
“Dik, saya kasih susu aja ya?”
“Hah!?”
Pesanan kopi hitam ingin digantikan menjadi susu, tentu saja Orion marah. Ia menatap jengkel ke arahnya, dan berkata bahwa pesanannya bukanlah susu melainkan kopi hitam. Kopi tanpa gula.
Meskipun begitu, ia sama sekali tidak bisa. Karena tahu kalau kopi tidak bisa diminum sembarangan, apalagi untuk anak kecil.
“Sudah nurut saja,” bisik Endaru kepadanya.
“Daripada susu, akan lebih baik aku pergi dari sini.”
“Susu itu baik untuk perkembangan tubuh tahu,” sahut Endaru.
Gedubrak!
Terdengar kegaduhan di sekitar mereka. Di kafe yang tenang dan santai ini pun tiba-tiba saja berubah drastis, dua orang pria tengah berkelahi dengan saling meninju satu sama lain. Mereka pula saling mencerca hingga suaranya sampai terdengar di luar.
“Seseorang mengawasi kita. Apa hanya aku saja yang merasa begitu?” tanya Orion dengan sedikit berbisik tanpa menatap Endaru.
“Tidak hanya kau. Aku pun juga merasakan hal yang sama. Berwaspadalah,” lirih Endaru seraya memperhatikan kedua orang itu.
Semenjak Orion memesan kopi hitam, seseorang tengah mengawasi mereka berdua. Mungkin lebih dari dua orang, yang pasti mereka merencanakan sesuatu di dalam sini.
“Orion, jika ada pembunuh di sini, kau akan bagaimana?” tanya Endaru dengan lirih.
“Aku tidak suka menghadapi mereka. Kalau bisa aku akan menghindar. Kecuali, dia ada urusan denganku,” tutur Orion seraya turun dari kursinya.
Sraaaa!!
Tiba-tiba saja di tengah kegaduhan antar dua orang pria, seluruh ruangan di dalam kafe ini menjadi gelap total. Endaru dan Orion lantas segera mengontak fisik tuk menentukan keberadaan mereka.
“Ini teknik memperluas jangkauan serang,” ucap Endaru yang kemudian bangkit dan membelakangi tubuh Orion.
“Iya, aku tahu. Itu artinya ada Pejuang NED di sini. Jangan lengah,” ucap Orion.
Beberapa dari mereka berteriak histeris, dan juga ada yang bertanya-tanya mengapa di dalam menjadi sangat gelap seperti ini. Lalu pun ada beberapa dari mereka yang mengira ini adalah kiamat.
“Dunia hancur! Hancur!”
“Hei, kau! Sedang apa? Jangan sentuh-sentuh!”
“Katakanlah! Apa yang telah terjadi, hei!”
Beberapa juga ada yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, secara tak sengaja maupun juga disengaja. Semua orang sangat panik karena kegelapan ini, jika tidak dikontrol pasti mereka sudah gila.
Suara mereka terdengar sedikit menggaung, dan hal itu membuat Endaru sedikit sensitif. Ia pun hendak memastikan terlebih dahulu, terhadap apa yang barusan ia pegang.
“Kursi, meja. Tempatnya masih sama. Aku pikir kita berada di suatu dimensi.”
“Kau pikir itu mungkin? Dunia kita saja sudah cukup aneh, kita harus menuju pintu dan membukanya,” pikir Orion kemudian melangkah ke sembarang arah.
Ia mengingat jalan menuju pintu, namun entah akan sampai ke sana atau tidak. Endaru pun bersamanya agar mereka tidak terpisah dari waktu ke waktu.
Tok! Tok!
Orion mengetuk sesuatu. Setelah ia meraba-raba benda itu, ia pun tahu bahwa di depannya ini adalah pintu. Kemudian beralih ke gagangnya namun sama sekali tidak bisa dibuka.
Cklak, cklak!
Seolah pintunya terhadang oleh sesuatu di luar. Orion sama sekali tidak bisa membuka pintu itu. Mereka semua akan terjebak selamanya di sini.
“Pintu—”
Jduak! Belum selesai ia mengucapkan sesuatu, Orion mengerang kesakitan lantaran bagian belakang kepalanya dipukul oleh seseorang atau mungkin sesuatu benda yang keras.
“Dasar! Siapa sih yang main bola di sini!”
