
Goresan api membekas pada dinding. Mendengar tawa Chameleon, tanda bahwa Chameleon tidak terkena serangan Orion.
“Sepertinya jawabannya masih sama?”
Srak! Sraaak!!
Usai Chameleon keluar dari wujud dinding, menggunakan wujud seorang murid ia menyerang Orion dengan menggunakan bayangan-bayangan.
Orion melompat mundur selama beberapa langkah, lalu menerjang kembali setelah bayangan kembali menyusut. Orion menggunakan satu tangan kirinya, dan setiap ia memukul lantas Chameleon begitu mudahnya menangkis.
“Ada apa denganmu, Orion? Tidak hanya tubuhmu tapi kau juga memiliki kekuatan Api Abadi, bukan? Kenapa tidak menggunakannya padaku?” Chameleon selalu melangkah mundur dan menangkis pukulan Orion.
“Kau mau tahu jawabannya? Sayangnya aku tidak berniat untuk melenyapkanmu lebih dulu.”
Buak!!
Orion menggunakan gerakan tipuan yang di mana ia menggerakkan lengan kanan namun kemudian mengganti dengan lengan kiri. Chameleon yang sempat lengah, akhirnya tersentuh juga di wajah.
“Oh? Padahal semua orang berniat membunuhku,” gumam Chameleon lantas kembali bergerak mundur dengan cepat dan merubah wujudnya dalam bayangan.
“Itu tidak akan terjadi! Karena kematianmu tidak boleh dipermudah!” pekik Orion.
Blaarr!!
Orion menyambar apinya menuju bayangan yang bergerak di atas jalan. Dalam keadaan terbakar, bayangan itu masih sempat bergerak. Maka Orion pun bergegas mengejar dengan sebilah pedang di tangan kirinya.
“Mau ke mana kau!?” teriak Orion yang dipenuhi amarah seraya menancapkan sebilah itu pada bayangan.
Untuk beberapa waktu, Chameleon dalam wujud bayangan tak menentu itu tak lagi bergerak. Orion tetap pada posisinya dan membiarkan pedang kirinya tetap menancap di sana.
“Hei, hati-hati dong.”
Suara Chameleon terdengar santai. Namun tidak bagi Orion yang menganggap serangan barusan itu dibilang sangat gagal. Chameleon kembali mengubah wujud sebagai seorang murid.
Pukulan dilayangkan dan secara reflek Orion menahan kepalan tinjunya. Pandangan Orion hanya tertuju pada Chameleon seorang, yang kini wajahnya tergores.
“Aku 'kan sudah bilang. Tak hanya meniru, aku juga bisa mengubah wujudku sebagai ruh lalu merasuki tubuh seseorang. Tak hanya yang mati melainkan yang hidup pun juga.”
Orion membulatkan mata saking terkejutnya ia baru menyadari bahwa tubuh itu bukan hanya sekedar ditiru melainkan Chameleon yang mengambil alih.
“Ha, memang ya, penjahat sepertimu itu tiada ampun!” Orion menyingkirkan tangan yang hendak memukul wajahnya.
Kemudian bangkit dengan sebilah pedang melekat pada lengan kiri. Bentuk yang panjang dan ujung yang lebih tajam, terik matahari menyorot ke arah senjata dan membuat cahaya yang menyilaukan mata dalam sekejap.
Chameleon menyilangkan dua lengan ke depan wajah karena silau. Dan tiba-tiba saja dari belakang, lehernya dicekik oleh Orion. Serta sebilah pedang yang tak segan diacungkan langsung ke leher.
“Keluar dari tubuh ini!”
“Tidak akan!”
Chameleon lantas menyeringai, ia melarikan diri dengan mengubah wujud bayangan. Orion bergegas kembali mengejarnya hingga berada di sekitar perumahan.
Lalu, Chameleon kembali berwujud seseorang. Dan itu wujud yang sama persis dengannya sendiri. Chameleon meniru wujud Orion tanpa ada perbedaan sedikit pun.
“Aku khawatir kalau—”
BLAARR!!
Dak!!
Gerakan yang sangat cepat datang dari belakang. Chameleon memiliki insting yang luar biasa bagus sehingga dapat menahan tendangan dari seseorang.
