ORION

ORION
Pria yang Terhubung Dengan Darah



Tak semua jalan akan selalu lurus. Setiap kali melangkah, pasti terdapat beberapa cabang muncul di depan jalan lurus itu. Waktu dan pikiran selalu berseteru setiap kali bertemu, dan kini Orion harus berhadapan dengan sosok musuh yang dengan sengaja membuat Orion tak bisa menggapai keinginannya untuk mati.


Begitu melihat noda merah kepekatan di antara sela dua jarinya, Orion langsung paham bahwa noda itu adalah darah. Sesaat sebelum ia mengutarakan hal yang cukup membahayakan, ia menoleh ke belakang.


“Maafkan kami yang tiba-tiba berada di tempat seperti ini. Sepertinya damkar sudah tiba. Kalau begitu saya permisi,” ucap Orion seraya menundukkan kepala sedikit.


Suara sirene mobil pemadam kebakaran pun terdengar tak lama setelah itu. Orion beralih pandang ke arah sosok seseorang yang menjelma sebagai Endaru.


“Tak perlu kau lanjutkan akting sok lugumu itu, Chameleon!”


Swuush!


Embusan angin terasa begitu kencang namun singkat, sebilah pedang menyentuh urat nadi pada leher Chameleon saat ini. Orion mengatakan sebaris kalimat dengan nada mengancam, bahwa Chameleon takkan bisa berbuat apa-apa ketika semuanya telah terbongkar.


“Apa kau mencemaskan anakmu?” tanyanya dengan alis berkedut seraya ia tersenyum lebar seakan mengejek bahwa itu hanya sekadar lelucon.


“Kalau tahu, maka cepat lepaskan dia,” kata Orion seraya ia semakin mendekatkan mata pedang itu ke lehernya.


Leher Chameleon tergores pelan, mengeluarkan setetes darah yang kemudian mengalir lembut hingga jatuh ke jalan.


Sesaat Chameleon memejamkan kedua mata dan tetap tersenyum lebar. Beberapa detik kemudian, Chameleon tiba-tiba melangkah mundur lalu melompat jauh ke belakang.


“Kau bermaksud untuk kabur?!” pekik Orion mengejarnya seraya melayangkan senjata, membuat sabit yang tajam menyerang Chameleon dalam wujud Endaru.


“Bukan. Aku justru memancingmu. Lalu, aku akan menyahut perkataanmu yang sebelumnya. Bahwa aku tidak mungkin melepaskan anak itu karena jika aku lepas maka kau akan cepat mati,” ungkap Chameleon.


Draaaakk!


Ia menyeret kaki kanannya ke belakang, seketika jalanan bergetar kuat yang kemudian menjadi retak tak menentu. Orion berhenti mengejar selama beberapa detik ia kembali dengan melompat ke setiap jalanan yang seolah-olah berpisah itu.


“CHAMELEON!”


Teriakannya begitu kencang, semua orang di sekitar terkejut akan suara kencang tersebut. Serta jalanan yang rusak karena pengaruh kekuatan gravitasi menjadi penghambat bagi mereka.


Orion mengarahkan telapak tangan ke depan, membentuk api menjadi tali yang kemudian mengikat tubuh Chameleon. Namun Chameleon merubah wujudnya menjadi Gista begitu juga dengan kekuatan es yang dapat membekukan tali api itu dalam sekejap.


Sra! Srak! Srak!


Anehnya es tak berhenti di tali api saja, justru semakin menjalar hingga mengunci kedua kaki Orion. Tak butuh waktu lama baginya untuk melelehkan es dengan lengan Api Abadi, segera saja Orion membentuk dinding api melalui bawah jalan. Menghentikan pergerakan Chameleon walau hanya sementara.


Slash!


Sebilah pedang menyayat punggung Chameleon yang kembali merubah wujudnya menjadi Mr. Iki, rekannya sendiri. Sekali ia mengarahkan tapak tangan itu ke tubuh Orion yang berada dekat dengannya, dalam sekejap Orion terdorong menjauh bahkan menjauhi dari gang-gang sebelumnya.


“Ugh, apa-apaan itu?” Orion merasa pening, pandangannya sempat memburam dalam beberapa waktu.


