ORION

ORION
Ternyata Sudah Dikelabuhi



Satu hal yang ia sadari, sebuah kejanggalan. Pria yang bersepeda di tengah malam.


“Orion?” Endaru kebingungan saat melihat raut wajah Orion yang begitu serius.


“Endaru, apa kau pikir mungkin seseorang menaiki sepeda di tengah malam? Kalaupun mereka berolahraga bukankah itu terlalu malam?”


“Iya. Itu terlalu aneh menurutku. Memangnya ada apa?” tanya Endaru.


“Aku melihat kecelakaan itu berlangsung. Lalu menolong seseorang yang menaiki sepeda, dia terjebak di antara tiga kendaraan yang terlibat kecelakaan. Saat itu juga ada Ketua Dharmawangsa, dia juga tahu,” jelas Orion.


“Salah satu ketua? Bagaimana kau bisa bertemu dengannya?”


“Dari hotel mewah itu aku bertemu dengannya. Aku berhasil melarikan diri darinya dan juga pertanyaannya,” jawab Orion mengangkat bahu.


“Ya, dia agak kolot. Tapi ada apa dengan yang bersepeda itu?”


“Dia yang mungkin telah menaruh racun pada tubuhku.”


“Apa?!” teriak Endaru histeris.


“Tenanglah. Racunnya sudah tidak berfungsi atau mungkin di netralisir. Bisa dibilang berkat musuh yang berkekuatan listrik atau sejenisnya,” kata Orion sembari memalingkan wajah.


“Jangan bilang saat kau ditusuk? Tapi kenapa bisa?” tanya Endaru tidak percaya.


“Jelas saja karena tusukannya tidak terlalu dalam.”


“Hah, menggampangkan sekali ya kau ini! Aku benar-benar tidak mengerti. Hei, mana orang itu?” Endaru melihat ke sekelilingnya untuk mencari keberadaan musuh yang sudah tumbang.


“Dia ada di belakang pintu itu.” Orion menunjuk.


Bergegas ia menghampiri pria tersebut. Ia memastikan bahwa orang ini sepenuhnya tidak sadarkan diri. Melihat gaya berpakaian yang serba tutupan, Endaru merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Lalu ia menemukan sebuah benda.


Merupakan, serbuk putih yang berada di dalam kantung plastik kecil.


“Ini lagi?”


“Endaru, sepertinya kita harus bergegas!”


***


Setelah mendengar cerita Orion. Lekas Endaru mengangguk tanda menyetujui untuk bergegas menuju ke lokasi kecelakaan.


Mereka berharap bahwa orang yang dicurigai mereka adalah Chameleon. Sebab hanya Chameleon satu-satunya yang selalu melakukan tindakan di luar nalar.


“Di mana dia?” tanya Endaru sembari mengelilingi area kecelakaan itu.


Akan tetapi, mereka tidak bisa sembarangan untuk masuk ke area tersebut lantas sudah dikendalikan oleh para petugas dari pihak yang berwajib.


Endaru sungguh kesal, padahal ia hanya ingin melihat keadaan kecelakaan itu. Lalu siapa tahu ia akan menemukan Chameleon yang sedang menyamar sebagai logam mobil atau bahkan petugas itu sendiri.


“Endaru, sudah cukup.” Orion menepuk pundak Endaru dan meminta untuk menghentikan tindakan sembrononya itu.


“Kenapa? Kalau Chameleon —”


“Dengarkan dulu. Kalau yang saat itu memang benar-benar Chameleon maka sudah tidak ada gunanya untuk menetap di sini. Lihat? Sekarang tidak ada orang bersepeda itu lagi.”


“Tapi—”


“Chameleon mengejarku. Mustahil kalau dia menetap di dekat lokasi kecelakaan,” ucap Orion memotong kalimat Endaru. Sembari menggelengkan kepala.


“Ya, aku tahu. Dia mengejarmu karena Api Abadi. Lalu sekarang apakah Chameleon ada di belakangmu?” pikir Endaru menatap heran pada Orion.


Orion mengerutkan dahi lalu menghela napas panjang. Untuk sesaat ia terdiam dan memalingkan wajah, kemudian kembali menatap Endaru dengan tatapan ragu.


“Kau mencurigaiku sebagai Chameleon?” pikir Endaru sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Iya?” jawabnya ragu.


“Bodoh, ya? Aku di hadapanmu lalu kau bilang aku ini Chameleon? Si bunglon psikopat itu? Apa kau bercanda? Atau kau sungguh tak waras jadinya ingin cepat mati? Hei!”


