ORION

ORION
Mengancam



“Permisi,” ucap seseorang yang berada persis di belakang Orion saat ini. Menepuk pundak dan berharap Orion akan menengok ke belakang.


Jantung tua Orion berdebar cepat. Saking cepatnya, gerigi akal mulai bergerak lebih cepat hingga banyak pikiran yang dipikirkan olehnya sekarang. Kalaupun apa yang dipikirkan adalah hal berguna pun tak jadi masalah namun akan tetapi masalahnya, Orion hanya memikirkan kecemasan.


“Diam!”


Reflek, Orion menoleh ke belakang. Sigap dengan mengunci kedua tangan seorang wanita ke belakang dan membuatnya terduduk di lantai.


“Kau harus diam sekarang. Jangan bergerak sampai aku ijinkan. Kau mengerti?” ucap Orion penuh intimidasi, namun di hati ia masih merasa cemas.


Wanita yang berpakaian sama dengan sebelumnya namun ia adalah wanita berbeda. Hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban untuk menuruti Orion saat ini.


“Aduh, bisa gawat kalau keberadaanku dilaporkan oleh penanggung jawab. Aku ingin berkata, "Aku bukan orang semacam ini, jadi maafkanlah", tapi sepertinya mustahil.” Orion membatin dengan perasaan kalut.


Orion berdecak kesal lantaran dirinya sudah ketahuan sekarang. Ia berharap bahwa ini akan cepat berakhir hanya dengan beberapa pertanyaan saja.


“Jawab, untuk apa kau datang kemari?” tanya Orion.


“Ke-kebetulan,” jawabnya terbata-bata. Tubuh wanita itu gemetaran takut, ia pula terkadang celingak-celinguk seperti akan melawan dengan barang di sekitar. Namun sayangnya tiada barang sebiji pun terlihat.


“Kebetulan? Maksudmu kau datang kemari hanya karena melihatku? Ah, sudahlah. Lalu, apakah barang yang dilelang terakhir kali adalah darah itu?” tanya Orion.


“I-iya!” Mengantukkan kepala beberapa kali dengan ekspresi ketakutan yang semakin jelas terlihat. Orion menatap tajam, dan memastikan bahwa wanita itu tidak berbohong.


“Lalu, orang-orang yang di luar penyimpanan itu sedang apa?” Orion kemudian menunjuk ke belakang. Memperlihatkan banyak orang berlalu-lalang sembari membawa meja beroda dengan beberapa barang. Serta kotak-kotak kayu.


“I-itu ...untuk ...untuk ...be-besok!” jawabnya kembali tergagap-gagap.


Grep!


Orion semakin mengencangkan genggamannya pada kedua pergelangan tangan wanita itu yang kemudian kesakitan. Hendak ia berteriak namun mulutnya dibekap oleh Orion.


“Gawat, aku tidak sengaja melakukan ini. Dia pasti sangat kesakitan. Tapi jika aku melepasnya dia pasti akan bilang hal ini pada atasannya,” batin Orion semakin cemas namun dengan raut wajah tak bersahabat.


“Maaf. Aku akan bertanya satu hal lagi. Benda yang sekarang dilelang itu adalah darah langka. Darah penghubung jiwa dan raga. Apa aku salah?”


Wanita kelinci menggelengkan kepala tanda bahwa apa yang barusan Orion katakan adalah benar adanya.


“Dapat dari mana darah itu?”


“Negara asing, tapi saya tidak tahu ada di mana, Tuan.”


“Kalau begitu siapa yang mengirimnya? Siapa yang membuat benda itu dilelang?” Orion kembali bertanya.


“Itu ...rahasia. Maaf,” ucap wanita itu dengan menahan rasa takutnya. Ia memejamkan mata dan siap kalau suatu waktu dirinya akan terbunuh mengenaskan saat ini.


“Jawab saja! Aku akan melepaskan dirimu kalau—”


Gradak! Gradak!


Setelah beberapa saat mereka secara bergantian masuk-keluar menyusun kotak-kotak yang mereka bawa. Orion kembali bertanya mengenai hal yang sama.


Karena situasi terdesak, wanita itu akhirnya menjawab, “Tuan itu tidak menyebutkan namanya. Dia meminta untuk menuliskan anonim. Tuan saya yang tergiur dengan benda itu, pada akhirnya membiarkannya.”


