ORION

ORION
Raka yang Menjemput Justru Hampir Dijemput Ajalnya



Pagi-pagi buta sekali, seseorang mengetuk-ngetuk kaca jendela. Orion yang tengah terbaring pun akhirnya membuka kedua mata dan menoleh ke jendela. Mendapati seorang pria, yakni Raka.


“Hei, kau sudah bangun? Cepat, kita harus pergi dari sini. Orion?”


Orion lantas membuka jendela dan melihat ke sekitarnya untuk memastikan tidak ada siapa pun selain Raka.


“Kenapa begitu? Ayo cepat!” pinta Raka seraya mengulurkan tangan.


“Tidak. Ngomong-ngomong kenapa hanya ada kau di sini?” tanya Orion menolak uluran tangannya.


“Jangan banyak bicara. Kita tidak punya banyak waktu. Dan bisa-bisanya kau tertidur pulas di sarang musuh. Memangnya kau tidak takut?”


“Lupakan itu. Lagipula, aku sama sekali tidak bisa tidur dengan tenang. Sesekali memejamkan mata, pasti salah satu dari mereka akan datang dan mengoceh begini ...begitu,” ujar Orion mendengus kesal.


“Oh, ya? Kalau begitu, tunggu apa lagi? Kita harus pergi sekarang. Nona Gista sedang menunggu di tempat lain.”


“Sudah kubilang tidak bisa. Karena mereka terus mengoceh seperti itu, aku jadi tahu ada di mana pihak mereka saat ini,” tutur Orion yang kukuh.


“Memangnya kenapa?”


Tentu saja Orion tidak bisa mengatakannya bahwa salah satu dari mereka, ada kemungkinan besar mengetahui seluk-beluk tentang darah langka dan bagaimana cara ia mengembalikan tubuhnya yang menyusut.


Selain ...


“Di tempat ini, adalah milik Caraka sepenuhnya. Ada Jhon dan Eka, dua orang ini mengincarku. Dan aku merasa harus mengetahui sesuatu di balik mereka.”


“Aku juga tahu itu. Tapi Caraka bukanlah tandingan kita. Dan mungkin sesuai di balik mereka yang kau maksud itu pasti rekan Chameleon? Jika benar begitu, kenapa kau ingin tahu tentang mereka?” Raka bertanya dan menatapnya tajam.


“Tidak bisa aku katakan. Pokoknya aku tidak bisa pergi sebelum mengetahui sesuatu di balik mereka. Pokoknya ini penting untuk hidupku dan juga orang lain!” tegas Orion.


Dok! Dok!


“Orion Sadawira. Apa kau sudah bangun? Aku akan masuk sebentar.”


Terdengar suara seorang pria di luar kamar. Raka yang merasa familiar dengan suara itu, ia pun segera meyakinkan Orion untuk pergi secepatnya.


“Hei, Orion. Dia Caraka. Cepat kemari, aku akan membawamu pergi dari sini,” bisik Raka.


Wajah Raka tampak memucat, ia merasa gelisah begitu Caraka datang. Dan mengulurkan tangannya sekali lagi agar Orion mau pergi dengannya.


Namun Orion menggelengkan kepalanya, ia tak mau pergi karena memang ada suatu urusan yang harus ia selesaikan saat ini juga. Karena jika tidak pasti akan menyesal di kemudian hari.


“Aku tidak tahu apa urusanmu dengannya tapi Caraka, orang itu sangat berbahaya.” Raka memperingati dirinya.


“Apa maksudmu?”


Klak. Pintu kamar pun terbuka, Caraka datang menghampiri Orion.


Perbincangan mereka terhenti saat itu juga. Raka mengumpat di balik dinding dengan kekuatannya yang dapat membuat ia menempel di dinding.


“Orion, ternyata kau sudah bangun. Bagaimana keadaanmu?” tanya Caraka.


“Saya baik-baik saja. Anda sampai datang kemari, mungkin ada yang diperlukan dari saya?” Orion berbalik tanya mengenai kedatangan Caraka tiba-tiba.


“Hanya datang memeriksa kondisimu. Karena sepertinya seseorang telah menjemputmu.”


Caraka kemudian tersenyum, Orion terdiam dengan wajah bingung. Dan berpikir apa yang sedang Caraka bicarakan.


Kemudian Caraka melirik ke arah jendela. Berkata, “Benarkah begitu?”