Terlihat dari kejauhan Chameleon masih saja tersenyum seperti itu. Orion kehabisan kata-kata mengenainya, ia memilih bungkam dan kembali menerjang ke arah Chameleon dengan sebilah pedang yang melekat pada lengan kiri Orion.


“Hei, Orion!” Sambil memanggilnya, Chameleon menendang bagian perutnya hingga menabrak bangku halte.


“Hah ...hah, kekuatan fisiknya tidak main-main.” Napas Orion seakan habis.


“Tentu saja, aku bisa meniru kekuatan fisik juga. Mungkin ini bukan milik bawahanku, tapi milik orang lain. Tapi aku bisa meniru lebih dari satu kali,” ungkapnya sambil berjalan menghampiri Orion.


Perlahan Orion beranjak dengan tertatih-tatih seraya memegangi bagian perut yang terasa sakit. Menatap Chameleon dengan penuh kewaspadaan, dan tetap ia mempertahankan bentuk api yang memadat menjadi senjata di lengannya.


“Kau ingin bilang bahwa kau akan melepaskan anak itu asalkan aku ikut denganmu?” celetuk Orion.


“Benar sekali,” ucap Chameleon kegirangan. Ia mengubah wujudnya menjadi Dicky dengan rambut merah terang mencolok.


Tap!


Dalam sekejap Chameleon menangkap lengan berpedang Orion yang hendak menyerang dirinya. Sebentar ia melirik ke arah mata pedang, lalu kembali bertukar tatap dengan Orion.


“Aku tidak sekuat itu. Dan bisa saja aku mati bunuh diri sekarang tanpa peduli dengan anak itu. Maka kau tidak akan bisa mengambil Api Abadi,” tutur Orion seraya menarik lengan dari genggamannya.


Buak!


Sebagai gantinya ia meninju wajah Chameleon menggunakan kepalan tangan kanan. Sungguh tak terbayang rasa sakit yang menjalar pada Chameleon saat itu, hanya saja Chameleon selalu bersikap biasa saja seolah luka itu bukanlah apa-apa.


“Ah, begitu. Kalau begitu, aku akan memaksamu untuk hidup kembali,” tutur Chameleon bersikukuh tuk membawa Orion ke dalam kelompoknya.


“Heh, jangan bercanda. Aku akan membakar habis tubuhku lalu abuku akan terbang dibawa oleh angin. Kau takkan bisa menggapainya,” ucap Orion.


“Oh, ya? Aku akan mencarinya dengan cara apa pun. Tak peduli apa atau siapa yang akan aku korbankan untuk mengambilmu. Karena Api Abadi begitu berharga, aku takkan melepasnya sampai aku puas.”


Setengah wajah Chameleon terbakar, menyisakan tulang yang separuh menjadi abu jatuh ke jalan. Ketika itu, Orion mengeluarkan api dari salah satu kakinya.


Ia mengangkat kaki itu sembari mengatakan sesuatu. “Tujuanku hanyalah kembali ke tubuh asliku lalu mati. Aku akan jujur padamu, bahwa aku pun takut kalau kau benar-benar berhasil dengan tujuanmu menciptakan dunia NED seutuhnya karena itulah aku ingin kau mati sebelum aku.”


“Kalau begitu?” Chameleon memiringkan kepalanya.


“Tapi sayangnya di satu sisi aku enggan membebankan diriku yang kelak akan kembali mati meskipun tidak akan berada di liang kubur,” imbuh Orion.


“Begitu? Tapi menurutku ...kau itu lebih peduli dengan orang lain daripada diri sendiri ataupun pada musuh.”


BLAAR!


Orion tak lagi menunggu pembicaraan itu akan selesai, ia mendorong tubuh Chameleon dengan tendangan tetapnya, membuat tubuh Chameleon terbakar oleh api. Orion kemudian melompat ke bangku halte dengan satu kaki yang menempel pada dinding besar di belakangnya.


SWUUSH!


Orion melesat jauh menggunakan dorongan api, jejak pada kaki berapinya pun terlihat jelas di bangku dan dinding di halte itu. Setelah pergi dari Chameleon, Orion menggunakan sayap tuk terbang menuju ke atas gedung.


Di sana ia memperhatikan Chameleon dari jauh.


“Maaf saja, bukan waktunya untukku berpikir bahwa masuk ke sarangmu adalah tepat. Setidaknya untuk sekarang,” gumam Chameleon.