Setelah dirinya pun, yang lain juga mengalami hal sama. Mereka semua tambah mengamuk, dan kemudian disusul kaca jendela yang pecah dan beberapa barang berjatuhan di lantai.
“Siapa yang memecahkan kaca jendela! Kenapa masih gelap?”
Mereka semua mempertanyakan hal yang sama. Kaca jendela itu pecah namun nyatanya masih gelap gulita, ibarat langit tanpa bintang maupun bulan. Sangat gelap seolah mereka buta.
“Yang tadi, kau tidak memukul kepalaku, 'kan?” tanya Orion pada Endaru.
“Mana mungkin aku melakukan hal itu. Memangnya ada apa?” tanya balik Endaru.
“Sesuatu memukul kepalaku dengan keras. Untung saja tidak sampai aku cedera. Tapi apa yang sebenarnya dia lakukan? Bermain dalam ruangan seperti ini, dasar,” gerutu Orion.
“Ah, begitu. Tadi ada seseorang memecahkan kaca jendela tapi di dalam ruangan masih sama saja. Gelap. Lalu pintunya bagaimana?” tanya Endaru.
“Tidak bisa. Kita mungkin dikunci dari luar. Tekniknya benar-benar mengunci kita dari dalam dan luar,” ucap Orion.
“Kalau begitu, aku akan mencoba untuk mengetes semua orang yang ada di sini,” tutur Endaru.
“Tapi aku takkan menggunakan api untuk menerangimu, ya. Lakukan sendiri jika kau benar-benar mampu,” ujar Orion sedikit mengejek.
“Kau terlalu menganggapku remeh.”
Endaru menggunakan daya gravitasi meningkat 2x lipat. Bukan untuk menekan melainkan membuat semua orang serta benda-benda melayang ke udara.
Kecuali dirinya sendiri dan Orion yang ada di belakangnya.
“Semuanya terbang. Dan aku berusaha untuk mencari seseorang yang mengawasi kita. Entah dengan ini berhasil atau tidak,” kata Endaru.
“Meski aku tidak bisa melihat apa yang terjadi. Namun jeritan mereka semakin kencang saja, ini menandakan kau benar-benar menggunakan kekuatanmu.”
“Siapa suruh ada orang yang iseng,” gerutu Endaru.
Kala itu, daya gravitasi menetap. Hanya dua kali lipatnya dan itu sudah membuat mereka kewalahan. Namun tak menyangka bahwa kegaduhan lagi-lagi terdengar.
Tidak hanya jeritan atau omelan mereka. Justru mereka membuat kegaduhan, dan itu karena kekuatannya.
Ctar! Sekilat cahaya menyambar lantai ruangan. Sekilas, Endaru dan Orion melihat mereka yang tengah sibuk melakukan sesuatu dengan kekuatan mereka.
“Apa? Mereka semua Pejuang NED? Serius?” Orion tidak menyangka apa yang barusan ia lihat.
“Sepertinya kita salah lihat. Tak mungkin secara kebetulan mereka semua adalah Pejuang NED. Meskipun ini di kota J-Karta, orang-orang Arutala takkan sesantai mereka, benar?” ujar Endaru menyetujui perkataan Orion.
Orion berdeham, selama beberapa waktu ia memejamkan mata dan berpikir apa yang harus mereka lakukan dalam kegelapan ini.
Terutama di situasi yang sangat tidak memungkinkan mengeluarkan kekuatan. Ini jadi merepotkan.
“Kalau aku menggunakan apiku, semuanya akan tahu kita berada di mana,” gumam Orion.
“Uh, ini semakin merepotkan. Apa yang sebenarnya mereka rencanakan dengan ini?” gerutu Endaru dengan melepaskan daya gravitasinya.
“Sudah ketemu?” tanya Orion.
“Mana mungkin bisa aku temukan kalau ada banyak Pejuang NED begitu. Orang yang berkekuatan dengan yang tidak itu memiliki perbedaan jauh. Lain cerita kalau semuanya Pejuang NED seperti ini.”
“Ya sudah, aku akan mencoba memancing mereka saja. Dengan begitu, orang yang mencurigakan akan datang kepada kita lebih dulu.”
Blar! Tangan kiri Orion terbakar hingga ke lengannya. Sontak itu membuat wajah Orion dan Endaru terekspos. Tatapan para Pejuang NED jelas mengarah pada mereka berdua.
Tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Dan ada beberapa dari mereka yang mulai mengeluarkan hawa membunuh.