
Pria yang memiliki nama Gisan, ternyata ia memiliki darah langka yang mengalir karena tetesan darah milik Orion. Yang secara tidak sengaja.
“Kalau tidak salah ...,”
Pada hari itu, saat Orion pergi menuju ke perbatasan. Di sana ia menemukan banyak mayat berjejeran di dalam parit besar, di mulai dari sanalah, Orion tiba-tiba saja mengingat memori yang bukan miliknya.
“Argh, bisa-bisanya.”
“Sepertinya itu bukan halusinasi. Pantas saja saya merasa pernah melihat paman sebelumnya.”
“Sudah, lupakan saja.”
Orion berniat akan membawa pria ini ke markas namun sayangnya ia tidak punya waktu untuk itu. Malam pun semakin larut, dan banyak orang sudah tertidur pulas.
“Eh?”
Semua orang yang ada di halaman ini tertidur pulas? Orion mencoba berpikir berulang kali, apa yang sebenarnya terjadi pad mereka. Dan satu jawaban berhasil didapatkan begitu melihat keberadaan Chameleon yang sedang tertawa bahak-bahak.
“Pasti dia lagi.”
Orion menepuk pundak Gisan seraya berkata, “Kau bisa berdiri? Cepatlah pergi dari sini.”
“Kenapa?”
“Cepatlah berdiri!”
Gisan merasa aneh, sejak tadi ia berbicara begitu lugas dengan Orion namun tengkuknya terasa dingin. Melihat ekspresi Orion yang saat ini terasa seperti mencemaskan sesuatu, Gisan jadi berpikir bahwa sesuatu terjadi yang mungkin saja itu adalah ulah pria asing yang berdiri di tengah-tengah banyak orang tertidur.
“Permisi,” ucap Gisan.
“Cepatlah pergi!” pekik Orion.
Dalam kondisi yang membingungkan, sudah seharusnya Gisan merasa takut atau linglung dengan kejadian tak masuk akal. Entah memang orangnya seperti itu atau mungkin karena orang itu melupakan apa yang terjadi padanya beberapa saat yang lalu.
Orion berdiri, berhadapan dengan Chameleon sekali lagi. Tampak ia tidak berniat bertarung sama sekali, justru berniat kabur.
“Hei, Chameleon! Sedang apa kau di sini? Apa yang kau rencanakan?”
“Orion, aku melihat hal yang menarik di sini. Tentang Api Abadi, sungguh di luar dugaan bisa membangkitkan dua inti di tubuh yang berbeda,” ucap Chameleon merasa puas.
“Karena itu kenapa kau masih di sini? Kau berniat mengincarnya? Jangan harap, lelaki ini tidak akan bergabung ke manapun termasuk Saint di negeri ini sekalipun,” cetus Orion menegaskan.
“Ya, ya.” Chameleon menganggukkan kepala berulang kali seolah mengerti akan arti percakapan ini.
“Gisan, dia pria yang menarik. Dia lebih merasa ingin tahu daripada merasa takut seperti kebanyakan orang lain? Haha!” Tawa Chameleon makin terdengar dari waktu ke waktu. Seolah ini candaan, entah apa yang akan ia perbuat jika memiliki target yang sama.
“Karena aku sudah melihat hal menarik berkatmu, Orion. Maka aku akan memberimu penawaran, ikutlah denganku dan bawa putrimu pulang ke rumah,” ungkap Chameleon.
Tiba-tiba apa yang dibicarakannya? Chameleon yang memang sengaja menyembunyikan Ade untuk memancing Orion agar mau bergabung, tiba-tiba menawari hal ini.
“Ikut denganmu? Apakah itu berarti kau masih memiliki niat yang sama?”
“Sejujurnya iya. Tapi aku sangat puas saat melihat keberadaan dua inti Api Abadi. Tentu saja aku tidak berniat mencurinya karena mau bagaimanapun itu akan menghancurkan tubuhku dari dalam.”
“Lalu?”
“Yang aku maksud adalah ini,” kata Chameleon sembari mengangkat tangan kanannya ke depan dengan telapak tangan menghadap ke atas. Bayangan milik Gisan bergeliat aneh, yang setelah beberapa saat muncul seseorang dari dalam sana dengan mengacungkan pedang ke urat nadi leher Gisan. Di saat yang sama pula, Orion mengarahkan lengan berapi abadi tersebut padanya.
