
Ingatan Membekas, Kehancuran Kota Y-Karta
Hari demi hari terus ia lewatkan tanpa henti. Namun, kenapa selalu mendapatkan nasib buruk seperti sekarang ini?
Terbesit olehnya bahwa penderitaan pada takdir ini benar-benar tidak membuatnya untuk tetap hidup. Ya, jelas saja. Orion ingin mati.
Tetapi, darah yang mengalir dalam dirinya tak bergerak sesuai kata hati. Berbaring terbalik dan sulit dikendalikan, layaknya ia adalah boneka bongkar pasang.
“Kh, meski aku mendapatkan semua yang aku ingin tahu. Tapi ada perasaan yang tak jelas ini mengalir dalam otak ke sekujur tubuhku.”
Ia bersembunyi berada di dekat tumpukan sampah. Berharap Sima tak lagi mendatanginya.
“Tidak, tidak! Aku sudah tidak punya urusan dengan wanita itu! Lagi pula masa lalu yang Endaru hendak katakan sudah aku ketahui. Meskipun aku sama sekali tidak melihat keberadaannya ataupun keberadaan Gista dan kelompoknya.”
Itu benar. Ingatan itu tidak muncul secara teratur. Hanya sebentar, sebentar saja. Diperlihatkan dengan berbagai potongan yang ada. Dan yang paling membekas di antara semua potongan ingatan, adalah ketika pria itu memainkan kecapi untuk membunuh semua penduduk.
“Lalu ...apa lagi? Uh, sulit mengingatnya lagi karena ingatan itu masuk lebih jauh lagi. Hm, Gista, Endaru, tapi aku sama sekali tidak melihat Mahanta.”
Orion kembali terbenam dalam separuh ingatan yang tersisa. Kini ia berada di sosok anak kecil, yang melihat kedua orang tuanya terbunuh dengan pedang yang menghunus ke tubuh mereka.
Pedang es, kilauan bak permata bersinar terang. Mengingatkannya akan senjata Gista. Sontak, Orion terkejut.
“Tunggu ...tunggu, kenapa aku melihatnya dari sudut pandang anak kecil? Jangan bilang Endaru? Kalau sesuai yang Endaru katakan. Mati dan kebangkitannya saat dia masih kecil. Orang tuanya juga terbunuh karena Gista.”
Meski apa yang ia lihat adalah kebenaran.
“Pria itu rekan Chameleon, benar? Lalu, kenapa bisa dia membenamkan ingatan banyak orang kepadaku? Apa yang sebenarnya dia rencanakan?”
***
Setelah Adi Caraka yang berada di posisi terlemah, Orion telah bertemu tanpa sengaja dengan rekan Chameleon lagi. Ada kemungkinan ia berada di posisi terkuat, entah yang keberapa tapi yang pasti orang itu dinilai kuat oleh Orion.
“Kau pasti melakukan sesuatu padanya? Melihatmu yang kembali muda, aku jadi tahu.” Sima menyindir. Ia memancing pria itu agar mengatakan semuanya.
“Huh, memangnya kenapa? 'Kan sudah kubilang ini bukan urusanmu, Sima. Kau cuman bawahan orang terlemah, buat apa memastikan yang bahkan kau tak berhak untuk melakukannya?” sindir pria itu dengan ejekan.
“Katakan, di mana dia!?” tanya Sima dengan mengancam serta mengacungkan senjata.
“Kau berani sekali melakukan hal ini.”
Trak! Ketika satu jari pria itu menurunkan sebilah pisau, rasanya seperti menyentuh senjata hidup.
“Aku bisa membunuhmu sekarang. Tapi kalau begitu jadi tidak asik,” ucap pria tersebut seraya memalingkan wajah cemberut.
Sima merasakan tekanan aura yang luar biasa mengerikan darinya. Pria dengan tatapan culas dan senyum yang selalu disunggingkan ini benar-benar sulit ditebak jalan pikirannya.
Kepribadian yang lebih suka hiburan. Selain itu, masih samar-samar. Terutama tujuan aslinya dengan membagi ingatan pada Orion.
Drap! Drap!
Sima pun akhirnya berlari pergi menuju ke suatu tempat yang mungkin ia akan menemukan Orion. Meski sulit, Sima samar-samar merasakan keberadaan Orion berkat segel yang ia berikan beberapa waktu yang lalu.