“Informasi yang tidak berguna. Bagaimana ciri-cirinya?”


“Pria berambut hitam dengan kacamata bulat,” jawabnya.


Seiring berjalannya waktu, pelelangan yang belum berakhir itu semakin meriah saja. Terdengar sorak-sorai dari para hadirin yang ada. Topeng mereka mengangkat tinggi, mereka semua bangkit dari tempat duduk mereka untuk berlomba-lomba memperebutkan darah dengan sebutan harga. Tombol di pegangan kursi pun jadi tak ada artinya. Mereka membiarkannya, dan hanya menggunakan teriakan saja.


Mc dan salah satu rekannya pun mendadak kebingungan, tak tahu harus melakukan apa ketika keributan ini berangsur-angsur semakin lama. Seolah dunia kiamat, tempat pelelangan serasa bergetar kuat ibarat gempa telah datang.


Rekan-rekan mereka yang bertanggung jawab dalam barang-barang itu pun juga sama kebingungannya. Mereka berkeluh kesah karena gedung bergetar dan teriakan mereka yang begitu keras luar biasa. Sampai mengharuskannya untuk menutup kedua telinga rapat-rapat.


Begitu pula dengan Orion yang saat itu sudah ketahuan. Ia masih dalam posisi yang sama, menyandera seorang wanita dan membuatnya berbicara hal lebih tentang darah langka yang dilelang itu.


“Astaga! Mereka benar-benar sudi mengeluarkan uang hanya dengan darah itu?! Mereka sudah tidak waras!” pekik Orion yang mengamuk di sana. Namun beruntung, suara jeritannya teredam oleh suara jeritan para hadirin di sana.


“Jelas saja, mereka begitu menginginkan untuk terus hidup. Memangnya Tuan tidak?”


“Aku lebih baik mati. Hei! Jangan ajak aku bicara!” Tiba-tiba nada suara Orion meninggi begitu sadar bahwa wanita kelinci itu menyahut omongannya.


BRAK!


Pintu gedung terbuka. Pintu yang berada tepat di belakang para hadirin bertopeng. Tidak terduga bahwa mereka kedatangan orang lain yang sama meriahnya. Suara dobrakan pintu pun begitu nyaring hingga suasana kembali menghening.


Secara bersamaan, mereka menoleh ke belakang. Mendapati suatu kelompok berpakaian acak tak jelas dengan perawakan mereka yang sedikit aneh.


“Kami Phantom Gank! Akan datang dan mencuri semuanya!” ucap seorang pria yang berada di posisi tengah.


Kemeriahan mereka lenyap dalam sekejap. Raut wajah yang berubah menjadi mendung ketika mendengar sekaligus melihat Phantom Gank pun membuat mereka panik dalam diam.


“Apa?! Phantom Gank lagi?! Sebenarnya seberapa banyak dari mereka itu?” Orion terkejut bukan kepalang. Ia lantas bergegas melihat di balik tirai untuk melihat situasi.


“AAAA! TOLONG! SIAPA PUN!”


Kali ini bukan jeritan terhadap nilai suatu barang berharga melainkan jeritan karena Phantom Gank berbuat ulah. Mereka memang tidak menyentuh orang-orang di sana akan tetapi secara tidak langsung menyakiti sekaligus merusak bangku dan meja di sana.


Mereka memorak-porandakan tempat pelelangan ini tepat setelah nilai darah langka menyentuh angka 100 juta. Namun karena kekacauan telah terjadi, mereka tidak lagi memperhatikan melainkan melarikan diri dari tempat. Beberapa dari mereka kabur, berlari terbirit-birit demi menghindari kelompok mereka.


“Ini menjadi gawat setelah kedatangan mereka semua. Entah ini kabar baik atau buruk namun bagiku ini adalah kesempatan dalam kesempitan. Keberuntungan telah berada di pihakku.”


Meski Orion sebelumnya terkejut, ia pun merasa bahwa ini adalah kesempatan untuk mengambil darah langka tersebut.


“Berhenti! Anda tidak bisa melakukan hal seperti itu! Jangan ambil barang lelang itu atau Anda akan menyesal!” pekik wanita itu. Menghalangi tindakan Orion.