”Orion, dia akan tetap melakukannya sekalipun tangannya akan terbakar. Dia pasti orang yang kau kenal 'kan, Orion kecil?”
“Jhon.”
Terlihatnya memang seperti itu, tak ada pandangan hidup yang tersorot di kedua mata Jhon. Sepenuhnya menjadi boneka Chameleon.
“Sudah kuduga ini tidak akan semudah ini,” gerutu Orion.
“Dengarkan Orion, aku dari awal tidak berniat memaksamu.”
“Tidak berniat apanya? Ini sudah jelas pemaksaan dari yang aku tahu!”
“Kebetulan ada dua inti berada di hadapanku sekarang. Coba pikirkan, apakah aku akan tetap mengambil resiko yang sama dengan mencoba mengambil paksa dari kelompokmu? Ataukah lebih memilih yang lebih mudah dengan mengambil pria itu?”
Dengan dua cara yang sama namun kalau lebih memilih untuk tidak menerima resiko besar, tentunya Chamelon akan memilih Gisan, sebagai pria ini sama sekali tidak mengetahui tentang NED, atau Saint. Itu jauh lebih menguntungkan.
“Aku bisa menipunya dengan berkata bahwa dia sedang sakit atau dikutuk. Tapi sekarang aku tidak melakukannya,” ucap Chameleon.
“Maksudmu aku akan melindungi pria ini apa pun caranya begitu? Kau pikir aku peduli?” tukas Orion.
“Pernyataanmu barusan sangat dingin sekali. Yah tapi aku tidak menyalahkanmu.”
Chameleon menggedikkan bahunya lantas berucap, “Bagaimana jika putrimu tidak bisa bertahan lebih lama lagi? Mustahil mencari keberadaannya sekalipun sudah banyak orang yang mencarinya.”
“Lagi-lagi dia mengancamku menggunakan dia. Ya ampun, masalah demi masalah terus bercampur aduk. Jika saja aku tidak memiliki Api Abadi.”
“Hei, kau berniat membuangku?” tanya Karura dalam tubuh Orion, ia memprotes jikalau benar Orion akan membuangnya tanpa ragu.
“Kau pikir aku bisa? Jika bisa, sudah aku lakukan dari dulu tahu!” sahut Orion.
'Paman itu berbicara sendiri? Lalu, ada apa dengan situasi ini.’ Gisan membatin tak mengerti, juga sangat berpasrah diri.
“Chameleon! Kalau kau segitunya ingin aku ikut denganmu maka terserah saja! Lakukan sesukamu asalkan dia lalu pria ini tidak terikat lebih jauh denganmu!” pekik Orion lantas melangkah, menghampiri Chameleon.
Chameleon tersenyum, ia jadi berpikir bahwa semua ini akan berakhir begitu Api Abadi berada di genggamannya. Tapi bukan berarti ia akan lengah terhadap Orion.
“Wah, terima kasih.”
Ketika melihat punggung Orion menjauh, lalu acungan senjata telah menjauh darinya, Gisan seakan telah melihat masa depan yang mengerikan. Hanya dalam beberapa waktu saja, sangat singkat, namun Gisan mengerti.
“Tunggu, paman!”
Gisan berlari mendekatinya, ia berusaha menghentikan langkah Orion.
“Paman! Tidak bisa! Jangan lakukan hal yang mengerikan!” teriak Gisan sembari menggenggam pundaknya.
BLAAARR!
Apa yang terjadi setelahnya, ialah tubuh Orion yang terbakar dan sekejap. Baik Gisan maupun Chameleon, keduanya sangat terkejut.
Hanya dengan sekali sentuhan saja, tubuh Orion tanpa mengenai Gisan yang masih menggenggamnya kini terbakar dengan cepat.
Menggerus pelan kulit, daging hingga jejaring otot-ototnya. Sampai mengenai tulang putihnya yang bersih, Orion sampai tidak bisa bergerak bahkan bertutur kata saja tidak.
***
“Sampai kapan aku harus menunggu, pria tua itu?” gumam Endaru dengan wajah kesal, tak jarang Mahanta dan lainnya mendengar cibiran terhadap Orion yang keluar dari mulut Endaru.