Cacian Endaru keluar semua. Namun Orion tertawa lirih karena tahu betul sifat Endaru yang tidak mungkin akan ditiru oleh Chameleon.


“Tidak. Hanya saja ...aneh.”


Tap, tap!


Orion membalikkan badan dan membopong tubuh pria itu. Lantas berjalan untuk menuju ke rumah Arutala. Ia hendak pulang hanya untuk membawakan pria itu kepada Grup Arutala.


Akan tetapi, suatu waktu. Ketika Orion berjalan dengan lebih santai. Dirinya melupakan satu hal penting lagi.


SYUT!


Satu anak panah melesat begitu cepat. Tertuju pada tubuh Orion.


KRAK!


Dengan sigap Endaru membuat panah itu berhenti bergerak karena pengaruh medan gravitasi. Perlahan anak panah tersebut hancur berkeping-keping dan hanya menyisakan ujung panah.


“Siapa lagi? Aku pikir hanya 10 orang saja yang datang membuntutimu,” gerutu Endaru sembari menatap lurus ke arah salah satu gedung.


“10 orang? Kau barusan melawan orang sebanyak itu?”


“Ya. Mereka berkumpul dan juga terkadang memisahkan diri. Mereka cukup handal walau bukan rekan Chameleon.”


“Dia mungkin pemanah itu. Dia datang lagi!”


“Cepatlah pergi!”


Drap! Drap!


Mereka berdua berlari masuk ke dalam gang. Di mana diri mereka takkan mudah menjadi sasaran empuk karena terhalang oleh dinding. Memutuskan untuk bersembunyi sementara waktu sembari memperhatikan sekitar mereka.


“Aku tidak tahu kalau mereka ada banyak.”


“Aku juga kaget karena kau melawan 10 orang sebelum bertemu denganku. Tapi kalau dipikirkan lagi, ada kemungkinan mereka sudah menyebar luas ke daerah ini,” celetuk Orion.


“Ya. Mereka bisa saja orang yang mengalami kecelakaan atau para petugas itu atau bahkan juga bisa bartender yang sebelumnya kita temui,” ujarnya yang berpikir terlalu dalam dan jauh.


“Jangan terlalu memaksakan diri untuk berpikir jauh seperti itu,” ucap Orion.


Klak!


Orion membuka ikat pinggangnya lalu melepasnya. Ia merasa lega karena perutnya seperti ditahan karena ikat pinggang itu.


“Tak kusangka kau akan melepasnya. Padahal aku mengira kau cukup nyaman dengan itu,” tukas Endaru.


“Aku sudah lama tidak memakai kemeja. Wajar kalau merasa asing. Dan, aku minta tolong padamu untuk membawakan orang ini dulu.”


Endaru membopong tubuh pria itu sedangkan Orion memastikan keadaan yang ada di luar seraya mengendap-endap. Serta memastikan apakah di jalanan ini cukup sepi ataukah tidak.


Kadang-kadang kendaraan beroda empat melewati jalanan di sekitar mereka. Semakin lama waktunya, semakin ramai lah jalanan tersebut.


Kehadiran seseorang yang tidak begitu dirasakan. Namun hawa membunuhnya lah yang begitu terasa.


“Di mana dia sebenarnya? Aku cukup yakin dia ada di gedung sana.”


Orion mengarah ke salah satu gedung yang ada di sebrang jalan persimpangan. Namun tiada seorang pun terlihat di atas sana.


Syut! Syut!


Angin berembus tidak wajar. Serangan datang dari atas kepala Orion. Segera ia menyingkir dari tempatnya menuju keluar dari gang persembunyian.


Endaru paham akan sesuatu yang terjadi. Ia hendak pergi menghampirinya namun Orion melambaikan tangan tanda agar Endaru tidak bergerak untuk sementara waktu.


Orion berlari ke jalan yang sebelumnya. Mengarah ke sisi jalan tepat di sebelah lokasi kecelakaan. Ia berusaha untuk menyerang dari jarak jauh dengan bulu-bulu pada sayapnya lalu bersembunyi ataupun lari.


Memanfaatkan gedung dan gedung lainnya guna mengecoh pemanah itu. Tetapi caranya tidak terlalu efektif. Apalagi panah itu mengikuti langkah Orion tanpa henti. Bahkan jika Orion berbelok ke arah lain maka anak panahnya juga akan mengikuti.


“Anak panahnya tidak masuk akal! Kupikir hanya memperkuat daya serang saja. Tapi rupanya bisa begitu juga!”