Sesampai dan berada dekat dengan tempat persembunyian Orion.
“Dia ada di dekat sini,” gumam Orion merasakan hawa membunuh yang begitu pekat.
Sosok Orion seperti akan berubah ke wujud dewasa. Namun, setelah beberapa saat garis-garis setiap anggota tubuh itu perlahan menghilang.
Srak!
Beruntung Orion pendek. Beberapa tumpukan sampah serta tempatnya terbelah menjadi dua. Sayatan pada mata pisau berbayang-bayang, dan mendapati sosok wanita dengan amarah serta kebencian yang sangat mendalam.
Terkejut, Orion melompat mundur menjauhi dirinya.
“Urgh ...!”
Punggungnya berdenyut sakit setelah Sima membuat pola jari itu lagi. Tubuh Orion tak seimbang, sempat ia terjatuh lantas kembali bangkit dengan sekuat tenaga.
Merasa sulit untuk terus melarikan diri. Orion lantas berhenti saat ini juga. Sembari memandang ke arah depan, saling bertukar tatap tajam, Orion membentuk api menjadi sebilah pedang melekat pada kedua lengannya.
Ketika sisa api meleleh seperti lilin yang licin, Orion melesat dan menerobos bayangan gerakan pada setiap mata pedang yang terus diayunkan.
Tentu saja Orion akan sulit mengelak dalam posisinya, hingga menerima konsekuensi dengan sengaja membiarkan tubuh atau wajahnya terkena sayatan demi sayatan.
Crash!!
Orion bertaruh dalam satu gerakan penuh. Tebasan setengah lingkaran dari kiri ke kanannya secara mendatar. Menyayat daging tubuh bagian depan Sima.
Sesaat bayangan mata pedang berhenti bergerak. Sima sempoyongan, mundur ke belakang dengan bertanya-tanya apa yang telah terjadi padanya.
Sayatan Orion dalam jarak dekat. Sekali tebas, ketajaman pada dua bilang yang telah ia buat tidak main-main.
Darah mengalir keluar dengan deras. Membanjiri tubuh Sima hingga tak ada warna lain selain warna merah tersisa. Sekujur tubuh Sima mendadak gemeteran.
Sraaakkk!
Lantas, Sima menyentuh seluruh luka itu. Menutup dengan sempurna berkat kekuatan semacam goresan tak masuk akal.
“Hah!? Padahal aku ...”
“Ternyata kau baru serius. Bagus, lawanlah aku. Meskipun kau adalah anak kecil, Pejuang tetaplah Pejuang.”
Pandangan Sima mengarah Orion. Tetap lurus ke depan dengan niat membunuh. Hawa mencekam di sekitar sangatlah pekat, seolah tertutup kabut gelap berwarna kehitaman. Orion terjebak dalam kebimbangan.
“Melawanku karena perintah Chameleon, padahal aku sama sekali tidak membahayakan. Dan bukankah rencana ...”
Sesaat Orion menghentikan ucapannya. Rencana Chameleon sudah ia pastikan, akan tetapi ia tak mau kalau sampai Sima mengetahuinya.
Lagi pula, pria misterius itu juga berkata akan menyembunyikan hal yang telah ia ketahui tentang Orion. Maka Orion akan melakukan hal yang sama.
“Aku tahu dia siapa. Dan aku dengannya sama-sama berbagi ingatan dan memiliki darah yang sama. Aku cukup tahu, bahwa semua perkataannya bukanlah kebohongan. Tapi dia tetap akan aku anggap sebagai musuh,” batin Orion, pandangannya terhadap pria sebelumnya.
Di tengah pertarungan mereka. Mahanta datang dari arah belakang Sima. Melihat kondisi dengan singkat, ia tahu betul apa yang sedang terjadi saat ini.
Mahanta mendekat lebih cepat dengan angin di kedua kakinya. Lalu menyerang Sima dari belakang.
“Harusnya kau tidak perlu muncul lagi.”
Swoshh!!
Angin berembus kencang. Akan tetapi posisi mereka bertiga masih sama. Tetap di posisi, dengan Sima yang sudah tumbang memuntahkan darah.
Ia terduduk dengan rasa terkejut akibat serangan Mahanta yang menyerang titik vitalnya.