ORION

ORION
Pertarungan Mahanta dan Ketua Meera Melawan Sera dan Adi Caraka



Sesuatu yang bisa saja mustahil ada namun tidak dengan tangan Chameleon. Kali ini, ia terlihat seperti mengendalikan banyak orang dengan beberapa helai benang. Dan orang-orang itupun bergerak dengan dipenuhi kekuatan hebat.


***


Memisahkan setiap bawahan Chameleon satu persatu, berhasil! Dengan trik dan mengandalkan kekuatan, mereka dapat melakukannya.


Di satu sisi, Gista telah menahan pergerakan Chameleon dengan sepenuhnya membekukan tubuh Chameleon menjadi batu es, tapi seperti dugaan yang tak pernah disangka-sangka, akhirnya Chameleon mulai menunjukkan perkembangan kekuatan jahatnya.


Mengendalikan banyak orang-orang yang telah memiliki kekuatan supernatural, itu hal yang aneh karena Chameleon sendiri yang mengendalikannya tapi ini nyata!


“Kalian semua! Kejar dan serang setiap musuhku!”


Menghadirkan banyak rekan, tidak, boneka tak bernyawa, Chameleon sungguh mengerikan.


Kemudian, di lain sisi. Bagian barat dari kota S-Frans. Mahanta menggiring Sera hingga sejauh ini dengan kekuatan anginnya. Menggunakannya seolah menggunakan pegas di kedua kaki, Mahanta terlihat menggunguli Sera.


“Kau ...menggiringku sejauh ini untuk apa? Jangan kau akan melawanku lagi? Sudah dua kali ...ah, maaf. Maksudku, satu kali kau kalah dan kau masih berniat membalasku?”


“Terserah apa katamu. Karena aku hanya perlu melawanmu. Kali ini tidak seperti yang dulu lagi,” ucap Mahanta serius.


“Masa' kau mau melawan wanita sih?”


“Oh, atau kau ingin melawan Ketua Raiya? Dia kuat loh. Kau bukanlah tandingannya, aku jamin kau akan langsung mati tenggelam di dalam airnya dalam sekejap.”


“Cih, berhenti mengatakan omong kosong!”


Syat!


Cakarnya semakin panjang dan tajam, lekuk dari setiap kuku hitam itu mengeras seakan masih menguat kembali nantinya. Tapi yang Sera serang bukanlah Mahanta.


“Kau lihat ke mana, wanita serigala?”


Hanya angin, kabut yang menciptakan ilusi dari angin yang tebal, Mahanta dapat membuat salinan wujudnya dan dapat mengelabuhi pandangan musuh.


“Kau yang menggonggong lebih dulu!” cerca Sera berbalik badan, menghadap Mahanta yang kini berada di belakangnya.


Namun, lagi-lagi Sera hanya menyerang kabut ilusinya. Lagi-lagi Mahanta menghilang entah ke mana. Terlihat Mahanta tak menseriusi pertarungan ini, Sera geram karena sulit mengetahui lokasinya saat ini serta beberapa kali terdengar ia mencaci-maki Mahanta.


“Aku di sini!”


“Kau!!”


Sera adalah wanita temperamental, tak sulit melawannya kecuali dirinya dalam kondisi yang tenang. Karena itu akan jauh lebih berbahaya. Jika biasanya mahluk buas akan semakin kuat jika mengamuk, justru lain cerita kalau Sera. Ia akan makin melemah, di pikirannya.


SYAT! SYAT! SYAT!


Berakhir menyerang secara membabi buta, mencakari semua kabut ilusi Mahanta bahkan hingga mengenai jalanan, gedung di sekitarnya dan bahkan dirinya sendiri.


“Kau di mana, anjingnya Gista!?” pekik Sera dengan suara nyaringnya.


Mengalah-ngalahkan auman banyak binatang buas, Sera telah benar-benar hilang akal dan inilah saatnya Mahanta menyerang.


Tanpa ragu ia menggunakan perluasan jangkauan serang, mengibaskan kedua lengan dari atas ke bawah tanpa mengepalkannya, membuat angin kencang mendorong Sera semakin jauh. Lalu disusul dengan sabit angin berjumlah ratusan menyayat sadis setiap daging keras milik Sera yang bertipe mahluk buas langka.


“Argh! Sa-sakit ...!”


Meski tidak bergerak karena tubuhnya yang berkulit keras babak belur oleh sayatan-sayatan, tampaknya Sera masih memiliki kesadarannya.


