ORION

ORION
Ken II



Peruntungannya sangat buruk. Saat berada di Emblem Priest, Orion didesak oleh salah seorang kriminal di sana. Pria berbadan gempal dengan mata kecil itu selalu menggunakan barang-barangnya untuk menyerang Orion.


Brak! Brak!


Rak buku di ruangan itu pun nyaris terjatuh dan menimpa Orion. Orion beruntung karena setidaknya dapat menahan beban raknya. Namun ia sangat kesulitan untuk kembali membalas dalam posisinya yang sedang menahan rak buku tersebut.


“Apa tidak ada celah?” gumam Orion.


Merasa tidak punya cara lain. Pada akhirnya Orion menutup mata pada kemewahan, lantas menebas rak itu hingga terbagi menjadi dua. Bahkan buku-buku yang masih menyangkut di sana pun juga ikut terpotong sebagian.


Orion akhirnya dapat bernapas, karena tak perlu lagi menahan beban berat pada rak itu. Lantas, pria berbadan gempal itu pun bergerak menuju ke arahnya. Orion sengaja untuk memancing pria itu ke arah pintu.


BRUAK!


Sesuai dugaan, Orion menghindar begitu dua tangan yang mengepal itu hendak menghantamnya. Dan sekarang, karena Orion menghindar sehingga pukulan itu pun mengenai meja yang menghadang pintu ruangan.


“Bagus!” Orion merasa senang. Berpikir bahwa ia dapat keluar dari sini, lantaran celah pintu terbuka karena pukulan dari orang itu.


Tapi, sesaat tangannya hendak meraih gagang pintu, tubuh Orion terlempar ke belakang dan membentur kaca jendela.


Prang!


“Argh! Punggung tua!” Orion mengerang kesakitan seraya memengang punggungnya yang terasa seperti patah.


Pria berbadan gempal kembali menoleh ke belakang, dirinya mengambil salah satu barang yakni sebuah kendi yang polesannya luar biasa. Terlihat berkilau, mahal dan sangat indah.


“Jangan barang mahal itu!” pekik Orion yang mengerti nilai barang itu seraya menjulurkan telapak tangan.


Tapi tetap saja tidak didengar, ketika ia melempar barangnya lantas Orion bangkit dan berusaha untuk menangkap.


“Candy! Candy!” teriak pria berbadan gempal.


Orion menangkapnya dan penuh kehati-hatian, ia menaruh kendi itu ke sudut ruangan. Lalu pergi ke sudut yang lain, seraya mengambil ancang-ancang untuk menuju pintu.


“RAAAAAA!” Pria itu kembali mengangkat tinggi salah satu kursi tersisa di sekitarnya.


“Hei, tunggu sebentar! Kenapa kau selalu menyebut, "Candy, candy!", apakah yang kamu maksud itu permen?”


“RAA?” Sesaat gerakannya terhenti setelah mendengar kalimat Orion.


“Dia berhenti.”


Orion merasa beruntung karena pria itu tak lagi melemparnya. Bahkan benda yang barusan hendak dilempar pun ditaruh kembali.


“Kau menginginkan sebuah permen?” tanya Orion.


“Iya.” Pria itu kemudian menganggukkan kepala beberapa kali.


“Jadi begitu. Ah, tapi aku tidak punya. Tunggu, sepertinya aku punya!”


Orion merogoh-rogoh saku celananya dan ia pun menemukan sebuah permen. Permen dengan bungkus berwarna merah muda. Orion berpikir dengan itu maka membuat perasaan pria itu lebih tenang, karena itulah ia segera memberikannya.


“Aku menyerahkan ini agar kau tak lagi menyerangku. Apa kau paham?”


“Iya, sangat paham. Terima kasih,” ucapnya seraya memakan permen itu langsung.


Ini di luar dugaan. Pria itu sekarang sangat menurut dengan Orion bahkan mengantarkan Orion keluar dari sana.


“Dia benar-benar tidak melakukan apa-apa padaku lagi. Dia sedikit aneh.”


“Kalau butuh bantuan, bilang saja.”


“Eh?” Ketika Orion menoleh ke belakang, pria itu sudah kembali masuk ke dalam.


“Iya, sangat puas. Terima kasih. Dan ada yang ingin aku tanyakan,” ujar Orion.


“Kenapa? Kenapa dia masih hidup? Seharusnya dia mati karena kriminal itu. Padahal kriminal itu sekarang menjadi buron karena kekuatan fisik tak masuk akal.” Ken membatin.


