
☠BAB 136 Berbaris Dengan Para Elit
“Chameleon kita bertemu lagi,” ucap Gista dengan tatapan yang dingin.
“Heh, aku paling benci denganmu, Nona!”
Pembekuan tubuh mereka terhenti ketika sampai di bagian tengah tubuh. Perlahan uap panas ikut muncul kala kristal es itu sangat dingin.
Crak!!
Orion melepaskan diri dari sana. Dan segera ia kembali mengikat mereka berdua dengan membentuk cincin besar.
“Kau datang, Gista.”
“Aku terlambat,” sahut Gista pada sapaan Orion.
“Mahanta yang lebih terlambat daripada dirimu.”
Tap, tap!
Gista melangkah menghampiri mereka lebih dekat. Jejak kaki dari sepatu hak tingginya bahkan mengeluarkan uap dingin ketika ia berjalan.
“Orion, kau lupa kalau ini tubuh siapa? Aku meniru wujudmu tapi tubuh yang aku gunakan adalah tubuh seorang murid,” ucap Chameleon.
Sesaat Orion melirik ke arah Gista. Lantas bergerak mundur seraya ia melepaskan cincin api tersebut. Mereka berdua terbebas namun hanya selama beberapa detik saja.
Sraaaakk!!
Lapisan es menyebar ke sekeliling mereka. Melapisi jalanan dengan es begitu juga dengan dinding setiap rumah. Lapisan esnya tak berhenti hanya sampai saat itu saja, lantas Gista mengayunkan lengan dan membuat lapisannya semakin menjulang tinggi menutupi langit.
Menghasilkan sebuah maha karya yang amat besar. Tampak beberapa orang yang berada dalam rumah merasa takjub akan es yang muncul. Kagum akan keindahan serta artistiknya.
“Kita terkepung, Tuan Chameleon.”
“Hm, ini bisa masuk berita. Semua orang akan membicarakan ini di luar dalam. Aku jadi penasaran, apakah akan diadakan sebuah konferensi pers?” celoteh Chameleon.
Sorot mata yang tidak berubah namun dalam benaknya ia merasa was-was terhadap Gista. Chameleon menggerakan kedua lengan, mengangkatnya tinggi. Dalam sekejap bayangan-bayangan muncul membentuk benda tajam dan menusuk langit-langit esnya.
“Ah, rasanya dingin. Tadi kupikir dengan bayangan pasti mudah menghancurkannya. Tapi tidak, apa dia bertambah kuat?”
Clank!!
Belum lagi harus melawan Orion dkk. Lengan dengan sebilah pedang itu berupaya menyentuh Chameleon. Akan tetapi, wanita itu selalu menghalanginya.
“Minggir! Aku tidak ada urusan denganmu!”
“Tapi ini tugasku.”
“Baiklah kalau begitu.”
Kesal karena jalannya dihadang. Namun Orion tetap menyerang Chameleon meski dari jarak jauh sekalipun.
Hanya dalam sekali ayunan, serangan beruntung berasal dari api yang tajam melewati wanita itu dan berlari menuju Chameleon. Hingga berhasil menggores bagian pinggang ke bawahnya, Orion cukup puas.
“Wah, wah! Orion sangat agresif rupanya!”
Tak lama setelah serangan Orion. Datang serangan dari arah depan menuju ke satu sasaran yakni Chameleon. Beberapa kristal es menghujam dirinya hingga membuat ia sulit bergerak lantas terlambat bereaksi.
“Gista!! Keluarkan Chameleon dari tubuh anak itu!” pekik Orion memberi peringatan terhadapnya.
Karena tubuh Chameleon sekarang tidak dalam kondisi berwujud lantas ia mengambil alih tubuh seorang murid dengan merasukinya, maka Orion harus memberitahukan hal tersebut pada Gista.
Namun serangannya tak sedikitpun lemah. Justru semakin kuat. Gista berniat mengurung Chameleon dalam kristal es disertai duri-duri yang menancap.
Begitu langkah Chameleon sempit. Wanita itu pergi untuk menolongnya namun takkan Orion biarkan, ia berlari mengejar lantas mencengkram leher dan menjatuhkan tubuhnya ke jalanan.
