
Orion menyinggung hal yang sensitif bagi Gista. Tentu saja Gista enggan berkomentar akan hal itu. Semula ia terlihat diam dan memandang arah lain, kemudian beralih menatap Orion.
“Itu sudah terjadi, dan waktunya sudah cukup lama. Buat apa cerita kalau itu sudah tidak berguna?” celetuk Gista, ia mengelak lagi.
“Sayangnya itu berkaitan dengan masalah yang hari ini terjadi, 'kan? Maksudku, kejadian penculikan yang kapan saja bisa terjadi. Itu adalah ulah Chameleon, dan tindakannya mengacu ke awal mula yang mana kala itu terjadi 30 tahun yang lalu,” ucap Orion.
Lagi-lagi Gista terdiam tanpa kata. Ia sepertinya sama sekali tak mau angkat bicara mengenai hal ini. Namun Orion juga selalu keras kepala, lantaran ini pula demi dirinya sendiri. Chameleon adalah orang yang bangkit pertama kalinya, dan ia harus tahu seluk-beluknya.
Termasuk sikap, sifat atau lainnya yang dimiliki oleh Chameleon. Itu akan menjadi hal berguna ke depannya.
“Hah, baiklah.” Gista menghela napas. Ia menyerah, pada akhirnya memberitahukan sesuatu.
“Chameleon dan rekan-rekannya sama seperti yang telah kau katakan kalau dunia serasa kiamat. Kekuatannya yang mampu meniru apa pun itu membuat kami kesulitan.”
“Aku sudah tahu itu. Yang aku tanyakan adalah, tentang yang terjadi 30 tahun lalu. Dari awal hingga akhir dan ceritakan sedikit siapa sebenarnya Chameleon,” sahut Orion.
“Awalnya baik-baik saja, Orion. Tapi kau tahu, dari awal hingga akhir itu tidak ada. Pada akhirnya itu terjadi begitu saja, saat kami semua sedang pergi berlibur,” tutur Gista menatap ke bawah dengan dahinya yang mengerut.
“Maksudmu? Ah, aku tidak mengerti.” Orion mengeluh lantaran omongan Gista terasa ambigu baginya.
“Yah, ada saatnya kami saat itu merasa tegang karena sesuatu. Dan itu karena ada seseorang yang mengikuti kami. Hingga akhirnya, beberapa dari kami melihat wajah yang seringkali berubah,” jelas Gista.
Gista bermaksud menceritakan bagaimana kekuatan Chameleon terungkap. Dan hal itu terjadi karena ketidaksengajaan. Sifat, sikap atau apa pun yang berkaitannya pun masih jauh. Sama sekali tidak dapat dilihat.
“Aku pernah melihatnya melakukan sesuatu hal buruk. Dan sesuai hukum, aku bertindak di balik layar pun akan menindaknya tanpa kata.”
“Kau membunuhnya?” tanya Orion.
“Ya.”
Entah kenapa, perkataan Gista membuat Orion teringat dengan cerita Endaru yang kehilangan orang tuanya.
“Apakah ini berarti orang tua Endaru itu Chameleon?” batin Orion berpikir.
Orion masih ragu dengan pemikirannya itu. Ia lantas kembali bertanya, “Kalau kau membunuh Chameleon, itu artinya dia juga membunuh seseorang, 'kan? Lalu, Chameleon yang sekarang itu ...”
“Chameleon memiliki banyak nama, dan beberapa tindak kejahatan. Namun baru kali itu aku melihatnya membunuh seorang anak kecil. Sudah begitu, meski aku membunuhnya, dia bisa berpindah tubuh ke siapa pun,“ jelas Gista.
Kini, ia mengerti. Bahwa Chameleon memiliki sifat licik. Namun, pikirannya tak pernah lepas dengan cerita Endaru. Tapi tak mungkin jika ia akan bertanya pada Gista apalagi dengan Endaru sendiri.
Karena banyaknya alasan lain, Orion harus menahannya selagi bisa.
“Chameleon masih hidup,” kata Mahanta.
“Ya. Aku mengerti. Itu artinya di manapun dia berada, yang pasti akan sulit ditemukan. Aku akan membantu mencarinya,” ucap Orion.
“Tidak perlu!” pekik Gista seraya menggebrak meja dan bangkit dari kursinya.
Mahanta dan Orion terkejut lantas terdiam sembari memandang Gista.
