ORION

ORION
Respon Api Abadi, Apakah Ini Suatu Pertanda?



Berawal dari rasa penasaran, semakin lama Orion semakin tertarik dan entah kenapa terbesit suatu pikiran untuk mengambil Api Abadi.


Klontang!


Orion melempar ember yang sebelumnya berisi air untuk mengguyur api itu.


“Aku sebelumnya juga pernah bilang, untuk mengambil Api Abadi. Tapi semata-mata kulakukan karena hanya ingin memprovokasinya.”


Sekarang, Api Abadi benar-benar hidup layaknya legenda yang banyak dibicarakan. Banyak orang memuja-muji Api sebagai dewa, namun pada akhirnya itu menagarah ke ilmu sesat. Ketika memikirkan hal itu, Orion merasa merinding sesaat.


Di bagian pedalaman ini, pagi menjelang siang pun masih ada orang yang berkeliaran di daerah. Entah mereka hendak melakukan apa, tapi sepertinya mereka membawa banyak makan dan minuman di satu tempat.


Sekilas Orion melihat ada beberapa kelopak bunga yang terbungkus di daun pisang.


“Jangan bilang mereka lagi?” pikir Orion.


Kumpulan orang itu ternyata tidak hanya sekadar berkeliaran saja, melainkan mereka membawa sesajian ke tempat Api Abadi itu berada. Segera Orion angkat kaki, pergi ke tempat di mana ia dapat bersembunyi sekaligus mengamati mereka.


Mereka memuja-muja Api Abadi. Bertekuk lutut dan bersembah sujud seraya memohon-mohon. Mereka sama-sama berlinang air mata secara bersamaan. Orion merasa penasaran, apa yang sedang mereka panjatkan pada Api Abadi itu.


“Tolong hidupkanlah anak kami!”


“Beri kami kesehatan, rejeki berlimpah!”


“Ambil apa pun asalkan permintaan kami terkabulkan!”


Sedikit menjerit ketika memohon seraya mengatupkan kedua tangan ke depan. Namun Api Abadi itu hanya berkobar seperti biasa, tak ada tanda-tanda bahwa Api Abadi akan melakukan sesuatu terhadap permohonan mereka.


“Orang jaman sekarang, entah mereka ke ilmu perdukunan atau justru membuat Tuhan-nya sendiri. Mereka semua orang yang tidak waras,” lirih Orion seraya mengepalkan tangan dengan kuat.


Giginya berbenturan, gertakan terdengar seiring Orion merasa kesal dengan pemujaan mereka yang serasa terlalu diandalkan.


“Aku tarik kembali kata-kataku, Api Abadi hanyalah api biasa. Dia tak menarik perhatianku, heh, coba saja kalau Api Abadi itu berani membuatku terjerat.”


Blar!!


Ketika Orion membalikkan badan dan hendak pergi, api itu berkobar hingga menyentuh dinding gua seutuhnya. Seolah merespon apa yang telah dikatakan oleh Orion sebelumnya.


Sontak semua pemuja terkejut, mereka seakan-akan berpikir bahwa Api Abadi tersebut akan mengabulkan permintaan karena didengar-nya.


“Hah?”


Begitu pula Orion, ia sempat menoleh ke belakang selama beberapa waktu. Tetapi, tepat setelah ia kembali berjalan ...


Trang!


Sima datang dan menyerang Orion dengan pisaunya. Beruntung Orion menahan serangan itu dengan bilah pedangnya.


“Kau lagi!?”


Orion menyeret langkahnya, sedikit ia merasa jengkel kepada Sima. Begitu pula dengan Sima.


“Sepertinya kau cukup sehat,” ujar Sima.


Orion mengangkat separuh kaki kanannya, lantas menendang Sima yang kemudian menjauh sebelum terkena serangannya.


Pada kaki kanan Orion terdapat api yang membara. Itulah mengapa, Sima memutuskan untuk menjauh sementara. Dan mulai merencanakan apa yang harus ia lakukan sekarang.


“Begitu juga denganmu. Tapi kenapa masih mengincarku? Memangnya aku ada salah apa denganmu? Perasaan kita bertemu juga cuman sekali sebelum kita bertarung,” ujar Orion seraya mengangkat bahu.


“Tentu saja karena—”


“Ah, atau jangan-jangan karena Caraka? Padahal yang membuat Caraka terluka itu bukan karena aku melainkan Nona Gista,” sahut Orion memotong kalimatnya.


