ORION

ORION
Kota Y-Karta



Kekuatan, sifat dan sikap aneh lalu apa saja yang Dr. Eka miliki. Semua hal yang Orion tahu pun dikatakan pada Gista. Begitu juga dengan Mahanta ataupun Orion, mereka memberitahukan kejadian yang menimpa hari itu.


Keesokan harinya. Hari senin, di mana semua anak-anak akan pergi memulai hari di sekolah mereka lagi. Namun, Orion sama sekali enggan untuk kembali ke sekolah. Ia benar-benar tidak mau.


“Aku tidak mau! Kalian 'kan sudah tahu aku benar-benar bukan anak kecil!”


“Hah, ya sudah kalau begitu. Tapi jangan sampai membuat orang curiga kalau kau tidak sekolah, ya?”


“Itu tidak perlu dipermasalahkan lagi! Tapi aku akan ke sekolah hanya untuk bertemu Lily sebentar saja. Dan, aku meminta ijin untuk pergi ke suatu tempat,” ucap Orion.


“Kau ingin pergi ke mana?” tanya Gista.


“Kota Y-Karta. Aku ke sana untuk mencari Api Abadi. Tolong jangan halangi, karena itu tujuan Caraka sebelumnya, jadi aku ingin mencari tahu sebentar,” kata Orion.


“Baiklah, tapi Mahanta tidak bisa mengantarmu, nanti kau akan bersama dengan salah satu anggota yang lain yang sedang senggang.”


Orion tak mempermasalahkan hal itu. Ia pun segera pergi, pertama ia akan menuju ke sekolah. Dan di pagi itu, kelas yang dulu pernah ditempati olehnya sangatlah sepi.


Hanya ada satu siswa di sana. Yang sedang duduk termenung dan menyandarkan dagunya ke meja. Ekspresinya sangat muram.


“Lily!” panggil Orion.


Susah payah Orion menyelinap kemari, sedangkan urusan untuk membuat kedok lain agar Orion tak lagi bersekolah masih belum selesai.


Sungguh beruntung karena Orion bertemu dengan Lily di pagi ini.


“Paman!”


“Ssstt, jangan panggil aku seperti itu. Sudah kubilang 'kan, kami hanya mirip saja,” kata Orion dengan jari telunjuk ke depan bibir.


Saat bertemu Orion, mendadak wajahnya berubah menjadi sumringah. Lily terlihat lebih ceria daripada saat sebelum bertemu dengan Orion.


Melihatnya saja sudah membuat Orion bersyukur. Meskipun tidak bisa tumbuh tinggi, lalu nunggak kelas pun karena diri Orion sehingga membuat Orion merasa bersalah.


“Aku datang untuk menemui sebentar. Karena aku tidak lagi bersekolah di sini. Maaf ya, Lily,” ucap Orion.


“Tidak lagi bersekolah? Kamu mau ke mana lagi?” tanya Lily menatap sendu ke arahnya.


Seolah ia tengah berbicara dengan wujud seorang pria dewasa. Orion sesaat kehilangan kata-kata. Kemudian ia mengelus ujung rambut Lily yang lembut.


Sembari berucap, “Kita akan bertemu lagi, Lily. Tapi sebelum itu kamu harus giat belajar sampai lulus, ya!” Kemudian tersenyum lebar.


Akan tetapi dalam benaknya, ia mengatakan, "Maaf", dengan raut wajah yang amat sedih. Setidaknya saat ini Orion dapat mengendalikan diri.


***


Setelah itu, salah seorang anggota Arutala telah datang menjemput Orion dengan mobil. Mobil membuat ia teringat dengan kenangan buruk, sungguh. Sejujurnya Orion enggan sekali untuk naik mobil.


“Perkenalkan namaku Owen Geraldo. Aku anggota Grup Arutala. Levelku tidak setara dengan Tuan Mahanta, tapi setidaknya aku bisa mengimbangi kekuatanmu.”


“Ya, terima kasih karena sudah datang. Pak Owen sudah tahu ke mana kita akan pergi hari ini?”


“Kota Y-Karta, benar?”


Orion kemudian menganggukkan kepala. Segera mereka berangkat dan meninggalkan sekolah yang takkan lagi Orion datangi.


Sekilas, ia merasa hampa. Sejujurnya ia ingin sekali banyak bercerita pada Lily sebagai Orion Sadawira yang adalah pria dewasa. Namun, jika bisa begitu pun ia pasti akan merasa malu. Dengan kesalahan bertumpuk kepadanya itu.


