
Bertemu dengan salah satu ketua dalam situasi yang kurang pas itu membuatnya gugup setengah mati. Rasanya seperti ditahan di balik jeruji besi untuk selamanya, seakan-akan pula mendapat tekanan aura yang begitu mencekam.
Orion berjalan cukup cepat untuk segera pergi menjauh dari sana. Setelah cukup menjauh, Orion mulai memperlambat langkah kakinya.
Seraya melihat ke sekitar yang gelap dengan hanya sebatas lampu penerang di pinggir jalan. Banyak kendaraan berlalu-lalang tiada henti, padahal waktu sudah hampir mencapai tengah malam. Rasanya terlalu ramai.
“Dari dulu kota ini sama sekali tidak berubah. Selalu ramai setiap waktu. Sesekali aku berpikir apa mereka tidak pernah istirahat? Yah, apa pun itu bukan urusanku juga.”
Tap, tap!
Berjalan beberapa langkah ke depan lantas berhenti saat sampai di dekat zebra cross dan lampu lalu lintas. Sembari menunggu lampu kuning, Orion menatap jalanan dengan tatapan sendu.
Crriiikkk!
Suara decitan yang memekakkan telinga didengarnya. Reflek Orion menutup kedua telinga, namun tiba-tiba saja kedua tangannya bergerak sendiri ke bawah. Sesuatu mengikat tubuhnya dengan kencang.
“Ukh! Apa-apaan ini?”
Terkejut ia menoleh ke asal suara sebelumnya. Dan mendapati seorang pria yakni Ketua Dharmawangsa berjalan menghampirinya seraya memegang rantai berwarna gelap.
“Tangan kananmu. Aku lupa menanyakannya, karena apa?”
“Saya sama sekali tidak mengerti maksudnya. Tapi, kenapa saya diikat begini?”
Tubuhnya masih dalam kondisi terikat rantai gelap. Ia sama sekali tidak dapat bergerak leluasa lantaran tubuhnya terikat dengan kencang.
“Masih tidak menjawab? Tangan kananmu itu sedikit aneh. Bukankah aku sebelumnya bertanya, karena apa atau lebih tepatnya ada apa sebenarnya?”
Crakk!
Sedikit demi sedikit rantai terus mengikatnya kencang. Orion merasa sesak napas karena hak itu.
“Jawablah. Kau itu sebenarnya Pejuang NED, 'kan? Kalau kau itu liar maka seharusnya kau tidak menghindariku justru melawanku karena merasa sok kuat.”
“Saya ...”
“Melihatmu menghindar pasti kau ini rekan Chameleon!” tukas Ketua Dharma yang dengan sengaja tidak membiarkan Orion bicara sepatah kata pun.
Lantas Orion masih terdiam mematung. Meskipun saat itu banyak orang lewat di sekitar mereka tapi tak seorang pun menyadari bahwa ada seikat rantai yang membelit tubuh Orion.
Karena rantainya gelap jadi tidak terlalu terlihat. Walau ada sebatas lampu penerang di jalan, mereka juga tidak akan sadar.
Sehingga Orion sulit untuk mengelak dalam situasi ini. Jika saja tidak ada rantai, maka mungkin Orion dapat melarikan diri lagi darinya.
“Saya bukan,” ucapannya tertunda.
BRAKK!!
Orion, Ketua Dharma serta banyak orang terkejut dengan yang telah terjadi di jalanan raya. Sebuah kecelakaan beruntun, dari pengemudi mobil sedan paling belakang lalu menyeret dua kendaraan yang lebih besar.
Hingga mengakibatkan jalanan dipenuhi barang berat yang dibawa oleh truk mini. Kecelakaan itu terjadi dalam waktu singkat, tak ada orang yang sempat mengelak hingga pejalan kaki pun ikut terluka karena itu.
“Ck, lagi-lagi terjadi seperti ini. Karena terlalu padat. Semua kendaraan beroda empat saling berebut jalanan. Padahal ini hampir tengah malam!”
Ketua Dharmawangsa menarik kekuatannya. Lantas pergi menuju ke lokasi kejadian itu untuk menolong beberapa orang yang perlu dibantu.
“Dia sigap sekali. Padahal itu bukan tugasnya. Yah, mungkin dia mempunyai cara untuk menolong mereka. Tidak seperti diriku yang hanya bisa menghancurkan.”
