ORION

ORION
Bantuan Datang. Apakah Ini yang Terakhir Kalinya Bertemu Dengan Sima?



“Orion, kau pergi ke mana saja? Katanya kau pergi ke toilet!”


Mahanta bergegas menghampiri Orion yang masih terdiam lantas terkejut. Kemudian ia mengerjapkan kedua mata, dan menatap Mahanta.


“Mahanta, iya ...aku, hanya ingin ke toilet? Eh, tidak. Ini maksudku ...” ucap Orion dengan ragu. Tampak ia enggan mengatakan hal yang sebenarnya.


“Aku bertaruh kau pasti sedang mencari informasi 30 tahun yang lalu. Ya, aku tahu betul kenapa kau sangat menginginkannya. Tapi bukan begini caranya, Orion.”


Raut wajah yang kusut dengan perasaan cemas. Mahanta kemudian memeluk tubuh Orion dengan penuh kesungguhan, sebagai rekan. Meski tahu kalau Orion bukanlah anak kecil, namun bukan berarti ia akan membiarkan Orion sesuka hatinya.


“Kau adalah anggota Arutala. Jadi, jangan sampai kau kembali mati. Maka aku takkan tahu bagaimana cara menghadapinya.”


“Maksudmu Nona Gista?”


“Di samping itu iya. Tapi di sisi lain, aku pun akan kecewa.”


“Memangnya kenapa kau kecewa? Kau sendiri tidak tahu jelasnya apa tujuanku, bukan?” ujar Orion seraya melepas rangkulan Mahanta padanya.


“Tentu saja aku tahu, kembali ke tubuh aslimu, 'kan?” bisiknya lirih.


Orion menghela napas pendek. Bersyukur bahwa Mahanta tidak tahu selain hal itu.


Sraaaa!!!


Angin berhembus kencang, angin ini angin alami. Bukan lagi angin yang dibuat oleh Mahanta. Mahanta menoleh ke belakang, dan mendapati Sima yang masih dalam keadaan syok.


“Hah, itu sungguh melegakan.”


“Orang itu bisa menutup lukanya. Aku tak yakin dia akan menyerah begitu saja.”


“Kita harus membawanya 'kan?”


“Dia tidak berguna. Dia juga tidak berhubungan dengan Chameleon terus-menerus. Lebih baik tinggalkan saja,” pikir Orion.


“Kata-katamu terdengar dingin. Lalu, bagaimana jika dia mengetahui sesuatu tentang penyebab tubuhmu menyusut?” celetuk Mahanta.


“Dia tidak akan tahu. Dan aku sendiri sudah mengetahui kemungkinan penyebab tubuh menyusut semenjak kejadian di rumah sakit besar.”


“Hm, kalau begitu apa boleh buat. Nona Gista juga tidak begitu tertarik dengan yang bukan bawahan langsung Chameleon,” kata Mahanta seraya berdeham.


“Tapi kalau kau tahu, kenapa sebelumnya kau juga sempat mengincar dia? Salah satu bawahanku bilang begitu,” imbuh Mahanta.


“Meskipun aku sudah tahu. Tapi aku perlu caranya untuk kembali, 'kan? Kembali ke wujud dewasa,” gumam Orion seraya memandang jalanan.


“Oh, aku paham! Tapi karena dia tidak berhubungan langsung dengan Chameleon, itu artinya kita cukup lari dari sini saja, 'kan?”


Sempat Mahanta berpikiran hal sama seperti Orion namun nampaknya Sima tidak berniat membiarkan mereka berdua pergi.


Goresan yang seperti akar merambat ke jalanan kembali muncul. Kemudian merata ke sekelilingnya lantas menjalar ke posisi mereka berdua saat ini.


Mahanta kembali menggunakan anginnya. Menghempas goresan yang melekat menjadi terkelupas sedikit demi sedikit. Kemudian berlari bersama Orion dengan kedua bilah melekat pada lengannya.


Syat!


Orion mengayunkan lengan, menghasilkan serangan dengan bentuk sebilah sabit berputar menuju arah Sima. Tetapi Sima mampu menghindarinya, lalu mengangkat telapak tangannya.


Sembari berkata, “Segel!”


Jantung Orion seketika berdetak lebih keras. Rasa sakit di punggungnya kembali ia rasakan. Namun, Orion tak berhenti melangkah.


“Gunakan angin untuk membesarkan api,” bisik Orion pada Mahanta yang kemudian mengangguk.