Ken sama sekali tidak mengerti dengan sekarang ini. Lantaran ia sebelumnya telah menduga bahwa Orion akan mati di tangan kriminal itu. Pria berbadan gempal dengan mata kecil, umur 20 tahun yang sudah diburon selama 5 tahun hingga sekarang.


Kriminal tanpa identitas jelas itu konon katanya, memiliki kekuatan fisik yang melebihi manusia. Mengangkat apa saja bukanlah hal berat untuknya. Tindakan kriminal yang pernah ia lakukan tak lain adalah membunuh orang hanya dengan tangan kosong saja. Menghancurkan gedung pun sama. Tubuhnya juga memiliki kekebalan.


Itulah mengapa Ken, berpikir bahwa Orion takkan mampu terlepas dari kriminal itu.


“Katakan saja,” ucap Ken sembari menyembunyikan wajah paniknya.


“Chameleon. Apakah Anda pernah mendengar sebutan itu?”


Sementara di saat yang sama. Endaru yang sebenarnya sudah berusaha untuk membuntuti Ken, namun pada akhirnya ia terjebak seolah dirinya berada di labirin terbesar dengan beberapa ruang yang unik. Sempat ia juga ditarik oleh beberapa kriminal yang bersembunyi dalam kamar mereka, namun itu bukanlah masalah besar bagi Endaru.


“Huh, di sini banyak sekali ruangannya. Aku sampai bingung. Terakhir kali aku sampai mana?”


Endaru kini masih tersesat dari satu jalan ke jalan lainnya. Padahal jalannya hanya lurus saja. Tidak ada jalan bercabang sedikitpun. Sekalinya berbelok pun, itu tetap ke jalan utama.


Endaru beberapa kali berputar ke sana dan kemari tapi sulit untuk kembali ke ruang tamu. Bahkan keberadaan Ken saja sudah tidak ada.


Kecuali,


“Barang ini akan dilelang?”


“Mana mungkin. Ini sudah menyebar luas. Kau pikir akan ada orang yang mau membayar mahal ini?”


“Bisa saja, 'kan?”


Terdengar beberapa orang sedang berbicara tentang suatu benda yang tidak asing lagi. Yakni serbuk putih yang dapat membuat orang berhalusinasi. Endaru secara kebetulan mendengarnya dari dapur, segera ia pergi karena tidak mungkin ia akan bertanya sesuatu itu langsung pada mereka.


“Akan beresiko kalau aku bertanya langsung pada mereka. Aku harus bertanya dulu pada Orion,” ucap Endaru seraya membalikkan badan.


Bruk!


“Ukh! Siapa?”


“Kau benar, kau tidak perlu ikut campur.” Seseorang yang barusan menabrak Endaru itu berbicara.


“Aaaaa!!” Endaru syok, ia berteriak saat melihat wajah pria yang ditabraknya penuh dengan jahitan. Sehingga ia tak sadarkan diri. Pria tersebut pun lantas membopongnya untuk mengantar Endaru ke ruang tamu.


Setelah sampai ke rumah tamu. Terlihat Orion dan Ken sedang membicarakan sesuatu.


“Ori ...Orion! Tolong aku! Ada monster!” teriak Endaru yang kini telah sadarkan diri. Namun dirinya tidak bisa pergi lantaran pria itu menenteng tubuhnya seperti barang.


“Hah ...Endaru. Dia itu manusia. Kenapa kau selalu tidak bersikap sopan selama datang kemari.” Orion mendesah lelah, merasa ia sangat tidak nyaman sekarang.


“Turunkan, Albe. Kau menakuti Pahlawan itu,” ucap Ken seraya tersenyum masam.


Sesaat Endaru diturunkan darinya. Endaru segera menghindar. Semakin berwaspada bahkan lebih dari sebelumnya. Orion pula hanya mendesah lelah, padahal perbincangan dengan Ken belumlah usai.


“Jadi Pak Sadawira. Saya ingin mendengar cerita soal pria yang barusan Anda sebut sebelumnya. Lagi, lebih mendetail,” pinta Ken.


“Dia bisa meniru apa saja. Termasuk kekuatan yang dimiliki setiap Pejuang NED, Saint dan sejenisnya.”


“Hm, sayangnya saya tidak pernah bertemu dengan orang yang ahli seperti itu. Tapi kalau mendengar Anda sampai mencarinya kemari, apakah itu berarti dia buron?” pikir Ken.


“Ya. Bahkan sekarang saya sempat curiga dengan Anda. Yang mungkin saja Anda adalah dia,” celetuk Orion.