
☠BAB 107 Hancurnya Kediaman Gista
Satu persatu tahanan yang baru saja dibawa kemarin terlihat sangat aneh. Kepribadian mereka berubah drastis dari yang ke pemarah menjadi penuh dramastis. Mereka memohon tolong pada sekelompok Arutala dan berkata akan mati.
Klang!
Mereka memukul-mukul jeruji besi yang dapat mengekang kekuatan mereka. Namun, tak satupun dari sekelompok Arutala menggubris mereka. Dan setelahnya, perut mereka mulai mengembang. Menjadi besar bahkan lebih dari anggota tubuh mereka yang lain.
“Menjauh!”
Dr. Eka, Jhon, Endy dan salah satu Pejuang NED liar itu pun terkejut akan perubahan mereka. Begitu juga dengan Orion dkk. Sontak, Gista menyuruh mereka untuk menjauh.
DUAR!!!
Tubuh mereka meledak secara bersamaan dan menghancurkan kurungan. Bahkan ledakannya sampai menjulang ke atas.
“Ha, dasar.”
Sesaat setelah ledakan, Es meluas dan membuat perisai yang besar. Memisahkan bekas ledakan dengan mereka. Di samping itu, Gista juga telah mengantisipasi akan lantai di atas ruang bawahan tersebut.
Dengan begitu, anggota yang tersisa dapat dilindunginya. Juga Ade dan Aria yang berada dalam satu kamar.
Ledakan itu membuat rumah berguncang kuat. Pijakan mereka terasa seperti akan runtuh begitu pula dengan langit-langit ruang bawah tanah.
Gista menggunakan teknik memperluas jangkauan serang. Lapisan es kembali meluas di pijakan mereka dan kemudian membekukan kobaran api yang dahsyat.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Ketua Irawan dilanda kecemasan.
“Sepertinya tubuh mereka ditanam peledak,” jawab Dr. Eka yang menggendong Endy dan Jhon.
Tampaknya mereka selain bawahan rekan Chameleon selamat. Padahal Gista hanya menyelamatkan Pejuang NED liar yang tersisa.
“Ngomong-ngomong Nona Arutala jahat sekali, ya? Membiarkanku begitu saja. Jahat sekali.”
Kraaakk!
Gista mengepalkan kedua tangannya, dan seketika lapisan itu merata ke seluruh ruang bawah tanah. Dengan kobaran api dijadikan kristal es yang cukup besar hingga menembus atap rumah.
“Nona Gista! Apakah semuanya tidak selamat?” tanya Mahanta sekilas panik.
“Kalau mereka yang baru saja dibawa kemarin tentu tidak ada yang bisa diselamatkan,” jawab Gista.
“Hei, bagaimana dengan wanita dan anaknya itu?” tanya Orion.
“Tenang saja, mereka sudah aku lindungi dengan baik.”
Hawa yang panas menyeruak bercampur hawa dingin yang membuat kulit serasa terkelupas. Seiring waktu, mereka terdiam sejenak dengan kepulan asap tersisa.
“Ah, hei! Tolong aku!” teriak seseorang yang terjebak dalam kristal es.
“Mahanta, ini yang sudah ke berapa?” tanya Gista tak menggubris teriakan sebelumnya.
“Nona Gista. Jika dihitung, mungkin sekitar 1 ribu orang.” Mahanta menjawabnya dengan serius.
“Ini buruk. Terlalu banyak korban dan memakan waktu. Apa yang sebenarnya dia tunggu meski sudah bertahun-tahun mengorbankan banyak orang?” gerutu Gista.
“Apa yang Anda maksud, Ketua Arutala?” tanya Ketua Irawan.
“Mantan Tuan-mu bertujuan untuk mengubah dunia ini menjadi sepenuhnya dunia NED. Dia berniat mengubah tatanan dunia, hukum yang ada akan diganti menjadi hukum rimba. Tapi kenapa mengorbankan banyak orang seperti ini? Itulah yang kumaksud.”
“Sejujurnya saya memang tidak mengerti apa tujuannya. Namun, tampaknya dia mengincar Orion yang memiliki Api Abadi,” ujar Ketua Irawan dengan perasaan gelisah.
Ketua Irawan, dengan nama lengkap Janu Irawan. Pria ini adalah mantan anggota kelompok Chameleon dulu. Ia keluar dari sarang Chameleon sejak saat mereka hendak melawan Gista dan 3 orang lainnya.
