ORION

ORION
Sima



“Hanya tujuan dan identitasnya saja yang saat ini aku ketahui. Yang lainnya, baru aku dengar dari mulutnya sendiri.”


Saat itu Gista menanyakan apa saja yang sudah Orion ketahui. Tampak Gista sangat berwaspada. Terutama sorot mata yang terkesan dendam itu, jelas ditujukan kepada dirinya.


“Maksudku. Aku tahu tentangnya karena orang yang di sana,” ucap Orion sambil menunjuk Dr. Eka yang saat ini tengah terdiam tanpa kata.


“Dan orang ini sama sekali tidak mengatakan apa pun selain yang sebelumnya aku katakan,” imbuh Orion.


“Aku cemas sekali,” ucap Gista dengan tatapan sendu mengarah padanya.


Melihat raut wajah Gista yang seringkali berubah-ubah begini, membuat Orion meragu akan segala tindakan Gista hari ini. Dan juga beberapa tahun yang lalu, yang ia sama sekali tidak ketahui.


Seluk-beluk di antara Organisasi utama NED dengan Chameleon pun, tak seorang pun pernah membicarakannya. Ini bukan karena dirinya masih kecil atau apa, melainkan mereka memang benar-benar berniat menyembunyikan hal itu seutuhnya.


Apalagi kejadian lampau. 30 tahun yang lalu. Bahkan Endaru pun hanya samar-samar mengingatnya karena saat itu dirinya masih belia.


“Sepertinya Nona Gista mengalami hal buruk. Kalau begitu, aku akan anggap semua ini angin lalu. Semuanya, semua perkataan Adi Caraka mengenaimu.”


Bukan bermaksud rendah diri, Orion setidaknya tidak ingin ikut campur urusan mereka. Satu-satunya yang ia ingin lakukan hanyalah, mengetahui tentang darah langka dan apa pun caranya ia harus kembali ke wujud semula. Lalu mati.


“Tidak perlu. Lagi pula, kau pun akan mengetahuinya cepat atau lambat.”


Orion terdiam. Gista kemudian bangkit dari sana seraya menepuk-nepuk pakaiannya yang terkena debu. Wajah mereka yang sempat membeku pun memulih serta lapisan es mencair secara alami.


“Kita akan kembali. Juga membawa mereka berdua,” sambung Gista.


“Baiklah kalau begitu, Nona Gista.” Orion kemudian menghela napas pendek seraya membalikkan badan tuk pergi. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara aneh.


Srek! Suara sesuatu terdengar dan seolah suaranya teredam. Mereka mencari asal suara tersebut namun tak menyangka mereka akan melihat sosok manusia hidup muncul dari balik dinding.


“Ke mana saja selama Tuan-mu terluka seperti ini?” sahut Gista sedikit menyindir.


“Nona Gista sadar akan keberadaannya?” tanya Orion keheranan.


“Ya. Samar-samar. Menjauhlah dariku Orion,” ujar Gista seraya melintangkan tangan kiri tuk membuat Orion membelakangi dirinya.


“Anda sangat peka sekali,” ucap seseorang berwujud wanita.


Di bagian dinding, lebih tepatnya di sebelah dinding yang berlubang karena kekuatan Gista sebelumnya. Sosok wanita muncul dari balik tembok, goresan yang tertata muncul di wajahnya.


Ia tak lain adalah wanita yang selalu berada di sisi Caraka, bernama Sima.


“Wah, wah, kau dari mana saja? Sima?” Dr. Eka menyapanya namun tak satu pun tanggapan keluar dari mulut wanita itu.


Dr. Eka benar-benar ditiadakan olehnya. Sima, wanita itu hanya melihat ke arah Caraka seorang.


Dap! Setelah keluar dari dinding, dinding kembali seperti semula tanpa sedikitpun menunjukkan jejak yang ada.


Berwajah cemas dengan menekuk kedua alisnya, Sima lantas mendekat dan kemudian membuat Caraka terduduk seraya ia memeluknya erat.


“Datang lagi orang aneh. Siapa lagi dia?” Orion membatin.


Mereka bertiga tampak sangat berwaspada, melirik Sima dengan tatapan menukik tajam.


Sima yang kemudian membalas tatapan terutama pada Gista, lantas berkata, “Sepertinya hari ini pun Anda selalu membiarkan musuh terbaring begitu saja.”


