ORION

ORION
Tawuran



Jam pulang sekolah masih sangat lama. Roni yang biasanya selalu berkeliaran dalam sekolah kini menghilang. Salah seorang murid laki-laki yang sekelas dengannya memberitahukan pada Orion bahwa Roni pergi keluar dari sekolah.


Kecemasan Orion semakin menjadi kala Roni memiliki masalah yang cukup serius. Karena ini berhubungan dengan insiden yang terjadi beberapa bulan lalu, Roni yang terlibat dalam aksi tawuran di jalanan dengan sesama murid sekolah lain.


“Kenapa anak itu tidak terlihat sama sekali.” Orion menggerutu seraya ia tetap mencari Roni di sekitaran sekolah serta tempat di mana Roni terakhir kali terlibat masalah.


Namun tak kunjung menemukannya. Sedangkan di sisi lain, Roni berjalan pulang ke rumahnya dengan kepala tertunduk. Sesekali ia menendang debu di jalan dan ia tampak sedang memikirkan sesuatu.


“Apa yang dikatakan oleh pria itu, membuatku terus kepikiran. Apa benar saat itu aku seharusnya sudah mati?” gumamnya sembari mengangkat kedua lengannya.


Berpikir bahwa hal yang ia alami beberapa bulan, yang seharusnya mati ia justru masih hidup.


***


Apa yang terjadi pada beberapa bulan sebelumnya?


Roni awalnya hanya murid biasa yang memang suka berkelahi. Tidak ada niatan untuknya ikut aksi tawuran tanpa tujuan yang jelas.


Murid yang tidak suka belajar. Kalaupun ada ujian, ia pasti akan belajar dengan setengah niat. Lulus atau tidaknya ia tidak begitu peduli. Namun tidak ketika sang Ibu menyuruhnya untuk giat belajar.


“Belajar yang benar! Pakai seragam yang rapi! Jangan cat rambutnya lagi! Dan jangan berkelahi!” teriak Ibunya memerintah.


Roni hanya terdiam dengan wajah kesal. Namun emosinya dapat ia tahan karena orang tua yang tersisa hanyalah sang Ibu. Karena itu Roni menahannya.


Perlahan-lahan ia mulai membenahi cara berpakaiannya. Harus rapi dan disisir rambutnya dengan baik. Namun satu masalah, rambutnya yang berwarna merah itu terlalu keren jika kembali di cat hitam.


“Ah, sayang sekali. Hm, baiknya bagaimana, ya? Merahnya juga merah tua. Tapi kenapa semua sadar, ya?”


Roni enggan mengecat rambutnya kembali sedia kala. Lantas ia akan kembali memikirkannya setelah pulang ke rumah.


Di kelas, Roni tertidur dengan nyaman ketika guru sedang memberi materi. Alasan mengapa Roni dapat tidur dengan nyaman dan pulas adalah karena buku paket berdiri menutupi wajahnya dalam keadaan terbuka sehingga guru berpikir bahwa Roni sedang mendengarkan sekaligus mencatat.


Sepulang sekolah ia bergegas pulang ke rumah, akan tetapi jalannya menuju rumah tampak sangat ramai. Pinggiran jalan dipenuhi kerumunan murid-murid berseragam dan memegang sebuah senjata tajam.


“Ada apa ini?” Roni bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi sekarang.


Bingung, ia pun menghampiri salah seorang murid untuk menanyakan alasan mereka yang berkerumunan di sana.


“Permisi, apa aku boleh menanyakan sesuatu? Di sini sangat ramai, atau mungkin ada bazar?” pikir Roni dengan lugu.


“Ha? Bazar? Lo ngomong apa sih? Mana mungkin kita datang ke bazar. Nggak lihat, ya? Nih,” tuturnya seraya menyodorkan senjata tajam berupa sebilah pisau.


“Apa maksudnya? Maksudnya kalian semua lagi mau masak?”


“Hahahaha! Lucu juga nih anak! Masa' tawuran dikira mau masak! Ah, udahlah, ayo kita serang mereka aja. Daripada ngajak ngobrol sama anak yang nggak jelas begini!” Salah seorang lainnya menyerobot.


Seketika Roni terdiam tanpa kata. Dan dari sanalah ia mulai terlibat, awalnya ia berniat untuk pulang namun lawan dari segerombolan murid hendak menyerang Roni.


Duak!!


“Kenapa jadi begini?”