“Sungguh kuat. Dagingnya semakin keras. Ini gawat, kalau dia berlari mendekatiku maka tamatlah riwayatku,” gumam Mahanta sejenak diam berdiri dengan berjarak puluhan meter dari posisi Sera saat ini.


“Yah, tapi itu berlaku jika dia masih punya stamina yang cukup?” lanjutnya kemudian kembali bersiap akan serangan lanjutan.


Tubuhnya terlihat masih bertahan dari semua serangan yang diarahkan hanya kepadanya saja. Tetapi, Mahanta sendiri tak yakin bahwa Sera masih dapat bertahan. Secara fisik kuat namun entah bagaimana cara ia menguatkan bagian mentalnya.


“Aku harus berjaga jarak dengannya.”


Pergerakannya yang sedikit demi sedikit terlihat, Mahanta telah bersiap tetapi tiba-tiba saja gerakannya jadi lebih cepat. Begitu pulih, Sera melesat ke arahnya dengan cepat lalu mencakar wajah Mahanta.


“Ergh! Terlalu cepat!”


Mahluk buas tak hanya kuat namun cepat? Baru kali pertama Mahanta merasakan dan berhadapan langsung dengannya sekarang. Yang mana Mahanta harus bertahan serta menyerang.


“Kau ...Mahanta, bukan?”


“H-Ha?”


Berulang-ulang kali Sera mencakar Mahanta yang tengah bertahan dengan kedua tangannya, ia sulit menyerangnya balik dan terus terdorong langkahnya tanpa mendapatkan kesempatan bahkan untuk bernapas sedikit saja.


“Benar 'kan? Kau kuat, tapi tidak lebih kuat dariku!”


Hanya sedetik Sera berhenti menyerang secara brutal, kedua lengan Mahanta yang sudah terkoyak serta napasnya tak beraturan pun jatuh, terduduk di atas tanah.


“Kau takkan mungkin mengalahkanku!” pekik Sera seraya melayangkan tangannya cepat, kuku-kuku tajam itu hendak menyerang bagian wajahnya lagi.


Segera Mahanta memasang kedua tangannya, tapi Sera kemudian terhenti. Ia tidak melakukannya.


“Eh?”


“Jangan lengah, dasar amatir!”


Linglung membuat Mahanta tersentak, keseluruhan ototnya menjadi tegang dan serangan Sera sebenarnya tidak berhenti melainkan berpindah arah tuk mengincar bagian perutnya.


“URGH!”


Cakar Sera menembus perut hingga ke punggungnya, Mahanta memuntah darah segar lantas tubuhnya menggantung dengan rasa sakit tak tertahankan.


“Benar. Di matamu aku terlihat amatir, tapi—!” Mahanta berteriak sembari memegang kedua pundak Sera dengan cengkeraman yang kuat.


“Aku tidak pernah berpikir, wanita serigala,” tutup Mahanta dengan mata melotot tajam.


Cakar tetap bertahan pada tempatnya dan posisi berdiri Mahanta saat ini bisa dikatakan di antara hidup dan mati, jika cakar itu terlepas dari tubuhnya maka Mahanta akan mengalami pendarahan hebat lalu mati.


Dengan mempertaruhkan siapa yang lebih kuat dan pintar, Mahanta mencengkram kedua pundak Sera lalu membuat angin di sekitar mereka.


Beberapa orang yang hendak melintas lantas mengurungkan niat mereka, sebab hawa kehadiran mereka berdua sungguh menekan mereka hingga rasanya akan tewas jika nekat menggunakan jalan ini.


“Nah, cobalah hindari ini! Kuperingatkan, cakarku jauh lebih tajam!” teriak Mahanta.


Angin kencang menghembus mereka berdua, mereka yang tetap berada di posisi tak semudah itu bergeser karena angin tersebut tapi hal yang membuat Mahanta yakin dengan serangannya ialah dengan kekuatan angin itu sendiri.


Yang tipis takkan selalu berwujud tipis.


Syakk!


Satu goresan terlihat di punggung Sera.


“Apa yang terjadi?”


Sera tengah berusaha untuk melepaskan cakarnya dari tubuh Mahanta, akan tetapi Mahanta sudah menahannya lebih kuat, ia kesulitan untuk menariknya keluar.


“Tidak akan!”


Selanjutnya goresan kembali muncul, itulah sayatan angin yang lebih tajam dari cakar milik Sera. Selanjutnya muncul dari segala arah yang hanya menyerang Sera seorang.


