
Pergi meninggalkan sisi jalan yang terblokir karena insiden kecelakaan. Seseorang menabrak pundak Orion dari lawan arah. Sesaat Orion menoleh ke belakang, melihat pria itu berjalan sempoyongan. Terkadang terjatuh lalu kembali berjalan.
“Sepertinya dia mabuk?” pikir Orion lantas mengabaikannya, kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Arutala.
Akan tetapi ia merasa ada yang tak beres selama berjalan beberapa langkah ke depan. Awalnya ia merasa baik-baik saja, bahkan saat keluar dari hotel pun ia tak sedang sakit atau apa.
Namun, entah mengapa setelah bertemu dengan pemabuk di jalanan, Orion menjadi sedikit berubah. Rasanya angin lebih dingin dari biasanya. Seolah sedang sakit, pandangan pun ikut memburam sesaat setelah beberapa detik angin dingin menyengat tubuhnya.
“Ini tidak beres. Apa yang sebenarnya terjadi?” gumam Orion seraya bersandar di depan dinding bangunan. Lalu memijat kening yang juga terasa sakit.
Sekali lagi Orion menoleh ke belakang, melihat pemabuk itu sudah tak berjalan lagi. Ia terbaring di jalanan dalam keadaan tengkurap dan tak sadarkan diri.
“Apa ini karena dirinya?”
Ketika Orion mencoba untuk berjalan kembali menghampiri pemabuk tersebut, ia tiba-tiba merasakan nyeri di pundak yang pernah disenggolnya.
“Ugh, rasanya sakit.”
Sambil memegang erat pundaknya yang sakit, ia berjalan menghampiri pemabuk itu. Lalu memeriksa keadaannya, apakah pemabuk itu dalam kondisi sadar atau tidak.
“Hm, sama sekali tidak sadarkan diri. Dia benar-benar mabuk.”
“Hei, sepertinya ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya. Sesuatu cairan asing yang mungkin akan membuatmu sulit bergerak,” ucap Karura dalam kepalanya tiba-tiba.
“Apa? Maksudmu racun, ya. Mungkin ini melumpuhkan syaraf. Aku bisa mati karena ini. Aduh, tanganku bahkan sampai gemetaran,” gerutu Orion sembari menggenggam telapak tangannya yang dingin.
“Walaupun begitu, kau masih sempat-sempatnya berbicara santai di saat seperti ini. Ternyata kau betulan cari mati, ya?” sindir Karura.
“Jangan membicarakan kematian terus-menerus. Lalu, Karura, apakah ada sesuatu yang masuk lagi? Semisal jarum?”
“Jarum? Tidak? Apakah kau menanyakan apa yang seseorang lakukan sampai racun masuk ke dalam tubuhmu, ya?”
“Ya, begitulah. Satu-satunya orang yang kucurigai itu orang mabuk ini dan juga orang yang mengendarai sepeda tadi. Ada kemungkinan salah satu dari mereka menusukkan sebuah jarum beracun ke dalam tubuhku.”
“Kenapa kau berpikir itu juga dari jarum? 'Kan bisa saja melalui sedotan atau bahkan sentuhan langsung. Seperti manusia beracun mungkin.”
“Alasanku berpikir seperti itu karena sebelumnya ada seseorang yang dikendalikan melalui jarum,” jelas Orion.
“Wah, kalau begitu mengerikan sekali.”
Orion khawatirnya kalau ini ulah Jhon. Namun Jhon sudah berada di lingkup Arutala. Tidak mungkin jika Jhon dapat keluar begitu mudahnya.
Tetapi, itu menjelaskan kenapa ada hawa membunuh yang cukup besar terkumpul di sekitar Orion.
Terlihat di sekitarnya semakin sepi. Walau itu wajar karena sudah jauh dari lokasi kecelakaan sebelumnya. Namun ini sudah tidak wajar. Berhubung Orion sedang tidak dalam keadaan prima karena racun masuk ke dalam tubuhnya, ia berfokus untuk melangkahkan kaki tuk pergi.
Tap, tap!
Perlahan-lahan Orion melangkah. Semakin lama pandangannya semakin memburam seiring waktu. Jantungnya berdebar kencang, dan untuk sesaat kedua kakinya nyaris tak kuat.
Sempat ia berpegangan pada sudut dinding pada bangunan untuk tetap mempertahankan posisi berdirinya. Lalu kembali melangkah dengan napas yang berat.
