
Kepulangan Orion setelah apa yang terjadi padanya. Ia menceritakan bagaimana ini semua terjadi, mulai dari pergi ke tempat Chameleon karena undangannya serta ajakan tawaran yang berakhir pertarungan intens.
Seseorang yang bersama Orion, Ketua Radhika melihatnya namun ketika Gista juga tahu dan menanyakan siapa itu, Orion menjawab bahwa seseorang itu adalah orang yang ia percaya. Walau hanya untuk sementara.
Sebagai bagian dari Organisasi NED terutama berada dalam Grup Arutala, sudah seharusnya banyak anggota akan mengorbankan diri dalam tugasnya.
Namun, akan percuma jika tidak sesuai levelnya. Terutama berhadapan dengan Chameleon, sudah banyak cara Gista mencobanya untuk memata-matai Chameleon. Banyak anggota turun tangan namun pada akhirnya tiada seorang pun kembali.
Orion memang bagian dari Grup Arutala. Sudah cukup dengan Api Abadi yang bersemayam dalam tubuhnya, kelak ia akan mampu menjatuhkan Chameleon. Dibanding dengan anggota lainnya, selain Gista, Orion pun mungkin dapat melakukan tugas berat tersebut.
Tetapi di sisi lain Orion sangat tidak suka jika dimanfaatkan dengan cara itu. Seolah-olah ia dijadikan sebagai perisai hidup. Karena Orion juga awalnya sama sekali tidak menginginkan bergabung dengan Grup Arutala melainkan karena desakan dari lingkungan hidupnya.
Itulah mengapa Orion dan Gista mencapai satu kesepakatan. Layaknya seorang pebisnis. Mereka berdua akan saling memanfaatkan walau mungkin tujuan mereka sama.
Gista sempat terkejut heran mendengar bahwa Orion memiliki sikap yang berubah drastis semenjak bangkit. Tapi di sisi lain, Gista berpikir bahwa Orion mencurigai dirinya.
“Orion! Ah, maksudku Pak Orion! Aku memiliki pakaian anti api, semoga cukup untukmu. Ini didesain senormal mungkin,” ujar Mahanta seraya menunjukkan setelan kemejanya.
“Aku berharap ada sesuatu semisal kain yang dapat menutupi seluruh tangan kananku,” kata Orion.
“Ah, begitu ya? Hm, mungkin aku bisa minta tolong Notosuma. Nanti aku akan kembali,” ucap Mahanta lantas kembali pergi.
Tok! Tok!
Ketika Mahanta hendak membuka pintu kamar, seseorang mengetuk pintunya dengan perlahan. Mahanta lantas membukanya dan mendapati seorang perempuan.
“Paman, sepertinya aku mendengar suara familiar di dalam kamar sana.”
“Ade?”
Buru-buru Orion mengumpat begitu Ade masuk ke dalam kamar. Ade menoleh kanan dan kirinya tuk mencari seseorang namun hanya ada seorang wanita yakni Gista.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Gista seraya menghampirinya.
“Aku baik-baik saja kak. Ngomong-ngomong apakah kakak berbincang dengan seseorang? Seorang pria?” tanya Ade dengan perasaan gelisah.
“Apa yang kamu maksud adalah Mahanta? Pria kekar yang sebelumnya di dekat pintu kamar, hanya dia yang bicara denganku tadi,” kata Gista.
Gista menyembunyikan fakta bahwa ada Orion di sini. Lantas, Gista tahu bahwa Orion enggan bertemu dengan siapa pun kecuali dengannya ataupun dengan Mahanta.
“Ah, benarkah begitu?”
“Ya, memangnya ada apa? Kamu terlihat sangat gelisah.”
“Hanya saja aku merasa bahwa dia adalah Ayah kandungku. Meskipun aku tidak bisa melihat wajahnya tapi aku juga seperti ada di posisi pria itu,” jelas Ade.
“Bagaimana bisa kamu berpikir bahwa itu adalah Ayah kandungmu? Bukankah nama Ayahmu adalah Faisal?” tanya Gista.
Lantas Ade menjawab dengan sedikit keraguan, “Harusnya sih begitu, kak. Tapi Ayahku yang bernama Faisal pernah bilang padaku bahwa aku bukan anaknya.”
Wajah Ade tampak murung. Sekilas Orion melihatnya dari celah lemari pakaian. Sedikit ia merass bersalah namun ia benar-benar tidak dapat bertemu dengan anak itu.
Entah anak kandungnya atau bukan.
