ORION

ORION
Sosok yang Gagah Perkasa, Karura!



Hari ini akan hadir tanpa disangka-sangka. Sebuah kekuatan muncul tanpa diinginkan. Orion yang jauh dari kekunoan kini harus berhadapan dengan hal-hal seperti itu.


“Kamu bisa saja melakukan apa pun yang kamu inginkan pada Api Abadi. Meskipun itu juga tergantung apakah kamu bisa dan cara mengendalikannya,” ujar Ki Moko.


Ki Moko, itulah sosok yang sekarang memberi punggung pada Orion. Sama sekali ia tak pernah berbalik badan untuk menunjukkan wajahnya.


Tetapi tidak dengan Karura, mahluk dengan sepasang sayap yang membentang. Terlihat ia seperti akan terbang, kemudian berbalik badan dan memperlihatkan tubuh bagian depannya.


Sosok yang sangat gagah perkasa. Seperti siluman. Suatu eksistensi dengan gabungan antara manusia dan hewan. Orion berdecak kagum dibuatnya.


“Pertama, apa kau tahu bagaimana cara mengendalikan api?” Karura bertanya.


Bahkan Karura bisa bicara. Ini suatu hal baru yang pertama kalinya ia lihat. Benar-benar takjub.


“Hm, ya. Aku menggunakan kekuatan api.”


“Api? Seharusnya manusia sekarang tidak memiliki kekuatan seperti itu. Apa yang sebenarnya terjadi di dunia?” tanya Karura seraya meraih telapak tangan Orion.


“Itu pasti karena dewa-dewa kuno. Dan dewa Agni bahkan ikut campur juga,” sahut Ki Moko.


“Dunia kami berubah seakan terbelah menjadi dua. Dan dunia kami yang di mana banyak orang-orang kembali bangkit memiliki kekuatan semacam ini,” jelas Orion.


“Oh, sepertinya ini akan jauh lebih mudah. Sekarang pejamkan matamu,” pinta Karura sembari menunjuk diri Orion.


“Jangan lakukan macam-macam yang aneh,” pinta Orion kemudian memejamkan matanya.


Sesaat setelah ia memejamkan mata, sesuatu mengalir padanya dari bagian depan tubuh hingga menyeluruh ke belakang. Hangat dan juga ada sedikit rasa sakit seperti digigit semut.


“Cobalah bentuk apimu,” ucap Karura.


Berpusat pada bagian kedua kepalan tangannya, semburat api muncul berwarna cerah. Ia kemudian alirkan ke lengan dan membentuk sebuah pedang.


Warna yang muncul bukan lagi warna jingga cerah melainkan warna merah kegelapan.


“Apimu dari awal sudah dikendalikan dengan baik. Yang tersisa hanyalah bagaimana kau akan melakukannya di dalam tubuh,” ujar Karura.


“Maksudmu apa? Aku sama sekali tak mengerti. Kalaupun aku menggunakan api di dalam tubuh, bukankah itu berarti aku akan mati?” pikir Orion seraya membuka matanya.


“Maksudku ini,” ujar Karura seraya menunjukkan sebongkah benda kecil berbentuk seperti kelereng.


“Itu warnanya sama seperti api-ku,” kata Orion dengan terkejut.


Karura mengangguk dan menjawab, “Ini aku ambil dari dalam tubuhmu. Tanpa ini kau akan kesulitan untuk mengendalikan api. Dan sekarang lihat, apakah api-mu masih ada?”


Orion kemudian melihat kedua lengannya dan pembentukan api itu masih ada. Padahal Karura bilang benda yang sedang dipegangnya adalah suatu inti yang dapat mengendalikan api miliknya, akan tetapi ia sekarang masih dapat mempertahankannya apalagi mengubah-ubah bentuknya.


“Bagaimana bisa?”


“Ya, tentu saja. Karena aku menggantinya dengan inti Api Abadi. Kenapa kaget, ya?” tuturnya dengan sombong seraya mengangkat kedua bahunya.


Karura yang tampaknya sangat gagah, ternyata punya kesombongan juga. Sesaat Orion mengerutkan kening, heran karena sosok yang ada di depannya saat ini.


“Inti ...benda yang semacam itu?” tanya Orion seraya menunjuk ke benda tersebut.


“Ya, begitulah. Coba bentuk api-mu lagi. Dan pusatkan, entah bagaimana caranya kau harus menemukan jalan sendiri untuk mencapai tujuanmu,” kata Karura seraya bangkit.


