan yang cukup tuk memisahkan mereka semua ke titik-titik setiap sudut perkotaan atau wilayah yang berbeda.
Sementara Gista tetap berdiam diri di tempat, dengan menjaga kestabilan tubuhnya tuk melancarkan serangan langsung berjarak jauh. Es miliknya menjalar, membekukan sedikit jalanan hingga akhirnya menyentuh kaki Chameleon.
“Apa? Gista 'kah?”
Hanya berselang beberapa detik saja hingga akhirnya Chameleon sadar bahwa pembekuan yang terjadi pada kedua kakinya adalah ulah Gista dari kejauhan.
Dan hanya berselang beberapa detik saja hingga akhirnya es milik Gista sepenuhnya dikerahkan pada Chameleon, mulai dari kedua kaki lalu memenuhi tubuh bagian bawahnya, kedua tangan dan terakhir kepala.
Chameleon tak sempat berbuat sesuatu, karena hal itu terjadi hanya dalam sekejap mata. Karena bom asap pula, banyak warga berteriak histeris namun juga tak mengetahui sesuatu yang telah terjadi di sekitar mereka.
Nicholas palsu telah ditenggelamkan dalam batu es, kilaunya pun menembus asap, dan beberapa orang juga mulai melihat sesuatu yang telah terjadi padanya.
“Apa?! Apa yang terjadi? Serangan ******* lagi?!” teriak salah satu warga.
Serangan ini hanya diperuntukkan oleh kelompok Chameleon saja. Tampak anggota Gista memulai pertarungan masing-masing melawan bawahan Chameleon. Kekuatan, keakuratan, ketelitian lalu fokus penuh hanya untuk melawan satu orang saja.
Begitu pula dengan Gista, ia sepenuhnya mengerahkan kekuatan pada Chameleon yang tentunya takkan pernah diremehkan. Saat ini, ada Runo berada di belakang Gista.
“Bagaimana keadaanmu? Kudengar kamu sedang sakit,” tanya Gista.
“Saya sudah sehat dari dua hari yang lalu berkat Dokter Eka, Ketua Arutala.”
“Bagus. Tetap berada di belakangku.”
“Baik!”
Ada alasan tertentu Gista menyuruh Runo untuk tetap berada di sisinya. Tapi, alasan itu tidak akan diketahui sebelum waktunya nanti.
Setelah ikut bersama anggota lainnya, Ramon mendadak kembali berkumpul bersama Gista dan Runo, dengan tangan berasapnya.
“Ada apa, Ramon?” tanya Gista.
“Maaf, Ketua Arutala. Ada satu orang yang tersendat, saat ini Ketua Irawan terhambat oleh serangannya sehingga masih berada di sekitar Chameleon.” Ramon memberikan laporannya.
Mengenai Ketua Irawan yang tengah mengalami sedikit masalah. Memikirkan hal itu, Gista takkan bisa berbeda sedikit saja karena harus memantau situasi Chameleon yang telah membeku di sana. Bahkan dalam kondisi beku, Chameleon justru menyeringai seakan serangan Gista bukanlah apa-apa.
“Bantulah jika kamu bisa bantu. Aku akan tetap berada di sini, karena sepertinya dia akan melakukan perlawanan!”
“Baik!”
Krak!
Baru saja dibicarakan, batu es yang diperkuat lebih dari 5x lipat tebalnya sudah mengalami keretakan. Ini bukan karena asap dari bom yang panas melainkan karena kekuatan Chameleon sendiri.
“Ketua Arutala! Es-nya! Pecah!”
Tak membutuhkan waktu yang lebih lama, batu es mudah dihancurkan dan Chameleon lantas mengepalkan kedua tangannya. Seringai di wajah itu sangat jelaa terlihat di balik asap.
Orang yang saat ini sudah mencuri perhatian para penduduk kota S-Frans telah menunjukkan aksinya bagai sihir belaka.
“Kalian semua! Begeraklah! Mengikuti aturanku!” teriak Chameleon seraya mengibaskan tangan kanannya ke depan.
Kericuhan yang terjadi serta bising di antara banyaknya penduduk tiba-tiba saja diam dalam sekejap. Chameleon membuat mereka semua bungkam hanya dengan perintahnya, sudah jelas ini di luar perkiraan Gista.
“Jangan bilang, sesuatu yang belum kita ketahui selama ini? Dia benar-benar merepotkan!” gerutu Gista memicingkan mata.
Sesuatu yang bisa saja mustahil ada namun tidak dengan tangan Chameleon. Kali ini, ia terlihat seperti mengendalikan banyak orang dengan beberapa helai benang. Dan orang-orang itupun bergerak dengan dipenuhi kekuatan hebat.