
“Ketahuilah kalian berdua, bahwa benda itu sudah tersebar luas bahkan sebelum datangnya orang yang kau cari,” ucap Tuan Gerhana Bulan.
Yang dikatakannya, mungkin saja benar. Sempat Orion meragu akan perkataan orang asing, tapi pernyataan Mahanta mengenai tersebarnya benda bahkan hingga ke remaja itu membuatnya jadi bukti. Karena tak mungkin itu ulah Chameleon sendiri sedangkan Chameleon pun belum lama menginjakkan kakinya ke negara ini.
“Begitu. Lalu, apa tujuanmu yang membuatku datang kemari. Apakah karena hadiah kepalaku yang barusan kau bicarakan? Kalau iya, maka kau salah besar. Aku tidak punya hadiah. Aku tidak diburon.” Orion menggelengkan kepala.
“Benar. Aku sudah mencari ke sana kemari. Hasilnya kosong, meskipun ada beberapa informasi tertutup karena kau berasal dari negara lain,” katanya dengan menyunggingkan senyum.
“Jelas saja. Aku ini bukan orang yang sedang kau cari sekarang. Lalu, apakah kau akan tetap membunuhku. Atas permintaan bantuan Saint bernama Pak Ken itu?” tanya Orion.
“Bisa dikatakan begitu. Tetapi sebelum bertemu topik yang memberatkan, aku ingin menunjukkan satu hal padamu.”
Tuan Gerhana Bulan kemudian memberikan sebuah sketsa gambar seseorang. Yakni seorang pria sambil memegang suatu alat musik tradisional, angklung. Gambar dari wajah pria itu sangat mirip dengan pemain kecapi ataupun foto usang yang dikirimkan oleh Mahanta. Sangat mirip, bahkan dengan cara pria itu memegang alat musiknya.
“Siapa ini?” Orion kembali bertanya setelah melihat sketsa tersebut.
“Dia adalah orang yang aku cari. Berasal dari negara kalian.” Tuan itu berkata sembari menyangga dagunya ke meja depan. Menatap Orion begitu serius, itu terlihat jelas meskipun masih tertutup oleh topeng hitam.
“Maka dari itu kau menunda tindakan yang akan kau lakukan padaku karena ingin bertanya hal ini?” sindir Orion mengerutkan kening. Ia kesal.
“Bisa dikatakan begitu. Karena orang ini adalah buron milik kami. Tidak, bahkan hampir seluruh penduduk yang ada di sini.” Pria itu menggelengkan kepala beberapa kali seraya memijat kening lalu tersenyum masam.
Orion belum menjawab apa-apa lantaran ia enggan membicarakan seorang yang dikenal yakni si pemain kecapi itu. Tetapi begitu mendengar bahwa pria yang berada dalam gambar itu adalah buron mereka, Orion tak habis pikir.
“Dia bukan asli penduduk di sini?”
“Tentu bukan.” Sekali lagi pria itu menggelengkan kepala.
Tak semua orang mengenal pemain kecapi, yang juga mantan rekan Chameleon. Hubungan mereka tidak lagi saling terhubung, lantaran ia berkhianat begitu tahu era Chameleon akan segera berakhir. Karena itu juga si pemain kecapi bertemu dengan Orion, secara sengaja.
Walaupun dari sudut pandang Orion, mereka bertemu karena tidak ada sengaja. Namun yang sebenarnya pemain kecapi itu lah yang mengintai pergerakan Orion diam-diam. Bahkan tanpa Orion sendiri sadari, pemain kecapi itu berniat akan memanfaatkan Orion dan Chameleon entah untuk apa.
Fakta ini sama sekali tidak ketahui oleh Orion atau seluruh Pejuang NED. Bahkan Endaru juga tidak.
Dan sekarang, fakta lain yang begitu mengejutkan Orion. Yakni pemain kecapi itu diburon oleh negara lain?
“Kebenaran yang sungguh tidak dapat aku percaya.”
Drap! Drap!
Beberapa orang bertopeng masuk ke dalam ruangan tiba-tiba. Dan mereka semua seakan-akan mengepung Orion dan Endaru saat ini juga. Lantas Endaru pun bersiap jika sewaktu-waktu ia harus menggunakan kekuatannya.
“Apa-apaan ini?” Endaru jelas marah. Disambut sebagai tamu lalu tiba-tiba diperlakukan seperti kriminal.