Sementara di bawah sana, tampak Chameleon membalikkan badan dengan tubuh yang masih utuh, semua lukanya pulih ketika ia mengeluarkan lingkaran di atas kepala dalam beberapa waktu yang singkat.


“Seingatku dia begitu peduli pada orang lain. Kau akan berada di pihakku, ingat itu.” Chameleon bergumam.


Selama beberapa saat kemudian, Chameleon akhirnya pergi meninggalkan kawasan ini. Di kota ini mungkin akan ada banyak sekali ancaman yang datang, entah dari Pejuang NED atau Saint sebagai sebutan di negara asing ini.


“Hah, akhirnya dia per— eh?!”


Orion terkejut saat mendapati Chameleon ternyata belum pergi dari sini, entah apa yang direncanakannya sampai harus mendatangi pria itu lagi. Pria yang bersama anjingnya itu.


“HEI!! MAU APA KAU?!”


“Ternyata ini umpanmu?”


Chameleon tertawa sebagaimana ia mudah menebak jalan pikiran Orion yang sangat mudah terbawa suasana. Tentunya siapa pun orangnya takkan mengabaikan orang yang dalam kesulitan jika orang itu mampu namun lain cerita jika itu Orion, ia akan melakukan segalanya hanya demi menyelamatkan orang yang tidak berguna sekalipun.


“Aku tahu kau akan datang untuk menyelamatkan pria ini. Tapi siapakah dia?”


“Kamu tidak perlu tahu tentang hal itu, Chameleon. Dan aku tidak berniat bertarung denganmu dari awal. Setidaknya sampai Gista datang nanti.”


Sesuai perkataan Orion, Orion bergegas melarikan diri dari Chameleon sebelum serangannya datang untuk menghentikan langkah cepatnya. Sembari membawa pria yang bersama anjing tersebut, Orion menjauhi Chameleon, lantas bersembunyi di kerumunan banyak orang yang sedang mengantri sesuatu.


“Ternyata ada diskon di sini. Pantas saja antriannya ramai.”


Karena ditutupi banyak orang berderet-deret, Orion dengannya bisa dibilang sangat aman sekarang. Chameleon juga tidak menyentuhnya.


“Te-te-terima kasih,” ucap pria itu dengan terbata-bata.


“Kau berusia berapa?” tanya Orion.


“Hm, saya tidak begitu ingat.”


“Oh.”


Orion merasa ada yang aneh dengan pria ini. Ia seperti sedang melihat seseorang yang pernah ia lihat sebelumnya. Di mana atau kapan waktunya, Orion sama sekali tidak ingat kecuali wajah dari pria itu.


“Lain kali jangan berjalan sendirian.”


“Saya tahu. Tapi apa yang barusan saya lihat? Itu terlihat seperti superhero yang ada di komik atau film kesukaan saya,” ucapnya dengan semangat.


“Ha?”


“GISAN!!” Perbincangan mereka berakhir begitu seorang wanita muncul dan memanggil pria ini.


“Ya! Aku datang, bi!”


Pria itu bergegas pergi memenuhi panggilan dari bibinya, dan kemudian Orion tetap berada di sana, sebab tak ingin melakukan apa pun selain berwaspada akan sekitar.


“Pria itu jauh lebih muda dariku, tapi tubuhnya sangat besar. Kurang lebih sama seperti Mahanta. Siapa sebenarnya dia? Atau hanya perasaanku saja yang seperti pernah melihatnya karena dia mirip dengan Mahanta dari bentuk tubuhnya?” pikir Orion.


“Lupakan itu.”


Orion tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain, ia bergegas untuk menuju ke halte sebelumnya. Selain melihat keberadaan Chamaleon, hanya di sana pula lah ia mendapatkan jaringan untuk menghubungi seseorang.


“Tidak ada kecuali kendaraan yang diderek rupanya,” gumam Orion yang sejak tadi hanya melihat beberapa kendaraan yang diderek.


Sebagian dari mobil yang diderek itu nyaris kehilangan setengah bagiannya. Beberapa lagi, bagian kaca dan atasnya terlihat seperti terbelah dan hancur bagai bubur.


“Aku merasa bersalah dengan mobil yang hancur itu. Pasti rata-rata harganya mahal. Dan bagaimana dengan pengemudinya?”