Mengincar, punggung, tangan, kaki, perut, leher, lalu kepala. Sayatan bagai pisau tak berwujud namun tajamnya sangat berasa inilah mematikannya. Kali ini, Sera takkan berkutik.


Tidak, mungkin akan tumbang?


***


Pertarungan sehidup semati dimulai!


Mempertaruhkan nyawa sampai titik darah penghabisan, tapi di satu sisi mereka akan tetap bertahan hidup dan menang lalu kembali bergabung.


Seperti Sera dan Mahanta, mereka yang telah saling adu kekuatan telah mengerahkan hampir seluruhnya bahkan sampai terluka di sana-sini. Namun, perlawanan Mahanta cukup sengit, ini sedikit merugikan Mahanta karena lawannya adalah tipe monster, wanita serigala bernama Sera.


Sementara itu, di bagian barat daya. Letaknya cukup dekat dengan bagian barat, pertarungan Mahanta dan Sera berada saat ini. Di barat daya, terdapat lapangan luas yang kebetulan tak sedang dipakai.


Di sanalah, Ketua Meera berada di posisi 6 melawan Adi Caraka, mantan anggota serta Ketua dari organisasi NED. Pengkhianat sejak awal, bawahan Chameleon no.8. Ia lemah, tapi keahliannya yang paling menonjol adalah medis.


“Aku tidak berpikir bahwa kau bisa mengalahkanku, Raiya.”


“Jangan banyak omong. Tugasku di sini adalah menahanmu, jika bisa mengalahkanmu.”


“Lihat? Kau sendiri tidak yakin apa bisa mengalahkanku?”


Tidak akan ada orang yang melihat keberadaannya kecuali kegaduhan sebentar lagi akan dimulai.


Keduanya lantas bergerak secara bersamaan. Berniat mencuri start, mengambil celah yang sempat terlihat dalam waktu singkat.


“Eh? Siapa? Apa yang terjadi?”


Saat itu, secara tidak sengaja ada seorang wanita berambut panjang yang melihat pertarungan itu secara langsung. Dengan mata kepalanya sendiri, ia tercengang sekaligus takjub dan ngeri sendiri.


Hari ini terasa dingin di kota S-Frans, ia lebih berpikir bahwa hawa dingin ini bukanlah karena cuaca atau musim dingin yang akan datang melainkan karena pertarungan yang terjadi ini.


“Karena ini? Atau karena pertarungan lainnya? Aku penasaran, apakah sekarang musimnya peperangan?”


Wanita itu kemudian berlalu pergi meninggalkan wanita dan pria yang saling menyerang satu sama lain.


Antara api dan air yang saling menghantam satu sama lain, kelak, kekuatan yang saling berlawanan ini tiada habisnya. Atau mungkin memang sejak awal, keduanya takkan mudah tumbang namun juga bisa tumbang secara bersamaan.


Ketua Meera mengalirkan air yang lebih sedikit dari biasanya. Karena ini lapangan luas tanpa ada sedikit saja air terlihat, ia harus menggunakannya dengan sedikit lebih hati-hati dan selalu awas terhadap api yang tercipta dari panas.


“Sudah cukup!”


Caraka akan mengakhirinya karena berpikir ini membosankan, ia menggunakan kedua sayap tuk terbang sehingga Ketua Meera tak dapat mengejarnya.


“Jangan kau pikir kau bisa melarikan diri,” ucap Ketua Meera.


Setengah dari ingatannya sudah berhasil pulih kembali, ia memanfaatkan ingatan yang baru saja kembali itu dengan mengeluarkan segenap kekuatan, sesuai yang telah lama ia pergunakan.


Caraka melemparkan setiap bulu pada sayap berapinya, berjumlah puluhan untuk sekali kepak lalu untuk yang kedua kalinya mengepakkan sayap, kini berjumlah ratusan.


Tapi tak peduli dengan banyaknya serangan bertubi-tubi dari langit, Ketua Meera tak gentar dan tetap berdiri di posisinya tanpa berpindah sedikit saja. Ia mengangkat lengan kanan ke depan atas, air yang membentuk menjadi dinding perisai melebar dan dapat menghanguskan semua bulu api tersebut.


Seperti terjebak dalam sarang laba-laba, serangan Caraka sama sekali tak mempan, justru terlahap oleh air Ketua Meera.


“Kau dulunya mengambil posisi ketua ke-3 bukan? Tapi kenapa kekuatanmu sama sekali tak meningkat? Hei, Adi Caraka!”


