ORION

ORION
Pengejaran



Mengingat tidak ada waktu untuk pertarungan sia-sia ini lagi. Orion memanfaatkan keramaian jalan raya untuk melarikan diri dari Mr. Iki Gentle.


Drap! Drap!


Tetapi pada akhirnya Orion ketahuan lebih cepat dari dugaan. Pembunuh bayaran itu mengejar dengan wajah seriusnya.


“Segitunya dia ingin membunuhku, ya? Dasar,” gerutu Orion.


Langkah pria itu lebih cepat dari Orion. Yang kemudian menarik kerah kemeja Orion dari belakang, sehingga mengakibatkan Orion kehilangan keseimbangan. Nyaris ia terjatuh.


“Benar-benar keras kepala.”


“Kau lah yang keras kepala. Aku 'kan sudah bilang, misiku adalah membunuh pria yang sama untuk yang kedua kalinya,” tutur Mr. Iki Gentle dengan mengerutkan keningnya.


Buak!


Orion kembali mendaratkan pukulan ke wajahnya, begitu lengah, Orion bergegas melarikan diri secepat mungkin. Namun seperti biasa bahwa melarikan diri terutama pada pembunuh bayaran yang lebih lincah itu mustahil.


“Biasanya instingku selalu bergerak. Tetapi ada apa hari ini?” gumam Orion.


Suara bising dari perempatan jalanan, kendaraan berlalu-lalang dan beberapa bangunan berkelap-kelip di bawah langit malam. Sosok dari keduanya memang tidak terlalu terlihat, kecuali saat api Orion menyala.


Agar Mr. Iki Gentle tidak lagi mengejar, Orion menggunakan pembentukan api seutas tali. Ia melakukan trik yang sama agar menghambat pria tersebut. Dengan menyambungkan dari jari tangan Orion ke salah satu kaki Mr. Iki.


Orion kemudian menarik jarinya namun tidak ada reaksi justru seperti ditahan oleh benda berat di atasnya.


“Apa?” Orion berhenti berlari lalu ia menoleh ke belakang mendapati Mr. Iki Gentle juga berhenti.


Ternyata tali itu ditahannya dengan kaki. Padahal kalau tersentuh itu akan sangat panas, tapi Mr. Iki terlihat tidak peduli sekalipun uap panas sudah mengepul ke atas.


“Orang yang merepotkan.”


Srek!


Mr. Iki menarik tali itu dengan menyeret kakinya. Sebelum Orion ditarik mundur, ia kemudian melenyapkan pembentukan kekuatannya lantas kembali berlari hingga menyeberangi jalan raya.


“Kau kira aku tak mudah mengejarmu. Percuma saja aku mengulur waktu sebelumnya.”


Mr. Iki Gentle menambah kecepatan berlarinya. Ia juga menambah kecepatan itu dengan menggunakan dorongan angin ke belakang, sehingga langkahnya terasa lebih ringan dari berlari biasa.


Karena hal tersebut sehingga Mr. Iki telah sampai dan berada di samping Orion saat ini.


“Tadinya aku tidak mau melakukan hal ini. Karena misiku itu yang terpenting. Tapi, mungkin aku bisa membantumu,” ucap Mr. Iki tiba-tiba.


“Kau bicara apa?” tanya Orion dengan terkejut sekaligus terheran-heran. Lalu berhenti berlari.


Mr. Iki yang ikut berhenti pun berkata, “Larilah. Aku tidak akan menghalangimu. Akan tetapi suatu saat nanti kau harus melakukan kebaikan yang sama.”


Tidak peduli dengan apa yang dibicarakan oleh Mr. Iki, sehingga Orion kembali berlari secepatnya hingga sampai ke tujuan.


CRAK!


Namun ketika itu, darah mengucur deras di sisi kanan wajahnya. Lebih tepatnya adalah telinga Orion terpotong secara tiba-tiba. Kaget, lantas ia menoleh ke belakang.


“Ha?!” Mata Orion terbelalak melihat Mr. Iki memegang telinga bagian kanan. Seketika Orion langsung menutup telinga kanan yang kini hanya tersisa luka saja.


“Aku akan bilang pada Chameleon bahwa aku sudah bersusah payah melawanmu. Jadi ini sebagai buktinya,” ucap Mr. Iki Gentle.


Setelah Orion berlarian sambil menghentikan pendarahan pada lukanya. Ia berhenti saat mendapati jalanan sudah dipenuhi banyak kendaraan berhenti. Ia melirik ke sekeliling, melihat kendaraan yang ia kenali maka ia pun segera mendekat.