Setelah terbebas dari jeratan rantai, Orion membalikkan badan lantas melangkah pergi.
Akan tetapi tidak ada seorang pun yang terlihat sedang berteriak kecuali semua kendaraan terhenti di sana.
“Apa aku salah dengar?”
“Tolong!” Lagi-lagi terdengar jeritan yang sama.
Ketua Dharmawangsa sedang sibuk memindahkan semua orang yang mengalami kecelakaan itu. Sedangkan suara yang didengar oleh Orion dari sekian banyaknya orang histeris akan kecelakaan tersebut, ada di tempat lain.
Drap! Drap!
Mencoba memberanikan diri untuk mendekat ke kendaraan yang dalam keadaan terbalik. Lantas Orion menemukan sumber suara yang terus meminta tolong.
Seorang lelaki yang mengendarai sepeda terjebak di antara tiga kendaraan yang saling bersimpangan. Orion mengulurkan tangannya untuk membantu namun itu tidak sampai.
“Banyak asap mengepul di sini. Apakah ada sesuatu yang baru saja terbakar? Ugh, aku harus menolongnya. Aku tidak mau melepaskan orang itu.”
Segera ia mencari cara untuk membantunya. Tapi tidak ada satu jalan pun untuk orang itu keluar dari sana. Masih dalam kondisi terjebak dan hanya bisa berdiam diri sembari menunggu pertolongan, pria itu kini sempat menyerah akan hidupnya.
Itu terlihat jelas dari raut wajah sedihnya.
“Kapan mereka akan datang? Aku rasa beberapa orang juga sudah menghubungi mereka. Petugas yang mengurus masalah ini. Tapi menunggu pun juga terlama lama.”
Salah-salah pria itu akan tumbang lebih awal tampa mendapatkan pertolongan.
“Kau, apa yang kau lakukan?” tanya Ketua Dharmawangsa.
“Angkat tubuh sopir mobil sedan ini. Ada seseorang terjebak di tengah-tengah.”
Ketua Dharmawangsa mengangkat tubuh seorang sopir yang adalah seorang wanita yang mengendarai mobil sedan, awal mula dari kecelakaan ini terjadi.
Segera Orion menghanguskan sebagian dari badan mobil menggunakan tangan kanannya lalu merangkak masuk dan membantu pria itu keluar dari sana.
“Maafkan saya yang menuntunmu menggunakan tangan kiri.”
“Ti-tidak apa-apa. Saya tidak mempermasalahkannya.”
Pria ini masih sangat syok akibat kendaraan itu membuatnya terjebak. Tapi ia cukup beruntung karena tidak terbentur sesuatu atau bahkan tertabrak. Bisa dibilang, bukan saatnya orang itu meninggalkan dunia.
“Untuk ke depannya, tolong jangan menyerah hanya karena kamu tidak melihat jalan keluar,” ucap Orion tiba-tiba.
Kretak, kretak!
Semua kendaraan yang terlibat kecelakaan itu sudah hancur dengan tidak utuh. Api membakar salah satu mobil yang paling depan. Karena mungkin tangki bensin yang bocor. Beruntungnya tidak terlalu banyak memakan korban.
Hanya segelintir orang yang berada dalam kendaraan yang kehilangan nyawa. Sisanya mendapat luka ringan hingga parah.
Tak lama, pihak berwajib telah datang. Orion bergegas pergi sesaat sebelum mereka datang dan juga sebelum Ketua Dharmawangsa kembali menanyakan beberapa hal.
“Huh, ada apa denganku hari ini? Pertama murid yang bunuh diri lalu sekarang pria bersepeda yang hampir menyerah. Aku menceramahi mereka semua seakan-akan aku tidak seperti mereka. Hah!”
Orion menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dengan helaan napas panjang. Ia merasa dirinya sedikit berubah seiring waktu. Dimulai dari sikap acuh tak acuh menjadi begitu peduli pada orang sekitar.
“Dulu aku tidak pernah seperti ini. Karena mereka semua membenciku, aku jadi jarang bersosialisasi. Tapi sekarang sedikit berbeda. Apa mungkin karena—”
Orion tidak bisa menjawab bahkan untuk dirinya sendiri. Entah karena apa, tapi yang pasti semakin buruk nasibnya maka semakin berubah lah sifat asli Orion.
“Ini pasti karena karena perkataan Endaru sore tadi.”