***
Malam pada festival musik di suatu tempat perkuliahan, terjadi fenomena yang tidak biasa dan tentunya itu bukan secara buatan maupun alam, melainkan takdir yang mengendalikan. Api muncul dan membakar gerbang, tak hanya itu bahkan seseorang pun telah terbakar habis.
Harusnya tiada seorang pun yang masih hidup, namun suatu keajaiban kembali terjadi, orang itu adalah Gisan dan ia masih hidup bahkan mulai berinteraksi dengan Orion, lancar seakan tidak pernah terluka. Kulitnya yang hitam pun rontok, mengikisnya hingga kulit pada tubuhnya itu kembali seperti semula.
Tapi, sesuatu hal lain telah terjadi, tepat setelah Gisan, nama pria yang hidup setelah dibakar habis oleh Api Abadi, begitu menyentuh bagian tubuh Orion, Orion langsung terbakar. Sama halnya yang terjadi pada Gisan sendiri sebelum ini.
Lagi-lagi itu mengejutkan khususnya bagi Chameleon yang sengaja datang kemari.
Orion terbakar hingga tersisa kerangka tulangnya saja.
***
Dua minggu telah berlalu. Tidak ada yang mengetahui soal insiden malam di festival musik selain Chameleon, Gisan atau bahkan Orion sendiri.
Di suatu tempat. Hotel pertama, yang pernah anggota NED singgah di sana dalam beberapa waktu. Sesosok pria berjaket panjang dengan topi serta sepasang sepatu pantopel hitam, ia menaiki lift seraya mengeluarkan sebuah tongkat dari balik pakaiannya.
Terlihat badannya yang sangat besar atau mungkin tebal saja.
Lift terbuka setelah sampai ke lantai 6. Bergegas ia keluar dari sana namun secarik kertas yang juga tersembunyi di balik pakaiannya secara tidak sengaja terjatuh.
Setelah sadar, buru-buru ia mengambilnya dan memasukkan kertas itu kembali ke dalam saku celananya. Tak lama kemudian, earphone yang terpasang di lubang telinganya bersuara.
[“Saya turut senang, karena Anda datang secepatnya.”]
Melihat banyak orang yang sudah datang kemari, menyambutnya dengan beberapa senjata kecil di tangan mereka, sosok misterius tersebut lantas membuka semua pakaian yang dirasa tidak nyaman.
Baik topi maupun jaket panjangnya. Ia melepas semua itu, dan sontak saja para lelaki yang menyerbunya dari segala arah pun terkejut.
Ia bukanlah seorang pria asing melainkan seorang wanita berambut hitam panjang. Ketua Gista Arutala. Telah datang ke negeri dengan hukum liberal ini.
Dak! Dak! Dak!
Hanya dengan mengayunkan tongkat itu pelan, mereka semua tumbang dalam sekejap.
[“Anda sedang apa di sana?”]
“Bukan apa-apa. Nanti akan aku jelaskan,” sahut Gista.
Tampaknya ada sesuatu hingga mengharuskan Gista untuk menyamar. Tapi begitu sampai di lantai 6 dan disambut ramah oleh banyak senjata, sudah pasti penyamarannya akan cepat ketahuan.
Lalu, alasan Gista berada di hotel yang tidak ada seorang pun lagi anggotanya menempati tempat ini, ialah karena sedang mencari Chameleon.
“Ketua Mirana menyuruhku untuk ke hotel ini, tapi sepertinya dia sudah kabur ya?” gumam Gista.
Di satu sisi yang lain, pada waktu yang bersamaan. Tempat di mana Ketua Meera berada saat ini, ia berada di dalam rumah seseorang yang tergolong miskin. Meski begitu rumah yang ia tempati sekarang terbilang mewah dan indah.
Ketua Meera sedang duduk di luar kursi sembari memandang langit yang cerah. Awan bergerak lebih cepat dari biasanya, namun Meera merasa senang sebab rasanya seperti ia sedang berjalan di atas awan itu sendiri.
“Nak, apa yang sedang kau lihat?” Nenek bertanya padanya.
“Hanya melihat langit,” jawabnya singkat seraya menunjuk ke atas.
Ia seakan ingin menggapai langit itu sendiri. Namun dalam waktu bersamaan, kepalanya terasa berguncang hebat tak karuan. Seperti ada seseorang di dalam kepala yang berniat menghancurkan dirinya.