“Ha! Ada yang kuat nih?”


Firasat Roni semakin buruk ia rasa. Segera ia melarikan diri tepat setelah menahan pukulan dari sembarang orang. Jalanan besar pun menjadi terhambat, banyak kendaraan yang tidak bisa melewati mereka.


Di samping takut namun juga terlalu padat karena segerombolan murid. Roni terdorong ke sana kemari.


Buak!


“Hei!? Siapa itu bocah!? Kuat banget!”


Murid dari sekolah lain merasa tertarik dengan Roni. Namun tentu saja Roni enggan menjawab dan segera pergi dari mereka.


Ia masih teringat dengan pesan Ibunya yang mengharapkan Roni yang belajar dengan sungguh-sungguh serta jangan sampai ia berkelahi.


Pulang dalam keadaan babak belur dan berdarah namun beruntungnya sang Ibu sedang tidak ada di rumah, Ibunya pergi berkerja.


Lega sekaligus merasakan sakit di sekujur tubuh. Ia berharap kalau Ibunya pulang takkan mengetahui hal yang barusan terjadi.


Keesokan harinya, ia berwaspada akan dalam rumah. Mendengar Ibunya sedang menyiapkan sarapan di meja, lekas ia melahapnya dengan terburu-buru.


Ibu yang sedang melakukan sesuatu lagi di dapur, Roni pun memanfaatkannya agar ia dapat pergi.


“Ibu, aku berangkat!”


Situasi sekolah yang tidak terlalu berubah. Hanya saja Roni lah yang berubah karena wajahnya babak belur. Tentu semua murid ketakutan, ada satu-dua guru menanyakan keadaannya serta alasan mengapa Roni menjadi seperti itu.


“Kalau dikatakan, kalian pasti akan memakiku,” gumam Roni lantas masuk ke dalam kelas.


Menjelang waktu istirahat, beberapa murid berkerumun di luar gerbang sekolah. Penasaran, Roni pun menghampiri mereka.


“Seseorang mencoret-coret dinding sekolah kita.”


“Jangan bilang ada murid dari sekolah kita yang membuat masalah lagi?”


“Huh, siapa lagi kalau bukan dia. Terakhir kali dia 'kan memukul murid di sekolah lain. Jadi tidak ada jaminan kalau dia takkan melakukannya lagi.”


Beberapa murid itu melirik Roni dengan sinis. Tatapan yang menuduh tanpa bukti. Seketika Roni mengelak.


“Tidak! Kejadian yang lalu pun dia yang memulai!” sangkal Roni.


“Halah jangan banyak alasan, kami semua tahu kok,” ucap murid laki-laki yang memiliki postur tinggi.


Sekitar 3 orang yang berpakaian kurang rapi itu datang seraya merangkul Roni. Seolah mereka sahabat akrab.


“Kau lagi!?” pekik Roni seraya menggeser lengannya.


“Sudah kuduga dia memang murid biadab. Temannya saja begitu!”


Di dinding bertuliskan nama Roni serta kata-kata kasar yang sangat besar. Itu adalah pemicu awal, di mana Roni terlibat dalam aksi tawuran.


Di pinggir jalan yang sama, mereka kembali datang. Dan Roni yang mau tak mau harus melewati jalan itu pun terhadang kembali.


Roni datang dengan tiga murid terburuk dalam satu sekolah. Mereka yang berasal dari sekolah lain justru menyambut kedatangan Roni.


Setelah itu, mereka tiba-tiba melayangkan pukulan serta tendangan yang begitu agresif. Roni tersentak, tak ada jalan lain selain ia harus melawan mereka.


“Lo selalu jalan kaki, apa lu miskin? Oh, ya, gue denger dari temen lo kalau Ibu lo doang yang kerja?”


Pemicu yang kedua, Roni tidak dapat lagi menahan amarah sehingga membuatnya membabi buta. Tapi itu menjadi kelemahannya karena punggungnya terbuka lebar. Kesempatan untuk mereka, menyerang dengan senjata. Sampai Roni dibuat sekarat dan tak tertolong lagi.


***


“Tapi tidak. Aku hidup kembali. Kurasa apa yang guru itu ada benarnya juga.” Roni lantas tersenyum.


Perjalan menuju rumah dengan mengingat masa lalu kelamnya. Hal-hal itu kembali terulang, sekelompok orang yang ia kenal telah datang menghadang.