
Kejadian saat Roni menghajar sekumpulan anak-anak seusianya, membuat Orion sangat terkejut. Bukan karena pukulan Roni pada mereka melainkan ketahanan pada tubuh Roni yang sebelumnya sudah dipukuli.
Dan hanya sebagian dari pukulan mereka yang membuat wajah Roni sedikit memar.
“Ini cuman perasaanku saja atau memang dia benar-benar mengalami NED? Kalaupun benar itu artinya tipe dari kekuatannya bisa disebut tipe pertahanan.”
Roni bahkan mengetahui keberadaan Orion yang saat itu tengah mengikuti dirinya. Namun Orion telah bergegas pergi. Keesokan harinya pun, Orion kembali memperhatikan Roni dari pagi sampai siang.
“Roni selalu berangkat sekolah tapi yang dilakukan hanya sekedar berkeliaran. Tidak belajar, apa dia cukup pintar sehingga berani tidak mengikuti pelajaran?” celetuk Orion seraya memijat keningnya.
Berjalan di lorong yang panjang, Orion tengah menuju ke kelas selanjutnya. Sesekali ia melirik ke segala arah tuk mencari keberadaan Roni.
“Dia tidak ada lagi di sini. Ke mana lagi perginya?” gumam Orion bertanya-tanya.
Hari ini, murid dalam satu kelas terhitung cukup banyak dari kelas lainnya. Orion membuka buku itu kembali sebagaimana yang biasa ia lakukan setiap mengajar.
Setiap halaman yang dinomori, judul dan tulisan yang dicetak tanpa kesalahan sedikit pun.
Srak, srak!
Membalik setiap halaman yang ada, Orion berusaha mencari halaman terakhir kali. Namun begitu ia menemukan halamannya, terdapat sebuah tulisan yang berbeda.
Bertuliskan, "Aku menunggumu, Orion."
Sontak terkejut, tanpa sadar ia merobek halaman tersebut dan membuangnya sembarangan. Kesal ia membaca tulisan tak berguna, Orion menggertakkan giginya sembari membalikkan badan dan menghadap papan tulis.
“Pak? Sepertinya Pak Orion sedang kesal?” tanya salah seorang murid.
“Iya, sepertinya begitu. Untuk hari ini, saya akan menjelaskan ulang materinya saja, ya.”
“Sepertinya? Apa Pak Orion bercanda?” ketus seorang murid yang duduk di bangku paling belakang.
“Ya, ada masalah? Lagi pula setiap materi itu sulit kalau hanya dipelajari sekali bukan. Kemarin saja hampir semua murid di kelas yang belum mendapatkan nilai.” Orion melirik mereka.
Tidak ads respon lagi setelah Orion menyahut mereka dengan suara tegas. Tampak ada beberapa murid yang justru menutupi dirinya dengan buku terbuka dan ada beberapa yang asik mengobrol dengan lainnya.
Serta, salah seorang murid perempuan mengajukan pertanyaan yang tidak berhubungan dengan pelajaran.
“Pak, tangan kanan bapak itu kenapa? Saya jadi penasaran.”
“Bekas kecelakaan,” singkat Orion yang berusaha keras menahan amarah.
Lantaran ia masih sangat kesal karena tulisan yang diduga dari Chameleon. Yang itu artinya Chameleon mungkin ada di sekitar sini.
***
Waktu istirahat jam makan siang. Setelah Orion sebagai guru pengganti keluar dari kelas, banyak guru-guru terutama guru wanita datang untuk mengajaknya makan bersama.
“Bagaimana jika kita makan bersama di kantin? Saya yakin masih banyak kursi yang kosong.”
“Benar sekali. Meskipun hanya guru pengganti, alangkah baiknya Pak Orion juga ikut bersama kami. Tenang saja, kami akan mentraktir.”
“Tumben sekali Anda sekalian mengajak saya. Kemarin saja tidak,” singgung Orion.
“Haha, itu karena kami masih canggung, pak. Mohon dimaklumi.” Diselingi tawa, ia membuat alasan.
“Terima kaish, tapi saya tidak bisa melakukannya sekarang. Karena ada hal yang saya urus sekarang,” tutur Orion menolak ajakan mereka.
Pandangan Orion tertuju pada Roni Sanjaya yang secara kebetulan melintas di hadapannya. Ia lantas angkat kaki dari sekelompok guru dan pergi untuk menghampiri Roni.
