
Terlepas dari genggaman Sima. Orion menekan luka pada lehernya sekuat tenaga. Sela-sela itu, Owen menyerang Sima lagi dan lagi ketika Sima terus kembali bangkit seolah tak merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Orion kian merasakan rasa sakit itu, namun tak cukup menghentikan pendarahan hanya dengan kedua tangannya.
“Apa aku membakarnya saja? Seperti saat aku terlempar ke hutan waktu itu? Tapi apa bisa? Leher itu cukup penting, salah membakar akan mengenai pembuluh darah. Entah apa yang akan terjadi,” gumam Orion.
Wajah Orion memucat seiring berjalannya waktu. Tangan hingga tubuhnya bergemetar kuat, peluhnya bercucuran hebat. Setiap tetesan darah dan keringat pun tercampur jadi satu.
Di kala Owen terus memukul mundur Sima. Tetapi, Sima sama sekali bukan lawannya. Pada akhirnya ia kembali dikalahkan dalam beberapa waktu. Itulah yang terlihat dari pandangan Orion.
Sima pula, entah kenapa semakin diserang ia semakin kuat saja. Bahkan kehilangan pandangan sebelah mata tidak terlihat itu menjadi kelemahannya.
Krrttt!
Setelah tongkat patah karena pisau dengan goresan tebal, Owen melayangkan tinju ke titik yang sama. Yakni ulu hatinya.
“Sulit untuk dibawa hidup-hidup,” kata Owen.
“Ck, memang sangat sulit,” tutur Orion menyetujui perkataannya.
Srek! Tanpa berdiri, ia mulai mengeluarkan kekuatan apinya. Apinya tidak berwarna jingga melainkan kemerahan seperti darah.
Membentuk lingkaran di punggung, berputar semakin cepat dan kemudian semakin membesar. Orion sekali lagi mengubah bentuk pada api yang mampu ia kendalikan.
“3 bentuk, duri.”
Orion menyebut itu, seketika api terbelah menjadi tiga dan membentuk seperti duri ataupun pasak dengan ujung yang runcing.
Ketiga api yang telah dibuatnya lantas melesat dengan cepat menuju Sima.
Sraaaa!
Celah antar udara terbuka, Sima melarikan diri tanpa terkena serangan Orion sebelumnya. Raut wajahnya berubah, terdapat emosi kebencian yang begitu mendalam ditujukan pada Orion seorang diri.
“Dia melarikan diri! Kekuatan macam apa itu!?”
Bruk! Owen seketika ambruk dengan napas berat, darahnya mengalir, menggenangi tubuhnya dengan cepat.
Orion pula kehabisan energi dan napasnya. Samar-samar pandangannya memburam. Melihat orang yang dikenalnya terluka, membuat Orion sedikit gelisah.
“Aku tidak boleh sampai tertidur di sini,” ucap Orion dengan darah yang terus mengalir.
Sedikit demi sedikit, Orion membakar kulit di bagian lukanya. Meski pendarahan berhenti secara perlahan namun itu masih cukup membahayakan.
Ia pula berniat untuk melakukan hal sama pada Owen. Setelah ia mengulurkan tangan, tiba-tiba ia mengurungkan niat.
“Aku tidak tahu apakah dia akan bertahan. Salah sedikit aku pasti akan membakar seluruh tubuhnya sampai hangus. Aku tak mau itu terjadi,” ucap Orion.
Orion kemudian merogoh-rogoh kantung celana Owen, ia hendak mencari ponsel miliknya namun tidak ada di sini. Ia kemudian beralih ke kasur, melangkah dengan tertatih-tatih.
“Ketemu, akhirnya.”
Malam sudah semakin larut, Orion cepat-cepat menghubungi ambulan dan menyertai kondisi Owen saat ini.
***
Ambulan datang membawa Owen yang sekarat. Rintihannya terdengar, dan itu membuat Orion merasa sakit juga.
“Sepertinya Anda berdua adalah malapetaka.”
“Anda mendengar suara kegaduhan, tapi tidak kunjung datang?” sindir Orion.
“Hoho, kalau benar memangnya kenapa? Lagi pula rumahku ada di dekat penginapan ini.”
“Saya akan mengambil Api Abadi itu,” ucap Orion tanpa ragu. Lantas pergi dan masuk ke dalam ambulan.