Baru saja Orion bertanya-tanya pada dirinya sendiri, ia lantas melihat ada ambulan yang barusan melintas. Terlihat kendaraan yang sama pula tak berselang lama setelah ambulan pertama datang.


Drrtt!


Ponselnya bergetar, tanda seseorang menghubunginya. Itu adalah Mahanta.


[“Orion, apa kau sedang sendiri sekarang?”]


“Ya, aku sendirian. Dan barusan aku bertemu dengan Chameleon. Bagaimana denganmu Mahanta?”


[“Soal itu ...pemain kecapi yang sama masih belum aku temukan. Tapi bagaimana dengan Chameleon? Kau menangkapnya?”]


“Justru dia yang mau menangkapku,” ucap Orion.


[“Aku sudah bersama dengan lainnya kecuali Runo dan Ketua Irawan yang dirawat oleh Dr. Eka. Sejujurnya aku sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada mereka.”] Terdengar jelas suara Mahanta yang mengkhawatirkan Runo dan Ketua Irawan.


“Tenanglah Mahanta. Dokter gila itu tidak akan berbuat macam-macam pada mereka. Aku sudah menggenggam nyawanya di tanganku, lalu aku tidak bisa berkumpul dengan kalian sekatang,” sahut Orion.


[“Mau ke mana lagi?”]


“Kamu tahu anak itu hilang, dan apa tujuanku datang kemari 'kan? Mahanta, aku akan mencoba untuk menyelidikinya tapi tidak dengan cara bertanya pada Chameleon. Itu akan sangat merugikan diriku,” tukas Orion.


[“Aku mengerti, Orion. Berhati-hatilah.”]


“Ya, kau juga. Dan kabari aku jika Gista sudah datang. Maksudku, Nona Gista.”


Mengakhiri panggilan secepatnya, lantas Orion bergegas menuju ke suatu tempat.


“Jika saja Meera tidak kehilangan ingatan maka dia akan berguna untukku. Ya ampun, kenapa dia mengambil sandera yang lebih buruk dari bayanganku,” gerutu Orion.


Sementara itu, pria yang mempunyai nama Gisan. Sejak tadi ia merasakan hal yang sama seperti Orion.


“Bibi, apa sebelumnya kita pernah melihat pria yang tadi itu?” tanya Gisan pada bibinya.


“Pria? Pria yang mana? Jangan bilang kamu tertarik dengan seorang pria ketimbang wanita?”


“Aku tidak pelangi, bi. Hanya saja aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat ...oh, tunggu, apakah aku hanya berhalusinasi saja?” gumam Gisan seraya memijat kening dengan kedua jari telunjuknya.


Ia berusaha untuk mengingat di mana ia pernah melihat Orion, yang bahkan ia sendiri saja tidak begitu mengerti ada di mana.


“Ya sudahlah.”


Keduanya masih tidak mengerti bahwa darah mereka sudah saling terhubung dan suatu saat nanti mereka akan bertemu. Gisan, adalah pria yang pernah bekerja di bidang militer namun suatu hari saat terjadinya perang, ia tewas dibantai oleh peluru yang menghujaninya dari atas. Namun suatu keajaiban telah terjadi, setelah bertahun-tahun, dirinya kembali bangkit karena darah abadi yang tidak sengaja masuk ke dalam kerongkongan pria tersebut. Dan pemilik darah itu ialah Orion yang secara kebetulan berada di sana, setelah bagian kota itu telah menjadi padang tandus.


***


Duk!


Tidak sengaja, ketika Orion melintasi halte busway, menabrak seseorang hingga membuat puluhan lembar yang dibawa oleh orang itu pun jatuh berserakan.


“Maaf! Aku tidak sengaja,” ucap Orion, lekas membantunya untuk membereskan setiap lembaran yang terjatuh dari genggaman pria muda berkacamata itu.


“Tidak apa-apa, pak.”


Selembar kertas yang ramai akan tulisan berwarna-warni. Terlihat sangat mencolok dan tampaknya itu bukan brosur produk atau makanan sajian dan lain-lainnya. Lebih terlihat seperti konser musik.


“Wah, aku baru pertama kali melihat adanya konser musik diadakan di universitas,” ucap Orion berdecak kagum.