Hawa yang semula terasa biasa saja pula berubah menjadi sangat mengerikan. Terasa luar biasa hingga tubuh mereka berdua bergidik merinding, namun aura membunuh itu ditujukan pada Raka seorang.


“Tunggu! Tunggu sebentar! Apa yang Anda maksud? Saya tidak mengerti,” kata Orion yang sangat panik karenanya.


“Hm? Jangan bilang kau tidak tahu kalau di balik dinding ada cicak besar yang sedang menguping pembicaraan kita?”


Apa-apaan orang ini. Membicarakan hal yang sulit dimengerti namun Orion berusaha keras untuk melakukan sesuatu. Di kala itu, Caraka mengeluarkan kekuatan api yang besar.


Dari segala banyak orang, hanya orang inilah yang sulit dibaca ekspresinya. Segala tindak tanduknya pun sulit dimengerti sehingga tidak tahu sifat aslinya.


“Maksud Anda? Cicak besar? Itu seperti tokek, ya.”


“Omong kosong,” ketus Caraka dengan tatapan sinis.


“Tadinya aku ingin membawamu lalu pergi. Tapi melihat cicak besar membuatku terganggu. Apa kubunuh saja, ya?” pikir Caraka dengan enteng.


Raka perlahan bergerak, ia jelas tahu kalau Caraka bukanlah tandingannya namun ia masih mencemaskan Orion yang masih berada di dalam sana.


Caraka mengeluarkan api berwarna jingga terang. Menyelimuti tubuhnya dengan menekan hawa keberadaannya sedikit demi sedikit. Bagi Pejuang NED yang lain, mungkin Caraka tidak dijadikan ancaman karena merasa Caraka itu lemah.


Tapi tidak dengan targetnya yang hendak ia serang. Karena sekarang, yang menjadi targetnya adalah Raka, Raka sama sekali tidak bisa bergerak namun terus berusaha menggerakkannya.


“Ya, daripada ada yang mengganggu, akan lebih baik disingkirkan jika bisa!” tukasnya sekali lagi.


“Mungkin ini bisa dijadikan kesempatan,” pikir Orion dalam batin.


Gelora api yang mencekam, membara dan terus menggerus di sekitarnya. Bahkan cat di dinding kamar ini pun mulai rontok karena kekuatan Caraka yang dirasa cukup besar.


Tidak lebih tinggi hingga menyentuh langit-langit kamar namun minyak yang dituangkan berjumlah sangat besar. Sampai menebal, dan bahkan Orion yang berada di sampingnya pun nyaris terbakar.


Tetapi Orion hanya terdiam memandangnya seraya bersiap untuk pergi.


Dap! Di luar, Raka menghilangkan kekuatannya dengan sengaja, ia menjatuhkan diri ketika kedua kaki dan tangannya lemas dan gemetar kuat.


Caraka melompat ke jendela lantas melompat turun hanya untuk menggapai Raka. Di saat yang sama, Orion pergi dari kamar, ia berlari sangat cepat tanpa peduli banyak orang memperhatikan.


“Kesempatan akan selalu datang di akhir waktu. Sebelum pergi, aku harus menyelidiki rumah sakit ini,” gumam Orion.


Drap! Drap!


Langkah kaki yang gesit menuju ke salah satu ruangan yang terbuka. Dalam beberapa waktu, ia tetap di sana dan melihat ke sekeliling untuk memastikan tiada seorang pun datang mengikuti.


Ketika manik-maniknya mendapati seorang pria berambut pirang, langkahnya tanpa sadar mengikuti orang itu. Dr. Eka.


“Mau ke mana dia?”


Ia teringat bahwa dirinya selalu menjadi bahan rebutan antar Eka dan Jhon. Dan tentu saja itu berhubungan dengan darah langka, apa pun caranya ia harus menyelidiki itu.


Kalaupun harus bertanya dengan orangnya langsung.


Ketika membuntutinya sembari berwaspada akan sekitar. Orion memikirkan sesuatu dalam benaknya.


“Sejak kemarin aku menahan diri untuk tidak bertanya lebih lanjut. Waspada dan juga tidak peduli. Namun setelah dokter itu mengetahui segala tentangku, maka aku tidak bisa berdiam diri begitu saja.” Begitulah pikirnya.


Karena Orion pun masih bertanya-tanya dalam benak mengenai ia sendiri.