ORION

ORION
Gerbong Kereta I



Datang tiba-tiba sebuah undangan pertunjukkan opera di malam hari. Kota S-Frans. Tertanda tuan rumah, Tuan Gerhana Bulan. Selebihnya Orion dkk sama sekali tidak mengetahui siapa sebenarnya Gerhana Bulan ini.


“Kalau begitu aku akan ikut!” ucap Endaru bersemangat. Seolah-olah ia telah lama menantikan sebuah hiburan.


“Tunggu, tunggu! Kenapa kau malah ikut? Kenapa?”


“Kau pikir hanya kau saja. Satu itu untuk semua. Jadi lebih baik beramai-ramai 'kan? Lagipula aku sangat mencurigai gerhana atau apalah itu.”


“Ya. Aku pun juga. Tapi ini di kota lain. Lumayan jauh dari sini. Sedangkan Mahanta dan lain menghilang,” kata Orion.


“Jangan pikirkan itu. Daripada membawa banyak orang, bukanlah lebih baik sedikit saja? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi,” ujar Endaru.


“Hei! Justru karena itulah, bergerak bersama akan menguntungkan kita semua! Karena kalau kita berjumlah sedikit ke sana maka kita akan kesusahan,” ujar Orion memberi pendapat masuk akal. Mengantisipasi akan suatu kejadian berbahaya ke depannya.


“Tenang saja aku ini kuat!” kata Endaru menyombongkan diri dengan bangga. Seraya tersenyum lebar dan menunjuk dirinya dengan jempol.


“Aku setuju dengan perkataan Orion,” ucap Dr. Eka.


“Sudah kubilang.” Orion menganggukkan kepala.


“Tapi aku juga setuju dengan perkataan Pahlawan Kota,” imbuh Dr. Eka sembari memasang wajah kebingungan.


“Apa?” Orion melirik sinis Dr. Eka yang sangat plin-plan.


“Begini, membawa banyak orang itu memang oke. Tapi kita akan terlihat mencolok. Lalu, mengenai perkataan Pahlawan Kota juga ada benarnya karena dengan begitu akan terjadi sebaliknya namun dengan kekurangan rasa waspada semakin meningkat,” jelas Dr. Eka sebagai penengah.


Dr. Eka mengetahui apa yang lebih baik untuk sesama. Namun yang namanya keputusan pasti ada resiko, setidaknya memilih resiko paling kecil adalah yang terbaik.


“Lalu bagaimana?” tanya Endaru.


“Lebih baik, anak baru dengan Ramon tetap berada di kota ini sambil menunggu datangnya Tuan Mahanta dan lainnya yang tersisa. Sementara kita, akan lebih baik bergerak lebih cepat. Sebelum opera itu dimulai. Bagaimana?”


Setelah Dr. Eka mengusulkan. Tetap saja Orion merasa resah, sebagaimana dirinya adalah orang tua. Ia mengkhawatirkan banyak rekannya termasuk juga Ade yang entah di mana sekarang.


Dan sekarang, undangan pertunjukkan opera mungkin menjadi petunjuk lebih soal Grup Chameleon.


“Terserah. Aku juga tidak bisa memilih, karena tujuanku juga sama pentingnya dengan rekan lainnya,” kata Orion yang setuju atas usulan Dr. Eka.


Mau tak mau Orion harus lakukan itu. Karena jika terus mengulur waktu juga tidak akan baik.


***


Runo tak lama setelah itu kembali ke hotel. Dengan begitu, Endaru, Dr. Eka dan Orion akan segera memberangkatkan diri ke kota DG, tempat di mana pertunjukkan opera diadakan.


Mereka menggunakan alat transportasi darat yakni kereta bawah tanah.


“Tunggu, kenapa kau ikut?” tanya Orion pada Dr. Eka.


“Aku juga penasaran dengan pementasan dramanya, haha.” Dr. Eka tertawa kecil.


Tap, tap!


Setelah keretanya datang, mereka bergegas masuk dengan langkah riang. Entah mengapa Orion terlihat seperti ayah yang mengasuh dua anak bayi besar.


“Yeay! Drama!”


“Haha! Sudah tidak sabar!”


Ternyata Dr. Eka yang selalu menyelinap ke rumah sakit, ataupun ke suatu tempat yang berhubungan dengan medis pun bisa menantikan hal lainnya.


Apalagi Endaru, Pahlawan Kota yang seharusnya sudah berumur 30 tahun itu malah terlihat seperti anak remaja kurang bahagia.