Berhenti melangkah ketika Orion mendapati Roni sedang duduk di halaman belakang, tak hanya itu, asap muncul dari dalam mulutnya.
“Kamu sedang apa di sini?”
Orion membuatnya terkejut heran, terutama ketika benda yang di mulutnya itu dirampas paksa. Roni sesaat terdiam lantas menatap tajam pada Orion.
“Kenapa kau mengangguku?” ujarnya bertanya seraya bangkit dari duduknya.
“Kau? Itukah panggilan sopan terhadap seorang yang lebih tua darimu?” Orion menyindir seraya mematikan api dari ujung batang yang ia pegang.
“Tahu apa? Di sini tidak akan ada orang yang berani menggangguku. Tidak, bahkan di penjuru kota akan takut padaku. Tapi kenapa kau tidak? Apa perlu aku beri pelajaran padamu?”
Roni mengangkat dagu dengan sombong. Tak kenal takut ia justru menantang Orion. Sedangkan Orion saat ini, tengah berusaha untuk tetap bersabar dalam hal apa pun. Salah-salah ia bisa melukai murid ini jika terlalu emosi.
“Seragam yang tidak rapi dengan atribut tidak lengkap. Membolos setiap pelajaran dan suka berkelahi di luar. Berani pada seorang guru dan sekarang merokok? Tindakanmu sudah diluar batas.”
“Heh! Apa pedulimu? Mau kau itu seorang guru, kepala sekolah atau presiden sekalipun aku tidak begitu peduli. Siapa yang berani mengangguku maka orang itu harus siap menerima pukulanku.”
Roni semakin kurang ajar, dan tinju itu pun melayang ke arah Orion.
Pak!
Namun Orion mampu menahan pukulannya yang dirasa kuat. Dengan kening berkerut, serta mendengar Roni berdecih, Orion justru semakin kesal.
“Aku masih cukup bersabar untukmu tapi kenapa kau terus mencoba untuk melakukan hal-hal yang kurang pantas untuk anak seusiamu. Akan lebih baik kamu—”
Duak!!
Pukulan dari tangan kiri Roni telah mendarat di wajah Orion. Lagi-lagi ia mendapatkan pukulan dari arah yang sama, rasanya memang sangat sakit akan tetapi Orion harus tetap menahan amarah dan sebisa mungkin ia tidak meninggikan suara.
“Roni Sanjaya, murid laki-laki sepertimu kelak akan menjadi pemimpin. Tapi bukan pemimpin yang buruk, kotor atau yang sejenis dengan preman.”
“Jangan sok menceramahiku!” pekik Roni seraya menarik kembali tangan kanan yang sebelumnya ditahan oleh Orion.
“Bukan maksud sok menceramahi. Tapi aku sebagai guru pengganti, meski hanya pengganti harus mendisiplinkan murid semacam dirimu,” tutur Orion.
“Cuman guru pengganti bisa apa? Sana pergi sebelum aku menghajarmu sampai masuk rumah sakit!” amuk Roni.
Roni melayangkan sembarang pukulan-pukulan. Namun Orion menghindar dengan santainya sampai pada akhirnya Roni sendiri yang kelelahan.
“Jangan bilang kau ...yang kemarin mengikuti aku ya?”
“Iya, kenapa?”
“Ck! Padahal aku berniat melepaskanmu tapi sepertinya itu tidak bisa! Kau membuatku marah!” amuk Roni sekali lagi ia melayangkan pukulan hingga peluhnya bercucuran deras.
“Jangan mudah emosi seperti ini,” ucap Orion.
Setelah beberapa pukulan dilayangkan dan Orion terus saja menghindarinya, lantas Orion mengunci seluruh gerakan tangan dan kaki Roni. Menahannya meski Roni terus meronta-ronta.
“Kita bicara sebentar, nak.”
“Bicara apa kau?! Dasar orang tua! K*p*r*t! Ah! Lepaskan!!”
Semua makiannya keluar semua layaknya anak berandalan. Tak menyangka akan serumit ini, bahkan bicara saja sudah sangat susah.
“Aku akan mengatakannya sekali. Apa Roni Sanjaya, dirimu pernah merasakan kematian? Pernah berpikir bahwa yang seharusnya kamu mati tapi ternyata hidup kembali tak lama setelah itu?”