Terlihat ekspresi pria tua itu berubah, yang awalnya sumringah menjadi sepat. Seraya ia mengeratkan kepalan yang tersembunyi di balik punggungnya, ia pun juga menggerakkan gigi penuh amarah.
***
Di malam yang sama, Orion duduk di samping ranjang, tempat di mana Owen berbaring saat ini. Perlahan Owen membuka kedua matanya, dan melihat Orion tengah tidur sambil terduduk.
“Orion Sadawira, aku benar-benar payah dalam hal mengawal ya,” gumam Owen sembari menatap sendu ke arahnya.
“Tidak juga,” sahut Orion seraya membuka kedua matanya.
“Kau terbangun jadinya. Maaf,” ucap Owen.
“Tidak perlu mengatakan hal seperti itu. Aku memang dari awal ingin bangun secepatnya. Malam semakin larut, Pak Owen lebih baik cepat tidur,” kata Orion.
Owen terluka di sekujur tubuhnya. Karena bekas kekuatan yang semacam goresan itu dan juga karena pisau yang terus menyayat setiap bagian tubuhnya. Cukup brutal kalau dilihat dari dekat.
“Rasanya tubuhku seperti terpecah-pecah. Ibarat kaca yang jatuh dan tak dapat lagi disambungkan,” ujar Owen.
“Aku juga sudah memperingatimu untuk jangan terlalu dekat dengannya. Tapi Pak Owen justru nekat, bahkan melawan tanpa senjata seperti itu.”
“Daripada itu, apakah Orion Sadawira baik-baik saja? Lehermu tersayat dan kehilangan banyak darah, 'kan?” Owen bertanya, dan melihat leher Orion yang diperban.
Seraya memalingkan wajah Orion menjawab, “Ya. Aku bersyukur ada Pak Owen yang memasang badan untukku.”
Kemudian menoleh dan menatap wajah Owen sekali lagi. Lantas berpikir, “Sebenarnya Pak Owen itu bukan Pejuang NED, benar?”
Owen tersentak. Sesaat ia mengalihkan pandangan ke arah lain. Setelah beberapa saat ia kemudian mengubah posisinya, duduk dengan bersandar pada bantal.
“Begitulah. Maaf, apa aku membebanimu?” tanya Owen agaknya raut wajahnya sedih.
“Sudah aku katakan, Pak Owen tak perlu sungkan terhadap anak kecil sepertiku. Dan akan lebih baik kalau Pak Owen tak terlibat hal semacam ini. Adakah suatu alasan yang membuatmu harus melakukannya?” tanya Orion.
“Bisa dibilang karena keluarga. Aku bertaruh nyawa demi itu. Karena kalau pekerjaan lain, di samping tidak merasa bercukupan tapi juga aku merasa selalu dikhianati. Aku jadi muak,” ujar Owen sambil menurunkan pandangannya.
Kisah sedihnya hampir mirip dengan Orion. Hanya saja jalan mereka yang ditempuh sangat berbanding terbalik namun masih dalam artian yang sama.
“Tapi Pak Owen hebat juga, ya. Bisa membuatnya marah seperti itu, hehe,” kata Orion dengan terkekeh-kekeh.
“Eh?” Owen kebingungan, bagaimana ia akan membalas ucapan itu. Sehingga Owen pun hanya terdiam sembari menatap Orion yang sedang terkekeh-kekeh.
“Mungkin karena sudah terbiasa dengan dunia NED. Orion Sadawira jadi terlihat seperti orang dewasa,” gumam Owen dengan lirih.
“Oh, ya. Aku sudah menghubungi Nona Gista. Jadi mungkin orang lain akan datang menjemputmu,” kata Orion.
Owen menganggukkan kepala dengan senyum tersungging.
“Lalu, aku tanya satu hal. Apakah Pak Owen itu jago bela diri? Sehingga membuat wanita itu sangat marah. Yah, meskipun amarahnya ditujukan padaku, tapi aku yakin itu karena dirimu,” pikir Orion seraya mengangkat bahu.
“Ah, itu. Aku hanya menggunakan tangan kosong. Meski sulit merebut pisau itu, setidaknya aku bisa mengimbangi gerakannya walau pada akhirnya jadi begini.”
“Itu pasti butuh perjuangan yang keras. Syukurlah Pak Owen sekarang sudah baik-baik saja.”