***


Sampai ke kota Y-Karta memakan waktu hampir setengah hari. Perjalanannya cukup melelahkan.


“Orion Sadawira, aku akan mencari penginapan dulu.”


Mau tak mau Owen mengikuti langkah Orion. Entah ke mana ia akan pergi. Bahkan sebelum ini, sesaat setelah sampai ke kota Y-Karta saja, Orion menyuruhnya pergi ke suatu jalan.


Lalu sekarang, ketika sampai di jalan yang dituju, Orion masih menyuruhnya untuk pergi dengan berjalan kaki. Owen hanya bisa menghela napas pendek.


“Sebenarnya siapa anak ini? Apa dia tidak merasa lelah sedikitpun?” gumam Owen seraya menyeka keringat yang mengalir di wajahnya.


Tempat yang ia tuju adalah daerah sungai dengan air terjun. Ada beberapa batu tersusun ke atas dan di sela-sela bebatuan, terdapat sebuah rongga kecil yang nampak seperti goa.


“Anda berdua sangat menyukai dan akan memuji Api ini?” Seseorang bertanya pada mereka.


Di dalam rongga yang kecil di antara bebatuan tersusun itu, ada seberkas api yang menyala. Api itu dinamakan Api Abadi.


Masyarakat di sekitar sini mengatakan bahwa Api Abadi digunakan sebagai sesembahan. Seolah api itu adalah tuhan, dewa atau dengan sebutan lainnya. Mereka bersujud dan tampak menggumamkan sesuatu.


“Buatlah permohonan, maka Anda berdua mendapat keselamatan.”


Seseorang itu kembali mengatakan sesuatu yang membuat Orion kebingungan.


“Apakah itu Api Abadi yang tidak bisa dipadamkan?” tanya Orion sambil menunjuk api itu.


Plak! Orang itu lantas memukul tangan Orion yang menunjuk ke arah Api. Ia marah dan kemudian mengutarakan bahwa Api Abadi tidak bisa sembarangan mendapat perlakuan tidak sopan begitu.


Katanya, tidak boleh menunjuk dan harus bersujud kalau ingin meminta bantuan.


“Kau tidak boleh sembarangan begitu! Api Abadi harus dihormati, dan ia akan menolong kita dalam kesusahan,” ucapnya sambil mengatupkan kedua tangan ke depan api.


“Meminta bantuan pada Api Abadi? Apa orang-orang ini gila? Api itu tidak menolong melainkan membunuh kita tahu,” gerutu Orion dalam batin.


“Tidak seharusnya bersikap tidak sopan, Orion Sadawira. Bagi sebagian mereka, itu semacam tempat keramat. Istilahnya menggantikan peran dewa,” bisik Owen.


“Melihat mereka benar-benar tulus seperti itu, aku jadi ragu apakah Api Abadi memang seperti yang kebanyakan dibicarakan.”


“Nona Gista sudah bilang kepadaku kalau Orion Sadawira hendak mencari Api Abadi. Dan legenda itu ada benarnya,” tutur Owen dengan yakin.


“Benarkah? Aku jadi semakin ingin membuktikan apakah itu benar,” ucap Orion sambil tersenyum licik.


“Orion Sadawira, kau ingin melakukan apa terhadap Api Abadi?” tanya Owen dengan curiga.


“Apa lagi kalau bukan menyiram—”


Owen membungkam mulut Orion yang suaranya sangat keras hingga membuat semua orang di sekitar sana memperhatikan mereka.


“Orion Sadawira, kau janganlah bicara hal seperti itu lagi di depan mereka. Ngomong-ngomong apa tujuanmu hanya itu?”


Setelah Owen menyingkirkan tangannya dari Orion, Orion pun menjawab, “Ya. Sejujurnya, aku ingin mengambil Api Abadi itu.”


Pak! Owen membungkam mulut Orion sekali lagi, kali ini disertai dengan tamparan keras karena terburu-buru membungkam mulutnya.


Lagi-lagi semua orang di sekitar mereka tengah memperhatikan mereka lagi. Dengan tatapan tajam.


“Mari kita mencari penginapan di sekitar sini,” ucap Owen seraya menarik tubuh Orion pergi dari area itu.


Tap, tap!


Pada akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar di suatu penginapan yang akan mereka temukan nanti.


Namun, ketika mereka melangkah keluar dari daerah sungai, ada seseorang yang tampaknya sedang membuntuti dari belakang.


“Ori—”


“Jangan bicara. Aku tahu siapa dia,” lirih Orion.