“Ugh!” Meera pun mendadak merintih kesakitan, nenek yang terkejut akan hal tersebut lantas kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan air hangat untuk Meera.
“Nak, minumlah ini. Ini agar membuat peredaran darahmu lancar. Tenanglah,” ucap nenek itu.
Sesaat Meera menolak karena rasa sakitnya tak membuat ia mendengar perkataan nenek. Namun nenek itu tidak menyerah sedikitpun, ia bahkan harus memaksanya untuk meminum tak peduli jika itu sampai tumpah-tumpahan.
“Bagaimana?”
Begitu ditenggaknya air hangat tersebut, meluncur masuk ke dalam kerongkongan hingga menyebar ke seluruh organ tubuh dan tak terkecuali dengan lambung, Meera sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya.
“Nak?”
“Ya, terima kasih.”
Dengan sorot mata yang serius menatap langit. Ia tetap mendongakkan kepalanya tanpa henti, waktu seakan berhenti ketika ia lupa untuk bernapas sejenak.
“Ada yang aku lupakan, dan yang barusan aku ingat. Anak itu ...,”
“Anak itu?” Si nenek bingung harus bagaimana ia menanggapinya. “Jangan bilang kamu sudah mengingat sesuatu?” pikir nenek itu, jikalau benar ia akan turut senang mendengarnya.
“Ya.”
Meera tersenyum sembari menundukkan kepalanya. Ia tampak sedikit resah namun juga senang, terkadang pula ia harus memijat kening agar isi pikirannya tidak pecah atau buyar tak menentu nanti.
Sementara dirinya mulai teringat akan Ade, anak perempuan yang pernah ikut bersamanya dan juga melarikan diri bersama karena seseorang yang mengejar, ialah Mr. Iki Gentle, ia adalah kaki tangan yang paling diandalkan oleh Chameleon, hanya saja untuk saat ini Meera tidak ingat bahwa pria itulah yang mengincar nyawanya dan nyawa Ade.
“Nenek, terima kasih karena telah membantuku selama ini. Entah terhitung berapa hari atau minggu, kapan pun itu aku akan tetap membalas budiku padamu dan cucu perempuanmu itu.”
“Tiba-tiba apa yang kamu bicarakan?”
“Saya harus pergi, nek. Rekan-rekan saya sedang menunggu kabar buruk dan baiknya yang telah saya dapatkan,” tutur Meera.
Mengisyaratkan dirinya hendak pergi meninggalkan rumah ini. Ia juga takkan melupakan seluruh kebaikan orang-orang sekitar yang selama ini membantunya.
“Baiklah kalau begitu, tapi makanlah lebih dulu.”
Ingatan takkan selamanya pudar namun juga tak selamanya terkenang. Suatu saat akan berubah begitu juga pandangan setiap manusia. Takut, bilamana akan terjadi hal mengerikan jika Chameleon dibiarkan bebas begitu saja, tentunya Meera terus mengingat-ingat semua yang perlu diketahui.
Termasuk ingatannya tentang sosok pria termasuk ciri-cirinya, yang memiliki kekuatan apa dan sifat apa. Walau mungkin Meera akan kesulitan mengenali wajahnya.
“Oh ya, ada wanita itu juga. Dia sepertinya tipe monster. Tapi yang lebih berbahaya selain Chameleon adalah pria yang mengendalikan ruang hampa,” gumam Meera.
***
Meski ingatannya tentang Ade juga telah pulih, namun tetap saja Meera takkan tahu ke mana mereka membawa Ade pergi. Sedangkan Orion telah berada di markas Gerhana Bulan, lebih tepatnya kuasa berada di tangan Chameleon sekarang.
Berada di lantai bawah tanah, paling dasar. Orion dengan kulit pucat dan terlalu kurus itu terbaring di ranjang tidurnya. Meski terbilang ruang bawah tanah, namun ruangan itu masih memiliki jendela dan menghadap ke arah luar, sebab ruangan itu menghadap ke belakang dan di bagian bawah akan nampak pemandangan indah berupa danau.
“Bagaimana keadaannya? Aku jadi khawatir jika dia mati.”
“Jangan berkata jahat seperti itu. Dia akan berguna untuk menghanguskan seluruh bukti bahkan tidak akan ada jejak pembakarannya sama sekali nanti, benar?”