“Chameleon, bukan, semua bawahannya memang tidak pernah tidur, ya. Ya, ampun ini jam berapa? Aku ingat Endaru bilang padaku kalau mereka ada di mana-mana dan terus mengawasiku sepanjang waktu ketika aku sedang tak sadarkan diri.”
Duk!
Tubuhnya sempoyongan, ia tersandung kaki sendiri lalu terjatuh kemudian. Karena terkejut Orion pun terdiam selama beberapa waktu.
Lantas beranjak dari duduknya, Orion kembali berjalan dan mengusahakannya agar lebih cepat lagi.
“Kenapa tidak istirahat saja?” tukas Karura yang kembali muncul.
“Apa? Kau menginginkan diriku untuk lebih cepat mati, ya.”
Lama-kelamaan, angin berembus secara berkala di jalan yang sepi. Merinding ketika itu terjadi, hawa yang mencekam membuatnya semakin bergidik. Bulu kuduknya berdiri semua.
Drap! Drap!
Orion mempercepat langkahnya dengan berlari tanpa arah. Lantas ia sama sekali tidak bisa melihat jalanan dengan kedua mata yang sudah buram, blur.
“Suasananya semakin mengerikan. Apalagi jalanan sepi. Mendadak aku jadi takut sendirian,” gumam Orion dengan keringat dingin bercucuran di wajahnya.
Ketakutan Orion pun semakin dalam begitu mendengar suara langkah kaki yang berat dan keras dari arah belakang.
Beberapa orang berpakaian tertutup rapat mengejar Orion di tengah malam yang sunyi.
Beberapa dari mereka juga seperti sedang melakukan gerakan isyarat tangan. Tertuju pada Orion sebagai target. Segera Orion mempercepat larinya.
“Karura, kau tidak bisa melakukan sesuatu dengan racunnya?”
“Nanti akan aku coba.”
“Apa? Kenapa harus nanti? Aku sudah mendengar kejaran dari belakang. Lalu aku tidak bisa melihat ke depan.”
Buak!
Lengah, dahi Orion membentur dinding. Langkahnya terhenti dan membuat mereka yang mengejarnya pun mendapatkan kesempatan.
“Heh, bodohnya. Meski efeknya lambat, tapi bukan berarti dia semudah itu melarikan diri tanpa bisa melihat!”
“Haha! Kau ada benarnya juga. Tak kusangka kita akan mendapatkan dia semudah ini. Kenapa juga kita repot-repot melawannya secara langsung?”
Datang dari langit, serangan dari benda-benda tajam yang dilumuri sesuatu cairan itu menghujam Orion. Akan tetapi Orion masih selamat dari maut berkat insting dari darah langka.
Nyaris saja ia tertusuk puluhan benda tajam. Lalu saat ia merasakan kehadiran dua orang di belakang semakin mendekat, Orion bergegas menjauh secepat mungkin dan berniat menemukan sesuatu tempat untuknya bersembunyi.
Disusul oleh rekan mereka yang lain, berada di atas salah satu gedung bangunan yang menggunakan busur dan anak panah. Dengan cepat anak panah itu melesat ke arah Orion.
Tak!
Anak panah itu membentur bilah pedang merah milik Orion, lantas menjadi hancur berkeping-keping karena daya tahan yang tidak cukup untuk menahannya.
Pemanah di atas gedung itu lantas bertanya-tanya dalam batin, mengapa Orion bisa mengetahui serangannya. Lekas ia mencari tempat dengan melompat dari satu gedung ke gedung lainnya guna mencari posisi untuk menembak sekali lagi.
Brak!
Di satu sisi, ketika pemanah sedang mencari posisi yang tepat. Orion berhasil menyembunyikan diri di suatu tempat. Ia menemukan sebuah pintu, setelah membukanya ia segera masuk ke dalam lalu menutup pintu itu lagi.
“Hah, hah ...apakah cukup aman?” gumam Orion seraya duduk berjongkok dekat pintu dengan napas terengah-engah.
“Dua orang itu mungkin akan mengetahui keberadaanmu, Orion,” ucap Karura.
Orion tidak menjawab apa-apa. Sebab, tempat yang Orion masuki adalah sebuah bar kecil yang buka selama 24 jam. Terhitung 3-5 orang dengan satu bartender di sini. Maka akan cukup berbahaya kalau terjadi pertarungan di tempat ini.