“Kami tidak akan melakukan kekerasan kalau kau menjawab pertanyaan kami. Dan kalau dilihat dari reaksimu, pastinya kau tahu sesuatu tentang pria yang digambarkan ini,” ujar Tuan Gerhana Bulan memberikan ancaman.
Memang ini jebakan. Endaru sebelumnya juga sudah bilang pada Orion, tapi Orion yang tahu itu pun tetap mengikuti aturan main pria ini. Mau digiring ke manapun, Orion akan pergi membuntuti karena merasa itu tindakan yang paling tepat.
“Aku tidak bisa menjawab pada orang yang akan membunuhku. Lagipula, kenapa kau mengincar pria ini?” tanya Orion sembari menunjuk gambar itu.
“Kalau aku katakan, apakah kau akan menjawab siapa orang yang sedang kau cari. Bahkan sampai membuat Saint Ken ketakutan padamu karena orang itu dan meminta bantuanku.” Pria itu membalas kalimat Orion begitu mudah.
Orion berdeham, ia berpikir sejenak sembari menatap pria bertopeng.
“Sayangnya tidak bisa aku katakan. Karena dia bukan orang di negara ini, makanya aku jadi kerepotan. Terlebih dia juga Pejuang NED yang memiliki kekuatan bak dewa,” tutur Orion.
“Maksudmu dia Saint?”
“Iya. Sebutan kalian itu, ya?”
Beberapa saat situasi menjadi hening. Setetes keringat jatuh, ia menelan ludah begitu mendapat tekanan udara yang serasa dingin.
Jalan keluar ditutup, baik pintu maupun jendela. Tidak ada jalan untuk Orion dan Endaru melarikan diri sekarang juga. Peruntungan yang buruk seperti ini, jelas Orion menebaknya akan terjadi cepat atau lambat.
Lalu sekarang, begitu masalah buruk kembali terjadi, Orion sudah mempersiapkan diri.
“Si Ken itu, bisa-bisanya dia mengkhianatiku seperti ini. Yah, tapi aku biasa diperlakukan seperti ini. Tapi mau sampai kapan ini terus berlanjut?” batin Orion yang sejujurnya sangat kesal, namun ia menahan diri dengan hanya mengepalkan kedua tangan dalam saku celananya.
“Orion, aku tidak mau di sini lagi. Mereka semua berniat membunuh kita,” bisik Endaru.
“Jangan lakukan apa pun. Karena orang ini penting,” ucap Orion.
“Apa maksudmu?” Endaru mengerutkan kening, ia sama sekali tidak mengerti.
“Orang ini jauh lebih berkuasa dari Emblem Priest.” Tanpa ragu Orion bilang hal seperti itu langsung di depan mereka dengan suara jelas dan sedikit keras sembari menunjuk diri Tua Gerhana Bulan.
“Kau orang yang cukup berani. Tapi sepertinya perbincangan kita akan berakhir sekarang,” sahut pria itu.
BRAK!
Punggung Orion jatuh ke bawah dan menghantam meja dengan keras. Kedua tangannya terkunci oleh genggaman seseorang dari belakang. Sontak, Orion terkejut. Sempat ia panik lantaran ia tak sempat berkutik.
“ORION?!” Endaru berteriak, namun gerakannya terhenti saat ia hendak menolong Orion. Sebab sebilah pisau kecil menyentuh kulit lehernya.
“Ck, apa-apaan ini? Kau memperlakukan kami sebagai tamu lalu tiba-tiba memperlakukan kami seperti ini? Apa maksudmu?” pekik Endaru yang tak terima mendapat perlakuan seperti ini. Yang kemudian lehernya tergores setelah ia berteriak tadi.
“Kenapa? Jangan bilang kau lupa. Target Saint Ken bukankah pria ini saja melainkan kau juga,” jawab Tuan Gerhana Bulan melirik Endaru.
“Lagipula aku juga sudah berkali-kali bilang pada kalian. Kalau Saint Ken meminta bantuanku karena merasa kalian itu berbahaya,” tuturnya sekali lagi.
Tatkala, hari ini penuh rintangan. Pagi, siang, sore hingga malam tak pernah sekalipun mereka terbebas akan masalah. Belum lagi, tujuan Orion belumlah tercapai. Bahkan memakan setengah tahun untuk mencari keberadaan Chameleon yang kemudian hilang jejaknya lagi.