ORION

ORION
Sandera



Murid yang dibawa oleh Chameleon adalah Roni. Entah mengapa bisa berada bersamanya namun jelas itu karena Chameleon sendiri. Roni dalam kondisi tak sadarkan diri.


Setelah Orion berhasil meraih Roni darinya, ia pun segera menjauh dari mereka. Dan saat itu juga, Chameleon berniat menyerang Orion agar dapat dilumpuhkan dan membawa Orion secara paksa.


“Ini sih sudah lebih dari sekadar penculikan. Orang yang hanya ingin dunia bebas tanpa sebuah hukum, sudah pasti dia orang yang berpikir pendek.”


“Hei, kau sedang bicara apa? Sepertinya kau tidak ada niat bunuh diri lagi sedangkan murid itu tidak berada di situasi yang cukup aman.”


Pria itu menunjuk Roni. Lantas berjalan menghampiri Orion yang tengah menjauh.


Orion segera melepas tubuh Roni dari genggamannya. Lalu ia berdiri di depan dan memastikan Roni baik-baik saja. Sementara ia harus mencari cara agar dapat keluar dari area serang mereka.


“Tuan Chameleon, apa perintah Anda?” tanya pria itu sembari menyiapkan alat pancingannya.


“Tangkap dia hidup-hidup. Jangan sampai dia terluka parah.”


“Baik, saya mengerti. Saya akan segera menyelesaikannya.”


Dalam ingatan si pemain kecapi, Orion sama sekali tak mengingat adanya pria itu sebelumnya. Sangat asing, belum lagi ia harus berhadapan dengannya yang memiliki alat pancing dengan benang baja.


“Di saat-saat seperti ini, memang sulit jika terus membiarkan instingku sendiri,” gumam Orion.


Clak!


Kaitnya menancap pada punggung tangan Orion yang kemudian segera ia lepaskan secara paksa. Namun ketika ia lebih mendekat pada si pemancing tersebut, lagi-lagi alat pancingnya mengait pakaian dari belakang.


“Susah sekali menghindar ya?”


Langkah Orion terseret mundur. Tidak menunggu waktu lama, pria itu kembali menarik pancingannya. Orion pun mulai kehabisan akal, selain harus mendekat dengan berlari lebih cepat.


Drap! Drap!


Langkah yang berat, serta hamparan angin yang menerbangkan debu membuat ia kelilipan. Tapi, ia tetap berlari sembari menghindari kail tersebut.


“Ingat ya, jangan sampai dia terluka parah,” tutur Chameleon mengingatkannya kembali seraya menepuk pundak. Lantas menghilang dalam bayangan.


“Ya, melawannya mungkin membuatku kesusahan. Tapi dia lawan yang kurang mementingkan diri sendiri. Jadi tak ada salahnya kalau aku membuatnya mengorbankan diri untuk orang lain.”


Pria itu mengarahkan kail pancingnya menuju Roni. Pandangan Orion sedikit memburam, dan ia pun tidak tahu hal itu. Namun dengan sebilah pedang yang melekat pada lengan kirinya, ia mampu menggores pundak hingga bagian dada pria itu.


Slash!


Sayatan tajam, darah mengalir begitu derasnya. Pria itu kehilangan keseimbangan sehingga tabiat buruknya terhadap Roni pun tidak terjadi.


Klak!


Kail pancingnya ditarik hingga tak bersisa lagi benang atau senar yang terulur. Lantas, pria itu menggunakannya seolah menggunakan pedang, menyerang Orion dengan telak.


“Ergh! Bisa-bisanya pancingan jadi begitu!” amuk Orion merasa tak percaya.


Tubuhnya tergores karena benang baja yang menegang di alat pancingan tersebut. Orion melompat mundur.


“Kau memiliki luka yang cukup banyak.”


“Jelas saja ini karena wanita itu!”


“Oh, itu pasti dia ya. Monster itu.”


“Ya. Tapi tidak bisakah kau membiarkanku pergi saja?”


“Kenapa aku harus melakukannya?” ketus ia dengan menggenggam erat kail pancingnya.


“Karena ada orang yang tidak ada kaitannya dengan hal ini semua. Aku khawatir sekaligus merasa tak nyaman karena dia masih ada di sini,” ucap Orion sembari melirik Roni di belakang. Yang masih terbaring tak sadarkan diri.


