ORION

ORION
Perubahan Sikap Roni



Hari ke-5. Selama Orion menjadi guru pengganti. Waktu yang ditentukan kurang lebih satu minggu, dan kurang dua hari ia akan pergi dari sekolah ini.


Dan sepertinya, Roni mulai membenahi diri. Dari cara berpakaian, atribut lengkap dan tas sekolah yang memang harus dibawa. Ia membawa banyak buku mata pelajaran, seperti murid biasanya.


Orion terus memantau kelasnya ketika ia tidak sedang mengajar pada jam sekarang. Memantau dari jendela luar, Roni yang menyadarinya pun merasa tak nyaman.


Seorang murid, yang adalah teman sekelasnya duduk di sebelah Roni itu tercengang. Tak hanya murid itu, bahkan mungkin seluruh murid dan guru dibuat terkejut olehnya.


“Roni, sepertinya kamu sudah taubat, ya.” Murid lelaki di sampingnya berbisik.


“Jangan banyak bicara. Guru sedang memberikan keterangan,” sahut Roni.


Lagi-lagi, sebagian murid yang mendengar kalimat itu keluar dari mulut Roni pun terkejut. Sesekali mereka melirik dengan mulut menganga. Mereka heran sekaligus merasa tak percaya.


Roni sudah berubah, entah ada apa sebenarnya. Ini berita baik atau justru buruk? Mereka saling bertukar pikiran, menanyakan apakah Roni benar sehat?


Orion yang sedang mengendap di semak-semak dekat kelasnya, lantas tertawa. Menurutnya lucu kalau ada murid nakal yang benar-benar ingin berubah. Akan tetapi, ini semua berkat Ibunya Roni. Bukan Orion.


“Ya, aku harap dia selamanya seperti ini. Karena aku tidak akan tahu keputusan Gista bagaimana terhadapnya,” ucap Orion dengan suara rendah.


“[Syukurlah, dia belajar dengan giat. Aku jadi khawatir kalau anak nakal seperti itu harus ada di Grup Arutala.]” Mahanta menjawab melalui panggilan yang masih tersambung.


“Tapi, Roni terlalu antusias terhadap dunia kita. Aku cemas kalau dia akan berlebihan. Dan bukannya fokus pada pelajaran, nanti dia—”


“[Orion, segala keputusan ada di tangan Nona Gista. Aku cukup yakin, Nona Gista masih akan tetap menyekolahkannya tanpa terlibat hal-hal seperti kita. Yah, mungkin suatu saat kita akan membutuhkan bantuannya.]”


Panggilan diakhiri tepat setelah bel pergantian pelajaran berbunyi. Orion bergegas menuju kelas untuk sesi mengajar, namun tampaknya ia harus tetap memantau Roni. Karena itu ia sekadar meninggalkan tugas lantas kembali ke kelas Roni.


“Wah, ada Pak Orion?” sapa seorang murid perempuan. Ia mendongakkan kepala dengan wajah gembira.


“Ya, ada yang bisa dibantu?” Orion menanggapinya dengan datar.


“Tidak apa-apa, pak. Saya hanya terkejut sekaligus kagum pada bapak.”


“Kagum?”


“Iya, kagum. Karena bapak, Roni jadi berubah.”


“Bukan. Itu karena kemauannya sendiri serta Ibunya,” tutur Orion seraya menggelengkan kepala.


Suasana kelas ricuh karena kedatangan Orion di daun pintu kelas mereka. Murid-murid di kelas ini sangat senang akan kedatangannya namun tidak dengan Roni yang menutupi wajahnya dengan buku paket.


“Jangan bilang bapak datang ke sini karena Roni?”


“Ah, ini hanya kebetulan. Kalau begitu, saya pamit ya.”


Orion terburu-buru pergi dari sekelompok murid. Lantaran ia tak sanggup menerima ocehan yang selalu masuk ke telinga kanan. Terlalu berisik dan menganggu.


“Ya, sudahlah. Roni sudah berubah, iya 'kan?” guman Orion.


***


Di perpustakaan sekolah. Ruangan yang cukup luas bahkan lebih luas dari kelas murid. Ruangan yang dipenuhi banyaknya rak-rak besar dengan buku-buku tertata rapi.


Bau buku serta kayu bercampur jadi satu. Sepintas Orion melihatnya dari balik jendela luar.


“Ah, ternyata dia di sini.”