“Duduklah dulu, Madeira. Tempat ini ditinggali seseorang tapi aku tidak bisa mengatakannya.”
Ade lantas duduk di kursi. Ia masih mencari keberadaan seseorang, bola matanya terus berputar ke segala arah dan berharap memang ada orang yang dicarinya di sini.
“Ngomong-ngomong kak, apakah pemilik kamar ini sedang pergi atau apa?” tanya Ade.
“Hm, yah, sedang pergi jauh. Tugas dari kami cukup berat.”
“Oh, itu pasti berhubungan dengan seseorang yang mati suri, ya.”
Gista menggangguk pelan. Lalu kembali menyeruput tehnya dengan nikmat. Sambil sesekali ia memandang arah luar dari balik jendela.
“Lalu, apa yang dilakukan kakak di sini?” tanya Ade.
“Aku kenal dengan pemilik kamar ini. Jadi kupikir, sesekali merapikan kamarnya tidak masalah,” ucap Gista.
“Tapi bukankah ada banyak pembantu di sini?” sahut Ade.
“Uhuk! Huh ...hm, iya. Hanya membantu meringankan pekerjaan para pembantu.” Gista menjawabnya sesaat setelah ia tersedak.
Gista memang tidak mahir dalam beralasan karena orangnya selalu to the point. Gista sempat dibuat panik sebelumnya.
“Baiklah. Aku ingin bertanya lagi. Apa tempat ini ditinggali seorang pria bernama Orion Sadawira?”
Seketika Gista kembali terkejut. Tak terkecuali dengan Orion. Tak menyangka bahwa Ade menyebut nama lengkapnya, yang itu berarti Ade memiliki ingatan Orion.
“Ingatannya terbagi seperti yang banyak orang katakan. Padahal saat itu anak itu masih belum sadar. Namun kenapa saat Endaru, kasusnya berbeda?” batin Orion bertanya-tanya.
“Dan, saat aku seperti ada di posisi pria bernama Orion, dia mempunyai istri dan itu adalah Ibuku. Tapi entah kenapa tiba-tiba Ibuku bersama dengan Ayahku Faisal,” jelas Ade. Ia sangat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya termasuk mimpi yang dimaksud.
“Untuk saat ini aku tidak bisa menjawab apa pun. Namun kenapa kamu berpikir bahwa pria itu adalah Ayah kandungmu? Selain karena Ayahmu Faisal bilang bahwa kamu bukanlah anaknya.”
“Aku hanya berpikir seperti itu. Entah kenapa sepertinya, pria itu adalah Ayahku.” Ade menjawabnya dengan penuh keraguan.
Jawaban dari Ade masih belum dapat dipastikan lantaran Gista sendiri belum pernah mendengar bahwa Orion memiliki anak. Orion hanya bilang bahwa dirinya bercerai. Tak sekalipun Orion membicarakan seorang anak.
“Nona Gista, saya ...”
Mahanta datang tak lama setelah itu. Ia membawa sehelai kain berwarna hitam untuk Orion. Gista beranjak dari sana serta membawa Ade pergi. Meskipun Ade saat itu masih curiga, karena suara yang ia rasa familiar itu.
“Pak, anak itu sudah pergi. Bapak bisa keluar,” kata Mahanta.
“Jangan panggil aku pak. Seperti biasa saja, aku 'kan sudah bilang beberapa kali.”
Orion pun keluar dari lemari. Kemudian menerima sehelai kain itu.
“Terima kasih, Mahanta.”
“Tidak apa-apa, Orion. Kebetulan Notosuma, salah satu anggota memiliki kain anti api, anti gores. Pokoknya sangat sempurna, untung gratis.”
“Haha, ya terserah saja. Dengan begini aku bisa menutupi tangan kananku yang terus membara. Apinya juga tidak pernah padam, jadi aku sedikit khawatir bila keluar dari sini,” kata Orion.
“Jadi, kau memutuskan untuk pergi? Menemui Chameleon lagi?” tanya Mahanta dengan menunjukkan ekspresi kecewa.
“Ya, begitulah. Lagi pula tujuanku dengan Gista tidak berbeda. Kami memiliki tujuan sama tapi aku tidak suka dengan cara berpikirnya, karena itulah aku membuat suatu kesepakatan tadi,” sahut Orion.
Orion berencana akan pergi, tepat setelah ia mengenakan pakaiannya dengan sehelai kain panjang yang disampirkan ke pundak kanan. Kain itu berwarna hitam dan menutupi seluruh bagian tangan kanannya.