“Duduklah dengan tenang, kalian berdua!” pekik Orion pada mereka berdua yang mondar-mandir di gerbong kereta yang sepi akan penumpang.


“Ya, ya! Kami mengerti! Kami akan duduk!”


Blugh!


Keduanya pun duduk secara terpisah. Tampak mereka menikmati dengan kereta yang hampir berjalan.


Ketika kereta hendak berjalan, seseorang bergegas masuk. Beruntung pintu gerbong belumlah sepenuhnya tertutup rapat. Pria itu kemudian masuk dengan tas panjang kecil di punggungnya.


“Jinan?“


Ketiga orang yang tengah menikmati duduknya di sudut-sudut pun seketika membelalakkan kedua mata, lantas terkejut akan kedatangan Jinan. Orion, apalagi, ia sudah jelas sangat terkejut sekaligus panik.


Orion memegang lehernya dengan lembut kemudian bergumam, “Aku lupa kalau aku sudah ditandai dengan benang kekuatannya.”


Jinan saat itu berwajah muram. Tampaknya ia sangat kesal, sebab misinya adalah sengaja menjauhkan Orion dari tempat di mana Chameleon berada. Dan alasan kedatangannya adalah karena Orion justru semakin dekat ke tempatnya.


“Kau datang lagi?”


“Tentu saja aku datang sebab kau telah berada dekat dengan posisi Tuan Chameleon!” teriak Jinan sembari menunjuk Orion dengan kesal.


Klap!


Pintu gerbong kereta tertutup. Kereta pun berjalan dengan pelan, seiring waktu kecepatannya bertambah ketika keluar dari stasiun.


“Kalau dia bilang aku berada dekat dengan posisinya. Maka perjalanan ini tidak akan sia-sia. Tapi kenapa dia justru mengatakan hal itu di depan musuh?” batin Orion.


Endaru bangkit dari tempat duduknya. Sedangkan Dr. Eka semakin beringsut, berpura-pura untuk tidak melihat Jinan saat ini.


“Jinan, kau mau melawanku lagi?” Orion pun juga bangkit dari tempat duduknya.


“Tentu saja. Sampai babak belur pun aku tak cukup puas,” ucap Jinan tampak bersemangat.


“Hei! Jangan lupakan aku!” sahut Endaru.


Jinan setengah duduk lalu membuka resleting tas yang dibawanya, lantas menunjukkan joran pancing dengan gulungan benang yang sudah terpasang. Tersisa pengaitnya saja yang belum dipasang.


“Tidak akan aku biarkan kau mengacau!” pekik Endaru lantas berlari ke arah Jinan berada. Ia kemudian menendang tangan sehingga pengaitnya jatuh dan menggelinding jauh dari posisi Jinan.


“Endaru, jangan gunakan kekuatanmu!” teriak Orion memberi peringatan agar Endaru tak sembarangan menggunakan kekuatannya.


Terutama ketika mereka berada di dalam kereta yang sedang berjalan. Akan terjadi hal buruk jika Endaru menggunakannya, bahkan Orion pun harus menahannya.


“Dasar, Pahlawan Kota! Semena-mena menendang dan membuat kail pancingnya jatuh. Tidak punya perasaan,” cela Jinan merasa kesal.


“Aku mengantisipasi agar kau tak berbuat ulah di saat rekreasi kami baru dimulai,” ucap Endaru semakin bersemangat.


Dipikir untuk mengantisipasi saja agar Jinan tak dapat menyerang mereka. Namun ternyata tujuannya agar pergi ke gedung opera tidaklah menjadi gagal.


***


Di suatu tempat. Chameleon yang mengenakan topeng polos putih. Ia menghela napas beberapa kali seraya duduk di pinggir jalan dengan perasaan tak nyaman seakan diganggu oleh suatu hal.


“Jinan dan Sera, dua orang ini kenapa selalu kabur saat mendapatkan kesempatan. Padahal aku sudah bilang untuk tidak ikut campur dulu karena ada sekelompok beringas,” gerutu Chameleon serta mengertakkan gigi gerahamnya.


Hari ini, tempat di mana Chameleon berada yakni S-Frans. Ia sedang sendirian sembari meratapi nasib di pinggir jalan, tapi penampilannya tidak tampak seperti pengemis melainkan calon pegawai kerja yang selalu ditolak lamaran dari setiap perusahaan yang ada.


Bisa dibilang, Chameleon sedang mencari bawahannya. Karena bergerak terlalu bebas.