“Astaga, itu tadi apa? Panas sekali!” gerutu salah seorang anggota, setelah menyerang ia mundur dan berada dekat dengan Orion.
Tak hanya seorang saja, melainkan semua anggota yang berkumpul telah mengepung di sekitar Chameleon.
“Harusnya kaki Anda hangus karena Api Abadi itu,” ujar Orion dengan api di tubuhnya semakin mengecil, sambil menunjuk diri Chameleon.
“Maksud Anda? Kaki saya seharusnya hangus begitu? Kenapa Anda tega mengatakan itu.” Lagi-lagi ia menggerutu.
“Bukan begitu maksud saya tapi lihat dia? Dia mirip dengan saya begitu juga dengan Api Abadi yang aku miliki.” Orion menunjukkan lengan kanannya.
Seketika tersentak diam, ia akhirnya mengerti kenapa pria yang ada di hadapannya ini dihormati bahkan oleh Gista sekalipun.
“Api Abadi itu tidak bisa ditiru. Chameleon hanya membuatnya dengan api biasa, jadi terlihat sama.”
Mendengarnya membuat ia sangat bersemangat. Lantaran Chameleon tidak benar-benar menyerupai dirinya. Hanya cangkang kosong yang bahkan sama sekali tidak berharga.
“Tapi kita berdua terlihat sama. Memangnya ada salah satu dari kalian tahu siapa Orion sebenarnya?” sahut Chameleon meledek.
“Jangan sembarangan kau! Kami cukup tahu, bahwa Tuan Orion memiliki kepribadian yang cukup tenang. Berbeda denganmu yang picik!” pekik salah seorang anggota yang bersiap dengan belati di kedua tangannya.
“Masa'? Padahal Orion tadi cukup emosi,” imbuhnya seraya menyeringai dengan tatapan sinis tertuju pada Orion seorang.
Orion merasa kesal sejadi-jadinya pun karena Chameleon seenaknya memperlakukan tubuh seseorang yang bukan haknya. Tapi, bagaimana cara melawan Chameleon di samping ia mengambil alih tubuh seorang murid.
“Kalau terus dipikirkan, yang ada aku malah selalu menghindar nanti.”
Orion berlari ke arahnya, dengan tanpa perbedaan kecuali Api Abadi yang ia miliki. Orion harus memperkecil jarak antara mereka.
Semua anggota yang mengepung keadaan sekitar, tak mampu menggerakkan satu ujung jari pun lantas tak ada celah di antara mereka yang saling menyerang dengan senjata sekaligus pola yang sama.
Sebilah pedang yang diayunkan seolah mencabik-cabik mangsa. Sesekali beradu tangkis dan menyebabkan suara yang tidak nyaman didengar. Suasana di gang antar perumahan juga membuat semua orang merasa resah akan suara berisik itu.
Namun begitu mereka membuka tirai jendela, mereka tak bisa melihat apa-apa kecuali banyaknya orang berpencar ke sekitar dalam gang saat ini.
Untuk keluar pun mereka takut, sebab begitu mereka membuka pintu, mereka mendapati kilat serta api membara dalam udara.
Srek!
Berniat memojokkan, justru Orion cepat kelelahan. Ia menyeret langkahnya mundur dengan posisi yang sama. Tetap mengedepankan senjata serta api yang sedikit membakar bagian tubuhnya.
“Bertarung adu senjata begini, bukan apa-apa buatku. Padahal jika menggunakan lengan kananmu, kau akan menang Orion. Dan kau tak perlu lagi melawanku di masa depan. Hidup kalian pun aman sentosa.”
“Kau melantur saking panasnya hari ini, ya?” sahut Orion kembali menerjangnya.
Ctang!
Suara yang agak berbeda terdengar sedikit menggaung. Dalam kepulan asap ketika api dalam pedang saling membara, terdapat seseorang yang berada di antara mereka berdua.
“Aku tahu kau akan menolak. Makanya aku tak datang sendiri. Kau pikir aku mau melawan lalat seperti kalian?”
Kepulan asap menghilang begitu hembusan angin membawanya pergi jauh. Menampakkan seorang wanita yang familiar bagi Orion. Wanita yang ia lihat saat melihat ingatan mantan rekan Chameleon, Pemain Kecapi.