
Senja menjelang malam. Tak terasa waktu cepat berlalu, membuat Orion dan lainnya harus beristirahat sejenak. Setidaknya tidak sampai terlalu malam, mereka duduk di sebuah kedai sembari menikmati makanan yang telah disajikan.
“Aku jadi bingung. Kenapa Phantom Gank ada di mana-mana?”
Saat itu Orion tidak tahu. Bahwa Phantom Gank datang mengincar Orion karena permintaan Saint Ken langsung, Saint atau Pejuang NED yang Orion temui sebelumnya. Di Emblem Priest.
“Soal itu aku juga tidak tahu. Tapi mereka juga menangkap diriku,” kata Endaru seraya menaruh dagu ke atas meja.
“Lagipula ke mana saja kau sampai bisa ditangkap oleh mereka?” tanya Orion.
“Aku terdorong mundur hingga jatuh ke rel kereta. Dan saat aku sadar, aku berada di tengah antara banyaknya rel kereta api,” jawab Endaru sembari mengingat-ingat kembali kejadiannya.
“Yah, apa pun itu sudah berlalu. Tapi aku heran, kenapa tidak ada satu pun berkutik melawan Phantom Gank. Bahkan petugas kereta dan lainnya sampai dibuat kencing di celana karena kedatangan mereka.”
Orion menenggak minumannya, lalu menghela napas. Sesaat ia merasa lega namun juga dengan perasaan khawatir. Sebab firasat buruk itu mengarah pada Phantom Gank, namun entah mengapa firasat itu masih berlaku sedangkan mereka sudah berhasil melarikan diri dari mereka.
Bagi Orion terutama, bertarung dengan mereka akan sia-sia saja. Akan menyia-nyiakan waktu yang mereka miliki hari ini. Karena itulah, menghindar adalah cara tepat mempersingkat waktu. Lagipula kelompok mereka sepertinya tidak membahayakan penduduk sekitar, paling hanya sekadar merusak properti.
Meskipun begitu, Orion tetap was-was karena kalau dari perilaku serta arah pembicaraan mereka itu seperti mengincar seseorang.
“Entah mengapa sepertinya mereka mengincarku?” ucap Orion sedikit meragukannya sendiri.
“Mereka memang benar-benar mengincar dirimu, Orion. Kau tidak tahu? Aku mendengarnya dari pembicaraan mereka, kalau pria bermata mati yang tidak lain adalah kau Orion, yang sedang mereka incar.” Dr. Eka menyahut.
Orion memilih untuk tidak lagi membalas perkataan Dr. Eka. Meskipun yang dikatakannya itu benar, namun Orion merasa tidak perlu mengurus Phantom Gank.
Sekitar 1 jam setelahnya, langit mulai menggelap. Mereka bertiga akhirnya memanggil taxi yang lewat di sana. Segera mereka akan pergi ke tempat tujuan, namun Orion justru hanya berdiri saja di depan pintu kendaraan.
“Ada apa?” tanya Dr. Eka yang sudah lebih dulu masuk.
“Aku.” Orion melirik ke arah Endaru dan melanjutkan perkataannya, “Sepertinya tidak akan naik.” Raut wajah Orion gelisah.
Setelah beberapa saat, Orion membalikkan badan. Dr. Eka kebingungan, ia pun keluar dari taxi tersebut sembari bertanya apakah ada yang salah dengan taxi itu.
“Jangan bilang kau merasa itu Chameleon hanya karena terus merasakan firasat buruk itu. Dasar, padahal aku sudah bilang jangan terlalu mengandalkan insting atau firasat atau kemampuan yang sebenarnya akan menumpul dan lemah.” Endaru mengoceh.
“Itu benar. Atau apakah ada sesuatu lain?” tanya Dr. Eka berpikir bahwa ada hal lain yang mengganggu pikiran Orion.
Sopir taxi itu kemudian melajukan kendaraannya. Lantas mereka tidak jadi menaikinya.
“Yah, hanya firasat buruk. Entah kenapa ...hari ini aku merasa aneh.” Orion menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal, ia juga sangat heran pada dirinya sendiri.
Tapi tidak lagi setelah taksi kedua muncul. Orion masuk dalam keadaan tenang dan santai. Itu jelas berbeda dengan sikapnya yang sebelumnya.
