ORION

ORION
Hilangnya Ade



Orion berpikir bahwa Ade dibawa oleh Chameleon. Trik yang sama seperti saat ia sedang bersama Mahanta.


“Anda benar-benar melihat kami persis saat itu?” Salah satunya bertanya.


“Ya. Aku bahkan tertipu dan mengira itu kalian.”


“Kalau begitu kita harus cepat! Karena saya sebelumnya melihat ada mobil hitam yang sama persis dengan mobil ini.”


Sopir mobil itu menginjak pedal gas. Laju kendaraan yang semakin lama semakin dipercepat. Mengikuti pergerakan mobil yang dimaksud. Mereka benar-benar mengikutinya bahkan dengan terang-terangan.


Hingga ketika, mereka sampai ke sebuah gudang kendaraan bekas. Tempat di mana banyak kendaraan rusak atau lama sudah dibuang. Di jauh dalam sana, terdapat sebuah ruangan yang berupa gudang. Tentunya isinya pun sama dengan yang di luar.


“Saya akan ikut!”


“Tidak, jangan!”


“Tetapi Anda belum pulih sepenuhnya, bukan? Dan bagaimana jika—”


Ketika ia berbicara, Orion sudah lebih dulu masuk ke dalam sana. Bau besi menyeruak ke sekeliling, tanah yang kering, debu yang berkumpul pun terlalu banyak. Ada satu jejak kendaraan beroda empat di tanah, dan arahnya menuju ke belakang gudang.


“Tempat ini cukup mengerikan sekali,” gumam Orion.


KLANG!


Orion menendang pintu gudang itu dengan sengaja namun tidak ada suara sedikitpun untuk membalas. Seolah mereka sengaja membuat Orion datang kemari.


“Kalau Chameleon tidak mungkin seperti ini. Lalu siapa? Dan kenapa anak itu jadi incaran? Aku benar-benar tak mengerti.”


Setelah itu ia masuk melewati celah pintu gudang yang terbuka sedikit. Pintu besi yang bahkan sulit dibuka kembali karena sudah karatan. Seperti biasa, debu mengepul di sekitar sesaat Orion sudah masuk ke dalam.


“Anak itu ada di sana.”


Orion pula melihat seorang gadis remaja berseragam yang tengah duduk di sebuah kursi dalam keadaan tubuh terikat oleh seutas tali tambang.


Setiap Orion melangkah ke depan, suaranya menggaung kuat. Dan juga ia melirik ke sekitarnya, dan berharap menemukan salah seorang yang melakukan ini semua pada Ade.


“Tidak ada seorang pun. Tapi kenapa aku merasa gelisah sepanjang waktu?” batin Orion yang tengah berwaspada.


Akan tetapi jika ia terus memandangi ke arah sekitar pun pasti akan percuma saja. Lantas Orion bergegas menuju Ade secepat mungkin. Setidaknya sebelum seseorang datang.


Drap! Drap!


Ketika Orion berfokus untuk menuju Ade, terdengar suara derap langkah kaki yang menggaung lebih kuat. Suara seseorang berlari dari kejauhan dan semakin mendekat ke arahnya.


DAK!


Seseorang menggunakan tendangan ke arahnya, lantas Orion menangkis lalu melemparnya ke samping.


“Ternyata betulan orang kaya dia? Tidak akan kusangka akan secepat ini mendapatkan uang,” celotehnya seraya menyeret langkah tuk tetap bertahan dalam posisi.


“Mendapatkan uang? Hanya dengan satu orang saja?” sahut Orion seraya mengepalkan kedua tangan ke depan.


“Ha! Satu orang katanya!” teriak pria itu hingga menggaung sangat nyaring.


Orion melirik ke sekitar, mendapati banyak orang yang berdatangan dari lantai atas. Mereka turun dengan cara melompat dengan senjata di tangan mereka.


Pria yang hanya menggunakan tangan kosong sebelumnya itu pun kemudian merogoh sesuatu di jantung jaketnya, ia mengenakan knuckle lalu berlari ke arah Orion bersamaan dengan serangan kawannya yang lain.


“Ha, baiklah. Aku mengerti. Tentu bukan Chameleon kalau begini caranya. Aku bisa sedikit lega saat ini,” tutur Orion menghela napas panjang.


“Ngomong apa sih?”


“Hei, pak!”


JDUAK!


Orion menangkis setiap pukulan dan arah senjata mereka dengan cepat. Tapi tentunya dengan banyak orang, ia akan kesulitan. Begitu pria dengan tinjunya kembali mendaratkan pukulan tepat ke wajah Orion, Orion kemudian mencengkram pundaknya.