“Bisa-bisanya Anda sendiri tidak tahu. Padahal sudah lama Anda berdiri di sampingnya,” gumam Mahanta.
“Mahanta, aku mendengarmu. Tapi, aku sekarang di sini karena memang tidak setuju dengan rencananya Chameleon,” sahut Ketua Irawan dengan ketus.
“Ketua Irawan, aku sudah tidak peduli dengan masa lalu. Dan sekarang tolong jelaskan, apa maksud perkataanmu tentang Api Abadi dengan Orion,” sahut Gista memotong pembicaraan mereka.
“Seperti yang saya bilang sebelumnya. Orion dapat mengendalikan Api Abadi yang ada di wilayahku. Sekarang Api Abadi itu bersemayam dalam tubuhnya dan Chameleon yang tahu itu akan mengincar Orion.”
“Maka itu artinya kedatangan Chameleon hari ini karena Orion? Bisa kau jelaskan lebih detail, apa yang akan ia perbuat dan kenapa dihubungkan dengan mereka yang meledak?” tukas Gista.
“Chameleon sedang kehilangan separuh dari rekannya. Entah karena mati atau menjadi pengkhianat. Mungkin karena itu ia hendak mengendalikan Orion.”
“Karena Api Abadi itu sulit dilawan?”
“Ya, Anda benar.” Ketua Irawan menganggukkan kepala.
Prang!
Usai kobaran api dalam kristal mendingin, Gista memecahkannya dan membuat kristal itu menjadi serpihan lembut. Menebar ke seluruh ruangan, menyisakan satu orang yang terjebak dalam kristal.
“Hei, hei! Tolong aku!”
Pria ini adalah Pejuang NED liar yang memiliki kekuatan kecepatan. Kini ia tetap dibiarkan seperti itu agar tidak berbuat ulah apalagi melarikan diri.
“Orion?”
Kepulan asap tersisa sudah semakin terhapus jejaknya. Memperlihatkan lapisan es yang masih melekat pada lantai. Selain mereka, tak ada tanda-tanda kehadiran Orion.
“Eh?”
“Orion pergi ke mana lagi?”
Gista, Ketua Irawan lalu Mahanta terkejut panik. Orion menghilang dalam sekejap tanpa sepengetahuan mereka.
***
Orion keluar dari rumah yang setengah hancur itu. Ia memutuskan untuk keluar, tadinya hanya akan menghirup udara segar saja. Karena di sana terlalu pengap, dan rasanya seperti mencekik diri sendiri ketika melihat orang-orang mati secara mengenaskan.
“Chameleon! Pria tak tahu adab, sopan santun! Bukankah dia memiliki tujuan mengubah dunia menjadi dunia NED sepenuhnya?! Lantas kenapa dia justru membunuh Pejuang NED, bawahannya sendiri!?”
Rasanya menghirup udara segar saja tak cukup untuk melampiaskan amarah. Kalau dunia benar-benar berubah, maka apa yang akan terjadi?
Bahkan sebelum jawaban itu ada. Muncul sebuah pertanyaan, mengapa Chameleon justru membunuh orang yang sangat mengabdi dengannya.
“Ha! Ini sih sudah jamannya kembali perang!” pekiknya mengamuk.
Brak!
Orion menendang dinding itu dengan kuat. Perasaan kesal, amarah, benci seketika memuncak dan membuatnya terus menendang dinding hingga terluka.
Sesekali ia mencerca Chameleon. Tak habis kata-kata makian yang ia lontarkan, Orion lantas pergi dengan raut wajah yang kusut.
“Bagaimana mungkin aku akan mati dan meninggalkan mereka dalam keadaan negara yang kacau balau begini?” gumamnya seraya mengusap wajah.
Apa pun masalahnya, jika saja keluarganya tak hidup kembali maka Orion bisa menenangkan dirinya. Namun, ia juga sudah terlanjur membuat anak itu kembali hidup.
Setiap harinya terus terngiang-ngiang akan masa lalu anak itu. Membuat ia frustasi dan kembali mengingat kematiannya sendiri. Seakan-akan, takdirnya terus menderita tanpa setitik kebahagiaan pun tersisa.
“Dikasih kehidupan kedua malah membunuh banyak orang, dasar! Kurang ajar! Awas kau!”