“Gista, a—”
“Aku bilang tidak perlu! Jangan pernah terlibat apa-apa!” teriak Gista penuh amarah.
“Kau hobinya menyerobot omongan orang lain, ya! Kau dengarkan aku lebih dulu! Aku membantumu semata-mata juga karena tubuhku ini!” sahut Orion meninggikan suara.
“Chameleon tidak bisa kau bandingkan dengan Pahlawan Kota sekalipun. Aku berharap kau tidak akan bertemu dengannya, karena suatu saat kau akan mati selamanya! Kau paham!” ketus Gista semakin meninggikan suaranya.
“Aku tahu dia berbahaya! Dan aku tahu dia jauh lebih kuat dari Caraka ataupun Eka, tapi tubuhku jadi taruhannya!”
“Kalau begitu biarkan aku—”
“Tidak akan kubiarkan! Aku akan melakukannya sendiri, karena memang dari awal aku hidup untuk mempertanyakan hal itu. Setidaknya sebelum aku mati,” tutur Orion serius dengan ucapannya itu.
Dengan Chameleon, Orion akan mengetahuinya. Termasuk misteri yang tertulis di buku kuno yang ditemukan Endaru saat itu. Dewa-dewa kuno, darah langka, penyusutan tubuh dan orang-orang yang dilimpahi kekuatan.
Orion takkan mau melepaskan barang berharga semacam Chameleon, karena dialah satu-satunya jalan untuk menentukan takdir Orion ke depannya.
“Kenapa kau keras kepala sekali? Chameleon itu, meskipun kau sudah bicara dengannya mengenai tubuhmu, apakah dia akan mengerti? Itu masih belum jelas,” ujar Gista.
“Aku tahu. Bertemu dengannya memang tidak ada jaminan aku mendapatkan jawaban yang aku inginkan. Namun setidaknya aku bisa melihat siapa Chameleon sebenarnya, dan melihat reaksi apa yang akan ia tunjukkan ketika aku bertanya itu.”
“Reaksi? Apa kau pikir dengan itu sudah cukup?”
“Tentu saja! Segala tindak tanduknya, sifat dan gestur wajah dan tubuhnya itu patut diperhatikan. Apakah dia masih muda? Apakah dia masih tua? Cara bicara yang sopan atau kurang ajar, aku bisa menentukan sesuatu dari itu,” pikir Orion.
Bruk! Gista kembali duduk dengan perasaan yang masih sama, kesal tak ada habisnya. Seraya menatap tajam ke arah Orion.
“Memangnya kau mentalis, dasar bodoh,” gerutu Gista.
“Baru kali ini aku mendengar Nona Gista berkata kasar seperti itu,” batin Mahanta.
“Haha, terserah saja. Memang aku tidak kuat. Kalaupun aku mati saat berhadapan dengannya pun tak apa, toh kau jelas tahu apa tujuanku yang sebenarnya, 'kan?” ucapnya dengan tawa hambar.
Drap! Drap!
Orion melangkahkan kaki tuk pergi, kemudian membuka pintu dan sesekali ia melirik ke belakang, mendapati Gista yang masih emosi.
“Aku akan bertemu dengannya. Apa pun dan bagaimanapun caranya sampai aku dapatkan dia! Wanita itu lebih baik duduk diam di sana saja!” ketus Orion seraya menatap Gista.
Ketika mereka saling bertukar pandang satu sama lain, Orion nampak tertegun akan kedua mata Gista yang berkilau. Ia seperti melihat kristal di dalam matanya, sangat bercahaya dan sungguh indah.
Bruk! Orion ambruk tak sadarkan diri. Mahanta buru-buru menghampirinya.
“Apa yang Anda lakukan padanya lagi?” tanya Mahanta yang sangat cemas mengenai kondisi Orion.
“Kantung matanya menghitam, biarkan dia istirahat,” ucap Gista dengan dinginnya.
Gista lah yang membuat Orion terlelap begitu nyaman. Namun terbesit suatu hal, Gista hendak menidurkannya selamanya sebab ia tak ingin Orion bertemu dengan Chameleon.
Apalagi kondisi fisiknya yang berubah semenjak tubuhnya menyusut.
“Aku tidak akan membiarkanmu bunuh diri lagi, Orion.”
Gista bergumam lirih seraya menatap sendu ke bawah dengan memijat sedikit keningnya.