“Kau seperti wanita yang suka pilih-pilih,” ejek Endaru seraya menutup pintu.
“Maaf saja. Ini memang aneh. Tapi sebelum mati, aku juga tidak pernah begini. Jadinya aku sulit mengontrol diri,” ungkap Orion mengenai kelemahannya.
Masalah terus terjadi seiring waktu, seiring Orion merasakan firasat buruk. Ibarat kota ini dikutuk, mungkin tak ada lagi yang namanya jalan kabur. Selama perjalanan tak menemui kendala, akan tetapi setelah beberapa meter lagi sampai menuju ke gedung opera, jalannya terhambat. Macet.
“Sudah tidak bisa bergerak lagi. Kita lebih baik keluar saja,” kata Orion sembari memberikan bayarannya. Lantas pergi meninggalkan taksi.
Klap!
Sembari menutup pintunya Endaru bertanya, “Apa tidak jadi masalah?”
Berada di pinggiran jalan. Sudah terlihat jelas banyak kendaraan beroda empat memadati jalanan raya. Beberapa meter lagi, mereka akan sampai menuju ke gedung opera.
BUAK!
Entah sengaja atau tidak, saat seseorang melintas dari arah berlawan, sikutnya meninju wajah Endaru tiba-tiba. Endaru yang tak terima lantas menarik pundak seseorang tersebut.
“Kenapa kau memukul? Maaf saja tidak, hei sini!” amuk Endaru sembari menarik pundak orang itu hingga mereka saling bertukar tatap tajam.
“Endaru, sudahlah ...”
“Kau diam saja! Ini urusan di antara lelaki!” sahut Endaru menegas.
“Aku juga lelaki. Dan jangan pukul dia, karena belum tentu dia melakukannya dengan sengaja. Mungkin saja dia tidak sadar,” kata Orion berusaha menengahi.
Akan tetapi pria itu tertawa seakan-akan mengejek Endaru yang nyaris melayangkan tinju ke wajah sebagai pembalasan.
“Sir!” Petugas polisi kota datang, menghampiri Endaru.
Petugas itu menjelaskan bahwa pria tersebut mengalami gangguan mental. Meski tidak terlihat karena penampilannya sangat rapi, tapi itu benar adanya.
“Tu-tunggu, Orion. Apa maksudnya dia tidak waras?” Endaru bertanya pada Orion lantas tidak begitu memahami percakapan di antaranya.
“Iya. Makanya aku bilang jangan asal mukul sembarang orang. Meskipun sebelumnya aku tidak mengetahui orang itu punya penyakit,” ujar Orion.
Nasib buruk memang tidak mengarah padanya sekarang. Akan tetapi Orion berpikir bahwa nasib buruk yang menimpa Endaru kali ini karena Orion.
“Ini salahku,” gumam Orion seraya melangkah kembali.
***
Sesampainya ke gedung opera kota S-Frans. Pukul 6 malam. Langit sudah menggelap saja.
“Orion, akhirnya kita sampai benar? Aku jadi tidak sabar,” ucap Endaru sembari mengangkat kedua lengan ke depan dengan mengepal kuat. Ia sangat bersemangat, wajahnya sumringah.
Terdapat dua penjaga di luar pintu gedung opera. Mereka meminta tiket agar mereka dapat masuk ke dalam karena opera akan segera dimulai.
“Tunggu sebentar.”
Orion merogoh-rogoh seluruh saku di pakaiannya. Selain dompet, Orion sama sekali tidak menemukan surat undangan sebagai ganti dari tiket.
“Gawat, di mana undangannya?” Orion berkeringat dingin lantas surat yang ia cari menghilang. Padahal sudah dimasukkan dalam dompet dengan benar, tapi tetap tidak ada bahkan di semua saku yang ada juga tidak.
“Dokter, apa kau yang menyimpannya?” tanya Orion, berpikir bahwa surat itu disimpan oleh Dr. Eka.
Dr. Eka kemudian menggelengkan kepala. Dan berkata, “Tidak. Aku tidak menyimpannya.”
“Orion, kau menghilangkannya?” tanya Endaru berwajah kecewa.
Kebahagiaan Endaru yang hanya sebatas ingin melihat pertunjukkan opera seketika hancur, terenggut bagai ombak menyapu bersih kerikil pada pasir putih.
“Maaf, Endaru.”