“Kh, Anak Api! Kau sudah mencuri buku dari ruang bawah tanah Tuan Caraka. Dan, Tuan Chameleon berharap aku membunuhmu!”


Sima mengacungkan senjata ke arahnya. Lalu melesat cepat seraya mengayunkan pisau itu. Seakan-akan ia menggenggam pedang panjang, sebilah pisau itu terlihat membayang-bayangi.


Orion menghantam bebatuan yang ia pijak dengan keras. Api menyambar keluar dengan mengelilingi kedua kakinya, yang kemudian membentuk dinding api.


“Huh, ini terlalu panas.”


Bahkan Orion sendiri mengalami dampak terhadap serangannya. Dinding api tidak diperluas namun hanya sebatas sebagai perisai hidup yang terus menahan serangan demi serangan Sima.


Di selingi ia berusaha keras untuk menembus pertahan Orion. Hingga ketika bayangan pisau terlihat lebih memanjang lagi, lebih dari besarnya dinding api yang Orion buat.


Slash! Slash!


Beberapa tebasan Sima ia lancarkan hanya dalam satu kali gerak. Seolah tangannya menjadi banyak, gerakan Sima sangat berbeda daripada sebelum ini.


“Hei, siapa itu!?”


“Menganggu pemujaan saja!”


“Itu pasti orang sesat!”


Para pemuja api tampaknya telah mendengar kegaduhan karena pertarungan yang mereka lakukan saat ini. Segera keduanya bergerak untuk menjauhi area itu.


Dinding api milik Orion lenyap dengan jejak tertinggal. Dengan kepergian mereka dari area tempat Api Abadi berada, namun bukan berarti mereka akan lepas tangan terhadap satu sama lain.


“Prioritas, Anak Api.”


“Kata-kata itu lagi.”


Orion selangkah maju lebih ke depan. Sima yang berada persis di belakang Orion justru sedang melakukan gerakan tangan.


Gerakan tangan dengan menggerakkan ibu jari, telunjuk dan tengah. Yang kemudian setiap goresan pada wajahnya rontok lalu menyatu pada jari jemari yang ia gerakkan pada saat itu.


Srak! Srak!


Goresan bak lukisan minyak menyatu dengan membentuk labirin kotak.


“Segel!” sebut Sima, lantas mengayunkan tangan dan membuat goresan itu terlempar lalu menempel pada punggung Orion.


“Ugh! Apa ini!?”


Orion merasa isi perutnya seperti diaduk. Kedua kakinya tak lagi bergerak cepat, dan tanpa sengaja menyelaraskan gerakan Sima.


Sima mendapatkan celah, ia mengayunkan senjata dengan cepat akan tetapi bilah pedang Orion yang memanjang itu menghalangi lagi.


“Ck!” Sima berdecak kesal, lantas membuat goresan yang telah menempel pada punggung Orion semakin kuat.


Gedubrak! Orion terjatuh pada saat itu juga.


“Sebenarnya kekuatan wanita itu, bisa dilakukan bagaimana saja? Rasanya aku ingin kembali mati saja,” gumam Orion.


Otomatis, Sima berhenti berlari dan menatap Orion dengan sinis. Sesaat sebelum Sima kembali melayangkan serangan, Orion bangkit dan melarikan diri di antar bebatuan di sana.


Wujud anak kecil memang sangat berguna. Apalagi dalam kondisi seperti ini, dikejar hewan buas yang tidak tahu seberapa kuatnya. Ini nasib yang benar-benar tak bisa dihindari.


“Ke mana dia!?”


Sima melakukan berbagai upaya cara untuk melewati celah bebatuan. Terkadang ia mencari jalan lain dan juga terkadang membuat jalan itu sendiri.


Tetapi Orion sudah memutar jalan, menjauh dari area pedalaman. Bahkan lokasi Api Abadi juga sudah jauh dari posisi Orion saat ini. Ia telah kembali ke pemukiman.


“Kira-kira, wanita itu muncul karena memang tahu keberadaanku atau karena apa ya? Dia selalu muncul dan hilang tiba-tiba juga.”


Beruntungnya Orion sudah lepas dari Sima. Setidaknya untuk saat ini. Tapi berkeliaran terus seperti ini rasanya seperti diawasi oleh banyak mata.


Orion menelan ludah, seraya ia bersandar pada dinding rumah seseorang.


“Tujuanku banyak di sini. Aku harus cepat-cepat menyelesaikannya.”