“Ulah Endaru? Yah, aku tidak perlu khawatir karena Chameleon tidak muncul sekarang 'kan? Tapi aku masih bingung dengan sikap pembunuh itu.” Orion bergumam lirih seraya melihat situasi di balik bangunan pinggir jalan.


Jalanan yang macet, kericuhan sana-sini serta suara klakson yang tak pernah berhenti. Sungguh amat bising malam ini.


“Hah, kalau begini, aku mungkin tidak bisa ke tempat mereka.”


Sebetulnya Orion pula ingin segera menghampiri mereka namun rekan Chameleon masih berada di sana dalam kondisi sadar. Salah satu dari mereka pun juga melakukan serangan diam-diam, meski serangan itu dihalau dengan mudahnya oleh para Ketua di sana.


“Hei, kenapa kau tidak maju saja?” Karura bertanya dalam kepala Orion.


“Bukan urusanmu, Karura. Ngomong-ngomong, apakah kau bisa pergi tanpaku?” tanya Orion.


“Maksudmu untuk apa?”


“Aku ingin kau melihat situasi yang ada di rumah Arutala,” ujar Orion.


“Kau betulan cari mati ya rupanya.”


Perkataan Karura seketika membuat Orion bungkam. Lantaran yang dimaksudnya, kalau Karura pergi dari tubuhnya maka sudah pasti Orion akan mati.


“DASAR BR*NGS*K!”


Terdengar suara jeritan yang kasar dari sana. Tidak lain adalah Endaru, Orion kenal betul suara itu. Setelah beberapa saat Orion masih berada di balik pagar bangunan, melihat situasi di sana sudah cukup berbeda.


Memperlihatkan Endaru keluar dari mobil dan menggunakan kekuatannya. Beberapa dari mereka melayang lalu dari belakang angin mendorong tubuh mereka menjauh.


“Hei, ini masih berada di jalan raya! Apa kau masih waras sampai mengeluarkan kekuatan yang begitu kentara?” oceh Ketua Dharmawangsa yang kemudian menarik tubuh Endaru untuk masuk ke dalam mobil lagi.


“Jangan menarik-narik bajuku! Ini mahal tahu!”


“Ha, seperti biasa dia memang kurang ajar, kasar, dan belagu,” gumam Orion yang kemudian berjalan tanpa keluar dari pagar bangunan tersebut.


Perlahan ia menghampiri di mana mobil itu terjebak karena kemacetan. Namun dirinya terkejut saat melihat sesuatu, ia buru-buru keluar dari sana.


“Chameleon?”


Ketika Endaru dengan Ketua Dharmawangsa saling mengejek, dan beberapa dari mereka berusaha untuk menghentikannya. Terlihat genangan hitam yang bergeliat di samping mobil itu berada.


Genangan hitam semakin lama semakin naik ke atas lalu membentuk wujud seorang pria yang kemudian melirik ke samping kanan, mendapati Orion dengan sebilah pedangnya.


Dalam waktu singkat, pria yang diyakini Chameleon itu menghindar dari serangannya. Tepat setelah Orion hendak kembali mengayunkan pedangnya, wujud Chameleon kembali masuk dalam bayangan.


“Orion?”


Perhatian para ketua serta Endaru lainnya pun teralihkan. Mereka sampai tak sadar akan adanya Chameleon yang hendak menyergap mereka semua. Namun, serangan Orion juga berlaku hal sama. Lantaran Chameleon kembali melarikan diri.


“Tanpa bicara apa-apa, kini dia hilang lagi.”


Chameleon menjadikan Orion sedikit merasakan trauma. Entah apa yang pernah dilakukan oleh Chameleon ataupun segala ucapan yang dikatakan, semua itu dapat Orion ingat dengan baik. Saking ia mewaspadainya.


“Orion Sadawira. Benarkah itu namamu? Tak aku sangka kau selamat dari maut?” Ketua Dharmawangsa menatap sinis ke arahnya.


“Hei! Jaga ucapanmu pada orang yang lebih tua!” sahut Endaru menegas pada Ketua Dharmawangsa. Ia tak terima karena Orion diperlakukan sebagai orang yang tak berguna.


“Anda sendiri sedang apa? Kalian saja tidak sadar kalau Chameleon datang lagi,” balas Orion tanpa menatap wajah mereka di sana.