Orion mengubah kedua bilah menjadi api yang membara begitu besar. Lantas membentuk sebuah pusaran api menerjang Sima yang tetap bertekuk lutut saat itu.


Mahanta menggabungkan angin dengan api milik Orion. Sehingga api pun turut membesar seiring waktu. Bahkan panasnya sudah tak mampu Sima tahan, sehingga kulitnya terbakar, terkelupas dan membuatnya tak berdaya.


“Aku tahu.”


Orion menggenggam tangan sekuat tenaga dengan perasaan marah. Pusaran api lenyap dalam sekejap, menyisakan percikan-percikan di sekitar.


Goresan Sima pun sama lenyapnya. Ia kini terbaring dalam kondisi tak sadarkan diri. Akan tetapi itu tak berlangsung lama, goresannya kembali muncul.


Merambat dan kini lebih menebal, meluas cepat hingga menyentuh dinding di sekitar.


“Orion kau mendengar sesuatu?” tanya Mahanta seraya ia menengok ke sekeliling.


“Mendengar apa?”


Samar-samar suara yang didengar oleh Mahanta semakin keras, Orion pun mendengarnya begitu jelas.


Suara alat musik yang dipetik hanya dengan jari jemari. Alunan yang indah namun suaranya mengeras seiring waktu berjalan.


Teng!


Petikan terakhir terdengar hingga menggema ke area sekitar mereka. Kekuatan Sima berhenti pada saat itu juga, segel yang ada di bagian punggungnya ikut lenyap.


“Ah! Suara apa ini!?” pekik Mahanta seraya menutup kedua telinga rapat-rapat.


“Mahanta, cepat pergi dari sini! Ayo!”


Orion tahu suara alunan yang indah namun memekikkan telinga ini dari siapa. Segera ia mengajak Mahanta untuk segera pergi.


***


Kembali ke depan penginapan. Dua orang anggota telah lama menunggu kedatangan mereka berdua. Segera mereka pergi secepatnya dari kota Y-Karta.


“Anda berdua tidak apa?” tanya salah seorang anggota yang tengah menyupiri kendaraan.


“Ya, tak apa. Kami hanya terlibat masalah yang sulit diatasi,” jawab Mahanta dengan ekspresi kesal.


“Bahkan Tuan Mahanta pun akan merasa kesulitan. Apakah itu adalah wanita yang sebelum ini dibicarakan?” pikir Owen.


“Ya, begitulah. Dan lihat sekarang, kalau aku datang terlambat atau bahkan tak ada salah satu dari kalian yang berniat mencari Orion, entah apa yang akan terjadi dengan Orion,” tukas Mahanta.


“Maafkan saya. Lagi pula, saya cukup yakin bahwa Orion Sadawira cukup mampu mengatasi.”


“Mengatasi apanya? Lihat lehernya? Ada apa sebenarnya selama kalian ada di kota ini, hah?” Mahanta bertanya dengan tegas.


“Sudahlah, Tuan Mahanta. Ini kecerobohanku sendiri,” sahut Orion sembari tersenyum.


Mahanta membuang napas seraya melipat kedua lengan ke depan dada. Ia lantas melihat ke arah luar dari balik kaca jendela, tentunya ia masih merasa kesal.


Di samping itu, Orion merasa gatal pada lengan bawahnya, setelah ia memeriksa kenapa tiba-tiba menjadi gatal, ia lantas terkejut.


Terdapat sepasang dua sayap yang membentang, terlukis di lengannya seperti tato. Warna jingga bercampur dengan merah, sekilas ukiran itu nampak indah. Memukau dan menarik perhatiannya.


***


Dengan tertatih-tatih Sima melangkah dengan seluruh tubuhnya yang nyaris terbakar. Ia menghampiri seorang pria yang sedang duduk di suatu gang dengan kecapi di genggamannya.


“Apa yang sebenarnya kau lakukan?”


Sima melotot ke arahnya. Marah, kesal sekaligus benci yang tertuju pada pria itu.


“Kau pasti telah melakukan sesuatu padanya. Karena aku sudah merasakan ada yang sedikit berbeda darinya,” imbuh Sima menegas.


Sehabis kecapi itu dimainkan, lantas ia menaruhnya di samping. Kemudian berdiri dan menatap Sima dengan sudut mata yang menurun. Lalu menyeringai lebar.


“Nggak asik kalau aku beritahu begitu saja, iya 'kan?” ujarnya lalu tertawa kecil.