“Aku harus menemukan caranya sendiri? Aku saja kesulitan mengendalikan api sebelumnya, dan sekarang aku harus menemukan cara agar aku kembali ke tubuhku? Sendiri?”


Orion sangat syok akan hal tersebut. Mendengarnya saja sudah tak percaya, dan lagi sepertinya sangat sulit untuk mengendalikan api agar wujudnya kembali.


“Lalu bagaimana caranya?” tanya Orion antusias.


“Karena orangnya sudah lama mati. Jadi aku ya, tidak tahu. Lagi pula dia adalah orang yang hidup bersama dewa kuno. Istilahnya spesial,” ujarnya.


Harapannya pupus sudah. Terasa seperti lidi dipatahkan dengan mudahnya, Orion lagi-lagi terkejut.


“Ugh, menyebalkan!”


Meski tidak tahu caranya. Orion pun berusaha untuk melakukan hal tersebut. Mengubah wujudnya bagaimanapun caranya dengan inti Api Abadi.


“Tapi jangan kau lakukan di sini. Lakukan setelah kau berhasil keluar dari sini,” ungkap Karura dan membuat Orion kembali terkejut.


“APA!?”


Dalam posisi terduduk dengan perasaan jengkel tak karuan, Orion berusaha keras untuk menahan amarah.


Sebelum melakukan apa yang ia inginkan, ia pula harus melakukan sesuatu agar dapat keluar dari ruangan gelap ini. Sebab, ruangan gelap ini ada semata-mata bukan karena mimpi biasa melainkan adanya Api Abadi berkomunikasi dengannya. Bahkan penciptanya juga hadir.


***


Di luar kenyataan, Orion tengah terbaring pulas di ranjang tidurnya. Ia sangat pulas dalam tidurnya tanpa memikirkan apa-apa, itulah yang mereka lihat dari luar. Bahkan Orion sama sekali tak bergerak.


“Hah, hari ini pun dia tidak kunjung bangun.”


Mahanta mendesah lelah lantaran terus menunggu bangunnya Orion.


“Memangnya sejak kapan dia jadi begini, kak? Dia tidak melakukan apa-apa, 'kan?” tanya Raka yang berada di sampingnya.


“Dia tertidur lelap ketika di dalam mobil. Padahal aku pikir, goncangan kuat akan membangunkannya tetapi tidak. Makanya aku khawatir,” ujar Mahanta.


“Orion memang tukang pembawa masalah. Anak kecil seperti ini saja sudah belagu. Lalu bagaimana jika dia tumbuh besar nantinya? Huh,” gerutu Raka.


“Seperti kau tahu saja. Dan bukankah awal dari kesalahan ini karena dirimu? Membebankan tugas pada Orion, kau melepas tanggung jawabmu!” ketus Mahanta seraya menunjuk Raka dengan kesal.


Seketika Raka bungkam. Nyalinya menciut, lalu pergi meninggalkannya. Tak lama setelah kepergian Raka dari kamar Orion, seseorang datang mengetuk pintu.


Tok! Tok!


“Mahanta, aku ingin bicara sesuatu padamu. Ini pekerjaan.”


Dari suaranya, ialah suara seorang wanita. Yang tidak lain adalah Fani, rekan kerja yang selama ini bekerja sebagai pegawai kantoran.


Segera Mahanta beranjak dari tempat duduknya, kemudian membuka pintu dan bertanya apa maksud kedatangan Fani sekarang.


“Nona Fani, sepertinya Anda hari ini cukup longgar, ya?”


“Maafkan aku menganggumu. Tapi ini mendesak,” ucap Fani serius.


Mahanta lantas keluar dari kamar Orion. Ia akan membicarakan sesuatu pada Fani hari ini. Dan katanya berhubungan dengan pekerjaan, yang di mana ini berkaitan dengan Pejuang NED.


“Kau menemukan suatu hal? Pejuang NED lagi? Hari ini sudah yang ke-berapa kalinya.”


“Mahanta, ini sepertinya sangat sulit. Sudah banyak anggota yang dikirim ke tempat itu tak hasilnya tak kunjung membaik. Pejuang NED yang sedang kita bicarakan, dia adalah seorang wanita dengan kekuatan yang mengendalikan mental.”


Pernyataan tersebut membuat Mahanta agaknya terkejut.