“Gista benar-benar tidak mengurangi sedikit kekuatannya. Dia ini,” gerutu Orion seraya ia menahan tubuh wanita itu (rekan Chameleon).
“Hei tunggu sebentar!” pekik Chameleon dalam wujud bayangan. Bergerak dan kembali menggunakan wujud seorang murid ke hadapan Gista.
“Oh, apakah kau berniat memohon ampun?” ejek Gista.
“Mana mungkin! Tapi, aku hanya menginginkan pria di sana! Orion!” tuturnya menegas.
Gista menggeser kaki kanannya, lantas lapisan es yang hampir menutupi langit-langit itu menjadi pecah berkeping-keping. Tanpa diselingi beberapa waktu, batu es dengan ujung yang runcing muncul mendadak di antara mereka.
Seketika Chameleon tersentak lantas melangkah mundur saking terkejutnya dan nyaris ia tertusuk benda itu.
“Aku rasa kau bisa membicarakannya langsung pada Orion. Karena aku tidak berhubungan dengannya langsung meski disebut sebagai rekan.”
Peluh bercucuran serta rasa takut terhadap Gista pun semakin melekat rasanya. Hari ini Chameleon benar-benar tidak beruntung.
Ketika berhadapan dengan Gista yang sulit dihadapi. Ia mendadak kehabisan cara dan sikap sombongnya itu tidak lagi ditunjukkan.
“Nona Gista, lagi-lagi memaksakan diri!”
Musuh bagi Chameleon kembali datang. Meski hanya seorang saja, namun Pejuang NED satu ini adalah Mahanta. Lokasi yang tepat, dan belum sempat ia memakirkan mobilnya, ia akhirnya pun terpaksa memakirkannya di pinggir rumah seseorang.
Wajah Chameleon semakin pucat.
“Hei, kira-kira apa yang akan terjadi jika para elit berkumpul?” Salah seorang anggota sedang asik bergosip dengan lainnya.
“Kau pasti anak baru. Saat Nona Gista, Tuan Mahanta serta Tuan Notosuma bertarung melawan Chameleon, sudah pasti Chameleon takkan berkutik,” ujarnya seraya menyeringai serta memperagakan ketika kepala terpenggal.
“Tapi dia bukan Tuan Notosuma. Melainkan elit yang masih baru lho.”
Salah satu dari mereka yang letaknya tidak berjauhan dengan lainnya menunjuk ke arah tengah jalan.
Mendapati ketiga elit yang mereka sebut baru saja bergerak secara serentak. Orion menyerang dari sisi kiri, Mahanta menyerang dari sisi kanan, mereka berdua menggunakan serangan langsung berupa pukulan.
Sedangkan Gista yang berada di depan Chamaleon, memblokir celah agar ia tak kabur. Sekaligus menyerang dengan tusukan es yang muncul di bawah.
Gerakan yang bersamaan itu membuat Chameleon kebingungan. Dari sisi manapun ia terjebak. Di belakang pun sudah ada salah satu anggota yang siap melakukan jaring penangkapan padanya.
“Oh, s*al!” Chameleon memaki lantas ia pukulan mendarat di wajah sisi kanan dan kirinya secara bersamaan dalam posisi sulit untuk menghindar.
Bruk!
Chameleon tumbang. Ia tak sadarkan diri dan mulai meninggalkan tubuh murid tersebut.
“Hei, nak! Kau tak apa? Bangunlah!” teriak Orion sembari menampar wajahnya selama beberapa kali.
“Semuanya berwaspada akan sekitar!?” pekik Gista memberi perintah kepada semua anggota yang berada di sekitar.
Meskipun saat itu serangan telak mengenai Chameleon. Namun mengingat dirinya berada dalam wujud ruh lalu merasuki tubuh seseorang, maka secara langsung ruh Chameleon keluar dengan sendirinya.
Alasan Gista menyuruh mereka untuk berwaspada lantaran, dalam wujud ruh, Chameleon mungkin akan mendapatkan kesempatan untuk melawan mereka dengan merasuki tubuh dari salah seorang di antara mereka.
“Hei, anak ini masih tidak sadar. Apakah dia tidak apa-apa?” tanya Orion yang panik.
“Tenanglah Orion. Anak itu baik-baik saja, dia hanya tidak sadarkan diri. Tapi lukanya harus segera ditangani,” ucap Mahanta.