“Heh, bodoh!” Ia memaki lantas mengayunkan kail pancingnya kembali.


Dan arahnya menuju Roni, Orion menangkap kail itu sebelum sampai ke sana. Dengan menahan rasa sakit ketika benang baja itu terus menggesek telapak tangannya, ia lantas menarik benang tersebut.


Blar!


Perlahan ia membakarnya dengan genggaman tangan kanan. Pria itu buru-buru menarik sisa benang yang kemudian terputus.


Ia mengenggam kuat alat pancing sembari mengangkat dagu. Merasa melumpuhkannya itu hal mudah, ia lantas mendekat dengan benang baja yang mengencang.


Slash!


Satu ayunan pun memotong sehelai kain yang tersampirkan di pundak kanan Orion. Memperlihatkan lengan kanan yang berapi, terdapat sensasi yang cukup mengerikan ia rasa.


Grep!


Orion mencengkram pundak dengan tangan kirinya, api kemudian menjalar cukup cepat menyeluruh ke sekujur tubuh pria itu.


“Api yang ini sangat lemah! Kau tahu!” teriaknya seraya menepis tangan Orion. Semula tubuhnya yang terbakar itu baik-baik saja.


Api yang dipikir akan sulit dipadamkan justru mudah baginya ia memadamkan api tersebut.


“Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu.”


“Apa?”


“Ya, tentu saja.”


Drap! Drap!


Pria itu berlari menuju ke arah Roni berada saat ini. Lantas Orion bergegas mengejar dan hendak ia menarik tubuh pria itu.


Akan tetapi, ia justru terseret mundur ke belakang karena kailnya sudah dilempar sejak tadi.


“Aku akan membantumu. Agar kau dapat bertarung denganku tanpa halangan sedikitpun. Bagaimana?”


“Apa yang kau lakukan!?”


Duak!


Pria itu menendang tubuh Roni ke bawah. Lalu ia sengaja mengendurkan kail, dan membuat Orion sengaja berlari untuk menyelamatkan Roni.


“Argh! Dasar kau! Setega itu kau pada orang yang tak bersalah! Terutama pada anak-anak!” amuknya melotot ke arah pria tersebut seraya ia berhasil menangkap tubuh Roni.


Slash!


Dengan sebilah pedang itu, ia ayunkan dan membuat senjatanya seolah terbagi, terbentuk menjadi sabit dan menebas tubuh pria itu di atas luka yang sama.


“Kalau saja Tuan Chameleon tak menaruh perhatian padamu!”


Pria itu mengambil kesempatan di saat Orion sedang berusaha untuk menarik tubuh Roni kembali.


Dengan membalikkan posisi alat pancing dengan gagang yang di atas, bagian ujung yang sedikit lancip hendak ia gunakan tuk menusuk tubuh Orion.


“Tunggu, kau mau apa?” Chameleon membelit kedua lengan pria itu dengan selaput lendir yang kuat.


“Tu-Tuan Chameleon! Tidak, sa-saya!”


“Kau tahu seberapa berharganya orang yang setia. Kau pun mendapatkan perlakuan sama saat kau sangat setia kepadaku. Apa kau kesal ataukah iri karena aku memberi perhatianku padanya?”


“Tapi, dia benar-benar tidak ada niatan untuk bekerja di bawah Anda. Dia lebih memilih untuk membunuh Anda jika itu perintah dari atasannya.”


“Ya, tapi aku bisa mengubahnya.”


Srkkk!


Percikan api serta lelehan panas jatuh berceceran di atap gedung. Orion melindungi Roni dengan tak melepaskan genggaman tangannya padanya. Ia duduk berjongkok dengan dua sayap berapi membentang luas.


Sorot mata yang tajam, Orion benar-benar akan melindungi Roni bahkan jika harus mengorbankan dirinya sendiri. Ia mengertakkan gigi lantas kesal terhadap orang yang semena-mena.


Apalagi dengan gampangnya membunuh seorang manusia.


“Dunia sudah berubah. Dunia yang dulu kuketahui karena banyak kelicikan kini berubah drastis dengan banyaknya pembunuhan.”


Sebagian dari ujung rambutnya terbakar oleh api yang berwarna kemerahan.


“Hei, aku akan mengajarkanmu menggunakan sayap,” ucap Karura langsung dalam kepalanya.