“Omong kosong. Aku ini masih miskin sekarang. Jadi jangan mengemis di depanku,” kata Orion seraya menarik tubuhnya mendekat lalu menggunakan tendangan lutut mengincar ulu hati.


DUAK!


“Hei, jangan lawan dia saja! Kami masih ada di sini!” teriak salah seorang yang berada di belakang Orion.


Tersisa tiga orang. Dan tampaknya Ade juga mulai sadarkan diri kembali, ia pun berteriak memanggil Orion dengan sebutan Ayah.


“Ayah! Jangan lawan mereka!”


“Itu bukan urusanmu,” ketus Orion.


Langkah di antara tiga orang itu, yang paling tercepat adalah seseorang yang menggunakan senjata pisau kecil. Ia juga mahir dalam mengayunkan serangan satu demi satu.


Orion terus melangkah mundur seraya menghindari mata pisaunya. Menghindar dengan lihai seraya mengingat kembali apa yang sudah ia pelajari pada Endaru tentang melawan orang yang bersenjata.


“Tentunya aku tidak mau mengeluarkan pedang merah,” gumam Orion seraya menundukkan tubuh.


Pria itu terkejut karena gerakan Orion yang cepat meski tubuhnya lebih besar darinya. Pria itu kemudian memutar pisau, mengubah cara menggenggam dengan membuat mata pisau ada di bawah.


Tap!


Dan Orion menangkap tangan yang memegang pisau itu sesaat sebelum menusuk tubuhnya. Lalu dengan cepat ia melayangkan tinju dengan tangan yang sama, mengarah ke dagu pria itu.


“Kelemahan mereka juga di dagu. Ini bagus untuk latihan. Tapi anak itu juga sepertinya sangat syok. Jadi harus kupercepat.”


Orion kembali berlari menghampiri dua orang yang lamban. Melayangkan tinju ke sisi kiri lalu menendang dagu di sisi kanan. Keduanya tumbang dalam sekejap, tanpa perlawanan sama sekali.


“Huh, beres.” Orion menyeka keringat di wajah. Lalu melepaskan ikatan Ade setelahnya.


“A-A-Ayah!” Ade berbicara gugup. Bahkan Ade juga melupakan syoknya karena tiba-tiba terjadi hal semengerikan ini.


Matanya berbinar menatap Orion seorang. Sedangkan Orion hanya menatap bingung, lantas tidak tahu harus bicara apa.


Setelah beberapa saat mereka bertukar tatap, Orion membalikkan badan dan hendak pergi. Akan tetapi Ade lagi-lagi memanggilnya.


“Ayah!”


“Tidak, bukan! Aku bukan Ayahmu!” sangkal Orion.


Jelas yang Orion tahu bahwa Ade adalah anak dari Aria dengan suami barunya itu. Jadi tidak ada kejelasan bahwa Ade adalah anak kandung Orion. Tapi mengapa Ade terus-terusan memanggilnya Seperi itu?


Ini membuat Orion terganggu. Banyak yang saat ini ia pikirkan hingga melupakan semua orang yang barusan ia hajar habis-habisan.


“Ayah ...” panggil Ade sekali lagi.


“Sudah aku bilang, aku bukan Ayahmu!” teriak Orion. Seketika Ade tersentak kaget.


“Tapi Ibu bilang, Pak Orion itu nama Ayah kandungku!” sahutnya menegas hingga menggaung di tempat ini.


“Hah?” Orion membelalakkan mata dengan terkejut. Apa yang dikatakan Ade, menjadi penentu, bisa dibilang fakta yang secara langsung dikatakan.


“Aku juga melihat punggung Ayah yang mengalah di mimpiku!” Sekali lagi Ade berteriak.


“Melihat di mimpi? Dan Ibumu bilang bahwa ...”


“Ya! Ibu bilang, Ibu mengandung diriku dengan usia 3 bulan, dan itu baru ketahuan setelah baru saja menikah. Dan Ayahku yang saat itu juga bilang, bahwa aku bukan anak kandungnya!” ujar Ade kembali menegas. Ia menatap Orion dengan serius tanpa sedikitpun setitik kebohongan.


Mulai hari itu Orion mempercayainya. Perkataan orang sebelumnya yang ia serang sebelum menuju ke gudang bekas, jadi masuk akal.


“Lalu, teman Ayah juga bilang hal yang sama. Jadi aku semakin yakin,” ucap Ade dan kemudian menangis.


“Teman?”