“Raiya, orang sepertimu memang pandai sekali bicara. Tapi kau jelas tahu bahwa api akan menang bagaimanapun caranya. Kau tahu lava, bukan?”


Swwuushhh!!!


Caraka mengepakkan sayapnya dengan kencang, menyemburkan awan panas hingga rasanya kulit Ketua Meera akan terbakar. Sedikit demi sedikit ia terus bertahan dengan pijakan berairnya. Namun lama-kelamaan pandangan Ketua Meera mengabur akibat awan panas menyeruak di sekitarnya, seperti ia terkurung dalam ruang yang sempit dan gelap.


“Dia mencoba untuk membunuhku dengan ini? Apimu bahkan tak sepanas api Orion,” gumam Ketua Meera.


Sudah tidak ada waktu untuk menahannya lagi. Apa yang ia perlukan saat ini hanyalah menggunakan kekuatan memperluas jangkauan serangnya, saat ini juga!


“Adi Caraka, dari awal kau memang sampah! Akan kuhabisi kau, lalu Chameleon!” teriak Ketua Meera seraya mengibaskan kedua lengannya menyamping.


Air yang bergetar-getar dalam pijkannya, merubah bentuknya dari yang cair menjadi uap akibat awan panas yang dihembuskan oleh Caraka. Mengingat bahwa panas akan menguapkan airnya, Ketua Meera memilih untuk sengaja menunjukkan celah besar.


Sekeliling lapangan luas hingga keluar dari areanya terdapat genangan air yang setinggi 5 senti. Lalu ia kemudian berlari dan saat merasa dirinya sedikit lebih dekat dengan posisi Caraka di atas udara, segera ia melompat setinggi-tingginya.


“Heh, dia melompat? Mau apa?”


Caraka yang meremehkannya karena berpikir Ketua Meera takkan bisa melakukan apa pun saat melompat, ia nekat mendekatinya dan membuat serangan hujan bulu bagai panah api ke arahnya.


“Kita lihat apa yang—”


Senyum serta tawa ejekan Caraka yang meremehkan seorang wanita, langsung menghilang dalam sekejap begitu Ketua Meera membungkus tubuh Caraka dengan bola air.


Nyatanya, Caraka hanya menyerang ke arah bawah serta Ketua Meera yang dilihatnya bukanlah Ketua Meera, sebab yang asli ada di belakangnya.


Ketua Meera memanfaatkan panas milik Caraka sendiri yang mana akan membuat ilusi secara tidak ia sadari, sehingga Ketua Meera dapat dengan mudah menyergapnya seperti ini.


Tapi tentu serangan ini memiliki resiko sendiri, karena ilusi panas itu hanya bergerak dalam waktu beberapa detik, ketika Ketua Meera melompat ia segera turun kembali ke bawah sementara ilusi panas lainnya tetap menuju ke atas sesuai pandangan Caraka.


Menunggu Caraka sedikit turun lebih ke bawah, barulah Ketua Meera kembali melompat dan menyerangnya dengan serangan instan.


Bola air itu jatuh dan pecah, Caraka dalam wujud tanpa sayap berapi itu kini tengah tersedak-sedak karena banyak air telah masuk ke dalam paru-parunya.


“Bagaimana? Sudah puas?”


“Bagaimana apanya? Kau lengah, tahu!”


Tadinya Ketua Meera berpikir, Caraka takkan mampu menghasilkan api begitu air menyentuhnya. Itulah kelemahan pengguna kekuatan serang- api paling fatal dan mumpuni.


BRAKK!!


Tapi yang terjadi kini sulit dipercaya, Caraka berhasil memunculkan kembali sayapnya lantas menghempas tubuh Ketua Meera hingga terlempar cukup jauh hingga kepalanya terbentur sedikit jalanan.


“ARGHH!!!!”


Terbentur sedikit, namun tetaplah fatal bagi Ketua Meera. Karena pada saat yang bersamaan pula, memori ingatan yang sebagiannya menghilang telah muncul di saat tidak tepat, dan secara beruntun tanpa ampun sehingga membuat Ketua Meera syok lalu berteriak seperti itu.


“Suara itu?!” Lalu Mahanta yang berada dekat dengannya, kini mendengar jeritan lantang itu. Untuk sesaat ia lengah, reflek menoleh ke sumber suara.


Cruaakk!


“Kau melihat ke mana?!”


Karena lengah sedetik saja, membuat Mahanta terserang di bagian tulang belikatnya oleh cakar Sera.