“Ya, Anda ceroboh. Itulah kesan saya saat pertama kali bertemu dengan pemimpin yang disegani banyak orang.”


Sraaaa!!


Garis-garis kaku menyeluruh ke sekujur tubuh mereka. Sima tetap mendekap tubuh Caraka dari belakang dan membuat garis-garis yang telah muncul menjadi lebih tebal.


Wajah Sima pun dipenuhi banyak goresan hitam yang lebar, sesaat setelah keduanya terhubung dalam satu garisan, lalu secercah cahaya muncul dan membuat keberadaan mereka lenyap dalam sekejap.


Klap! Cahaya itu menyilaukan pandangan mereka semua. Memenuhi ruangan hingga terkesan mereka berada di suatu dimensi lain, namun setelah beberapa saat, keberadaan dari mereka berdua hilang.


Bahkan hawa keberadaannya saja sudah tak dapat dirasakan. Melarikan diri usai ini berakhir.


“Nona Gista tidak akan mengejarnya?” tanya Orion seraya melirik ke arahnya.


Sekilas, sorot mata kebencian Gista kembali terlihat meski dari samping wajah. Ia sepertinya tampak sangat kesal sekali. Membuat Orion semakin keheranan.


“Huh, asalkan semuanya sudah terungkap. Kini yang aku lakukan selanjutnya adalah mencari tahu keberadaan Chameleon,” tutur Gista.


“Tapi ...bukankah dengan tidak membiarkan Caraka kabur akan membuat jalanmu semakin mudah?” pikir Orion secara logis.


“Harusnya begitu. Tapi untuk saat ini ...aku merasa enggan membawa Caraka,” kata Gista seraya menatap telapak tangannya.


“Aku merasa seperti diawasi. Ck,” imbuhnya seraya berdecak kesal.


“Hah! Tentu saja Anda akan merasa diawasi. Lagi pula Tuan Caraka adalah rekan Chameleon, tentu saja Chameleon akan mengontaknya dengan berbagai cara. Termasuk mengetahui segala tindakan serta apa yang dia lihat saat itu,” tukas Dr. Eka mengejek.


Jrash! Perut Dr. Eka tertusuk duri-duri es. Ia kembali terbatuk dengan mengeluarkan darah dari mulutnya. Gista lah yang melakukan itu, dengan sikap dingin.


“Jangan banyak bicara lebih dari itu. Atau kau akan aku kubur hidup-hidup!” ancam Gista dengan sorot mata yang tajam.


***


Orion dkk pun memutuskan untuk kembali secepatnya. Dengan membawa Dr. Eka, yang dipaksa untuk berjalan sendiri mengikuti langkah mereka. Untuk berjaga-jaga, Endaru berada di belakang Dr. Eka.


Dari pagi, siang hingga menjelang sore hari, tak terasa waktu yang mereka pakai hanya untuk membereskan masalah ini terbilang cukup lama.


Ada hal yang sudah banyak Orion ketahui. Api Abadi berada di suatu tempat, lalu darah langka dan dewa-dewa kuno yang dikatakan sosok mereka lah yang telah membangkitkan para manusia.


Kemudian, fakta Chameleon. Adi Caraka adalah rekannya, dan dalang dari kejadian penculikan massal pun karena mereka.


Fakta kedua Chameleon, ialah orang yang pertama kali bangkit dari kematian.


Ketika mereka keluar dari gerbang rumah sakit, seseorang tak terduga muncul di hadapan mereka. Tercengang akan keberadaannya dan juga sempat terdiam mematung di sana.


“Mahanta!”


Ialah Mahanta, pria yang selama ini menghilang setelah musibah menimpa di jalan tol. Keberadaannya saat itu sempat dikabarkan menghilang namun sekarang justru muncul secara tiba-tiba.


Gista yang masih syok pun berusaha untuk tetap tenang, seraya ia memeriksa setiap inci di tubuhnya dan memastikan bahwa Mahanta baik-baik saja.


“Nona Gista, saya sama sekali tidak terluka. Dan saya datang kemari bersama asisten Ketua Raiya,” ujar Mahanta.


Seketika Gista terdiam lalu mengelus dada dan merasa lega karena Mahanta tidak terluka sama sekali.