Orion menemukan siapa yang sedang dicarinya. Yakni Roni. Tidak menyangka akan melihat pemandangan langka seperti ini, lantas Roni tengah duduk sembari membaca satu buku. Dan juga setumpuk buku ada di sampingnya.


“Wah, apa yang dia lakukan? Membaca buku sebanyak itu?” Orion terkejut sekaligus merasa bangga terhadapnya.


Sruk! Sruk!


Sesekali Roni menggaruk kepala dan membalik setiap halaman pada buku. Kadang juga Roni menggerutu tampak ia sangat kesusahan.


Orion bersembunyi dalam semak-semak. Menunggu ke mana tujuan lelaki tersebut.


“Hu, dia jadi rajin belajar? Apa sudah waktunya ujian? Uh!”


Lelaki itu sangat terkejut ketika seseorang membekap mulutnya dan menyeret mundur tubuhnya ke belakang. Lelaki tersebut meronta-ronta, meminta dilepaskan namun tetap tidak bisa. Bahkan menggerakkan satu jari tangan orang yang membekapnya pun sangat sulit.


“Jangan ganggu murid yang sedang belajar,” bisik Orion kepadanya.


Seketika lelaki itu merinding. Hendak berteriak namun suaranya tertahan. Alhasil, ia tak sadarkan diri di tempat.


Klak!


Kaca jendela perpustakaan terbuka. Orion lantas masuk dari sana dan mengagetkan Roni yang sedang membaca.


“Kau lagi?”


“Ah, kata-kata itu lagi. Rasanya sudah lama sekali kita tidak bertemu ya, Roni. Perlu aku ajari sebentar tentang mata pelajaran yang sedang kamu baca?”


“Ya, mungkin jika kau bisa. Fisika.”


Orion bungkam lantas tidak terlalu bisa memahami pelajaran tersebut. Ia mengalihkan pandangan dan kemudian mengambil satu buku untuk dibaca.


“Aku anggap kau tidak bisa melakukannya karena pelajaran fisika. Fisika itu penyiksa, aku tahu kok. Ini bahkan lebih sulit dari matematika,” sindir Roni.


“Apa kedatanganmu di sini karena ingin menjemputku?” tanya Roni.


“Belum waktunya,” jawab Orion seraya menutup buku dan meletakkannya kembali di atas meja.


“Oh, begitu.” Roni melirik ke arah tangan kanan Orion. Rupanya ia masih sangat penasaran.


“Jangan melirik ke arah tanganku begitu. Aku tidak mau memperlihatkannya karena terlalu mengerikan. Bahkan saat aku mandi saja, air yang mengalir di tangan ini menguap dalam sekejap.”


“Oh, begitu. Ya sudah. Lagi pula aku tidak bertanya. Oh, tunggu! Airnya langsung menguap? Itu artinya api itu cukup panas?” tanya Roni kembali penasaran.


Orion menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Setelah beberapa saat berlalu, Orion menanyakan sesuatu pada Roni.


“Roni, apa yang kamu inginkan untuk saat ini?”


“Aku akan mengikuti perintah Ibuku untuk selalu belajar. Tapi setelah lulus, aku tidak mau kuliah karena ingin menggantikan Ibu bekerja.”


Jawabannya terkesan, ia enggan pergi bersama Orion. Ia juga menyadari bahwa dirinya bukan lagi orang biasa melainkan orang yang memiliki kemampuan di luar batas yang wajar.


Namun sebagai manusia, entah masih hidup atau sudah mengalami kebangkitan, tentu ia memiliki keinginan tuk kembali ke kehidupan normalnya.


“Aku tidak akan membawamu pergi jika kamu tidak mau.”


“Lakukan saja tugasmu. Asalkan aku bisa bertemu Ibuku.” Roni menjawabnya namun masih bimbang, wajahnya terlihat kebingungan.


Orion lantas pergi dari perpustakaan. Ia bahkan belum menjawab kapan pastinya Roni akan pergi bersamanya.


***


Di hari dan waktu yang sama. Seorang murid laki-laki tengah berdiri di jendela lantai tiga. Semilir angin melewati sela-sela tubuhnya.


Sudut mata menurun sendu dengan tatapan kosong mengarah ke bawah. Tanpa mengenakan sepatu, nampaknya ia berniat untuk melompat ke bawah.


Sebuah aksi? Tentu bukan. Ini akan menjadi sebuah kejadian baru lagi di sekolah.


“Pak Orion!” panggil seorang guru perempuan yang berlari ke arahnya dengan wajah panik.